Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENERAPKAN TEORI COMMON LINK: Metode Penelitian Hadits dengan Menggunakan Analisis Isnad Terbaru Juynboll

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

PENGANTAR

Sebagai sebuah pedoman utama kedua bagi umat Islam setelah al-Qur’an, posisi hadits sangat penting dan memiliki kualitas yang patut dijaga dan dipelihara. Berbagai cara dilakukan oleh para ilmuwan muslim untuk menjaga kualitas hadits dari karangan, kepalsuan, dan bahkan kesalahan redaksi aslinya. Hal inilah yang menjadikan hadits melahirkan berbagai ilmu yang mendukung untuk menjaga keotentikannya. Salah satu langkah untuk memelihara sebuah keotentikan hadits adalah dengan cara memelihara isnad-nya, yakni “pemberitaan rawi (orang yang meriwayatkan hadits) tentang rentetan rawi yang meriwayatkan hadits yang dijadikan sandaran dalam periwayatan hadits”.[1]

Dari proses pemeliharaan isnad inilah keotentikan sebuah hadits terjaga dan bisa dipertanggungjawabkan. Hingga beberapa generasi metode pemeliharaan Isnad ini mendapatkan tempat yang istimewa di mata para sarjana Muslim. Namun demikian, tidak selamanya semua itu aman dari kritik. Adalah para orientalis yang telah melakukan kritik terhadap kualitas hadits, baik dari segi matan-nya maupun dari segi sanad-nya. Diantara mereka ada yang condong memberikan penilaian untuk merusak kualitas hadits sebagai sumber hukum umat Islam dan ada pula yang lebih condong sebagai jalan tengah yang memberikan keseimbangan antara memberi dukungan terhadap posisi hadits dan memberikan kritik secara konstruktif, dengan harapan agar lebih relevan dan bisa lebih dipertanggungjawabkan sebagai pedoman beragama.

Seorang orientalis Belanda ahli hadits, G.H.A. Juynboll adalah salah satu orientalis yang lebih condong memberikan kritik yang konstruktif terhadap posisi hadits. Dengan teori common Link-nya Juynboll mampu melakukan pembongkaran terhadap beberapa kelemahan yang dialami oleh metode para sarjana muslim dalam meneliti hadits, disamping memberikan penilaian yang positif terhadap model periwayatan hadits ala sarjana muslim yang mampu mengkodifikasi hadits hingga menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Alih-alih merusak bangunan intelektual islam sebagaimana yang dilakukan oleh para orientalis, Juynboll dengan teori common link bisa memberikan nuansa baru penelitian hadits menjadi lebih bertenaga (dalam keilmuan) dan lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Namun demikian, munculnya teori common link telah merobohkan tembok oligargi penelitian hadits ala sarjana muslim yang sudah lama mapan. Beberapa hal yang dulunya dinyakini kebenarannya akhirnya harus mengalami kritik tajam yang menyebabkan derajadnya turun dari posisi yang semula. Juynboll tidak hanya menghancurkan kebenaran pribadi rawi, namun juga membongkar bagaimana keberadaannya, kapan waktunya, dan apa yang sedang dilakukannya. Dengan kata lain, Juynboll memberikan perspektif baru dalam penelitian hadits yang dipandang dari sisi kesejarahan, tidak hanya matan dan sanad-nya saja.

 

SEKILAS TENTANG JUYNBOLL

Juynboll lahir di Leiden, Belanda pada tahun 1935 dengan nama lengkap Gautier H. A Juynboll. Ia adalah seorang pakar di bidang perkembangan awal hadits, yang dibuktikan dengan upayanya dalam memfokuskan diri meneliti hadits dari persoalan klasik hingga kontemporer selama tiga puluh tahun. Kepiawaiannya dalam bidang hadits telah diakui oleh dunia internasional sehingga namanya pantas disejajarkan dengan nama-nama seperti James Robson, Fazlur Rahman, M. M. Azmi dan Michael cook.[2]

Ketika Juynboll masih menjadi mahasiswa S1, dia telah bergabung sekumpulan kecil orang untuk mengedit satu karya yang kemudian menghasilkann separo akhir dari kamus hadits, Concordance et indices de la tradition musulmane, tepatnya dari pertengahan huruf ghayn hingga akhir karya tersebut. Dan pada tahun 1965 hingga 1966, dengan dana bantuan dari The Netherlands Organization for the Advancement of Pure Research (ZWO), Juynboll tinggal di Mesir untuk melakukan penelitian mengenai pandangan para teolog muslim terhadap literatur hadits. Melalui penelitian tersebut, Juynboll berhasil menyusun disertasi dan berhasil pula mempertahankannya di depan senat, sehingga Juynboll mendapatkan gelar doktoralnya di bidang sastra di fakultas sastra Universitas Negeri Leiden, Belanda pada kamis, 27 Maret 1969. Disertasinya tersebut diterbitkan oleh penerbit E. J. Brill, Leiden pada tahun 1969, kemudian dia melanjutkan penelitiannya dengan meneliti berbagai persoalan, baik yang klasik maupun yang kontemporer.[3]

Pada tahun 1974, dia menulis sebuah makalah yang berjudul On The Origins of Arabic Prose dan kemudian dimuat dalam buku Studies on the First Century of Islamic Society. Sejak saat itulah, ia memfokuskan diri menulis hadits dan tidak pernah meninggalkannya lagi. Disamping kesibukannya menekuni hadits Juynboll juga mengajar ilmu hadits di beberapa universitas di Belanda. Lalu  menjadi pembimbing para mahasiswa yang sedang menulis tesis dan disertasi yang menekuni bidang yang sama dengan yang ditekuninya. Akan tetapi hal tersebut kurang begitu diminatinya. Karena bagi Juynboll dunia akademik kurang memberikan tantangan dalam mengembangkan keilmuan yang dimilikinya. Oleh karena itulah ia memilih jalur yang berbeda dengan para ilmuwan yang lain, yang cenderung lebih suka masuk di dunia akademik.[4]

Juynboll pun lebih memilih menjadi seorang ilmuwan swasta (Private scholar) yang tidak terikat dengan universitas manapun, akibatnya dia tidak memiliki jabatan akademis sebagaimana para ilmuwan besar lainnya. Kegiatannya sehari-hari adalah sebagai daily visitori di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda untuk melakukan penelitian hadits, khususnya di ruang baca koleksi perpustakaan Timur Tengah Klasik (Oriental Reading Room), di bawah pengawasan seorang supervisor bernama Hans van de Velde.

