Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGEJAR KSATRIA JERMAN, TURKI DAN TIONGKOK (Janissary Jawah episode ke-28

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Matanya seolah terjebak pada sosok yang menatapnya dan mengajaknya bicaranya, mata memancarkan aura kecantikkan yang sangat menawan, bibirnya membentuk rangkaian ombak-ombak kecil dimasa laut surut, dan suaranya lembut selembut suara burung bul-bul. Kali ini, Ngapudin benar-benar dibuat kesulitan untuk berfikir dan mendefinisikan sosok yang telah dinikahinya tanpa ada orangnya ini.

“Kau sudah menemukan suamimu?” tanya Ngapudin, berusaha mendapatkan penegasan tentang dirinya.

“Belum. Hingga kini aku masih belum menemukannya.” Jawabnya.

Ngapudin diam, matanya menatap Herlina dan Mei Xioling yang juga mengalami kebingungan. Kedua tanganya menepuk pinggang keduanya yang berselonjor. Memberikan isyarat untuk diam dan tidak perlu menceritakan banyak hal. Herlina dan Mei Xioling memahami kode-kode itu.

“Mengapa kau menolongku, nona?” Ngapudin berusaha menutup hatinya yang sedikit terganggu. Pertanyaannya hanyalah upaya untuk tetap membuat segalanya biasa saja. Tidak disangka dirinya bertemu dengan istrinya dan pada posisi sedang menolongnya.

“Ada seseorang yang telah memintanya dan aku harus melaksanakannya.” Jawab Yilmaz, dengan suara lembut.

“Siapa dia?” Ngapudin mengeraskan suaranya.

“Nanti tuan akan tahu, setelah kita sampai ditempat yang sudah kujadikan neraka bagi para serdadu Belanda itu.” Yilmaz memberikan jambu air kepada Ngapudin dan kedua perempuan yang mendimpingi di kanan kirinya. “Tapi ngomong-ngomong, anda katanya sendirian, ternyata tidak, ada dua bidadari yang menemani anda?”

“Benar, awalnya aku sendirian. Tapi dua perempuan ini benar-benar sayap yang membantuku untuk melanjutkan pelarian dan terus terbang lari dari kejaran Serdadu Mangkunegara.” Kata Ngapudin.

“Nona, kami hanya dua wanita yang mengabdi padanya, kami adalah pelayan-pelayan yang mengawal tuan kapten untuk bisa menyelesaikan tugasnya.” Sahut Herlina, sambil mengedipkan matanya kemata Mei Xioling.

Mei Xioling menangkap isyarat yang diberikan Herlina dengan sangat cerdas. Tahu apa yang harus dilakukannya, untuk tetap menyembunyikan hubungannya dengan Ngapudin. “Benar nona, kami awalnya adalah musuh yang ingin memperoleh hadiah untuk membunuh dia. Kami awalnya bekerja untuk pemerintah kolonial di Hindia ini. Namun kami sadar bahwa kapten tidak bersalah, maka kamipun merasa bersalah jika membunuhnya. Makanya kami lebih baik memutuskan untuk berlari bersamanya.”

Yilmaz mengupas jambu airnya, memakannya sambil menunjukkan bibirnya yang lahap pada buah yang mudah dijumpainya di negeri Hindia ini. “Kau beruntung tuan kapten, mendapatkan dua pengawal yang sangat setia dan hebat. Tidak bisa kubayangkan jika anda sendirian melawan kera-kera itu, anda bisa menjadi santapan yang lezat.”

“Anda cantik nona,” Yilmaz menatap Herlina dengan senyuman persabahatan. “Pantas saja Belanda marah saat kehilangan anda dan mendengar penghianatan anda.”

Herlina tersenyum sambil sedikit menahan tubuhnya dari goncangan kereta. Ada batu yang ditabrak oleh roda kayu kereta yang ditumpanginya. “Anda juga, wanita hebat yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi kepada sesama wanita.”

Senyum Yilmaz membuat gigi putihnya terlihat. “Aku berharap, jika Allah mengizinkan, mempunyai suami yang sama dengan anda,” gurau Yilmaz.

