Merayakan kenikmatan; Beli Buku, Baca Buku dan Menulis Buku

Akhmad Sifyani, salah satu Guru yang aktif menulis sedang berkunjung ke Kampung Ilmu Surabaya untuk memborong buku-buku bekas atau yang sudah lama terbitr

Tepat menjelang akhir tahun 2022, saya diajak oleh suami saya untuk mengunjungi Bazar Buku di Gedung Budaya Loka Tuban. Di Bazar itu telah tersedia banyak buku yang cukup murah dan harganya bisa terjangkau oleh mahasiswa maupun kalangan guru. Anak-anak saya ikut pula dalam kunjungan itu, dan keduanya telah mengambil buku kesukaannya.

Suami saya membelikan saya sepuluh buku, lima diantaranya berbentuk novel dan lima lainnya berbentuk buku-buku kumpulan artikel tentang Pendidikan. “Ini hadiah ulang tahun untukmu, sayangku.” begitu katanya, ketika menyerahkan setumpuk buku dengan total pembayaran ke kasir 560.000 rupiah.

Bacaan Lainnya

“Aku wujudkan bukti cintaku padamu dalam bentuk memberikan buku.” Tegasnya pada saya, menjelang naik motor untuk kembali pulang.

Sesampai di rumah, saya merebahkan tubuh sambil menidurkan anak saya yang kedua. Dan taklama kemudian saya mengambil salah satu buku yang telah dibelikan oleh suami saya. Saya membaca buku tersebut, dan saya merasakan kekuatan yang cukup hebat didalam otak saya. Ada tarikan gagasan-gagasan yang keluar secara spontan, menimbulkan riak-riak semangat untuk melahirkan sebuah gagasan tentang pengajaran di sekolah, dan yang paling penting dari semuanya adalah kesadaran saya tentang pentingnya membaca sebelum melakukan segala hal yang diinginkan.

Berlahan-lahan saya membaca buku tersebut, halaman demi halaman, sambil melihat dari jauh suami saya yang kelelahan bekerja siang tadi—lalu mengajak saya ke Bazar buku. Hasilnya, saya menemukan setumpuk ide untuk menulis dan membuat gagasan saya terwujud dalam bentuk sebuah artikel atau esai.

Buku tersebut merupakan buku yang ditulis oleh M. Alfan Alfian, yang menunjukkan tentang tehnik-tehnik menulis secara spontan, enak dibaca, dan metode menulis yang lahir dari diri sendiri. Saya sangat suka dengan buku itu, sehingga sepanjang malam itu saya menyempatkan diri untuk membacanya selama satu jam, sebelum saya menemani suami saya untuk menguatkan ibadah sebagai istri.

Setelah membaca buku itu, malam itu juga, saya menulis dua puluh rancangan judul esai dan artikel yang kelak—kemungkinan besar bisa saya wujudkan dalam bentuknya yang lebih detail dan terperinci.

Pelajaran terpenting dari kunjungan ke Bazar buku malam itu, lalu membaca buku yang dibeli dari Bazar tersebut adalah cukup sederhana, untuk menulis sebuah gagasan yang terselip di dalam pikiran setiap orang harus membutuhkan dua upaya keras yang gampang-gampang susah, yakni membeli buku dan membaca buku.

Membeli buku adalah pekerjaan yang mudah, tinggal membawa uang dan datang ke toko buku atau ke bazar buku. Sangat gampang sekali. Tapi yang susah adalah melakukannya, karena banyak orang yang mempunyai uang ternyata tidak juga bersemangat untuk membeli buku. Walaupun banyak uang dan mempunyai banyak simpanan di tabungan, menggunakan uang tersebut untuk membeli buku—hakekatnya untuk kepentingan diri sendiri—beratnya bukan main, membutuhkan dorongan dan semangat dari lingkungan, terutama lingkungan keluarga.

Dalam hal semangat membeli buku inilah saya diuntungkan dengan keberadaan suami saya, yang gemar mengajak saya untuk membeli buku dan mengajari saya untuk mencintai membaca buku.

Setelah membeli buku, dibaca atau tidak, yang penting ditata rapi ditempat kita santai atau tempat kita menjelang tidur. Meletakkan buku di lemari khusus buku adalah perilaku yang bijak untuk membangun semangat dalam membaca buku.

Lambat laun, dengan seringnya kita melihat buku di tempat khususnya, atau di tempat-tempat kita sedang santai maka dengan sendirinya akan menimbulkan hasrat untuk membaca buku tersebut. Minimal buku yang paling dekat dengan kegiatan kita dan berisi hal-hal yang bermanfaat untuk pekerjaan kita sebagai guru di sekolah, misalnya buku-buku panduan mengajar atau tehnik pengajaran.

Dari “Kebiasaan Membaca Buku” yang terbentuk secara berlahan-lahan itulah maka step by step kita akan terbiasa berfikir dan terdorong untuk menuangkan gagasan yang terbelit dalam pikiran dan hati kita diwujudkan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, membeli buku, membaca buku dan menulis buku adakah pekerjaan mulia, selamat berkarya di tahun 2023.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *