Menterjemahkan Tangisan Kai Havertz setelah Mengalahkan Everton di Final Day EPL 2024

Kai Harvertz layak menangis ketika peluit terakhir dibunyikan pada pertandingan Final Day Liga Inggris versus Everton. Kai menyumbangkan satu gol dalam kemenangannya 2-1, tapi kemanangan tersebut cukup memberikan hiburan bagi pendukung Arsenal yang gagal juara sejak era The Incredeble 2003-2004

kitasama.or.id Tuban – Setelah mendapatkan kepastian bahwa Man-City telah memenangi pertandingan terakhirnya melawan West Ham dengan skor 3-1, Kai Havertz langsung menangis di tengah lapangan stadium Emirates setelah pluit terakhir mengakhiri kemenangannya atas Everton.

Tangisan Kai Havertz merupakan sebuah kesedihan yang mendalam, sebuah kegagalan atas perjuangan dan sebuah pernyataan kejatuhan yang menyakitkan atas kerja keras yang dilakukannya selama ini bersama Arsenal.

Bacaan Lainnya

Kai Havertz pantas menangis, karena banyak hal yang membuatnya harus menangis dalam pertandingannya yang terakhir di musim EPL 2023-2024 itu. Tangisan tersebut tidak sekedar tangisan kesedihan dan kekalahan, tapi tangisan rasa malu dan rasa lelah yang selama ini dihadapinya.  

Diawal kedatangannya di Emirates dengan harga yang cukup mahal, 60 juta uero membuat dirinya penuh tekanan dan penuh beban untuk layak dihargai dengan angka segitu. Ketika dilepaskan di tengah lapangan dalam sebuah pertandingan, Kai gagal menjadi pemain yang layak dengan harga yang begitu tinggi itu.

Dalam setiap pertandingan awalnya, Kai selalu gagal memanfaatkan peluang-peluangnya, dianggap pemain yang klemar-klemer, tidak bisa berjuang dengan keras dan kurang percaya diri. Kai bahkan kesulitan memanfaatkan umpan-umpan pendek bersama rekan-rekannya, sehingga menjadikan beberapa peluang terbuang.

Dalam sebuah pertandingan Kai sering diteriaki oleh pendukung Arsenal sendiri sebagai pemain yang “terlalu cantik”, pemain yang “tidak bergairah” dan pemain yang “hanya berjalan-jalan” tidak mau merebut bola, pemain yang “malas dan tidak bergairah memainkan bola.”

Dibandingkan Kai Havertz, para pendukung Arsenal lebih suka melihat penampilan Emile Smith-Rowe dilapangan yang dianggap lebih energik dan lebih menjiwai “darah Arsenal” karena lahir dari akademik sepakbola Arsenal sendiri. Tapi apa daya jika Arteta lebih menyukai gaya permainan Kai Havertz dibandingkan Emile Smith-Rowe, sehingga lebih banyak memasang Kai didaftar pemain utama.

Di hari-hari awal pertandingannya tidak sedikit yang menghina Kai karena harganya tidak sesuai dengan penampilannya, gairahnya kurang layak dimainkan sebagai pemain utama dan tentunya dia jarang menyumbangkan gol.

Beruntung, sang Kapten, Martin Oddegard memberikan “kesempatan” kepada Kai untuk meningkatkan motivasi bermainnya dan mendorong kepercayaan dirinya sebagai pemain yang layak dengan kemampuan yang tinggi.

Dalam pertandingan tandang menghadapi Bournemounth FC Arsenal mendapatkan penalti akibat pelanggaran pemain Bournemounth terhadap Kai Harvertz. Oddegard meminta Bukayo Saka untuk memberikan tendangan penalti kepada Kai, dan dengan suka rela Kai memberikannya. Akhirnya, dengan tenang dan pelan-pelan Kai berhasil menyarangkan bola ke gawang musuh—total kemenangannya 0-4.

Semenjak itulah Kai terus menerus mencetak gol-nya untuk Arsenal, melalui sepakan tendangan voli, menerima umpan panjang, umpan-umpan cepat di depan gawang dan juga sundulan kepala. Sepanjang musim 2023-2024 ini bersama Arsenal Kai Havertz telah mencetak 9 gol dan 3 assits.

Dalam pertemuan kandang dengan mantan klub-nya, Chelsea, Kai Harvertz bahkan turut menyumbangkan gol dalam pembantaiannya dengan skor telak, 5-0. Lalu diperkuat dengan gol-nya dalam pertandingan terakhirnya menghadapi Everton di Emirates yang menjadikan kemenangannya dengan skor 2-1.

Oleh beberapa analis, Kai Harvertz dianggap sebagai Mesuit Ozil yang baru bagi Arsenal yang (diharapkan) akan memberikan banyak kejutan, umpan-umpan akurat, assist-assist yang berujung gol, dan tentunya giringan bola yang penuh energi—seperti pemain Jerman berdarah Turki itu.

Dengan banyak gol dan kontribusi yang diberikannya di lapangan, serta perjuangannya untuk tetap bermain secara konsisten mempertahankan puncak klasemen (sementara) maka Kai pun “merasa” optimis jika Arsenal pasti juara dan bisa mendapatkan banyak kesempatana untuk menyingkirkan Man-City dipuncak. Tapi apa daya, takdir Allah belum memberikan hak juara EPL kepada Arsenal.

Tidak mengherankan jika kegembiraan yang dialami Kai Harvertz seperti durian runtuh, bangunan yang gagal berdiri—gagal membentuk rumah, hatinya remuk, matanya pedih, dadanya sesak dan tubuhnya lemas.

Kesedihannya bahkan diredahkan oleh pemain Everton yang mendekatinya, dan memberinya selamat atas perjuangannya yang tiada akhir. Dan dia pun menangis setelah mengalahkan Everton sore itu.

Kegagalan Kai mengantarkan Arsenal bisa jadi merupakan sebuah “petaka” bagi dirinya yang didatangkan dengan harga cukup mahal dari Chelsea, musuh bebuyutan Arsenal. “Petaka” itu tidak lain merupakan mimpi buruk di hari-harinya, yang merasa hancur dan pastinya “tidak layak dengan harga mahal”.

Kendati demikian, tangisan Kai tetap merupakan perjuangan yang pantas, walaupun bertahan di peringkat kedua pada klasemen terakhir 2023-2024 liga Inggris, seperti halnya pada musim tahun lalu.

Tangisan Kai tetap memperkuat Arsenal jika klub-nya layak untuk dianggap sebagai pesaing utama dominasi Manchester City di EPL, sama halnya di tahun-tahun 2000-an awal saat Arsenal menjadi pesaing utama Manchester United era Sir Alex Forgusen. Dengan kegagalan yang kesekian kalinya, sejak dipegang oleh Mikael Arteta maka Arsenal layak mendapatkan air mata yang diteteskan dari mata Kai Havertz, semoga air matanya kelak mengubah nasib (juara) Arsenal di masa depan.

Pos terkait