Sebagai seorang ilmuwan dan peneliti bidang hadits, Juynboll telah menghasilkan beberapa karya, baik berupa artikel ataupun buku, sehingga ikut memberikan sumbangan terhadap studi hadits khususnya dan studi Islam pada umumnya. Sebagian besar pemikirannya tentang hadits dielaborasikan dalam tiga bukunya, yaitu The Authenticity of the Tradition Literature: Discussion in Modern Egypt, Muslim Tradition: Studies in Chronology, Provenance and Authorship of Early Hadith, dan Studies on the Origins and Uses of Islamic Hadith.[5]

Selain ketiga buku tersebut, Juynboll juga memiliki sejumlah karya dalam bidang hadits dalam bentuk artikel, diantaranya The Date of the Great Fitna, On the Origins of Arabic Prose: Reflections on Authenticity, Shu’bah bin Hajjaj (d. 160/ 776) and His Position Among the Traditionistsb of Basra, dan An Excursus on the Ahl as-Sunna in Connection with Van Ess, Theologie und Gesellschaft, vol IV. Disamping hadits Juynboll juga menulis karya-karya dalam bidang lain seperti Qur’an, fiqh dan historiografi, yang di antaranya adalah Review of Qur’anic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation by John Wansbrough, Review of the Sectarian Milieu: Content and Composition of Islamic Salvation History, Some Thought on Early Muslim Historiography dan New Perspective in the Study of Early Islamic Jurisprudence.[6]

 

POSISI JUYNBOLL SEBAGAI PENELITI HADITS

Menurut J. Koren dan Y. D. Nevo, posisi Juynboll dalam Studi Hadits Modern di Barat tentang studi mengenai sejarah Islam awal, agama dan kedudukan al-Qur’an sebagai kitab suci di Barat telah berkembang ke arah dua pendekatan, yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan revisionis. Pendekatan tradisional yaitu meneliti sumber-sumber Islam dan mengujinya dengan cara-cara yang sesuai dengan asumsi dan tradisi kesarjanaan muslim. Diantara tokoh-tokohnya adalah Fuat Sezgin, Nabia Abbott dan M. M. Azami. Sedangkan pendekatan revisionis yaitu mengkaji sumber-sumber Islam dengan metode kritik sumber (source critical methods) serta menganggap sumber-sumber non Arab dan bahan-bahan lain, seperti temuan-temuan arkeologi, epigrafi dan numismatic yang secara umum tidak dikaji oleh aliran tradisional sebagai bukti sejarah.

Karya-karya kaum revisionis menawarkan uraian-uraian yang berbeda dan bertentangan tentang penaklukan Arab dan kemunculan Islam. Mereka cenderung menarik kesimpulan yang mengingkari validitas uraian-uraian historis yang didasarkan pada berbagai fakta dari sumber-sumber Islam. Diantara tokohnya adalah Ignaz Goldziher dan Joseph schacht. Kedua aliran diatas tidak pernah dapat dipertemukan satu sama lain karena aliran yang pertama menggolongkan aliran kedua sebagai aliran yang melakukan studi agama dan literatur, bukan studi sejarah.

Dalam hal ini ada dua pendapat tentang kedudukan Juynboll diantara para tokoh pengkaji hadits di Barat. Kedua pendapat tersebut adalah; pertama Pendapat yang meletakkan Juynboll dalam aliran revisionis. Misalnya, Michael Cook yang menggolongkan Juynboll ke dalam aliran revisionis, dengan alasan bahwa secara implisit Juynboll merupakan pengikut Schacht dimana Juynboll mengkaji ide-ide Schacht. Disamping itu juga Juynboll banyak merujuk kepada karya-karya Schacht, khususnya tentang teori Common Link. Junyboll merupakan pengembang dari teori Common Link tersebut dan dalam beberapa hal ia mampu memberikan contoh yang lebih spektakuler daripada Schacht sendiri.[7]

Wael B. Hallaq sependapat dengan Cook, menurutnya pendapat Juynboll yang menyatakan bahwa dalam sejarah Islam hadits Nabi pada perkembangannya telah dipalsukan dan secara bertahap telah dikembalikan kepada Nabi. Walaupun Juynboll mengembalikan sumber hadits seperempat abad lebih awal daripada Schacht, yakni sekitar tahun 60 hingga 70 H.

Kedua, pendapat yang meletakkan Juynboll dalam posisi tengah-tengah (midle ground), diantaranya adalah David S. Powers, menyatakan bahwa Juynboll mencoba memposisikan diri dalam posisi tengah-tengah yaitu diantara orang-orang yang mempercayai otentisitas hadits dan orang-orang yang meragukannya. Pendapat ini didasarkan pada pernyataan Juynboll yang mengakui bahwa hadits yang berisi laporan-laporan yang dinisbatkan kepada Nabi mendekati gambaran tentang perkataan dan perbuatan Nabi secara aktual, namun para ilmuwan hadits belum pernah mengembangkan satu metode yang memungkinkan untuk menunjukkan kesejarahan penyandaran hadits secara tepat. Selain hal tersebut, juga didasarkan pada perkataan Juynboll yang tidak mengingkari jika pengikut Nabi mungkin saja telah membicarakannya pada tahun 40-an dan 50-an hijriah, setelah Nabi meninggal, namun kriteria periwayatan dan informasi mengenai Nabi yang formal dan memenuhi standar, baru dikembangkan pada tahun 670 dan 700 M.

Yang sejalan dengan pendapat David S. Powers adalah Herberr Berg dengan mendasarkan bahwa Juynboll disatu sisi enggan menerima implikasi total dari keraguan Goldziher dan Schacht yang membuat ke dalam ketidakpastian. Akan tetapi, disisi lain, Juynboll menolak posisi naif kaum tradisionalis serta menganggap bahwa penggunaan penyandaran sederhana seperti dalam isnad secara historis tidak dapat dipertahankan lagi.

Perbedaan pendapat para ilmuwan tentang kedudukan Juynboll dalam studi hadits modern di Barat karena memang dipengaruhi dari sudut pandang yang berbeda. Jika dari segi paradigma, Juynboll diletakkan dalam aliran revisionis. Akan tetapi jika dilihat dari hasil penelitiannya, akan terasa sedikit mampu menjembatani jarak yang sedemikian lebar diantara dua aliran tersebut (Midle Ground).