Kontan ucapan itu membuat tiga wanita yang ada di dalam kereta tertawa bersama-sama dengan pikiran dan maksud yang berbeda. Yilmaz murni bergurau, Herlina sudah memikirkannya jauh-jauh hari tentang ‘menjadi istri kapten selanjutnya’, dan Mei Xioling tidak membayangkan suaminya memiliki perempuan-perempuan hebat disampingnya. Dan tanpa disadarinya ketiganya seolah langsung dekat dan akrab.

“Kalian jangan membuatku bingung. Tertawa yang tidak jelas.” Kata Ngapudin menahan detak hatinya yang merasa grogi menghadapi kenyataan dirinya.

“Lebih baik anda istirahat dan menyandarkan tubuh anda, tuan. Karena luka anda sangat parah.” Kata Yilmaz menghibur Ngapudin, sambil mengeluarkan sesuatu dari tas di samping pinggangnya, lalu memberikannya pada Mei Xioling. Sebuah botol berisi cairan. “Sementara ini berilah luka-lukanya cairan ini, agar sedikit bisa mempercepat keringnya luka-luka itu. Cakaran kera-kera liar itu sangat menyakitkan, bukan.”

“Apa ini, sebuah obat?” tanya Mei Xioling.

“Benar, sebuah obat yang berfungsi untuk mempercepat keringnya luka dan menghilangkan nyeri pada lukanya. Aku mendapatkannya dari Istanbul, sebelum berangkat ke negeri Jawah ini.” jawab Yilmaz, yang kembali mengunyah jambu airnya.

“Apakah ilmu pengobatan di kesultanan Utsmani sangat berkembang?” tanya Herlina.

“Itu sudah menjadi sebuah keniscayaan. Pengobatan di kesultanan  Utsmani sudah berkembang pesat saat ini, melibatkan beberapa ilmuwan dari seluruh wilayah kekaisarannya untuk melanjutkan proyek-proyeknya syekh ibnu sina, ibnu Rusyd, dan syekh al-Khawarizmi yang sudah banyak diminati oleh orang Eropa. Termasuk bangsa tiongkok juga diundang untuk ikut serta dalam proyek pengembangan itu, agar ditemukan banyak inovasi yang dimunculkan.” Yilmaz membuang sisi buah yang busuk dari jambu yang dikunyanya. “Cairan itu adalah salah satu produk buatan para ulama Utsmani dari berbagai belahan Kekahlifahan yang meneruskan ilmu-ilmu syech ibnu sina.”

“Jadi anda juga ahli dalam ilmu pengobatan?” tanya Mei Xioling, yang mulai membuka tutup botol cairan itu.

“Sayangnya itu tidak, aku sama sekali belum mendalami ilmu kedokteran. Aku justru lebih tertarik dalam pengembangan ilmu kimia dan pembuatan bahan-bahan peledak. Aku memilih hobiku pada mengembangkan ragam jenis bubuk mesiu dan rancun asap yang efektif untuk melakukan kebaikan.” Kata Yilmaz. “Dan dalam keadaan perang seperti saat ini, aku mengembangkannya menjadi sebuah senjata.”

“Keren, anda sosok istri yang hebat. Beruntung sekali lelaki yang akan menjadi pemimpin hidup anda.” Herlina memuji Yilmaz, sambil menepuk pinggangnya.

“Lagi-lagi anda memuji saya, memang anda pantas juga menjadi bagian dari cinta bersama saya, nona.” Yilmaz tersenyum. Menendangkan kakinya ke kaki Herlina.

“Lalu obat ini, mengapa anda memilikinya?” tanya Mei Xioling, sambil menghirup aroma cairan itu, merasakan hawa penyembuhan dari dalamnya.

“Tentu saja saya memilikinya nona, karena setiap warga Utsmani pasti mengenal dekat obat-obatan buatan para ulamanya. Dan hampir semua ulama juga menggunakan ramuan itu untuk pengobatan. Termasuk kakekku, yang datang kesini.” Jawab Yilmaz.

