Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MENELUSURI DETIK-DETIK TERAKHIR KEHIDUPAN SANG PROFESOR DAN SANG KIAI

Refleksi wafatnya Kiai Maimun Zubair dan Profesor Baharuddin Jusuf Habibi.

oleh :

Moh. Syihabuddin 

 

Akhir bulan ini di tahun 2019 Indonesia telah kehilangan dua tokoh Nasional yang berkontribusi penting terhadap eksistensi keilmuan Islam Indonesia. KH. Maemon Zubair yang wafat pada usia yang ke-91 tahun dan Profesor Dr. Baharuddin Jusuf Habibie yang wafat pada usia ke-85 tahun. Keduanya merupakan sosok pemikir dan orang penting yang dimiliki Indonesia sebagai sebuah negara yang besar dan bangsa yang beragam. Bisa dikatakan bahwa kepergian keduanya merupakan lembaran sedih bagi bangsa Indonesia.

Keduanya memiliki sisi kesamaan dan perbedaan yang cukup mencolok jika disejajarkan. Sehingga akan kelihatan sisi-sisi yang cukup berharga yang harus dipelajari oleh masyarakat milennial dewasa ini.

Mbah Moen, sapaan akrab pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang ini adalah sosok ulama yang tekun mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada generasi muda Islam. Murid-muridnya sudah tersebar diberbagai daerah (Jawa, Sumatra, Kalimantan) dengan menyebarkan ilmu yang sama yang diajarkan oleh mbah Moen. Tekun mengabdi pada pengajaran keagamaan, rajin menyebarkan dakwah keislaman, dan santun memberikan wawasan serta wejangan. Singkat kata sebutlah Mbah Moen sebagai sang Kiai. Sosok orang yang berilmu yang keilmuannya diakui oleh masyarakat dan dibentuk oleh kepribadiannya di mata masyarakat.

Eyang Habibie, sapaan akrab sang profesor alumnus Jerman, adalah sosok profesor yang pernah menjadikan Indonesia terangkat namanya karena kecerdasan pemikiran dan ide-idenya. Beliaulah yang memprakarsai berdirinya PT. Dirgantara Indonesia yang terkenal itu yang pernah memproduksi pesawat terbang hasil karya anak bangsa. Kemampuannya dalam bidang sains dan industri sudah tidak bisa diragukan lagi. Kecerdasannya dibentuk di dalam kampus, dan mendapatkan gelar dari kampus yang kredibilitasnya diakui di seluruh dunia. Julukan sang Profesor cukup layak disandang dan memang beliau juga seorang profesor.

Jika sang kiai telah mengembangkan keilmuan agama Islam melalui pesantren, maka sang profesor mengembangkan keilmuan dibidang sains melalui perguruan tinggi. Jika sang kiai besar dan membesarkan PPP (Partai Persatuan Pembangunan), maka sang profesor besar dan membesarkan Partai Golkar. Jika sang kiai berkontribusi pada umat Islam Indonesia melalui Nahdlatul Ulama yang mempresentasikan Islam Tradisionalis, maka sang profesor berkontribusi pada umat Islam Indonesia melalui ICMI yang memrepresentasikan Islam Modernis. Secara garis besar keduanya merupakan pahlawan bagi bangsa Indonesia, anak cerdas yang dimiliki oleh agamanya, kader terbaik yang berproses melalui organisasinya dan sosok panutan yang layak diteladani oleh generasi milenial Indonesia.

Melalui berbagai kitab-kitab sandurannya dan pengajiannya di pondok pesantren Al-Anwar yang berbahasa Arab sang kiai bisa dikenal dan akrab ditelinga bangsa Indonesia. Beliau sosok yang hebat dalam membina generasi Muslim yang taat beribadah dan rajin mengembangkan berbagai disiplin keilmuan Islam.

Melalui jabatannya sebagai presiden RI ke-3 dan novelnya yang difilmkan dengan judul Habibi Ainun dan Rudi Habibi sang profesor melambungkan namanya yang memberikan banyak inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Ketekunan belajarnya dan cinta sucinya pada sang istri menginspirasi kesetiaan cinta ala Layla-Majnun baru bagi Indonesia. Banyak mahasiswa yang terinspirasi dengan ketekunan sang profesor dan menjadikan jalan ke Jerman sebagai tempat untuk mengikuti jejaknya.

Dalam hal warisan keturunan dan anak didik sang kiai melahirkan banyak sosok santri dan kiai muda yang mengikuti jejaknya, mengajar kitab kuning ala pesantren dan mendirikan pesantren pula. Para santrinya selalu sowan dan bersilaturrahim kepada beliau setiap syawal datang yang menjadikan rumahnya tidak pernah sepi tamu dari berbagai kalangan.