 

TEORI COMMON LINK

Dalam melakukan studi terhadap hadits Juynboll telah mengembangkan sebuah teori penelitian yang disebut dengan Teori Common Link. Teori Common Link merupakan teori penelitian hadits yang pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Schacht dalam bukunya yang berjudul The Origins of Muhammadan Jurisprudence, di mana buku ini telah menjadi sumber inspirasi penelitian hadis dalam kesarjanaan Barat. Kesimpulan umum Schacht tentang hadis adalah tidak ada hadis yang dapat ditelusuri secara historis sampai kepada nabi. Hal ini didasarkan pada hypothesis bahwa isnad cendrung tumbuh kebelakang (tend to grow backwards), artinya semakin kebelakang semakin sempurna dan panjang jalur isnadnya. Dengan mempelajari secara seksama pertumbuhan isnad dan dengan menganalisa isnad sebuah hadis tertentu, Schacht mencoba mengidentifikasi perawi umum (common transmitter) bagi hadis yang sedang diteliti. Schacht sampai pada kesimpulan bahwa munculnya sebuah common link dalam semua atau hampir semua isnad hadis adalah indikator yang sangat kuat bahwa hadis muncul pada masa common link. Jadi, meskipun karakter isnad yang secara partial palsu, isnad dapat digunakan untuk menemukan pengarang atau author hadis yang diteliti dengan membandingkan isnad-nya yang berbeda-beda dan mencari common link-nya.[8]

Schacht mengajukan lima rule yang harus diterapkan ketika ingin memastikan umur sebuah hadis berdasarkan isnad. Pertama, isnad yang paling lengkap dan sempurna berarti isnad tersebut paling belakangan munculnya. Kedua, kalau ada isnad yang berhenti pada level Tabi’in disamping isnad yang mencapai otoritas yang lebih tinggi, maka yang terahir adalah sekunder. Ini adalah hasil dari apa yang ia sebut sebagai backwards growth of isnad. Ketiga, varian-varian isnad yang muncul dalam sumber-sumber belakangan dengan otoritas atau perawi tambahan adalah palsuan. Keempat, eksistensi seorang common link penting dalam semua atau hampir semua isnad dari hadis tertentu adalah indikasi sangat kuat bahwa hadis tersebut berasal dari masa common link tersebut. Kelima,  varian-varian isnad yang melewati common link adalah varian belakangan.

Meskipun Schacht yang mempopulerkan teori common link, namun Schacht tidak mengaplikasikannya secara ekstensif. Dan salah satu yang paling berjasa mengembangkan teori common link secara ekstensif adalah Juynboll.

Juynboll menangkap teori common link Schacht secara totalitas, bahkan telah memberinya perspektif baru dan memperluas skopnya, meskipun Juynboll berbeda dari Schacht dalam beberapa poin penting. Juynboll, sebagaimana dengan sarjana Barat yang lain, tidak cendrung menyandarkan sebuah hadis kepada nabi hanya karena hadis tersebut terdapat dalam canonical collection (kutub al-sitta). Dalam beberapa tulisannya, Juynboll seringkali mengemukakan sebuah asumsi dasar yang menjadi pijakannya dalam meneliti hadis serta memperkenalkan beberapa istilah teknis yang relatif baru, yang berhubungan erat dengan teori common link. Juynboll mengungkapkan bahwa semakin banyak jalur periwayaran yang bertemu, baik yang menuju kepadanya atau yang meninggalkannya, maka semakin besar pula seorang periwayat dan periwayatannya memiliki klaim kesejarahan.

Common link menurut Juynboll adalah istilah untuk seorang periwayat hadis yang mendengar suatu hadits dari (jarang lebih dari) seseorang yang berwenang dan lalu ia menyiarkannya kepada sejumlah murid yang pada gilirannya kebanyakan dari mereka menyiarkan lagi kepada dua atau lebih muridnya. Dengan kata lain, common link adalah periwayat tertua yang disebut dalam berkas isnad yang meneruskan hadits kepada lebih dari satu murid. Dengan demikian, ketika berkas isnad hadits itu mulai menyebar untuk yang pertama kalinya maka disanalah ditemukan common link-nya.[9]

Selain itu common link adalah originator (pencetus) atau fabricator (pcmalsu) isnad dan matan hadits yang kemudian disebarkan kepada beberapa muridnya. Pada level ini, Juynboll mempertanyakan mengapa jalur isnad itu baru bercabang dari common link. Ia tidak dapat menerima penjelasan yang menyatakan bahwa dunia Islam abad II H./VIII M., penuh sesak dengan periwayatan hadits, di mana beratus-ratus hadits telah dilaporkan oleh pribadi-pribadi tunggal kepada pribadi-pribadi tunggal lain dan pada gilirannya juga disampaikan lagi kepada pribadi-pribadi tunggal lain, dan begitu seterusnya.

Juynboll menyadari bahwa sebuah shahifah, model kitab hadits abad pertama, yang berisi sejumlah hadits, disebarkan oleh para penghimpunnya kepada pribadi tunggal yang kemudian menyampaikannya kepada pribadi tunggal berikutnya selama beberapa dekade dari keberadaannya, namun hal ini tidak dapat menjelaskan terjadinya ribuan jalur isnad tunggal yang menyebarkan hadits kepada ribuan jalur isnad tunggal selanjutnya. Menurutnya hanya ada satu penjelasan mengenai hal ini; bahwa single strand (jalur tunggal) yang merentang dari comman link ke bawah hingga nabi tidak merepresentasikan jalur periwayatan sebuah hadits nabi, dan sebagai akibatnya tidak memenuhi ukuran kesejarahan, tetapi hanya sebuah jalur yang diciptakan oleh cammon link sendiri agar sebuah laporan atau hadits tertentu lebih mendapatkan kewibawaan dan pengakuan di kalangan ahli hadits, lebih-lebih untuk memenuhi kriteria yang pertama dan utama pada saat itu, yakni isnad marfu.[10]

Jadi, jika sebagian besar bundel isnad terdiri dari jalur tunggal antara Nabi dan common link, dan baru pada level common link hadits itu mulai tersebar ke beberapa murid maka dapat disimpulkan bahwa kesejarahan periwayatan dalam bundel isnad dapat dipercaya hanya setelah penyebaran itu dimulai, yaitu pada level common link dan bukan sebelumnya. Kenyataan ini, menurut Juynboll, didukung oleh kenyataan mengenai kronologi sejarah dan perkembangan isnad sebagai sebuah institusi yang baru muncul pada akhir tahun 70-an (abad II H./VIII M.) dan juga oleh data tentang common link tertua dalam literatur hadits yang tidak dapat dibayangkan telah menyebarkan hadits sebelum tahun 80 H./ 699 M. 2.

 

ISTILAH-ISTILAH TEKNIS DALAM COMMON LINK

Teori common link yang diungkapkan oleh Juynboll merupakan sebuah ekstensif dari common link yang telah diungkapkan oleh Schacht. Sebagaimana diungkapkan diatas bahwa Juynboll menangkap teori common link Schacht secara totalitas, bahkan telah memberinya perspektif baru dan memperluas skopnya, meskipun Juynboll berbeda dari Schacht dalam beberapa poin penting.

