Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGHADAPI HIPERMORALITAS YANG MENJALAR DI ERA POSTMODERN

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama stiftung

 

Kehidupan dalam masyarakat postmodern tidak bisa dilepaskan dari wacana tentang moralitas, dimana mereka telah melandasi moralitas secara filososif pada tradisi Nietzsche, yang membongkar posisi biner antara baik/buruk, benar/salah, kemudian memberikan kelonggaran terjadinya perpindahan diantara keduannya.[1] Konsep moralitas seperti ini menggiring pada suatu permainan moral yang tanpa batas dan tanpa memiliki aturan yang memberikan ciri khusus. George Bataille menyebut kondisi ini sebagai Hipermoralitas.[2]

Masyarakat postmodern telah menjunjung tinggi hipermoralitas yang berusaha mengambangkan batas-batas moral yang ada, lalu menariknya ke pelbagai arah sehingga memungkinkan terjadinya tumpang-tindih moral kontradiksi diantara keduanya. Batasan antara baik/buruk, benar/salah, tidak ada lagi dalam kehidupan. Semua telah digerakkan dalam arena bebas moral hingga pada titik yang tidak ditemukan puncaknya (hiper).[3]  Moralitas dimainkan dengan berbagai cara, menuju kebebasan tanpa batas hingga mencapai kesenangan, tanpa harus mengindahkan batasan-batasan yang pernah ada.

Bauldillard memberikan gambaran yang jelas mengenahi permainan moral ini. Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat postmodern moral telah ditarik pada titik ekstrem atau pada titik melampaui, wujudnya bisa dilihat pada penarikan bentuk-bentuk seksualitas ke arah batas-batas seks itu sendiri (hipersexualitas). Penggeseran komoditas pada batas-batas komoditas (hiperkomoditas), kehidupan sehari-hari ditarik pada kenyataan kosong yang melampaui kenyataan yang sesungguhnya (hiperrealitas), dan pelampauan (hiper) ranah kehidupan lainnya.[4] Pengaruh hipermoralitas ini sudah mempengaruhi wacana politik, sosial, ekonomi, dan budaya dalam masyarakat postmodern yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai moralitas yang ada (agama, adat istiadat, tradisi masyarakat), tapi digeser pada permainan gejolak hasrat total (total disere).

Wacana sosial-politik dunia postmodern tidak lagi mengindahkan nilai-nilai moral politik kenegaraan, tapi digeser pada logika hasrat. Politik menjadi ajang pemenuhan hasrat untuk menguasai, mengambil kekayaan negara secara radikal (korupsi), dan melupakan tujuan pengabdian sebagai alat negara untuk memajukan Negara (rakyat banyak).[5] Demokrasi, sebagai jargon politik arus utama di dunia postmodern menjadi omong kosong yang tidak lain merupakan jalan lain menguasai kekayaan secara sepihak, bukan jalan untuk meratakan kekayaan Negara kepada semua warga negara.[6] Di Negara-negara demokrasi ketimpangan kepemilikan terjadi begitu jelas dan berbedaan antara kaya/miskin semakin melebar jauh.

Wacana sosial-ekonomi dalam dunia postmodern digeser pada logika hasrat dan mengabaikan tujuan ekonomi sebagai upaya untuk meratakan kekayaan kepada masyarakat. Kekayaan hanya dimiliki oleh segelintir orang saja, sedangkan yang lainnya lebih banyak jatuh dalam lembah kemiskinan. Masyarakat ekonomi postmodern ditampilkan oleh penampilan kaum kapitalis dengan berbagai kelimpahan kekayaan yang mereka miliki.[7] Kekayaan yang mereka miliki bukan karena mereka membutuhkan, tapi karena cenderung menjadikan kepemilikan sebuah permainan hasrat untuk menampilkan kesenangan dan hiburan semata.

Hiburan dan permainan hasrat ekonomi masyarakat postmodern ditampilkan dalam bentuk belanja ke mall, melancong ke kota-kota metropolis dunia, dan rekreasi ke tempat-tempat hiburan. Aktivitas itu dilakukan bukan karena ingin membeli apa yang menjadi kebutuhan hidup mereka, namun lebih pada melepaskan hasrat kesenangan dan menghambur-hamburkan kelebihan yang dimiliki.

