Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MISTERI “BANYAK” DAN “SEDIKIT” YANG NILAINYA SAMA

Oleh : Moh. Syihabuddin

 

Ganjarane ngulang ngaji bocah siji, bocah loro utowo bocah telu karo ngulang ngaji bocah ake iku ngono podo ae.

(Pahalanya mengajar mengaji satu anak, dua anak, atau tiga anak dengan mengajar mengaji anak-anak banyak itu sama saja)

  1. Abdurrahman Babat

 

Pada konteks pendidikan dan pengajaran dewasa ini jumlah kuantitas anak didik merupakan tolok ukur sebuah keberhasilan dan sebuah kesuksesan dalam proses menyelenggarakan pembelajaran atau mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Semakin banyak anak didik atau santri yang belajar di suatu lembaga pendidikan, baik madrasah, sekolah, pondok pesantren atau perguruan tinggi tertentu maka semakin “dianggap baik” dan “dianggap berkualitas”.

Masyarakat awam, yang tertipu dengan penampakan dari luar, selalu terpengaruh dengan suatu lembaga pendidikan yang jumlah anak didiknya banyak, sehingga selalu memandang remeh lembaga pendidikan yang jumlah anak didiknya sedikit. Sehingga sebuah lembaga yang memiliki banyak anak didik cenderung lebih “laris” bak sebuah jualan untuk ditempati sebagai tempat menempatkan anak didiknya belajar.

Dampaknya menjadi jelas, ada perlombaan antar lembaga pendidikan untuk memperbanyak anak didik dengan melakukan berbagai promosi (PPDB) dan sponsorship lembaga tersebut. Antar lembaga pendidikan (madrasah, sekolah, pondok pesantren atau perguruan tinggi) berlomba-lomba untuk mendapatkan anak didik sebanyak mungkin. Dengan adanya anak didik yang banyak mendaftar dan menjadi bagian dari proses peserta pembelajaran di lembaga tersebut maka “jabatan” lembaga yang “keren” dan “berkualitas” akan diperolehnya dari masyarakat. Padahal sebenarnya belum tentu juga.

Apalagi jika (dulu) dengan adanya Ujian Nasional yang dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan anak didik malah memeruncing persoalan pendidikan, karena semua sekolah dan madrasah saling berlomba untuk memperoleh DANEM tinggi. Karena jika tidak mendapatkan DANEM akan menjadi gunjingan masyarakat dan dianggap sebagai “sekolah yang jelek”.

Mengapa perlombaan dalam memperebutkan anak didik ini menjadi sebuah fenomena yang menjamur di negeri ini, tidak lain karena adanya ide-ide kapitalisme yang masuk dalam dunia pendidikan. Yakni memposisikan sebuah lembaga pendidikan sebagai sebuah produk yang dipasarkan dan pelangganya adalah para wali siswa. Apalagi dengan adanya dana BOS yang banyaknya nominal ditentukan oleh banyaknya anak didik yang masuk.

***

Seorang imam sholat yang memimpin sholat jama’ah dengan satu  ma’mum atau banyak ma’mun pahalanya sama, masing-masing akan mendapatkan dua puluh tujuh derajad. Tidak ada keutamaan dalam masalah pembagian diantaranya keduanya. Antara yang memimpin dan yang dipimpin mendapatkan ganjaran yang sama besarnya, tidak ada perbedaan sedikit pun.

Begitu pula dengan seorang guru yang mengajar satu santri, dua santri atau tiga santri dengan banyak santri yang jumlahnya ratusan pahalanya adalah sama. Guru yang mengajar satu santri dengan guru yang mengajar ribuan santri sama-sama memperoleh pahala yang sama disisi Allah. Tidak ada keistemewaan diantara keduanya. Keduanya sama-sama istimewa dan memperoleh derajad yang sama, baik guru yang banyak murid atau yang hanya punya satu murid.

Jika demikian mengapa harus ber-“ambisi” untuk memiliki banyak santri? Mengapa harus bersusah payah mencari banyak anak didik kalau punya satu anak didik satu saja itu sudah sama? Mengapa pula harus menbeda-bedakan guru yang punya sedikit santri dengan yang punya banyak santri?

Jika dikembalikan pada konteks tersebut maka tidak ada “guna”-nya bagi masa depan seorang guru diakhirat nanti terkait dengan jumlah anak didik yang dimilikinya. Di akhirat kelak tidak akan ada pertanyaan “Berapa anak didik yang kamu ajari ilmu-mu?” justru malah akan menjadi “beban” pertanyaan dan “beban” tanggungjawab perilakunya. “Itu semua adalah murid-murid mu, maka kamu harus bertanggungjawab atas semua perilakunya di dunia”. Kira-kira demikian pertanyaan yang akan muncul nanti, karena kelak di akhirat semua orang akan mencari perlindungan kepada Gurunya untuk bisa selamat dari api neraka. Jika seorang guru tidak mampu memberikan bekal murid-muridnya menghadapi “pertanyaan” di akhirat maka muridnya akan menderita di neraka dengan gurunya berada di posisi dibawahnya.

Tidak mengherankan jika pada zaman dahulu seorang murid itu akan mencari guru yang benar-benar Guru, tidak sebaliknya seperti dewasa ini banyak guru yang berlomba-lomba untuk mencari anak didik. Mengapa seorang murid mencari sosok Guru? Karena si murid ingin memperoleh ilmu yang asli dan mendapatkan ilmu yang sesungguhnya, bukan ilmu yang berhubungan dengan pekerjaan dan mencari uang.

***

Pada tahun 2018 saya pernah bekerja sebagai seorang kunsultan individu yang dikontrak oleh Dinas PUPR Jawa Timur untuk menyelesaikan pembangunan 145 rumah di tiga desa di Tuban. Saya membawahi tiga orang Fasilitator Lapangan yang masing-masing akan memegang 50 rumah.

Di kabupaten lain ada juga kawan saya yang menempati posisi seperti saya yang membawahi 500 unit rumah dengan 10 orang tenaga fasilitator. Jelas, kawan saya membawahi lebih banyak “anak buah” dan rumah yang ditangani daripada saya.

Sekilas kawan saya itu lebih istimewa dari pada saya dan terkesan lebih “keren” jika dipandangh secara kuantitas. Namun ternyata tidak demikian, gaji yang saya terima dengan gaji yang dia terima ternyata sama nominalnya. Tidak ada bedanya. Dia yang mengawal pembangunan banyak rumah dengan saya yang mengawal pembangunan sedikit rumah, hanya 145 rumah ternyata sama aja, gajinya sama.

Kondisi ini sama dengan apa yang diceritakan oleh dosen saya di pasca filsafat Islam ketika diminta untuk berkhubah di sebuah masjid di komplek TNI. Sebelum khutbah dosen saya sudah diberi semacam “intruksi”, “prof, khutbahnya cukup tujuh menit!”.

Kontan saya dosen saya senang sekali, semakin cepat beliau berkhutbah itu semakin lebih baik. Karena bagi beliau yang lebih penting adalah “Salam tempelya sama”, bukan lama cepatnya khutbah. Antara khutbah panjang dan pendek waktunya itu sama saja. Pada tataran gajinya juga tidak ada perbedaan. Sehingga ketika “intruksi” itu datang beliau justru senang sekali.

***

Singkat cerita, guru dengan banyak murid atau yang hanya satu murid, imam yang memimpin banyak ma’mum atau satu makmum, dan koordinator konsultan membina satu fasilitator dengan banyak fasilitator itu ternyata sama saja, tidak ada perbedaannya.