Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGERAHKAN SEMUA GURU KE PERSIDANGAN, MAU APA?

Para pengurus Yamasyhar yang duduk di tempat tunggu, menunggu hasil mediasi yang dipimpin oleh majelis hakim

kaptenturkiyo@gmail.com

Pada persidangan yang keempat ini pihak tergugat mendatang semua guru yang mengajar di lembaga pendidikan yang telah ‘dikuasainya’—lebih tepatnya ‘direbut’ secara dzalim, mulai dari PAUD, TK, MI, MTs hingga SMK dan Madin-nya juga.

Kenapa mereka di datangkan? Mau apa para guru datang ke persidangan? Mengapa mereka mau-maunya diperalat oleh pihat tergugat untuk membelanya?

Kedatangan mereka ke persidangan tidak memberikan efek apa-apa terhadap tergugat, karena tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya melihat kondisi yang biasa-biasa saja dan hanya akan menyaksikan kondisi pihak yang dibelanya telah menempuh cara yang salah. Dan hal itu ternyata benar, pihak tergugat ‘melanjutkan’ tahapan sidang pokok perkara, yang artinya pihak tergugat pada posisi ‘salah’.

Dipersidangan para simpatisan tidak bisa melakukan apa-apa, karena semua proses persidangan mempunyai prosedur dan tata caranya sendiri yang tidak memerlukan banyak-sedikitnya ‘suporter’ yang hadir. Kehadiran para guru ke persidangan justru menambah rasa malu dan kondisi yang memalukan—membela pada pihak yang telah melakukan kedzaliman secara sepihak.

Kedatangan para guru, dengan muka yang sangat ‘berat’ dan terasa ‘malu’ terpaksa hadir di lokasi persidangan sambil menahan rasa malu ketika berhadap-hadapan dengan para sesepuh dan pengurus Yamasyhar.

Karena para guru ada yang termasuk direkrut oleh pengurus sepuh, ada yang saudara dari pengurus Yamasyhar, ada yang memiliki hubungan kekerabatan lainnya. Adanya hubungan-hubungan itulah maka para guru terlihat canggung dan malu, bahkan bingung dengan apa yang akan dilakukannya.

Idealnya para Guru

Idealnya. Para guru tidak perlu hadir dalam persidangan yang menjerat pihat tergugat, karena hal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pihak tergugat. Para guru tetap akan aman dan akan dilindungi oleh para penggugat, yakni para sesepuh dan pengurus tua. “Tidak ada guru yang akan dipecat, itu hanya isu dan fitnah.” Tegas kiai Zainul Munji.

Para guru, yang saat ini telah mengabdi dan mengajar di lembaga milik Yamasyhar hendaknya sadar dan tahu diri bahwa mereka hanya karyawan, yang telah menempati tempat yang telah dibangun oleh Yamasyhar. Mereka makan dari gaji yang disebabkan oleh tempat yang telah dibangun oleh pengurus sepuh.

Mereka harus menghormati jerih payah para pengurus sepuh yang telah berjuang dengan ‘tanpa bayaran’ membangun tempat yang kini telah menjadi tempatnya bekerja. Bukannya malah ikut terlibat ‘perlawanan’ menghadapi para sesepuh. Kehadiran mereka di persidangan sebagai upaya ‘perlawanan’ justru menjadi tindakan yang penuh dengan kedzaliman dan banalitas yang disembunyikan.

Sebaiknya guru hanya fokus mengajar, tidak perlu hanyut dan mengikuti arus provokasi yang telah diucapkan oleh pihak tergugat. Tugas mereka hanya mengajar dan mendidik anak dengan sebaik-baiknya, tidak ikut terlibat pada kasus yang justru akan mencemarkan nama baiknya.

Guru Harus Menimbang

Dalam hal inilah para guru harus banyak mengambil pelajaran, bahwa mereka harus tahu dan bisa menimbang, dimana posisi yang benar dan salah, bukan posisi yang menang dan kalah.  

Salah seorang guru saya tanya saat datang di persidangan, “kenapa ikut datang pak, mau apa di persidangan ini?” dan mereka rata-rata menjawab, “Saya ini hanya manut saja dan tidak tahu apa-apa.”

Bahkan guru senior, Sampuri, S.Pd. menjawab ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama, “saya ini tidak tahu apa-apa, hanya meluangkan waktu untuk datang saja. Yang diperkarakan dalam kasus ini saya tidak terlibat apa-apa.”

“Saya ini tinggal ngikut saja, tidak tahu harus bagaimana. Saya takut dianggap tidak memiliki solidaritas jika tidak ikut hadir.” Kata guru yang lebih muda yang mengabdi di SMK NU.

Jika demikian adanya, maka seharusnya mereka bisa menimbang dengan cermat dimana posisi yang benar dan posisi yang salah. Seharusnya mereka tidak perlu terlibat dalam kasus ‘penggasapan’ aset-aset NU ini, karena jika mereka memaksa terlibat akan menghabiskan energi dan pikirannya sendiri.