Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Kemungkinan Terburuk di Teluk Persia

Senjata antirudal patriot yang sudah disiagakan sejak 5 Februari di Turki sebagai bagian dari persiapan operasi di Iran

Oleh : Moh. Syihabuddin

Peneliti sejarah Arab-Eropa, alumnus pascasarjana Aqidah dan Filsafat UINSA Surabaya

 

Michael Chossudovsky, dalam bukunya Toward a World War III Scenario: The Danger of Nuclear War sudah memperingatkan kepada dunia bahwa umat manusia dan peradabannya sedang berada di persimpangan jalan. Kedamaian tidak akan bertahan lama pasca Perang Dunia II yang dilanjutkan dengan Perang Dingin. Akan ada perang besar yang melibatkan negara-negara mantan blok barat dan blok timur untuk kembali menunjukkan kekuatannya dan kecanggihan tehnologi perangnya. Bukan di Eropa atau di lautan Pasifik medan tempur yang akan menjadi ajang penampilan para ksatria-ksatria berseragam doreng (seperti saat Perang Dunia II). Adalah negeri Arab dan Afrika Utara yang menjadi ajang kebolehan berbagai kekuatan dunia untuk bergabung dalam event itu.

Dari mana perang besar itu akan kembali terulang, tentu saja dari agenda besar Amerika Serikat yang jauh-jauh hari sudah menyiapkan perang itu. Amerika Serikat sudah mempunyai agenda jangka panjang untuk menyiapkan perang yang lebih besar demi ‘stabilitas ekonomi dan tata dunia baru’ versi mereka. Lokasinya sudah ditentukan dan musuhnya sudah disiapkan. Segala persiapan logistik dan rencana strategis serangan sudah dimatangkan dalam sidang yang tidak terekspos media. Tanah Arab (di Asia Tengah dan Afrika Utara) adalah pilihan yang paling ideal untuk ajang pertempuran sekaligus membangun dunia Arab baru yang benar-benar putus dengan akar historis agama dan budayanya.

Kekacauan dunia negeri Arab saat ini, mulai dari peristiwa Arab Spring, perang Suriah, kekacauan di Libya, perang di Sudan, bentrok abadi Palestina-Israel, perang Irak, gejolak Yaman, dan Afghanistan yang tak kunjung damai tidak bisa lepas dari sepak terjangan Amerika Serikat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan target ‘kekacauan yang diciptakan’ oleh Amerika Serikat untuk mengokohkan hegemoninya dan memberikan ruang gerak bagi kedigdayaan militernya.

Dalam sebuah peta perang di Pentagon (markas perang Amerika) wilayah-wilayah tersebut merupakan target yang secara gradual akan mengalami peperangan dengan melibatkan pasukan Amerika (plus sekutunya) dan tehnologi perangnya. Daerah tersebut sudah dipersiapkan menjadi ajang pertempuran yang akan menguji strategi baru dalam perang modern dan bentuk perang baru yang sangat berbeda dengan perang-perang sebelumnya. Perang yang meminimalkan jumlah pasukan infantri dan meningkatkan senjata pembunuh yang lebih efektif. Satu tembakan banyak korban. Nuklir akan berperang sebagai ‘pemeran’ utama dalam adu kekuatan dan para operator senjata canggih akan menjadi ‘tentara masa depan’ yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan kemampuan fisik.

Dan nampaknya genderang perang akan segera ditabuh oleh Donald Trump di medan perang yang penuh tantangan, negeri Arab-Persia, yaitu Iran. Musuh bebuyutan sekaligus tersembunyi bagi Amerika Serikat untuk melancarkan agenda-agenda perangnya. Sebuah negara yang menjadi musuh abadi bagi sekutu-sekutu Amrika Serikat di negeri Arab (Timur Tengah).

 

Mobilisasai Awal di Mulai

Sebuah kapal induk penyerbu USS Arlington sudah dilabuhkan di teluk persia, lengkap dengan divisi marinir, beberapa kendaraan amfibi, pesawat F-16 dan helikopter Apache. Kehadiran kapal ini mendukung gugus tugas pengebom B-52 dan kapal induk Abraham Lincoln yang sudah berada (sebagai pangkalan militer) di kawasan teluk.

Di Gaziantep, Turki (sekutu Amerika Serikat dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara-NATO) sistem anti-rudal patriot sudah disiagakan bersama para operatornya dan kelengkapan militer lainnya. Senjata ini disiagakan untuk melakukan serangan terbatas maupun serangan terbuka. Seperti halnya pada perang teluk I, rudal patriot ini sangat efektif untuk menangkis serangan roket seandainya nanti ada serangan roket dari musuh (Iran).

Negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain serta Mesir selaku sekutu utama Amerika Serikat di dunia Arab, ditambah Israel tentu akan ikut ambil bagian dalam pengiriman tentara dan biaya pertempuran pula (Kompas, 12 Mei 2019). Negara-negara ini jauh-jauh hari sudah menyatakan permusuhan dengan Iran dan terlibat pertempuran sengit di beberapa medan perang Suriah, Libya, Yaman, dan Palestina. Saaat Amerika Serikat sudah meniupkan terompet serangannya tentu negera-negara ini akan bergabung menjadi bagian inti dari penghancuran terhadap Iran.

Dengan segala persiapan ini praktis Amerika Serikat sudah mengawali sebuah mobilisasi militer yang mengarah pada perang yang lebih besar terhadap Iran.

Menanggapi ancaman itu presiden Iran, Hassan Rouhani segera mengeluarkan maklumat kepada seluruh rakyat Iran agar menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, perang terbatas maupun perang terbuka. Pasukan Garda Revolusi Iran sudah menyiapkan segala tehnologi perangnya dan beberapa divisi infantri untuk menghadapi seluruh kekuatan Amerika Serikat  (Kompas, 13 Mei 2019). Mereka bahkan siap untuk mengerahkan pesawat tanpa awak dan rudal berkekuatan nuklir guna menghancurkan kapal induk USS Arlington dengan satu tembakan saja.

Tanggapan Iran nampaknya bukan gertak sambal, Presiden Hassan Rouhani mendapatkan dukungan luas dari pendukungnya maupun oposisi dalam menghadapi Amerika Serikat. Iran juga tidak akan sendirian dalam menghadapi Amerika Serikat, ada banyak para militer syi’ah yang tersebar di beberapa negara yang siap untuk mengadakan perang terbuka dengan Amerika Serikat. Apalagi jika Arab Saudi terlibat tentu perang kali ini bukan saja melibatkan Amerika Serikat sebagai pelaku utama, namun permusuhan abadi Arab Jazirah versus Arab Persia yang akan berkobar dan melibatkan banyak mobilisasi pasukan.

Jika benar (waktunya telah tiba) Amerika Serikat mengintruksikan USS Arlington menembakkan meriam pertamanya ke arah Iran maka sudah bisa ditebak bahwa pertempuran kali ini akan mengarah pada ramalan Michale Chossudovsky.