Metode Viral Kegiatan Show-an Yang Semakin Digemari Masyarakat Muslim Awam

Jamaah Hasan Ma'shum Society Ramah tamah setelah jamaah, berdzikir dan berfikir, merenungkan fenomen muslim terkini, terutama gejala show-an yang semakin matak dan miskin kualitas

Sejak moment show-an mengalahkan dangdut-an dan band-an dalam jagat hiburan masyarakat, yang dimulai pada tahun 2015-an, praktis kegiatan itu semakin digandrungi dan menemukan peluangnya untuk dijadikan sebagai kesempatan untuk tampil atau mengangkat citra diri.

Beberapa kalangan sudah memahami gejala ini, baik kalangan awam, politisi, praktisi lembaga, sampai pedagang asongan hingga para pejabat publik. minimal dengan tampil di acara show-an mereka bisa mendapatkan ketenaran dan semakin mempunyai “jangkar komunitas”.

Bacaan Lainnya

Dengan berkembangnya show-an menjadi ajang hiburan, yang selalu diadakan hampir di setiap hari besar Islam, atau malah selapanan dan kegiatan bulanan maka acara tersebut juga semakin berkembang dan terus mengalami evolusi. Salah satu yang berkembang di acara show-an adalah metodenya.

Metode show-an yang sekarang digandrungi oleh yang “mengundang” atau juga yang “diundang” adalah mendendangkan lagu-lagu qasidah Islamiyah disertai dengan ceramah yang lucu-lucu dan menghibur. Atau sebaliknya, pengajian yang disampaikan oleh sosok “Gus” atau “Kiai” yang sedang viral disertai dengan show-an yang ditampilkan oleh sebuah band rebana al-banjari.

Ditengah-tengah acara show-an, tepatnya saat “Sang Gus” atau “Sang Kiai” tampil biasanya akan mengadakan guyonan dan gurauan dengan cara memanggil salah satu penonton yang hadir. Penonton ini oleh panitia diberik mik dan ditanyai oleh penceramah tentang “identitasnya dan tujuannya datang” ke acara show-an. Bahkan ada juga yang meminta peserta si mustami’in untuk naik ke panggung dan berdiskusi dengan penceramah, berharap beberapa diskusinya bisa menghasilkan lelucon dan gurauan.

Metode ini tanpa disengaja, dan bagi penulis, tentu saja “pasti berhasil” menciptakan lima hal, yaitu :

  1. Penampilan dan gaya guyonan si penceramah semakin digandrungi masyarakat awam (kelas bawah) dan akan (pula) semakin bisa mengangkat pamor si penceramah untuk bisa terus “jualan” konten ceramahnya.
  2. Pihak panitia (dan panitia lain di tempat lain) akan terus menggodok acara tersebut untuk bisa lebih ramai, lebih banyak penonton, dan tentunya lebih banyak orang (peserta yang datang) akan menampilkannya (memposting) di media virtual semacam tik-tok, youtube, facebook, Instagram dan lain-lain.
  3. Filosofi “yang banyak disukai orang adalah kebenaran” semakin diikuti dan semakin diramu menjadi lebih baik, agar acara tersebut semakin banyak yang mendatanginya dan semakin bisa mendorong lahirnya “budaya pop muslim Indonesia”.
  4. Dengan hadirnya banyak orang tentu saja para politisi memanfaatkan moment show-an untuk membranding dirinya, menampilkan dirinya, memperkenalkan dirinya dan bisa menjadi orang yang dianggap “benar”, dianggap “pinter” dan dianggap “baik” karena telah mengadakan show-an, bukan yang lain.
  5. Dengan metode “penceramah mengajak bicara” maka semakin banyak mustami’in yang datang berharap bisa dipanggil dan bisa diberi mik panitia untuk berdiskusi dengan penceramah. Dan yang terakhir inilah yang ditunggu-tunggu oleh para hadirin yang datang.

Melihat perkembangan acara show-an inilah maka dunia semakin terbentuk dan semakin berubah ke dua kutub. Pertama, acara show-an sebagai kegiatan yang positif dan bernilai ibadah menurut syari’at islam. Dan kedua, kegiatan show-an berubah menjadi kegiatan negative dan sama sekali tidak mengandung nilai ibadah.

Bagi kalangan yang berpendapat acara show-an sebagai kegiatan yang positif mengatakan bahwa kegiatan ini adalah mengaji, mempelajari syari’at islam, mengandung makna hidup yang harus dipegang oleh semua orang muslim, menghasilkan keberkahan hidup, menentramkan hati yang gundah gulana, menghilangkan pikiran stress, dan menumbuhkan perputaran finansial disekelilingnya.

Artinya, acara show-an adalah hal yang baik dan tidak perlu lagi mendapatkan kritikan dari semua kalangan, termasuk kritikus dan akademisi. Karena bagaimanapun yang dibaca di acara show-an adalah puji-pujian kepada Rasulullah sang pemberi syafaat, dan itu mendorong ke arah kebaikan.

Akan tetapi bagi kalangan yang menganggap bahwa acara show-an adalah kegiatan yang negatif mengatakan dengan argument berikut.

Acara show-an kehilangan auranya, ruh spiritualitasnya tergusur oleh hedonism keramaian, lebih menonjolkan kuantitas keramaian daripada kualitas mengajinya, isi pengajiannya tidak mampu menghasilkan renungan yang mendalam dari relung hati, hanya sekedar “stand up comedy” yang dibalut dan dipoles “mengaji agama”, para munsyid (penyanyi putra) mendendangkan qasidah Islamiyah sekedar menyanyi—tidak berdzikir kepada Allah, tujuannya mengaji berubah menjadi mengumpulkan orang, dan yang paling parah-tragis-ironis acara show-an tidak mampu mengentaskan kemiskinan (juga mental miskin masyarakat) di Indonesia dan tetap membuat nilai rupiah jatuh (yang artinya kegiatan show-an sama sekali tidak berkah bagi bangsa dan negara). Dengan demikian, metode baru acara show-an mengandung dus sisi yang saling berlawanan, sisi positif dan sisi negatif yang keduanya menghasilkan perdebatan Panjang secara filosofis dan teologis di kalangan kritikus muslim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *