Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGUBAH PARADIGMA HASIL BELAJAR

Oleh :

Siti Nursaudah

Praktisi Pendidikan Tinggal di Tuban

 

Pengantar

Temuan Carol Dweck menarik untuk dikaji sebagai sebuah evaluasi sekaligus refleksi atas proses pendidikan dewasa ini yang lebih menekankan akan hasil akademik dan prestasi hasil belajar secara tekstual di negeri ini dan mungkin juga di beberapa belahan dunia. Hampir semua pendidikan di Indonesia lebih menekankan akan hasil belajar berupa nilai akademik dari pada pembentukan terhadap anak itu sendiri. Apa yang telah ditekankan pada anak untuk memperoleh nilai yang ‘baik’ dalam akademik ternyata telah lebih banyak menimbulkan banyak masalah pada anak di masa depan kehidupannya. Penelitian Carol Dweck menjelaskan akan hal itu.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Prof Rhenald Kasali dalam artikelnya bahwa kemungkinan besar akan lahir ‘Seratus Anak Pandai Yang Berpotensi Menjadi Bodoh’ di negeri ini, atau mungkin juga di dunia jika pembelajaran yang diterapkan kepada anak lebih pada penekanan nilai akademik dan pengembangan Brain (Otak) tanpa disertai dengan pengembangan Mind (Nilai).

Memang Brain diasumsikan sebagai yang membentuk Mind pada perkembangan anak, namun cara pembentukannya dan proses pembentukan Mind dari Brain gagal diketahui. Hasil temuan Carol Dweck sendiri yang menyatakan bahwa fixed mindset yang dimiliki oleh anak-anak pandai dan dianggap abadi melekat pada diri anak ternyata tidak demikian. Anak-anak tetap akan menghadapi permasalahan dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya jika menerima sebuah tantangan yang lebih besar. Tragisnya, anak-anak cenderung menjadi penakut dan kurang responsif terhadap permasalahan yang ada dan kurang bisa memberikan solusi-konstruktif terhadap problematika yang diahadapinya.

Anggaran pendidikan di Indonesia cukup besar, 20% yang dialokasikan untuk pengembangan pendidikan dan peningkatan sumberdaya manusia. Namun semua itu akan sia-sia jika sasaran dan target yang diinginkan tidak tercapai, alih-alih melahirkan generasi emas bagi bangsa yang besar ini di 50 tahun yang akan datang. Generasi penakut dan gagal menjalani kehidupannya akan menghantui sebagaian besar masyarakat Indonesia. Sebuah fakta yang tak terbantahkan bahwa sebagian besar generasi muda lulusan perguruan tinggi lebih menggantungkan pada lamaran pekerjaan di sebuah instansi dari pada harus mengembangkan dirinya melalui gerakan kreatif atau pemikiran mandiri.

Pendidikan Salah Sasaran

Diakui atau tidak pendidikan kita di Indonesia sejauh masih saja terjebak pada peningkatan pada nilai akademik yang menekankan pada pembelajaran secara tekstual dan lateral. Anak-anak dalam tahun-tahun emas belajarnya dijebak pada rutinitas ujian yang ujung-ujungnya menjadikan anak untuk kerja rodi membaca soal-soal dan latihan-latihan yang sangat tidak ada hubungannya dengan pemecahan masalah di lingkungannya dan tidak ada keterkaitan dengan realita masa depannya.

Memang, proses pembelajaran yang lebih menekankan pada berfikir saintifk dan responsif sudah banyak diajarkan dan dilakukan tapi semua itu belum mampu memberikan sebuah ‘kekuatan’ bagi pendidikan kita utuk mendidik anak agar lebih responsif dan kritis.

Beberapa teman saya dulu, yang sangat pandai dalam prestasi akademik di sekolah hari ini telah kehilangan taringnya. Kepintarannya dulu tidak kelihatan saat dirinya siap menjadi manusia dewasa dan harus menjalani kehidupan. Entah kemana mereka sekarang, padahal saat kelulusan dulu (baik di sekolah maupun di kampus) mereka dipenuhi dengan banyak prestasi dan naik ke panggung meneria penghargaan. Dan faktanya penghargaan dan prestasinya dulu sangat tidak membantu dirinya dalam menjalani kehidupannya. Apalagi jika mereka adalah seorang wanita, lalu menikah dengan pasangan yang tidak sesuai dengan potensinya dan bahkan tidak bisa memahami kemampuannya maka yang terjadi adalah ‘kematian sementara’ dan kehidupannya berjalan layaknya orang yang tidak pernah belajar.