Wacana sosial-budaya masyarakat postmodern jauh lebih ekstrim. Dengan bantuan media televisi dan internet hasrat telah dilepas dan dibiarkan terbang bebas untuk bisa dinikmati tanpa harus takut dengan moralitas. Semua batas-batas ditembus, batas seksualits dilangkahi hingga menghadirkan pornografi; batas aturan masyarakat dilampaui hingga menghasilkan kekerasan; dan batas aturan Negara diterjang hingga menghasilkan para koruptor.[8] Melalui media televis gejolak hasrat total disajikan dan ditampilkan. Dalam tayangannya televisi telah menyajikan berbagai acara yang tumpang tindih; pagi hari menampilkan pesan-pesan religi, siang hari menyajikan kriminalitas dan kekerasan, sore hari menghadirkan hiburan dan kesenangan, dan malam hari menampilkan banalitas dan juga pornografi.[9] Saat ini apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh televisi menjadi tidak jelas, yakni mengenahi nilai-nilai apa yang disampaikan dan disajikan kepada masyarakat. Namun menjadi jelas jika dihubungkan dengan wacana masyarakat postmodern, ia merupakan alat untuk menyebarkan budaya postmodern dalam permainan bebas moral. Televisi tidak perlu memperhitungkan nilai apa yang akan disampaikan, cukup hasrat dan permainan moral bisa dilakukan dan sajikan secara rancuh sudah menjadi bagian yang efektif untuk menyebarkan tumpah-tindihnya moralitas. Ia menghilangkan batas-batas moralitas yang ada, termasuk batasan yang berhubungan dengan ketuhanan.

Kehadiran televisi dan internet telah menjadikan dunia terkepung dalam tehnologi. Ia tidak memberikan ruang sedikit pun kepada masyarakat untuk jedah sejenak dan beristirahat menerima berbagai luapan hasrat. Informasi yang dihadirkan oleh kedua alat postmodern itu muncul setiap hari tanpa henti.[10] Tidak ada yang bisa mengontrol kemunculan informasi yang terus mengalir darinya, hingga masyarakat mengalami overload lalu menggeser pada kondisi kelelahan (stress).

Jama’ah Hasan Ma’shum sadar kehadiran hipermoralitas dalam kehidupan masyarakat postmodern. Mereka menganggap bahwa hiperrealitas akan selalu ada selama kehidupan manusia ini ada, karena hal itu merupakan cobaan dari Tuhan untuk umat-Nya yang beriman. Di dalam al-Qur’an hipermoralitas disebut dengan melampaui batas.

Bagi jama’ah Hasan Ma’shum menghadapi hipermoralitas tentu saja dengan cara terus mengikuti suluk yang telah diadakan. Karena hanya melalui suluk itulah diri akan terjaga dan terbentengi secara ruhani sehingga tidak mudah terpengaruh dengan meluapnya hasrat di dalam masyarakat. Tidak heran jika setiap ada jadwal suluk sebagian besar jama’ah Hasan Ma’shum menyiapkan diri sejak dini melalui persiapan mental, ekonomi, psikis, dan tentunya kondisi keluarganya yang akan ditinggal.[11]

Para jama’ah Hasan Ma’shum, khususnya yang lebih senior memandang hipermoralitas dalam segala bentuknya sebagai hal yang remeh temeh, tidak berharga, tidak memiliki nilai, dan bisa merusak hati untuk intensif berkomunikasi dengan Allah (melalui dzikir). Cara menghadapi kondisi itu hanya dengan banyak suluk dan terus menjaga kondisi pasca-suluk untuk tetap melekat dalam dirinya. Hanya melalui suluk inilah hati (qalbu) akan terjaga dan tidak akan tertarik dengan luapan hipermoralitas yang telah dusuguhkan dalam masyarakat postmodern. Dengan banyak suluk maka dengan sendirinya diri akan terbimbing (secara tidak sadar) dari berbagai kondisi hipermoralitas.