Dalam teori common link Juynboll ada beberapa istilah teknis yang relatif baru diantaranya :

  1. Partial Common Link

Merupakan sebuah istilah bagi periwayat yang menerima hadits dari seorang (atau lebih) guru, yang berstatus sebagai common link atau yang lain, dan kemudian menyampaikannya kepada dua orang murid atau lebih. Semakin banyak partial common link (pcl) memiliki murid yang menerima hadits darinya maka semakin kuat pula hubungan guru dan murid dapat dipertahankan sebagai hubungan yang historis. Dalam hal ini, pcl bertanggung jawab atas perubahan yang terjadi pada teks asli (protoversion). Baik dalam bentuk melengkapi atau mengurangi; meringkas atau memperluas kalimat yang terdapat dalam teks (matan) asli.

Lebih dari itu, pcl sering kali meringkas anekdot historis menjadi semboyan hukum, pendapat yuridis, diktum etika maupun moral. Singkatnya, periwayat yang menjadi pcl telah memainkan peranan yang sangat krusial dalam perubahan matan hadits asli menjadi versi yang pada akhirnya terhimpun dalam berbagai koleksi hadits.

  1. Inverted Partial Common Link

Inverted Partial Common Link merupakan istilah bagi periwayat yang menerima laporan lebih dari seorang guru dan kemudian menyampaikannya kepada (jarang lebih dari) seorang murid. Sebagian besar ipcl muncul pada level yang lebih belakangan dalam bundel isnad tertentu dan dalam bundel isnad yang lain terkadang mereka berganti peran sebagai pcl.

  1. Single Strand dan Diving Single Strand

Single Strand merupakan jalur periwayatan tunggal antara common link dan Nabi. Sedangkan diving merupaka istilah bagi jalur isnad independen dari seorang periwayat yang—karena merasa tidak puas dengan jalur isnad yang dimiliki, melangkahi dan sekaligus mcnghindari cl, dan kemudian bertemu dengan isnad lainnya yang lebih dalam pada thabaqah (tingkatan) tabi’in atau sahabat. Inilah yang disebut dengan jalur-jalur menyelam.

Jalur-jalur  penyelam, menurut Juynboll, merupakan fenomena yang baru muncul pada masa yang relatif belakangan dan bcrasal dari akhir abad kedua hijriah, yakni sekitar tahun 180 H. Jalur penyelam ini terbagi menjadi tiga macam: pertama, jalur penyelam yang berakhir pada tabi’in awal. Ini adalah jalur penyelam tertua bila dibandingkan dengan jalur penyelam lainnya, namun lebih muda dibanding dengan jalur-jalur yang tidak menyelam di bawah common link, tetapi berakhir pada common link.

Kedua, jalur penyelam yang berakhir pada sahabat. Jalur penyelam ini lebih baru asal-usulnya daripada yang berakhir pada tabi’in. Ketiga jalur penyelam yang berakhir pada Nabi. Jalur penyelam ini dianggap sebagai jalur yang paling baru. Artinya, semakin dalam jalur isnad itu menyelam di bawah common link maka semakin baru pula asal-usul jalur tersebut. Dengan kata lain semakin dalam jalur itu menyelam (dive) di bawah common link, semakin muda (belakangan) umur atau asal-muasal jaringan isnad tersebut.

  1. Inverted Common Link inverted common link

Merupakan istilah yang berlawanan/kebalikan dengan common link. Dengan kata lain dalam common link  terdapat satu jalur tunggal yang merentang dari Nabi hingga common link, yang tcrdiri dari tiga sampai lima periwayat dan kemudian baru menyebar ke beberapa jalur pada level common link, sedangkan dalam inverted common link terdapat berbagai jalur tunggal yang bcrasal dari saksi mata yang berbeda-beda, dan pada gilirannya masing-masing dari mercka me-nyampaikannya kepada seorang murid hingga pada akhirnya bersatu dalam inverted common link.

Jika common link cenderung memalsukan jalur tunggal yang bersumber dari-nya hingga kepada Nabi atau sahabat maka sebaliknya,  inverted common link cenderung tidak memalsukan nya. Inverted common link tidak mungkin memalsukan berbagai jalur isnad yang turun ke berbagai saksi mata. Ia juga tidak memalsukan kandungan atau inti laporan. Walaupun ia memperbaiki uraian-uraian yang berbeda mengenai peristiwa yang sama dan membentuknya menjadi satu narasi inti peristiwa sejarah itu bukan merupakan hasil dari imajinasinya sendiri.

Oleh karena itu, otentisitas hadits hukum yang menunjukkan model common link dipertanyakan, sementara hadits-hadits sejarah atau akhbar yang menunjukkan model inverted common link dapat diterima sebagai laporan yang reliable (dapat dipercaya).

 

CARA KERJA TEORI COMMON LINK

Dalam kajiannya terhadap sanad hadis, Juynboll secara umum bisa digolongkan kepada dua bagian, pertama; kritiknya terhadap umat islam dalam konsep dan cara analisis sanad yang mereka kembangkan, kedua; menciptakan metode analis isnad yang baru sebagai alternatif. Ia berkesimpulan bahwa metode yang selama ini digunakan oleh para muhaddisin dalam menganalisis sanad adalah metode yang lemah. Oleh karena itu perlu rancangan metode analisis sanad yang baru untuk menyelidiki kemunculan suatu matan hadis.

Juynboll mengungkapkan bahwa tidak pernah menemukan metode yang sukses secara moderat untuk membuktikan kesejarahan penisbatan hadits kepada Nabi Saw. dengan kepastian yang tidak kontroversial kecuali dalam sedikit contoh yang terisolasi. Selain itu, metode kritik isnad, menurutnya, memiliki beberapa kelemahan: petama, metode kritik isnad baru berkembang pada periode yang relatif sangat terlambat bila dipakai sebagai alat yang memadai untuk memisahkan antara materi hadits yang asli dan yang palsu. Kedua, isnad hadis, sekalipun sahih, dapat dipalsukan secara keseluruhan dengan mudah. Ketiga, tidak diterapkannya kriteria yang tepat untuk memeriksa matan hadits.

Berangkat dari berbagai kelemahan dalam metode kritik hadits itu, Juynboll kemudian mengembangkan sebuah metode penelitian hadits yang, menurutnya, relatif baru dan mampu memberikan jawaban mengenai sumber dan asal-usul hadits dengan lebih akurat. Dalam hal ini Motzki menganggap metode tersebut sebagai contoh yang baik untuk studi analisis isnad yang dicapai di Barat saat ini dan untuk menilai literatur hadits sebagai sumber bagi penelitian sejarah. Dari berbagai tulisan Juynboll mengenai hadis, khususnya yang menggunakan teori common link dan metode analisis isnad.

Ali Masrur menyimpulkan langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menerapkan metode tersebut secara rinci. Langkah-langkah itu adalah:

  • Menentukan hadits yang akan diteliti,
  • Menelusuri hadits dalam berbagai koleksi hadits,
  • Menghimpun seluruh isnad hadits,
  • Menyusun dan merekonstruksi seluruh jalur isnad dalam satu bundel isnad (pohon sanad),
  • Mendeteksi common link, periwayat yang dinilai paling bertanggung jawab atas penyebaran hadis.