Mengapa hal itu terjadi, hal itu karena tidak lain adalah adanya kesalahan dalam memahami Brain dan Mind. Alih-alih mengembangkan Brain untuk membentuk Mind anak agar mempunyai kemampuan dan kecerdasan yang bisa digunakan sebagai bekal menghadapi kehidupannya, anak-anak menjadi dewasa justru berseberangan dengan apa yang dipelajarinya dan tidak mendapatkan sedikit pun dari belajarnya.

Suatu misal, kawan saya yang jurusan Ulumul Qur’an di suatu perguruan tinggi Islam di Jakarta menjadi seorang pedagang pakaian yang kaya dan melupakan semua apa yang dipelajarinya dulu. Seharusnya menurut hemat saya, dia tetap menjadi pedagang namun sekaligus menjadi seorang mufasir atau penulis buku tentang al-Qur’an sehingga hasil belajarnya tetap bisa dipelihara dan sekaligus membentuk karakter berfikirnya.

Mungkin bisa jadi dengan belajar di jurusan Ulumul Qur’an dia menjadi pedagang yang jujur dan arfi bijaksana, sehingga tidak salah dia menjadi seorang pedagang yang sukses dengan bekal ilmu yang dipelajarinya. Dan ia juga terbukti mampu menjadi kaya dan bisa mengelolah kehidupannya lebih sukses secara materi. Tapi apakah hasil akhir kehidupan ini adalah materi? Tentu saja saja. hal inilah yang terlupakan dalam proses pendidikan di Indonesia.

Dan masih banyak contoh yang bisa melengkapi sebuah kegagalan dalam proses pembelajaran, yang mana ratusan anak cerdas tiba-tiba menjadi bodoh. Ia bodoh bukan karena kebodohan yang diderita olehnya namun lebih pada salahnya sebuah sistem pendidikan yang telah diterapkan padanya. Anak tidak lagi mampu mengembangkan kemampuannya dan menghadapi zamannya, justru terjebak pada kumbangan masalah yang telah melingkupi kehidupan sehari-harinya.

Konstruksi Jalan Lama

Lalu bagaimana seharusnya pendidikan ini dijalankan? Dengan menggunakan apa untuk membangun anak agar menjadi manusia yang siap menghadapi zamannya sendiri sekaligus tetap konsisten dengan nilai-nilai humanisme?

Kembali pada pembelajaran lama yang telah diajarkan oleh para Nabi dan diteruskan oleh para ulama dan wali. Yakni Dzikrullah.

Dzikir adalah kuncinya. Dzikir adalah sebuah senjata, sebuah alat, sebuah instrumen, sebuah kebutuhan primer, sebuah jimat, sebuah power of self, atau apa pun sebutannya itu, yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia (yang ber-Tuhan dan ber-Agama). Dengan dzikir inilah bimbingan Allah akan berlaku dan memproses melalui jalan yang dipilih Allah sendiri, yakni Qalbu.

Ini jalan lama, ilmu tua, dan ilmu paling tua dari segala yang di alam semesta ini. Dzikir itu merupakan pancaran Nur Muhammad yang disemayankan oleh Allah ke dalam qalbu para Nabi, lalu diwariskan kepada para ahli warisnya dan diajarkan kepada para muridnya. Murid ini adalah kaum beriman yang telah memperoleh ‘izin’ untuk berdzikir dari Guru (Ulama) pewaris Nur Muhammad dari para Nabi itu.

Jalan lama ini perlu dikonstruksi lebih ‘canggih’ sesuai dengan konteksnya. Dalam arti tetap bisa berjalan sesuai dengan kondisi yang ada. Jika dewasa ini berlaku belajar di sekolah yang menggunakan ruang kelas dan kurikulum standar maka pembelajaran dzikir harus tetap disertakan dan menjadi aktivitas rutin para anak-anak yang sudah berajak dewasa.

Dengan pembelajaran di kelas yang terus berjalan normal sekaligus dibekali ilmu ruhani berupa dzikir maka akan terbentuk sebuah proses pembelajaran yang lebih kontruktif terhadap mind nya anak. Karena salah jika mind dibentuk oleh brain. Brain hanya merespon dan memberikan stimulus terhadap apa yang bisa direspon oleh indra biasa, mata, hidung, telinga, kulit dan lidah. Namun mind dibentuk oleh proses qalbu, yang oleh Howard Gardner secara kasar disebut sebagai Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual inilah yang berada dalam qalbu merupakan pusat pembentukan manusia. Jika satu titik ini rusak, maka rusaklah seluruh tubuh, demikian sebuah adagium pesantren menyebutkan.