Begitu pula dengan sang profesor, yang melahirkan banyak anak-anak yang mengikuti jejaknya. Anak didiknya dan putra-putranya menjadi generasi muda yang mampu mandiri secara ekonomi, menduduki posisi penting di beberapa instansi pemerintahan maupun swasta, dan bisa menjadi penerus yang ideal dalam mengembangkan Indonesia sebagai negara yang maju mengikuti jejak-jejaknya Jerman ataupun negeri Eropa lainnya.

Sisi-sisi kesamaan inilah yang sangat penting bagi generasi muda agar diteladani dan bisa memberikan kemanfaatan bagi kebaikan dan kebesaran Indonesia. Beliau berdua menjadi tokoh yang patut dijadikan catatan pada lembaran Sejarah Tokoh-Tokoh yang Mengubah Indonesia atau Tokoh Penting yang Menginspirasi Generasi Indonesia.

Mungkin sang profesor lebih “keren” dan lebih “elegan” dari pada sang kiai. Karena sang profesor mampu menghasilkan novel dan film yang best seller, tumbuh di lingkungan elit Perguruan Tinggi Luar Negeri dan gelarnya membutuhkan proses yang panjang dan berat. Lalu pemikirannya mampu berkontribusi bagi pengembangan industrialisasi dan tehnologi bagi Indonesia.

Sedangkan sang kiai hanya sosok ulama desa yang mengajar di pesantren, yang dibayar dengan swadaya masyarakat dan salam “wajib” para santri atau masyarakat, mengajarkan hal-hal yang tidak penting bagi pengembangan industri dan tehnologi, dan juga kurang “keren” jika ditonjolkan sebagai sosok ilmuwan di khayalak umum.

Pada umunya, orang akan lebih bangga disebut profesor dari pada kiai. Orang akan lebih menganggap ilmiah sang profesor dari pada sang kiai. Orang juga lebih merasa hebat dipanggil profesor dari pada dipanggil kiai. Gelar profesor dibentuk oleh Perguruan Tinggi yang hanya bisa dilalui melalui proses karya ilmiah yang sulit dan memeras otak. Sedangkan kiai hanya gelar yang dibentuk oleh masyarakat-santri yang siapa saja bisa mendapatkannya dengan mudah, termasuk mengklaim atau diklaim.

Namun ada sisi perbedaan yang cukup mencolok antara sang profesor dan sang kiai ketika menjalani hari-hari terakhirnya dan detik-detik menghadapi pengadilan Tuhan pasca kehidupan yang dijalaninya.

Sang kiai dengan bahagia dan tersenyum indah di tanah suci Mekkah tepat pada bulan Dzulhijjah saat menunaikan ibadah Haji. Seluruh umat Islam dunia mendoakan kepergiannya dan putra-putrinya berada disampingnya sambil mengiringi doa-doa keindahan kepada Allah. Kehidupan terakhirnya di tutup dengan bulan mulia, bulan Besar, dimana di bulan inilah orang-orang Muslim-Jawa bisa mengadakan hajatan pernikahan, membangun rumah, khitanan, dan semua bentuk hajatan apapun yang memberikan kemanfaatan jangka panjang. Kepergian sang kiai ramai disambut di kantor-kantor Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren, dan kediaman beliau untuk membacakan tahlil-yasin-doa, yang mana hal ini berbeda dengan hari-hari terakhirnya sang profesor.

Melalui akun media virtual sang profesor di rumah sakit menyesali detik-detik terakhir kehidupannya. Putra-putrinya yang tumbuh besar menjadi sosok yang cerdas dan berpendidikan tinggi seperti dirinya tapi tidak ada yang hadir disampingnya, hanya amplop yang berisi uang saja yang menjenguknya. Kepergiannya tepat bersamaan pada bulan Muharram, atau bulan syuro yang menjadi pantangan bagi masyarakat Muslim-Jawa untuk mengadakan hajatan pernikahan, membangun rumah, khitanan, dan semua bentuk hajatan apapun yang memberikan kemanfaatan jangka panjang. Dan kepergian sang profesor ramai diperbincangkan di media virtual, media online, dan youtube melalui berbagai artikel dan cuwitan.

Siapa yang lebih bahagia dalam menjembut hari-hari terakhirnya, hanya Allah yang tahu. Tapi generasi muda Muslim-Indonesia pasti cerdas melakukan refleksi dan menghayati kesamaan dan perbedaan diantara keduanya.

Semoga keduanya diampuni dosa-dosanya oleh Allah.

Falanjistan, Jumat Legi, 13 Muharram 1441

13 September 2019