Selain merumuskan teori analisis isnad Juynboll juga menerapkan analisis matan. Secara umum, langkah-langkah metode analisis matan yang diajukan olehnya adalah:

  • Mencari matan yang sejalan,
  • Mengidentifikasi common link yang terdapat pada matan yang sejalan,
  • Menentukan common link yang tertua,
  • Menentukan bagian teks yang sama dalam semua hadits yang sejalan.

Model analisis matan Juynboll pada akhirnya kembali lagi ke model analisis isnad, yakni mencari dan mengidentifikasi common link yang terdapat pada matan yang sejalan sehingga struktur dan kandungan hadits kurang mendapat perhatian yang memadai. Oleh karena itu, tidak salah jika ia menyebut model analisisnya secara kcseluruhan dengan metode analisis Isnad terbaru.

 

IMPLIKASI TEORI COMMON LINK TERHADAP ASAL-USUL DAN PERKEMBANGAN HADITS

  1. Terhadap Sumber Hadits

Pada dasarnya, menurut para ahli hadits, sumber hadits adalah Nabi. Berbeda dengan hal tersebut, Juynboll menyatakan bahwa yang menjadi sumber hadits yang terdapat dalam koleksi hadits ataupun yang kanonik sekalipun, hadits tidak bersumber dari sahabat ataupun Nabi saw. Menurutnya, Nabi dan para sahabat tidak bertanggung jawab atas dimasukkannya nama-nama mereka dalam rangkaian isnad hadits.

Adapun yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah seorang periwayat yang berperan sebagai common link dalam bundel isnad. Menurut Juynboll, yang menjadi common link dalam bundel isnad hampir tidak pernah seorang sahabat atau bahkan tabi’in besar. Akan tetapi hampir selalu seorang dari generasi tabi’in kecil dan tabiit tabi’in. Jika para sahabat dan tabi’in besar saja hampir tidak pernah menjadi seorang common link apalagi Nabi sendiri. Sudah dapat dipastikan bahwa Nabi tidak pernah menjadi common link. Hal tersebut dibuktikan dengan kenyataan bahwa dari berbagai jalur isnad dari Nabi ke berbagai koleksi hadits tidak segera menyebar ke sejumlah sahabat dan begitu juga dari masing-masing sahabat tidak segera bercabang kesejumlah tabiin, akan tetapi hadits baru bercabang ke lebih dari satu periwayat setelah tiga atau empat periwayat yang berstatus single strand.

  1. Terhadap Metode Kritik Hadits Konvensional

Dalam rangka menghadapi gerakan pemalsuan hadits, para ahli hadits telah mengembangkan sebuah metode kritik untuk membedakan antara hadits otentik dengan hadits yang lemah dan palsu. Metode tersebut berpijak pada lima kriteria, yaitu persambungan isnad (ittishal as-sanad), keadilan periwayat (‘adalah arruwat), ke-dhabitan periwayat (dhabit ar-ruwat), keterhindaran dari syudzudz, dan keterhindaran illat. Dari metode tersebut menurut Juynboll terdapat kelemahan dalam metode kritik hadits konvensional. Metode itu menurutnya masih menimbulkan kontroversi jika digunakan untuk membuktikan kesejarahan penisbatan hadits kepada Nabi.

Juynboll mengatakan bahwa, metode kritik hadits konvensional ternyata memiliki beberapa kelemahan, yaitu kemunculannya dirasa sangat terlambat jika dipakai untuk menyisihkan materi hadits yang otentik dan tidak, Isnad dapat dipalsukan secara keseluruhan, dan tidak diterapkannya kritik matan yang tepat. Berangkat dari kenyataan itulah Juynboll kemudian menawarkan metode common link sebagai ganti dari metode kritik hadits konvensional. Metode common link ternyata tidak hanya berimplikasi pada upaya merevisi metode kritik hadits konvensional, tetapi ia juga menolak seluruh asumsi dasar yanng menjadi pijakan bagi metode itu. Jika metode kritik hadits konvensional berpijak pada kualitas periwayat maka metode common link tidak hanya menekankan kualitas sang periwayat, tetapi juga kuantitasnya.

  1. Terhadap Teori Mutawattir dalam Hadits

Dari segi kualitas periwayatnya, hadits dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni shahih, hasan, dan dha’if. Akan tetapi jika dilihat dari segi kuantitas periwayatnya, ia terbagi menjadi dua bagian, yakni mutawatir dan ahad. Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat (dan mereka juga memperolehnya) dari seorang periwayat dari awal hingga akhir sanad yang menurut nalar dan kebiasaan mereka tidak mungkin bersekongkol untuk berdusta. Ahli hadits beranggapan bahwa ke-mutawatiran sebuah hadits dapat dijadikan jaminan bahwa hadits tersebut berasal dan bersumber dari Nabi. Oleh karena itu periwayat hadits mutawatir tidak perlu diteliti. Bahkan mengamalkan hadits yang mutawatir adalah wajib dengan tanpa harus menelitinya terlebih dahulu.

Berbeda dengan ahli hadits muslim, Juynboll dalam kajiannya lebih menekankan pada keraguannya terhadap otentisitas hadits mutawatir sebagai yang benar-benar berasal dari Nabi. Dalam hal ini ia mengatakan ke-mutawatiran sebuah hadits bukanlah jaminan bagi kesejarahan penisbatannya kepada Nabi Saw. Sebagi bukti, ia meneliti dua hadits yang digolongkan oleh ahli hadits sebagai hadits mutawatir, yaitu hadits man kadzaba (larangan berbohong atas nama Nabi) dan hadits yang berisi larangan niyahah (meratapi kematian anggota keluarga).

Setelah menyelidiki berbagai sumber mengenai matan dan isnad dua hadits tersebut, Juynboll menyimpulkan bahwa kedua hadits tersebut disebarkan oleh generasi belakangan dan benar-benar tidak berasal dari periode kehidupan Nabi. Selain itu, Juynboll juga mempersoalkan definisi hadits mutawatir. Menurutnya, definisi hadits mutawatir dihasilkan dengan penuh persoalan. Perumusannya bahkan mengalami berbagai perubahan yang tidak sederhana. Terkadang ia dapat diterapkan untuk hadits tertentu dan dalam konteks tertentu, namun tidak dapat diterapkan sama sekali untuk hadits-hadits yang lain. Konsep itu dikembangkan secara sembrono dan definisinya juga tidak pernah bebas dari kekaburan (ambiguity). Istilah mutawatir juga sering digunakan secara longgar atau bahkan malah secara salah.

