Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENIKAH MEWAH, TERGIRING KE “SARANG BUAYA”

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Lucu, sekaligus tragis dan juga menggelikan. Seorang pemuda yang pekerjaannya serabutan menikah bukan malah bahagia dan ceria, justru stress dan bingung. Tepat setelah melaksanakan resepsi dia seperti mati kutu dan tak berdaya memikirkan nasibnya, karena hutang 80 juta rupiah sudah menanti di depan matanya.

Pemuda ini merupakan sosok orang apa adanya, tidak kaya dan tidak pula memperoleh (punya) harta yang melimpah. Kehidupannya sangat sederhana dan bahkan lebih sederhana dari kawan-kawannya yang sederhana. Pekerjaannya hanya sebagai preman yang serabutan, kadang ikut gergaji batu kapur, ikut panen padi, ikut angkut barang di pasar dan sebagainya, yang mana gajinya perhari hanya 75.000 rupiah hingga 100.000 rupiah, yang tentunya tidak bisa rutin diperolehnya tiap hari. Kadang ada dan kadang pula tidak ada sama sekali.

Dia mempunyai sosok kekasih yang sangat ideal untuk dinikahi, dan diapun menjalani masa-masa penjajakan hingga beberapa tahun terhadap kekasihnya itu. Pada pada bulan-bulan menjelang munculnya fitnah-wabah corona pemuda ini tidak segan-segan untuk melamar kekasihnya itu dan langsung saja proses pernikahan itu dilangsungkan.

Tanpa ada koordinasi dan tanpa ada pula proses konsultasi dengan dirinya tiba-tiba saja kekasihnya (bersama keluarganya, ayah dan juga ibunya) telah mempersiapkan pelaksanaan resepsi penikahan yang sangat mewah. Dan ini diluar dugaan dan prakiraannya. Padahal dalam bayangannya hanya terpikir untuk menikah apa adanya, selametan, dziba’an, lalu khataman qur’an.

Pelaksanaan resepsi pernikahan pun dilaksanakan di rumah kekasihnya, di kawasan perkampungan Telogonongko (salah satu kampung di kabupaten Tuban Jawa Timur). Sebagai seorang calon suaminya yang manut dan mengikuti jalan pikiran istrinya (agar terlihat sayang) dia pun menjalani resepsi itu dengan baik, tidak memprotes dan tidak pula mempertanyakan.

Proses resepsipun berjalan cukup lancar, mewah dan tentunya meriah. Undangan kurang lebih seribu orang, konsumsi terus menerus berdatangan, kursi dan sound system yang satu paket dengan kowadi-kowadinya terlihat keren. Disertai pula dengan orkhes dari kota (Tuban) yang biayanya tidak murah, lengkap pula dengan artisnya yang cantik-cantik. Praktis pesta itu bukanlah pesta yang main-main, namun sebuah pesta yang “sesungguhnya” dan membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Teman, tetangga, dan handai taulan yang hadir pun memuji pesta itu. Merasa bangga, merasa kagum, merasa tersanjung, dan yang penting pujian itu terus menerus muncul dari mulut semua undangan. Semua yang hadir “merasa puas” dengan sajian orkhes-nya dan beberapa hiburannya. Semua tidak ada mencela atau menganggapnya “biasa-biasa” saja. Singkat kata pesta itu merupakan pesta “Mahal dan Mewah”.

Pikirnya si pemuda, biaya semua itu tentunya ditanggung oleh pihak keluarga kekasihnya dan diambilkan dari uang simpanan atau tabungan yang jauh-jauh hari sudah dipersiapkan. Bisa juga menjual tanah atau hewan piaraannya, semisal sapi atau kambing. Biaya pesta pernikahan yang mahal dan mewah itu tentunya merupakan sebuah puncak cita-cita yang sudah dipersiapkan oleh keluarga kekasihnya, sehingga tidak mengherankan jika biayanya begitu besar dan sangat “berlebihan”.

Namun naas bagi si pemuda, karena apa yang dipikirkan dan diangan-angankan ternyata tidak sesuai dengan hatinya.

Tepat sehari setelah melangsungkan pernikahan dan dia sudah melakukan “ritual-ibadah” malam pertama untuk merasakan madunya cinta, (mertuanya) ayah dari istrinya memanggilnya dan mengajaknya bicara. Ayah mertuanya menceritakan segalanya tentang “hakekat dari pada pesta pernikahan” yang sudah dilangsungkannya.

Semua biaya pernikahan yang digunakan untuk mengikat cinta mereka merupakan biaya hutang yang sebagian diambilkan dari pinjam di bank dan sebagian lagi diambilkan dari pinjaman dari orang kaya setempat. Dalam perjanjiannya hutang-hutang itu harus terbayar tepat pada satu tahun yang akan datang.

Karena yang menikah adalah dirinya dengan anak mertuanya yang sudah menjadi istrinya, yang tentunya akan tinggal bersama di rumah yang ditempati itu pula maka secara otomatis semua hutang-hutang itu akan ditanggung oleh dirinya, yakni dia yang kini sudah menjadi menantunya. Innalillahi wainnailaihi raji’un. Artinya dia harus melunasinya selama satu tahun ke depan.

Sebuah petaka dari menikah, tentunya. Datangnya tidak bisa diprediksi dalam pikirannya.

Mendengar ucapan ayah mertunya tentu saja dirinya seperti “dibunuh” dalam tiang gantungan. Ingin menangis tidak bisa, ingin berteriak malu-maluin saja, dan ingin marah tidak pantas, sehingga yang dilakukan hanya menelan ludahnya tanpa terasa. Dan untuk hari-hari selanjutnya dia hanya bisa berfikir “menyesal”, hingga tidak merasakan nikmatnya tidur di ranjang bersama istrinya.

Kecantikan istrinya, keindahan lekuk tubuh istrinya, goyangan diatas ranjang bersama istrinya, atau ciuman mesra istrinya tidak bisa dirasakannya. Semuanya hampa dan pahit ditelan bersama ludah. Nampaknya keindahan menikah dan punya pasangan itu hanya fatamorgana dan hanya bisa dibayangkan dalam sinetron Indonesia saja.

Total hutang yang harus ditanggung dirinya adalah 80 juta rupiah, sebuah angka yang tidak mungkin diperoleh oleh dirinya yang kerja serabutan. Mejalani hari-harinya bersama sang istri terasa berat, bosan, dan menyesakkan dada. Hidup ternyata tak seindah apa yang dibayangkannya. Maunya menikah itu bahagian dan menikmati surganya dunia, e…. malah terjerumus ke dalam “sarang buaya”. Dalam hatinya, beban hutang mungkin juga jauh lebih menyakitkan dari pada diterkam oleh buaya.

Dirinya pun merenungkan bahwa harga sebuah “sarang madu wanita” ternyata tidak murah, 80 juta rupiah. Lebih mahal dari pada biaya dirinya menjalani sekolah selama sembilan tahun hingga masdrasah aliyah. Dan ternyata “sarang madu” itu bukanlah sarang madu, tapi lebih dirasakannya sebagai “sarang buaya”. Allah karim. Semoga tidak terulang pada saudara-saudara kita dan kita semua bangsa Indonesia.