“Sekarang, kakek anda dimana?” tanya Ngapudin yang sedikit penasaran dan merasa ingin menemuinya. Karena dari kakeknya Yilmaz inilah dirinya terpilih, bisa memiliki sosok wanita Turki yang sangat cantik ini.

Wajah Yilmaz tiba-tiba mengerut, kecantikannya sedikit tergores perasaan gundah di dalam hatinya. Airmata seolah ingin keluar dan mengalir pelan dipipinya. “Sejak pangeran Diponegero tertangkap, lalu seluruh legiunnya bubar,” Yilmaz matanya mulai berkaca-kaca. “Dan beberapa putranya dan cucunya banyak yang syahid di dalam setiap peperangan yang dijalaninya, membuat beliau kembali ke Urfa di Anatolia selatan.”

“Jadi, anda sendirian di Jawa ini?” Ngapudin semakin mendesak untuk banyak tahu.

“Tuan Kapten akan tahu sendiri, tapi nanti, jika waktu sudah menunjukkannya.” Yilmaz mulai menangis, yang membuat suasana di kereta kuda itu sedikit hening dan sunyi. Suara geronjalan batu ditengah perjalanan seolah tak ada artinya.

“Tenanglah nona, aku akan menjadi saudaramu. Kuanggap kau kakakku sendiri, jangan bersedih.” Herlina memeluk Yilmaz, dan Yilmaz menyandarkan ketubuh orang yang tidak pernah terpikirkan membantu menentramkan hatinya itu. Mungkin karena kedekatan negerinya, yang sama-sama jauh dari negeri Jawa, sehingga perasaan untuk saling melindungi dan menyatukan nasib bisa muncul.

Ngapudin menarik nafas panjang, ingin rasanya menunjukkan dirinya kepada Yilmaz, namun ia kembali berfikir untuk tetap menahannya.

Melihat tatapan Herlina yang tersenyum menoleh menghadap kearahnya, Ngapudin merasa bangga, ada rasa hangat dan sejuk didadanya. Dalam pandangan Ngapudin, Herlina bisa menjadi perempuan yang cukup kuat dan tangguh dalam menghadapi kelemahan orang lain, ciri khas gadis Jerman melekat kuat didalam dirinya. Ia selalu hadir disaat orang lain sedang membutuhkan pertolongannya.

“Kakak, bersandarlah. Aku akan mengoleskan cairan ini. semoga perkataan dimas Yilmaz benar.” Mei Xioling mengalihkan pikiran Ngapudin agar tidak terjebak pada kesedihan yang dialami Yilmaz.

Ngapudin menyandarkan tubuhnya ke dinding kereta yang terbuat dari kayu jati. Lalu sedikit menselonjor kakinya, untuk memperlihatkan luka-luka dikakinya.

Saat itulah dua proses pengobatan terjadi, Herlina mengobati hatinya Yilmaz, dan Mei Xioling mengobati luka-lukanya Ngapudin. Dalam beberapa detik waktu seolah berhenti dan membuat semuanya terdiam.

Dalam sebuah bisikan dan suara pelan, “Inilah sebuah keharmonisan dalam ikatan penyatuan yang sangat diharapkan oleh alam semesta, saling membantu dan berkerjasama, tidak ada hawa nafsu yang memperbudak hati dan pikirannya, semuanya berjalan dalam pusaran arus keindahan dan kebahagiaan.” Mei Xioling meniup luka-luka Ngapudin, agar tidak terlalu basah.

“Perempuan sebagai lambang kenikmatan dunia menjadi unsur yang menetramkan dan saling menghidupkan, adalah kebenaran yang harus ditegakkan.” Kata Mei Xioling yang dengan lembut mengoleskan cairan obat diluka-lukanya Ngapudin. “Dan hari ini, kakak telah mendapatkan semuanya.” Bisiknya, sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Ngapudin.

***

Ditengah perjalanan menuju daerah jebakan yang hampir dekat, kereta yang ditunggangi Ngapudin harus menghadapi beberapa prajurit berkuda yang bersenjatakan pedang, tombak, dan beberapa juga ada yang membawa senapan. Mereka adalah para gerombolan patroli pemburu yang mengejar sebagai pasukan perintis, sebelum pasukan utama berkumpul dan mengikuti langkahnya.