Demikianlah, dengan menggunakan metode common link dan juga teori lain yang terkait, seperti backward projection dan argumen-tum e silentio, Juynboll menemukan banyak anomali dalam teori tawatur, baik yang terkait dengan pendefinisiannya maupun penerapan kriterianya dalam hadits. Meski demikian, hasil temuan Juynboll tidak jauh berbeda dengan teori pertama yang diwakili oleh Ibn ash-Shalah, al-Hazimi, asy-Syathibi, dan Ibn Hibban al-Busti yang merasa kesulitan menemukan hadits mutawatir. Hanya saja, karena para ahli hadits berangkat dari definisi yang berbeda mengenai teori tawatur maka tidak mengherankan jika muncul beberapa pendapat lain di kalangan mereka mengenai teori tawatur ini.

  1. Posisi Syu’bah bin Hajjaj dalam Perkembangan Hadits

Dalam buku-buku biografi periwayat hadits, seperti al Jarh wa at-Tadil karya Abu Hatim ar-Raiff (w. 327 H.), dan Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar al-‘Asgalani (w. 582 H.), Syu’bah bin al-Hajjaj menduduki posisi yang sangat terhormat di antara para ahli hadits lainnya, khususnya di Basrah. Dalam beberapa hal, ia ditempatkan lebih tinggi daripada al-A’masy dan Sufyan al-Tsauri. Pada puncak-nya, Sufyan al-Tsauri menyebutnya sebagai amir al-mu’minin fi al hadits (pemimpin orang-orang beriman di bidang hadits). Untuk lebih jelasnya, berikut ini dikutip beberapa komentar para kritikus hadits mengenai posisi Syu’bah dalam periwayatan hadits.

Pada awalnya, Syu’bah bin Hajjaj, seorang mawla (budak) dari Wasith yang kemudian tinggal di Basrah, sebenarnya lebih tertarik dengan syair. Ketika ia mendengar seorang ahli fiqh (faqih) dan kolektor hadits terkenal, al-Hakam bin Utaibah meriwayatkan hadits dari guru-gurunya, ia kagum dan mulai mengumpulkan hadits. Syu’bah kemudian mendapat kualifikasi shalih di antara kawan sebayanya karena keterlibatannya dalam perkembangan dan perbaikan matan hadits demi kemajuan Islam. Akan tetapi, karena mampu mensistematisasi berbagai penilaian atas para periwayat hadits, ia menjadi ahli di bidang kritik hadits. Sejak saat itu, ia diakui oleh semua orang dan diberi gelar yang paling terhormat di antara para ahli hadits pada saat itu, yakni amir al-mu’minin fi al-hadits (pemimpin orang-orang beriman di bidang hadits).

Menurut Juynboll, Syu’bah bin Hajjaj merupakan common link tertua dan paling teruji kebenarannya. Juynboll menolak berbagai laporan dari para kritikus hadits dalam buku biografi periwayat hadits secara apa adanya, tetapi menempatkannya sebagai laporan sejarah bagi peristiwa sebenarnya yang mungkin saja mengandung kekurangan, kelemahan atau bahkan kesalahan, karena telah bercampur dengan berbagai interpretasi yang masuk belakangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kritik internal atas laporan-laporan tersebut. Hasilnya, dalam buku-buku tersebut informasi asli telah bercampur dengan beberapa biografi fiktif sebagai akibat dari pemalsuan hadits, sehingga untuk mendapatkan informasi asli dari yang fiktif. Dalam hal ini Juynboll menolak gelar amir al mu’minin fi al hadits yang disandangkan kepada Syu’bah bin Hajjaj dalam buku-buku rijal al-hadits.

  1. Isnad Keluarga

Sejak awal sejarah periwayatan hadits, tidak sedikit hadits yang diriwayatkan melalui isnad-isnad keluarga (family isnad). Kata keluarga di sini mencakup tidak hanya hubungan darah, yakni hubungan anak dengan orang tuanya, tetapi juga hubungan mawali, hubungan budak dengan tuannya. Beberapa contoh isnad semacam itu adalah: Ma’mar bin Muhammad dari ayahnya, Isa bin Abdullah dari ayahnya, Katsir bin Abdullah dari ayahnya, Musa bin Mathir dari ayahnya, Yahya bin Abdullah dari ayahnya, Nafi’ dari tuannya, Ibn Umar, dan Muhammad bin Sirin dari tuannya, dan Anas bin Malik. Dengan menganalisis atas isnad-isnad di atas, kata Schacht, membuktikan bahwa isnad keluarga adalah palsu dan dengan demikian ia bukan merupakan indikasi bagi otentisitas hadits, melainkan lebih sebagai alat untuk menjamin kemunculannya.

Berbeda dengan Schacht, Abbott berpendapat bahwa isnad keluarga memiliki hubungan langsung, dan sejak awal, dengan periwayatan hadits secara tertulis selama beberapa generasi. Fenomena isnad keluarga, menurutnya, semakin memperkuat teorinya yang menyatakan bahwa terdapat kesinambungan dalam periwatan hadits secara tertulis dari masa nabi hingga munculnya berbagai koleksi hadits kanonik. Juynboll dalam hal ini setidaknya didukung oleh penyelidikannya terhadap salah satu isnad keluarga yang dimiliki Malik bin Anas dalam al-Muwaththa, yang diklaim oleh para ahli hadits, seperti al-Bukhari, sebagai isnad paling sahih. Jalur isnad itu terdiri dari: Malik—Nafi’ mawla Ibn Umar—Abdullah bin Umar—Nabi saw.

Para ahli hadits menyebut isnad ini dengan silsilah adz-dzahab (isnad emas). Keraguan Juynboll atas isnad emas ini didasarkan atas dua hal, yakni kesejarahan tokoh Nafi’ dan hubungan guru-murid antara Malik dan Nafi’. Untuk masalah pertama (kesejarahan tokoh Nafi’), Juynboll paling tidak mengungkapkan tiga argumen yang memperkuat bahwa tokoh Nafi’ adalah fiktif, bukan historis.

Pertama, sangat sedikit sejarah hidup Nafi’yang dapat diketahui dari berbagai sumber biografi, bahkan lebih sedikit daripada para periwayat penting yang lain.

Kedua, terdapat kontradiksi dalam berbagai laporan tentang biografi Nafi’ yang sangat sedikit itu, khususnya tentang asal-usul dan tahun kematiannya.

Ketiga, dalam dua buku utama yang merekam para tabi’in Madinah, Thabagat al-Kabir karya Ibn Sa’ad dan Shifatash-Shafwah karya Ibn al-Jawzi, biografi Nafi’ tidak dijumpai, padahal nama-nama para tabiin yang semasa dengannya disebutkan di sana.[11]

Berdasarkan kronologi semacam itu, Juynboll menyimpulkan bahwa hadits-hadits dengan isnad Nafi’ tidak mungkin sampai kepada Malik, kecuali melalui bahan tertulis (written material) yang didapatkan Malik beberapa tahun setelah meninggalnya Nafi’. Jadi, Malik sebenarnya meriwayatkan hadits-hadits Nafi’ tersebut berdasarkan shahifah dan meriwayatkannya dengan cara ‘ardh atau mu’dradhah, sebuah praktik periwayatan hadits yang telah ada pada 110 H.