Sejuta Kelemahan Manusia

Sadar sesadar-sadarnya bagi kita semua sebagai manusia. Kita adalah makhluk lemah dan hanya dibekali sebuah renungan untuk berfikir bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Allah sang pencipta Alam. Dia-lah sang Maha Segalanya. Termasuk Maha Mendidik dan Maha Membimbing umat manusia.

Sepandai-pandainya seorang peneliti, profesor, atau apa pun itu tetap tidak akan mampu memberikan bimbingan secara totalitas dan online tiap hari kepada manusia. Justru kadang profesor itu juga membutuhkan bimbingan dari orang lain, dan tentunya sangat membutuhkan bimbingan dari Allah. Sebagaimana kita semua, peneliti juga orang yang lemah dan penuh kelemahan. Kemampuannya hanyalah sekelumit pemikiran yang dianugerakan Allah padanya. Sekuat dan sehebat apa pun kita tetap manusia yang memiliki sejuta kelemahan yang tidak bisa ditutup-tutupi.

Pemikiran ini jelas kontradiktif atau berseberangan dengan pemikiran kaum realisme-empiris yang lebih mengandalkan pada hasil penelitian dan kajian empiris. Karena dianggap solusi yang mendekatkan diri kepada Allah dianggap tidak bisa diteliti. Padahal Islam itu pasti ilmiah dan hasilnya bisa dibuktikan dengan pengamatan dan penelitian.

Sekali-kali kita teliti sebuah masyarakat yang secara berbondong-bondong selesai mengerjakan sebuah suluk i’tikaf. Dimana mereka telah menjalankan dzikir esok dan petang, terkondisi dalam ritual dan ajaran Islam, yakni 24 jam dalam kondisi suci dari hadats, bicara dibatasi, dan imajinasi hanya diizinkan untuk mengingat wajah Tuhan serta tidur yang dikondisikan fakir. Pasti akan memperoleh sebuah hasil yang menajubkan dan sebuah proses pembelajaran yang jauh dari proses belajar 12 semester misalnya.

Penutup

Akhirnya, ada lima catatan yang patut menjadi pemikiran pendidikan dewasa ini terkait dengan artikel yang diterbitkan oleh Prof. Rhenald Kasali di www.rumahperubahan.co.id.

Pertama, tentang brain yang membentuk mind adalah sebuah kesalahan. Mind dibentuk qalbu, atau spirit yang mana para peneliti Barat gagal menyebutnya dan gagal pula mengetahuinya. Jika brain  bisa diteliti maka qalbu tidak bisa diteliti (jika menggunakan metode yang telah diterapkan oleh peneliti Barat.)

Kedua, jika demikian maka pembelajaran harus dititik beratkan pada pembentukan qalbu ini. Karena melalui qalbu inilah semua pengetahuan akan terbentuk dan proses pembentukan manusia bisa terwujud. Dari titik qalbu inilah otak mulai terkoneksi dengan seluruh tubuh lalu melahirkan banyak hal yang positif dan mencegah segala hal yang negatif. Sehingga melahirkan manusia yang cerdas merespon zaman dan cerdas pula menghadapi tantangan zaman.

Ketiga, karena qalbu adalah unsur yang halus dan satu-satunya jalan yang bisa dilalui untuk pengembangan mind maka cara satu-satunya pula hanya dengan dzikrullah. Berdzikir yang berguru pada ahli waris para nabi. Dengan dzikir inilah semua proses pembelajaran anak akan dipermudah dan dengan sendirinya akan membentuk kepribadian anak menjadi manusia yang lebih bisa mengembangkan semua kecerdasannya.

Keempat, anggaran 20% untuk pendidikan di Indonesia ini jangan sampai sia-sia hanya karena salah memberikan sistem pendidikan yang dianggap baik, yang meniru dari kebudayaan yang menghasilkan Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Anggaran itu perlu diarahkan pada sistem tepat dan tidak hanya membuang-buang uang rakyat yang dipungut dari pajak.

Dan kelima, anak-anak cerdas di Indonesia ini jangan lagi tumbuh secara mendadak menjadi anak yang bodoh hanya karena salah menerapkan sistem pembelajaran yang membodohkan. Anak-anak harus diarahkan pada sebuah sistem pembelajaran yang baik. Tentunya saja mereka harus dibekali dengan dzikrullah dan harus diarahkan untk rajin berfikir dan berdzikir.

Sebagai cacatan akhir, kesalahan kita dalam menerapkan sebuah sistem pembelajaran tentu akan menjadi petaka bagi masa depan anak-anak negeri ini.