“Itu mereka, kejar.” Teriak salah satu kawanan serdadu Belanda itu yang melihat kereta berkuda berlari menjauh. Jaraknya cukup lumayan, lima ratus meter.

Melihat ancaman yang sudah muncul semakin dekat, membuat Joyosantoso memberitahu pada Yilmaz agar siaga dan memberikan pertahanan. “Nyonya, ada musuh. Dia tidak jauh dari kita.”

Yilmaz berdiri, keluar dari kereta dan menuju ke tempat kusirnya. “Lebih kencang, sebentar lagi kita akan sampai.”

Yilmaz kembali masuk kedalam kereta dan segera menyiapkan semua senjata yang dibawanya. Beberapa bola-bola peledak diikatkan ditiga sabuknya, tiga-tiganya diikatkan ditubuhnya secara berbeda, menyilang dipundak kanan dan kiri dan dipinggangnya. Lengkap sudah ditubuhnya penuh dengan kebutuhan dalam mengalahkan musuhnya.

“Aku akan menahan mereka dan membuat sedikit kesulitan. Sedikit lagi kita akan sampai.” Kata Yilmaz kepada teman-temannya. “Nona Xioling, anda jaga tuan kapten, saya dan Herlina yang akan menghadapi mereka.”

“Apa yang bisa kubantu, saudara?” tanya Herlina, yang semakin mengakrabkan dirinya dengan Yilmaz.

“Ada tiga senapan di depan, di kursi kusir. ambilah jika kau bisa menggunakannya.”

Herlina mengambil ketiga senapan itu, lalu mengisinya dengan bubuk mesiu. “Aku sudah siap. Aku akan menjaga disamping kanan, kau disamping kiri.”

Kesiapan perang yang sudah matang dan diperhitungkan sebelumnya membuat posisi Yilmaz sangat menguntungkan. Posisi kereta yang sedang berlari melawan kuda-kuda yang mengejarnya sangat rawan untuk dilumpuhkan. Serangan yang membabi buta akan mengakibatkan banyak kerugian bagi pihak yang dikejar. Namun jika di dalam kereta banyak senjata maka keunggulan ada pada pihak yang dikejar, bukan yang mengejarnya.

Dalam beberapa menit pertempuran diatas kereta kuda menghadapi kejaran pasukan kavaleri berkuda berlangsung dengan ganas dan mematikan. Kedua belah pihak berusaha untuk segera melumpuhkan pihak yang dihadapinya.

Melihat dua musuh berkudanya pada jarak dua meter dari posisi keretanya, membuat Yilmaz bertindak cepat dengan melemparkan satu bola peledak ke kaki kuda musuhnya. Kuda itu terpelanting dan menjatuhkan penunggangnya. Lalu bola peledak seterusnya, berhamburan menghantam para pasukan pengejar yang jumlahnya bertambah dan terus berdatangan dari arah samping kanan dan kirinya.

“Mereka terus berdatangan,” teriak Herlina, sambil membidikkan senapannya kearah musuh-musuhnya.

“Tidak masalah, kita habisi kemampuan serangan mereka. Paling tidak pedang dan tombaknya tidak efektif untuk menyerang kita.” Teriak Yilmaz.

Seorang komandan lapangan Mangkunegara membidikkan pistolnya. Tembakannya melesat cepat menyentuh bokong kereta. Tentu saja tidak bisa melukai Herlina, yang menghindar dibalik kayu kereta.

Lemparan bola peledak Yilmaz lebih efektif. Membuat gangguan terhadap kuda-kuda yang mengejarnya. Beberapa kuda berbalik arah karena ketakutan, dan ada beberapa pula yang terperosok kedalam lumpur sawah. Kendati demikian, pertahanan itu tidak menyurutkan lawan-lawannya untuk terus mengejarnya.

Semakin mendapatkan perlawanan para pengejar semakin menguatkan tarikan tali kekangnya, untuk sebisa mungkin menjangkau kereta dan menaikinya. Sebisa mungkin diantara mereka menghindari lemparan bola peledak Yilmaz dan bidikan senapan Herlina.

bersambung….