Berbagai temuan Juynboll mengenai isnad Malik—Nafi’—Ibn Umar ini dikritik oleh Motzki dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Der Islam. Dalam tulisan tersebut, berbagai temuan Juynboll tentang isnad Malik—Nafi’—Ibn Umar dipertanyakan secara serius.

Pertama, terkait dengan kesejarahan tokoh Nafi’, misalnya, Motzki mengakui bahwa terdapat beberapa periwayat penting yang tidak banyak diketahui riwayat hidupnya, sementara biografi para periwayat yang kurang penting justru direkam lebih luas dalam berbagai buku biografi periwayat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa biografi para periwayat Arab lebih banyak diketahui daripada biografi mawali.

Kedua, berbagai laporan tentang biografi Nafi’ yang oleh Juynboll dianggap kontradiktif satu sama lain sebenarnya tidaklah demikian. Walaupun terdapat dua versi mengenai asal-usul Nafi’ dalam sumber-sumber biografi tertua, Juynboll tampaknya tidak sadar bahwa Abrasyahr (daerah di sekitar Naysabur) telah disebutkan dalam Thabagat Ibn Sa’ad sebagai tempat kelahiran Nafi’ dan bahwa Umar mendapatkannya sebagai mawla dalam operasi militernya.

Ketiga, Motzki mempersoalkan sikap Juynboll yang kelihatan terkejut ketika membaca informasi tentang Nafi’ yang hampir semuanya bersumber dari Malik sendiri. Menurut Motzki, berbagai tulisan biografis mengenai Malik tentu saja menitik beratkan pada hubungannya dengan Nafi’ dan bukan hubungan Nafi’ dengan murid-muridnya yang lain. Dan, sangat logis jika Malik sendiri yang sering dikutip tentang berbagai persoalan yang menyangkut guru-gurunya, termasuk Nafi’. Terlebih lagi jika seseorang membaca tulisan biografis mengenai Nafi’, seseorang akan menemukan bahwa Malik bukanlah sumber yang dominan. Terlepas dari berbagai kritik Motzki tersebut, pandangan negatif Juynboll atas isnad keluarga, khususnya isnad emas: Malik—Nafi’—Ibn Umar, merupakan bukti yang tidak dapat dibantah bahwa ia adalah pengikut Schacht (Schachtian) yang setia. Dalam banyak hal, baik teori maupun hasil temuan Juynboll tidak lebih daripada sekadar syarh dan perluasan atas ide-ide Schacht dan juga Goldziher.

 

METODE PENELITIAN HADITS SHAUM ISNAD TERBARU VERSI JUYNBOLL

Dalam meneliti sebuah hadits langkah pertama yang dilakukan oleh Juynboll adalah menentukan siapa yang layak menduduki posisi common link. Dalam melakukan hal ini Juynboll menganalisis secara luas jalur-jalur isnad yang ada. Dan ditemukan bahwa hadits yang diteliti telah diriwayatkan tidak kurang dari 11 sahabat, yang diantaranya adalah Abu Hurairah. Dalam kutub as-sitah diriwayatkan bahwa ia telah meriwayatkan sekitar 3370 hadits. 2371 diantaranya telah diriwayatkan oleh sembilan tabi’in, (dikatakan sebagai muridnya).

Menurut jalur isnad, Abu Hurairah dilaporkan menyampaikan hadits tersebut tidak kurang dari delapan belas tabi’in: Abu Shalah, Ibnu Al-Musayyab, Al-A’raj, Muhammad bin Ziyad, Sa’id bin Mina, Sa’id Al-Maqburi, Hammam bin Munabbih, Dawud bin Farahij, Ibnu Sirin, Musa bin Yasar, Mujahid bin Jabr, Al-Hasan, ‘Abd Ar-Rahman bin Ya’qub dan Jabir bin Zaid. Dari posisi inilah nampak bahwa Abu Hurairah sebagai perawi hadits nampak jelas, baik menurut kutub as-sittah maupun selainnya. Menurut teori Juynboll, pertanyaan yang harus dijawab adalah apakah Abu Hurairah merupakan common link yang sesungguhnya atau hanya nampak sebagai common link. Oleh karena itu, akan dilakukan sebuah analisis terhadap jalur periwayatan yang disandarkan kepada setiap orang yang dianggap muridnya, yang juga dilaporkan mempunyai lebih dari satu murid. Karena keterbatasan tulisan ini maka yang akan dianalisis adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id Ibnu Al-Musayyab, yang membahas tentang puasa.

‘Abdullah bin Muhammad menginformasi-kan saya ia berkata, Hisyam menginformasikan kami, ia berkata Ma’mar menginformasikan kami dari Az-Zuhri dari ibnu al-Musayyab dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: Setiap perbuatan anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma wewangian.

Menurut para M.M. ‘Azami, tidak kurang dari lima perawi yang dilaporkan telah meriwaatkan hadits tersebut dari ibnu Musayyab: Az-zuhri, ‘Ali bin Zaid, Bukair, ibnu Ajlan, dan Salim bin Hayyan. Namun demikian, berbeda dengan Azzami, Komaruddin berpendapat, dengan alasan yang akan menjadi jelas pada saat analisis matan dari hadits Sa’id bin Mina, bahwa hanya tiga pertama yang dapat disandarkan kepada ibnu al-Musayyab. Dua perawi terakhir tidak dapat disandarkan kepada ibnu al-Musayyab sebagai informan, tetapi kepada Sa’id al-Maqburi  dan Sa’id bin Mina.

Abdur Razaq memberi satu jalur. Ia kembali kepada ibnu al-Musayyab melalui Ma’mar dan Az-zuhri. Ibnu Hanbal memberi tiga jalur periwayatan. Dua diantaranaya kembali kepada Ibnu al-Musayyab melalui ibnu Syihab Az-zuhri (melalui Ma’mar) dan yang lain melalui ‘Ali bin Zaid (melalui Abdul Waris bin Sa’id). Al-Bukhari hanya memberi satu jalur. Jalur itu juga kembali kepada ibnu Al-Musayyab melalui Az-zuhri dari Ma’mar. Muslim memberi satu jalur periwayatan. Ia kembali kepada ibnu Al-Musayyab melalui Yunus Azzuhri.  At-tirmidzi memberi satu jalur . jalur tersebut kembali kepada ibnu al-Musayyab melalui ‘Abdul Waris bin Sa’id—‘Ali bin Zaid. An-Nasa’i memberi da jalur periwayatan. Satu diantaranya kembali kepada ibnu Al-Musayyab melalui Yunus ibnu Syihab Az-zuhri dan yang lain melalui ‘Amr bin Al-Harits—Bukair. Al-Baihaqi memberi dua jalur periwayatan yang kedua-duanya kembali kepada ibnu al-Musayyab melalui Yunus al-Zuhri.

