Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENGAJI ONLINE, TANPA TABARUKAN DAN TANPA SEJATINYA PENGETAHUAN (BISA JADI) AWAL KEHANCURAN ENERGI TRADISI ISLAM NUSANTARA

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Kehadiran fitnah-wabah korona bersamaan dengan gerakan pembatasan aktivitas sosial mendorong kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang menjadi kegiatan yang hanya dilakukan melalui live streming, onlien, baik di youtube maupun facebook. Mulai dari rapat kedinasan, mengaji kitab, dan hingga diskusi-diskusi keilmuan semuanya dilakukan secara live streming..

Yang paling terdampak dengan adanya fitnah-wabah ini adalah umat Islam, sholat jama’ah dan mengaji puasa adalah korbannya yang paling “babak-belur”. Banyak bertebaran mengaji online yang dilakukan secara jarak jauh, cukup melihat via smartphone saja, atau PC di rumah (dimana saja) sudah bisa mengaji—tidak perlu bertemu atau datang ke tempat mengajinya (pesantren, musholla, masjid) sang kiai.

Dulu, mengaji itu datang ke pesantren, hadir di masjid atau musholla, untuk mendengarkan langsung pengajian kiainya membaca kitab. Dan inilah yang sejatinya benar yang disebut dengan mengaji.

Kehadiran seorang santri untuk mengaji di tempat mengajinya adalah agar bisa bertemu dengan kiai. Bersalaman pada pak kiai itu menjadi sasaran khidmat dan upaya mendapatkan keberkahan dari kemuliaan (hidupnya) kiai. Setiap doa pembukaan mengaji dan doa penutupan ngaji kiai merupakan hikmah dan keberkahan yang pasti akan diterima oleh santri dan jamaah yang hadir.

Pada konteks mengaji kehadiran santri-jama’ah untuk bertatap muka dengan kiainya adalah sebuah keharusan dan mutlak harus dilakukan. Karena hanya dengan bertatap muka itulah (1) keberkahan dari membaca kitab, (2) keberkahan dari pengarang kitab (musonef) dan (3) keberkahan dari kiainya yang membaca kitab bisa diperoleh oleh santri-jama’ah. Tanpa kehadiran santri-jama’ah secara fisik ditempat mengaji maka keberkahan tidak akan bisa diperolehnya. Paling-paling hanya sekedar informasi, pengetahuan yang sifatnya tidak akan memberikan bekas pada kepribadian dan qalbu santri-jama’ah.

Mengaji pada sosok seorang kiai bukan untuk memperoleh apa yang dibaca dari kitabnya atau apa yang telah disampaikannya (melalui ucapannya) saja—jika hanya ingin memperoleh isi kitab dan informasi keagamaan itu dengan mudah bisa diperoleh dengan membaca kitabnya secara langsung, mencari naskahnya atau mencari bukunya. Tapi keberkahan dan tatap muka secara langsung inilah yang dicari, agar keberkahan yang melakat dalam hatinya kiai—karena rajin ibadah dan berdzikir “terpancar” menyinari diri para santri-jama’ah yang hadir.

Dengan kehadiran dan semaraknya mengaji live streming dan online (mengaji virtual) maka keberkahan dari mengaji itu sendiri hilang. Tidak ada keberkahannya yang akan diperoleh dari mengaji online, hanya sekedar informasi dan nasehat-nasehat saja. Karena pada pelaksanaan mengaji virtual tidak dilakukan tatap muka langsung—pertemuan antar wajah guru dengan wajah murid tidak terjadi.

Jelas, menjadi nyata jika dalam mengaji virtual keberkahan itu tidak akan pernah diperolehnya.

***

Keuntungan dari mengaji online atau live streming adalah pengetahuan dan informasinya itu bisa diperoleh secara meluas dan menyeluruh, bahkan secara global. Termasuk juga untuk membendung arus informasi negatif yang ditimbulkan oleh oknum (muslim) radikalisme agama, wahabisme, kaum celana cingkrang berjenggot, wanita bercadar, dan hedonisme keagamaan yang palsu yang dibentuk mereka. Pada tataran ini mengaji live streming dan online sangat baik secara dakwah namun jelas tidak baik secara keberkahan.

Pengetahuan yang diperoleh melalui mengaji online hanya sebatas informasi biasa yang tidak akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan ketaqwaan kepada Allah. Mengaji secara online juga tidak bisa memberikan “jalan lurus” untuk menemukan Allah sejati. Dan mengaji online juga kehilangan esensinya sebagai media untuk berkonsultasi ruhani secara langsung antara santri-jama’ah dengan kiainya.

Maka, bukannya tidak baik, mengaji online boleh-boleh saja, namun mengaji secara tatap muka langsung adalah hakekat mengaji itu sendiri, dan itulah yang harus dilakukan.

***

Lahirnya internet membuat dunia berubah secara drastis. Apa yang dulunya terbatas menjadi tak terbatas. Jarak antar wilayah semakin dekat dan batas antara belahan dunia semakin tak nampak. Segalanya yang jauh menjadi dekat dan yang tidak ada seolah-olah menjadi ada. Dan inilah yang mengubah mengaji (keagamaan Islam) penuh keberkahan menjadi mengaji tanpa keberkahan sama sekali.

Sejak semaraknya live streming melalui facebook atau youtube kegiatan-kegiatan tatap muka langsung, interaksi sosial dan konsolidasi masyarakat berubah menjadi “masyarakat tontonan” dan masyarakat virtual. Tatap muka berubah menjadi tatap media, baik smartphone atau PC. Dan inilah yang menghilangkan unsur kekuatan populis masyarakat muslim Indonesia yang realitanya dibentuk melalui tradisi yang mengandalkan kekuatan perkumpulan, cangkruan, musyawarah, dan pertemuan langsung serta kehadiran secara langsung di pusat kegiatan (pesantren, masjid atau musholla).

Inilah yang perlu diwaspadai. Jika tradisi tatap muka dan mengaji secara berjama’ah ini hilang maka tradisi yang mengakar di Indonesia sebagai kekuatan identitas Islam Indonesia akan melebur bersama identitas globalisme. Kapitalisme, dan hedonisme yang pada gilirannya akan melenyapkan “identitas Islam nusantara”.

1 Ramadlan 1441 H.