Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MINTA JADI KAYA, SALAH SAMBUNG SOWAN KIAI

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Saya mempunyai teman yang sejak awal menikah dulu selalu membicarakan kekayaan. Cita-citanya adalah menjadi kaya secara “ajaib” dan kekayaannya nanti akan dibelanjakan untuk kepentingan “perjuangan” Islam. Tiap hari dia bekerja dengan sangat aktif dan cukup rajin sehingga dalam pikirannya selalu muncul, uang, uang dan uang.

Sebagai seorang santri dia mempunyai “kedekatan” dengan para kiai-kiai yang menjadi langganan pengajian. Kendati tidak pernah belajar di pesantren dia merupakan putra seorang tokoh Nahdliyin di desa dan mempunyai kecenderungan sebagai keluarga santri. Ayahnya merupakan sosok yang dijadikan tempat pengaduan dan konsultasi bagi warga desa yang membutuhkan doa, jalan keluar, solusi hidup, dan menentukan sebuah keputusan, walaupun tidak mengajar ngaji dan tidak punya santri.

Lucunya, pada setiap kesempatan sowan ke rumahnya kiai atau sedang berbincang-bincang dengan kiai dia selalu mendiskusikan ijazah, cara bisa kaya, dan amalan bisa mendatangkan uang. Pertanyaan yang diajukan selalu “Kiai, minta amalan bisa kaya dan rizki barokah kiai!”. Selalu berfokus pada “cara cepat menjadi kaya” dengan jalan lain dan mendapatkan banyak uang.

Tidak satu, dua, atau tiga kiai yang dia datangi dan dia mintai doa untuk kerja lancar, rizki cepat, dan awak sehat. Sudah lebih dari dua puluh kiai yang pernah dia ajak konsultasi untuk membuka rahasia cepat kaya dan cepat mendapatkan uang. Sehingga dia mempunyai koleksi doa “cepat kaya” yang sangat beragam dan macam-macam.

Selain salah, menurut hemat saya langkah teman saya itu merupakan “nomor yang salah sambung” dan bisa-bisa memberikan “jalan yang menyesatkan” bagi siapa saja yang melihatnya dan atau generasi muda setelahnya. Bahkan sangat berbahaya jika diikuti dan dijadikan sebagai pijakan berfikir.

Kiai sejak kecil itu merupakan sosok santri. Dia pekerjaannya hanya belajar dan menekuni ilmu. Selama di pesantren dulu para kiai adalah remaja-remaja yang giat mengkaji kitab-kitab salaf, fiqih, tauhid, dan tasawuf guna memperkuat dan menguatkan pemahaman islam-nya yang sesuai dengan ajaran para Ulama salaf.

Tiap siang dan malam pekerjaan santri itu sholat (sunnah dan maktubah), berdoa, membuka kitab, dan mengamalkan amaliyah-doa agar bisa mendalami hakekat keilmuan dan kedalaman makna agama. Mereka tidak henti-hentinya berupaya keras agar menjadi orang yang bermanfaat, memiliki wawasan, berakhlak mulia, dan juga mempunyai pengetahuan dalam beragama yang lebih menyatu dengan hatinya.

Praktis dengan waktu yang dimilikinya selama menimbah ilmu di pesantren yang dilakukan kiai dahulu ketika menjadi santri adalah belajar, mendalami kitab, dan menulis catatan-catatan penting, yang artinya tidak mencari kekayaan, tidak mencari uang dan tidak pula belajar mendapatkan ilmu yang bisa mendatangkan uang dengan sendirinya.

Kiai, jelas sepanjang hidupnya hanya menjalani perjalanan mencari ilmu dan menggali pengetahuan agama serta meningkatkan cara-cara untuk bisa bermunajat kepada Allah. Tidak ada langkah-langkah dalam ibadahnya mereka “mempunyai target untuk menumpuk harta.

Hal ini pun nyambung dengan perintah Rasulullah kepada seluruh umat Islam untuk melakukan Uthlubal ‘Ilma (carilah Ilmu-Agama, bukan Uthlubul Maal (Carilah harta). Rasulullah mengharuskan umatnya untuk belajar tentang agama, bukan belajar tentang menumpuk harta. Sehingga menjadi jelas bahwa para pengikut Rasulullah, Kiai dan santri haruslah dan memang sudah sewajarnya untuk mencari ilmu, bukan mencari harta.

Sepanjang sejarah, golongan-golongan yang menumpuk harta dan mengoleksi kekayaan adalah musuh-musuh para Nabi. Mulai dari Namruj, Fir’aun, sampai Abu Jahal dan Abu Lahab. Dan ini sangat bertentangan dengan misi-misi para Nabi yang mengharuskan umat manusia untuk mencari ilmu (agama), ilmu tentang taqwa, bukan cara-cara (yang diklaim sebagai ilmu) untuk mencari harta.

Dengan demikian jelas, upaya seseorang yang meminta kepada seorang kiai tentang ilmu mendapatkan harta, kekayaan, atau uang adalah sebuah salah sambung yang sangat jauh. Karena selain salah sasaran, juga salah dalam memanfaatkan jaringannya. Kiai (yang) sejak kecil belajar keilmuan malah dimintai cara-cara untuk mendapatkan harta. Para kiai itu gudangnya ilmu agama, bukan gudangnya harta.

Seharusnya, jika konsultasi tentang harta dan kekayaan itu bukan kepada kiai, tapi kepada seorang pengusaha, seorang direktur perusahaan, atau orang yang mempunyai banyak properti dan aset pribadi. Kepada kiai seharusnya yang dikonsultasikan adalah tentang cara-cara mendapatkan keilmuan agama yang benar, cara sholat yang benar, dan cara-cara menjadi manusia yang meninggalkan dunia secara khusnul khatimah.

Orang yang setiap harinya berusaha untuk mencari harta dan menumpuk kekayaan mereka tak ubahnya pengikut para musuh nabi, kendati “pengakuannya” Islam sekalipun. Karena hatinya lebih condong pada Fir’aun, Namruj, atau Abu Jahal dari pada condong pada hatinya para Nabi.