Pada pandangan pertama, ibnu al-Musayyab adalah common link dari bundel tersebut. Tiga jalur periwayatan kembali kepadanya. Namund demikian, menurut metode terakhir Juynboll, seorang common link yang sesungguhnya harus didukung oleh real partial common link. Apakah ketiga perawi dari ibnu al-Musayyab adalah real partial common link yang juga didukung oleh perawi-perawi partial common link melalui dari penghimpun hadits ke atas? Berdasarkan aturan ini, ibnu al-Musayyab tidak dapat dianggap sebagai seorang real common link,  karena tidak satu pun dari perawi ibnu a-Musayyab yang berstatus sebagai real partial common link sebagaimana akan kita lihat. Menurut bundel isnad Ibnu Syihab Az-Zuhri, salah seorang murid ibnu al-Musayyab, memiliki dua perawi, Ma’mar dan Yunus. Ma’mar dilaporkan telah meriwayatkan hadits yang sedang diteliti kepada tiga murid yang berakhir dalam empat kitab hadits, baik dalam kutub as-sittah maupun non kutub as-sittah: mushannaf Abdur Rozaq, musnad ibnu Hanbal, Shahih al-Bukhari, dan Sunan an-Nasa’i.

Riwayat Ma’mar dari Az-Zuhri kelihatannya didukung oleh riwayat Yunus melalui ibnu Wahab. Namun demikian riwayat Yunus hanyalah sebuah jalur tunggal (Single Straind) ibnu Wahab yang kepadanya juga sebuah jalur disandarkan (‘Amr—Bukair) adalah apa yang oleh Juynboll diberi istilag sebagai “common link terbalik” (inverted common link) yang riwayatnya sangat meragukan. Juynboll yang secara umum menganggap riwayat jalur tunggal (single straind) secara historis meragukan akan menganggap riwayat yang disandarkan kepada Yunus sebagai pemalsuan dan oleh karena itu tidak dapat menguatkan riwayat yang disandarkan kepada Ma’mar. Itu berarti bahwa posisi Az-Zuhri sebagai seorang partia common link tidak dapat dibuktikan. Barangkali Juynboll akan menyandarkan riwayat-riwayat yang kembali kepada Ibnu al-Musayyab kepada Abdur Razaq, dan menuduh ibnu Hanbal, al-Bukhari dan mukharij yang lain telah memasulkan atau membuat-buat riwayat-riwayat tersebut.

 

KESIMPULAN

Dengan demikian teori common link Juynboll merupakan alternatif bagi penelitian hadits untuk menentukan outentikan sebuah hadits. Adanya teori tersebut telah membuka perspektif baru bahwa kritik hadits harus senantiasa dikembangkan dan diteliti agar otoritas hadits tetap terjaga dan terpelihara.

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan terkait dengan teori yang dikembangkan oleh Juynboll, antara lain:

  1. Posisi Juynboll dalam studi hadits di Barat ada dua pendapat mengenai hal tersebut. Dari segi paradigmanya, Juynboll merupakan seorang revisionis dan merupakan seorang pengikut Schacht. Sedangkan dari segi hasil, Juynboll diletakkan dalam posisi tengah-tengah (midle ground).
  2. Common link menurut Juynboll addalah istilah untuk seorang periwayat hadis yang mendengar suatu hadits dari (jarang lebih dari) seseorang yang berwenang dan lalu ia menyiarkannya kepada sejumlah murid yang pada gilirannya kebanyakan dari mereka menyiarkan lagi kepada dua atau lebih muridnya.
  3. Common link dalam asal usul dan perkembangan hadits berimplikasi pada a) sumber hadits, b) Metode Kritik Hadits Konvensional, c) Teori Mutawattir dalam Hadits, d) Posisi Syu’bah bin Hajjaj dalam Perkembangan Hadits, e) Isnad keluarga.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman. Studi Kitab Hadis. Jogjakarta: Teras. 2009.

Abbas, Hasjim. Kritik Matan Hadis; versi Muhaddisin dan Fuqoha. Jogjakarta: Teras. 2009.

Adawi, Abdurrahman. Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. Amroeni Drajat. Yogyakarta: LKiS. 2003.

Amin, Kamaruddin. Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits. Bandung: Hikmah. 2009.

Fayyad, Mahmud Ali. Metodologi Penetapan Kesahihan Hadis. Bandung: Pustaka Setia. 1998.

Harahap, Syahrin. Metode Studi dan Penelitian Ilmu-Ilmu Ushuluddin. Jakarta: Rajawali. 2002.

Jamilah, Maryam, Islam dan Orientalisme: Sebuah Kajian Analitik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997.

Khathib (al), Muhammad ‘Ajaj. Ushulul Hadits, Poko-Pokok Ilmu Hadits. Jakarta: Gaya Media Pratama. 2007.

Masrur, Ali. Teori Common Link G.H.A. Juynboll; Melacak Akar Kesejarahan Hadits Nabi. Jogjakarta: Lkis. 2007.

Noorhidayati, Salamah. Kritik Teks Hadits: Analisis tentang ar-Riwayah bi al-Ma’na dan implikasinya bagi kualitas Hadits. Jogjakarta: Teras. 2009.

Qardhawi, Yusuf. Metode Memahami As-Sunnah dengan Benar. Jakarta: Media Dakwah. 1994.

Suryadilaga. Alfatih. Ulumul Hadits. Jogjakarta: Teras. 2010.

Suryadi. Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi; Perspektif Muhammad al-Ghazali dan Yusuf al-Qaradhawi. Jogjakarta: Teras. 2008.

[1] Mahmud Ali Fayyad, dalam Metodologi Penetapan Kesahihan Hadits. (Bandung: Pustaka Setia, 1998) 13.

[2] Lihat Ali Masrur dalam Teori Common Link G.H.A. Juynboll; Melacak Akar Kesejarahan Hadits Nabi.( Jogjakarta: Lkis. 2007), 23.

[3] Ibid, 24.

[4] Ibid, 25.

[5] Lihat Abdurrahman Badawi, dalam Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. Amroeni Drajat. (Yogyakarta: LKiS. 2003). 145.

[6] Ibid, 146.

[7] Lihat Komaruddin Amin, dalam Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits. (Bandung: Hikmah.2009). 156.

[8] Ibid, 156.

[9] Ibid, 167.

[10] Ibid, 230.

[11] Ibid, 230