Alhamdulillah, saya selalu dihindarkan dari segala perkara yang mungkar sejak aktif suluk. menurut saya Suluk menjadi jalan bagi umat Islam untuk secara otomatis menghindari segala hal yang bisa mengurangi iman dan akan mengarahkan pada kondisi yang bisa memperkuat keimanan. Tanpa suluk saya tidak yakin ada orang yang bisa menghindari ‘kepungan zaman’ (hipermoralitas) sekarang. Karena zaman sudah terlalu kacau dan hanya kepada Allah harus diserahkan semuanya.[12]

Melalui suluk, luapan informasi dari televisi dan internet yang meledak akibat melepasnya hasrat secara bebas juga bisa dikendalikan. Secara psikis luapan informasi itu tidak menyehatkan pikiran, karena banyaknya informasi yang tumpang-tindih dan saling campur-aduk. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kondisi ketenangan dan kenyamanan dalam hati, atau bisa jadi mengalami kekacauan. Dengan suluk semua kekacauan itu akan dibersihkan dari segala macam aktivitas yang ada di dalam suluk.[13] Misalnya, larangan untuk berfikir apapun selain kehadiran Guru Mursyid di dalam suluk sudah cukup untuk membersihkan segala macam ilusi dan angan-angan akibat pengaruh hipermoralitas. Perilaku pun akan diubah secara berlahan-lahan melalui bimbingan Guru Mursyid, sehingga tidak mudah melepas hasrat dan mengumbar nafsu.

[1] Chris Barker. Culture Studies: Praktik dan Teori. (Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2011), 151.

[2] Yasraf Amir Piliang. Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi. (Bandung: MIzan. 2011), 236.

[3] Yasraf Amir Piliang. Semiotika dan Hipersemiotika: kode, gaya dan matinya makna. (Bandung: Matahari. 2012), 129.

[4] Jean Bauldillard. Birahi. (Bentang: Jogjakarta. )….

[5] Logika politik di dunia postmodern adalah logika globalisasi yang lebih mementingkan kekayaan pribadi dengan mengabaikan kepentingan secara umum. Lihat William K. Tabb. dalam Tabir Politik Globalisasi. (Jogjakarta: Lafadl. 2003), 98.

[6] Paul Treanor. Kebohongan Demokrasi. (Jogjakarta: Istawa. 2001), 1.

[7] Daren Acemoglu dan James A. Robinson. Mengapa Negara Gagal: awal mula kekuasaan, kemakmuran, dan kemiskinan. (Jakarta: Elek Media Komputindo. 2014), 429.

[8] M. Burhan Bungin. Pornomedia: Sosiologi media, konstruksi sosial teknologi telematika dan perayaan seks di media massa. (Jakarta: Prenada Media. 2005), 99.

[9] Marcel Danesi. Pesan, Tanda dan Makna. (Jogjakarta: Jalasutra. 2011), 275.

[10] Ibid, 279.

[11] Sebagaimana yang dilakukan oleh bebrapa Ikhwan ketika akan berangkat suluk. akan tetapi tidak semua jama’ah Hasan Ma’shum menyiapkan suluk sebagaimana yang dilakukan oleh ikhwan yang lain, mereka tanpa melakukan persiapan dan hanya mengandalkan tekad dan komitmen untuk berangkat. Dan pada kenyataannya segala urusan yang ditinggalkan telah terselesaikan dengan sendirinya. Pengamatan penulis dan diskusi penulis dengan para jama’ah HASAN MA’SHUM saat selesai tawajuh rutin pada Februari 2016.

[12] Wawancara dengan seorang Ikhwan yang tidak mau disebutkan namanya pada 2015.

[13] Hal inilah yang dimaksud oleh Syech Abdul Qadir Jailani sebagai “Dunia adalah Penjara bagi Orang Mukmin”, karena orang yang beriman senantiasa dikepung oleh godaan dunia dari segala penjuru. Lebih-lebih di era sekarang ‘penjara’ itu nampak nyata dan terus menjadi penghalang bagi orang yang beriman untuk bisa mendekatkan hatinya kepada Allah. Lihat Syech Abdul Qadir Jailani dalam Tenggelam dalam Lautan Hikmah Kekasih Allah. (Jogjakarta: Diva Press. 2015), 117.