Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGHADAPI WABAH-FITNAH CORONO DENGAN NISFU SYA’BAN PRODUKTIF  

oleh : MOH. SYIHABUDDIN

Media arus utama meliputi koran Jawa Pos, koran Kompas dan majalah Tempo serta semua media lainnya (yang tiap hari saya berlangganan dan membacanya tiap minggu), bincang-bincang di facebook, instagram, youtube, hingga siaran televisi dan obrolan di watshapp semua telah turut serta menyebarkan kabar corona, yang artinya ketakutan, kewaspadaan, dan kengerian corona semakin menyebar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Langkah pemerintah sudah benar, memberikan anjuran dan saran untuk waspada dan hati-hati, serta melakukan pembatasan komunikasi sosial. Namun media membuat kondisi corona ini mirip mosnter dan mirip serangan invansi alien. Kabar negatif lebih mendominasi suara-suara media dan lebih ganas diterima oleh masyarakat.

Sebenarnya, dengan anjuran pemerintah saja masyarakat sudah bisa memahami dan mau menaati anjurannya, namun alih-alih memberikan pencerahan media arus utama membuat gaduh dan keresahan masyarakat dengan keberadaan informasi corona. Akibatnya corona menyebar dan menjangkiti bukan karena keberadaannya dan “virusnya” namun lebih pada kabar-kabar yang beredar secara serampangan, masif, terus-menerus, diulang-ulang, memenuhi halaman utama, dan dari lambe ke lambe. Masyarakat pun gaduh dan kacau.

Kendati demikian tidak semua segmen masyarakat terpengaruh dengan penyebaran fitnah tersebut. Tetap ada saja gerakan kecil (sub kultur) untuk melawan fitnah tersebut mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat Islam-Indonesia.

Dengan memanfaatkan moment Nisfu Sya’ban para ustadz dan santri di masjid dalem Nurul Iman Karangagung Palang Tuban berupaya melakukan kegiatan positif yang bisa membendung arus fitnah-wabah corona. Dengan bekerjasama bersama komunitas kitasama para santri-ustadz semarak mengadakan kegiatannya dengan penuh antusias dan kegembiraan yang menggelorah.

Dimulai sejak pukul 08.00 para ustadz melaksanakan khotmil qur’an bi Nadhor secara bergantian. Mereka secara bergiliran bertadarus membaca al-Qur’an hingga khatam sampai pada juz 30, tepat pada pukul 15.00.

Kemudian pada pukul 15.30 tepat ba’da jama’ah asyar dilaksanakan acara dziba’an dan kupatan yang diikuti oleh masyarakat sekitar dan seluruh santri. Para santri membaca sholawat sambil menikmati kupat yang disediakan oleh masyarakat dan komunitas kitasama.

Dan pada malam harinya, kajian rutin majalah Aula (Maret 2020) dilaksanakan yang diikuti oleh delapan anggota tetap dan satu anggota tambahan.

Kendala kegiatan ini Cuma satu, pengumuman tentang adanya kegiatan rutin nisfu sya’ban kupatan telat, sehingga tidak banyak masyarakat yang datang membawa ketupat ke masjid, karena sebelumnya sudah “takut” dan dilarang oleh seorang modin yang mengalami coronafobia.

Dengan tetap menjalani rutinitas yang hukumnya sunnah, produktif, mencerdaskan, menyenangkan, membahagiakan, dan tentunya penuh keseriusan berfikir akan membentuk secara alami kekebalan tubuh yang ada dalam diri. Sehingga para ustadz-santri di Nurul Iman tidak takut dengan penyebaran fitnah-wabah corona, karena yakin tubuhnya sudah terbentuk kekebalan secara alami dari kegiatan yang dilakukan tersebut.

“Kami tidak melanggar anjuran pemerintah, namun saya lebih pada menentang terhadap kabar-kabar seram yang disebarkan oleh koran-koran dan televisi,” kata Darmawan, sosok dibalik keberhasilan kegiatan nisfu sya’ban tersebut, sosok kepala TPQ Nurul Iman.

“Seandainya ada larangan dalam melaksanakan kegiatan ini maka saya yang paling depan akan memberikan keterangan bahwa kegiatan ini bisa mencegah penyebaran corona,” sambung Imam, salah satu agen kitasama yang menyiapkan ketupat bagi para santri.

“Saya bukan tidak menghiraukan anjuran pemerintah yang melarang kegiatan mengaji dan berkumpul, namun saya lebih suka kegiatan saya ini disebut sebagai upaya untuk menjaga kondisi isolasi terbatas agar tetap ceria dan riang.” Tegas Nafi’arwani, santri senior yang rajin mengadakan dziba’iyah di Nurul Iman.

Melihat komentar mereka tentu saja kabar menyebarnya corona dan kebenaran-ketidakbenarannya bisa dibendung dan bisa diminimalisir agar tidak memberikan ketakutan terhadap masyarakat desa.

Nampaknya, langkah mereka lebih cerdas dari pada langkah isolasi desa yang tidak jelas arah dan maksudnya.

Falanjistan, 14 Sya’ban 1440 H

Rabo, 08 April 2020 M.