Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMPERTIMBANGKAN GEJOLAK PERANG CINA-INDIA DAN POSISI INDONESIA (Bagian Kedua)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Jika perang Cindia babak baru di tengah pandemik ini terjadi (atau pada masa yang akan datang pasca Covid-19) tentu akan melibatkan banyak negara untuk memihak atau membangun aliansi militer. Dan kemungkinan juga Perang Dunia III menjadikan ajang Cina-India sebagai medan perang.

Kemungkinan besar Amerika dan Rusia juga akan terlibat, demi menguatkan pengaruhnya. Negara-negara di Asia Tenggara, dengan kepentingan untuk mengamankan penguasaan Laut Cina Selatan juga akan terseret untuk andil. Dan beberapa negara Arab dan Uni Eropa, yang menikmati “kemakmuran-kejayaan” Cina tentu akan terseret pula arus peperangan. Sehingga adagium lama “musuh dari musuhku adalah temanku” akan kembali diberlakukan oleh negara-negara kuat yang terlibat perang pada negara-negara kecil sekitarnya.

Mempertimbangkan “Keberpihakan” Indonesia

Bagaimana jika demikian adanya, Perang Cindia babak baru terjadi dan memaksa negara-negara tetangganya terlibat, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menjalankan politik luar negerinya? Jawabannya adalah “kenetralan aktif” dan “oportunisme yang diperhitungkan”. Belajar dari pengalaman Turki pada Perang Dunia II yang berada pada posisi “bersahabat” dengan Jerman dan “bersekutu” dengan Inggris.

Selama berlangsungnya Perang Dunia II Turki sukses mengamankan posisinya sebagai negara netral yang tak satu pun tentaranya ada yang meneteskan darah dan tidak ada satu pun pula bom atau peluru yang jatuh di wilayahnya.

Turki juga berhasil menghadang musuh tradisionalnya, Rusia untuk menginvansinya, sekaligus sukses menarik melimpahnya bantuan dari Inggris dan Jerman masuk ke Turki untuk membangun fasilitas negaranya. Baru pada detik-detik menjelang berakhirnya perang, Turki mengumumkan keputusannya “berperang dengan Jerman” yang sangat menguntungkan posisinya di dunia internasional.

Indonesia bisa mengadopsi langkah-langkah Turki pada zaman Perang Dunia II itu dengan tetap “mendekat pada Cina” sekaligus “bersahabat dengan India”. Kawasan Indonesia, sebagaimana Turki dulu—bisa digunakan oleh para diplomat India dan Cina untuk hidup bergandeng renteng dan menjalankan kegiatan-kegiatan diplomatik. India dan Cina boleh berperang di kawasan lain (diperbatasan Cina-India), namun di Indonesia mereka berdua harus duduk bersama untuk menikmati kehangatan persahabatannya dengan Indonesia.

Modal Persahabatan Indonesia

Ada tiga modal yang dimiliki oleh Indonesia untuk menjalankan politik luar negerinya jika saja perang Dunia III terjadi dengan melibatkan kekuatan Cina disatu pihak dan India dipihak lain.

Pertama, kebudayaan Cina-India. Cina dan India dianggap sebagai dua bangsa tua yang memiliki banyak kebudayaan dan legenda yang cukup terkenal di dunia. India mempunyai (klaim) legenda Mahabarata dan Ramayana sedangkan Cina mempunyai (klaim) Legenda Ular Putih dan Kera Sakti (perjalanan ke Barat mencari kitab suci).

Di bandingkan bangsa lainnya, di Indonesia legenda dua bangsa ini cukup dekat dan sangat terkenal. Bangsa Indonesia merasa sangat dekat sekali dengan Mahabarata dan Ramayana sekaligus pula dekat dengan Kera sakti dan Ular Putih. (Hampir) Tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal legenda dari kedua negara ini. Bahkan seolah-olah legenda India dan Cina itu menjadi bagian dari bangsa Indonesia itu sendiri.

Kedua, sikap bawaan masyarakat Indonesia yang moderat, toleransi dan terbuka untuk melakukan inovasi budaya asing yang masuk ke Indonesia menjadi jati diri bangsa Indonesia yang cukup kuat untuk membangun identitas masyarakat Indonesia yang bibrida di era globalisasi. Indonesia bisa menyaring, menfilter dan sekaligus mendeferensiasi aneka budaya bangsa lain yang masuk ke Indonesia menjadi hal yang berbeda, yang bisa menciptakan kebudayaan baru (menyatu) dengan tradisi asli bangsa Indonesia.

Sikap bawaan inilah yang membentuk masyarakat muslim Indonesia tidak sama dengan masyarakat muslim di negara lain, yang pada gilirannya membentuk identitas nasional bangsa Indonesia. Agama Islam di Indonesia lebih luwes dan lebih menghargai keragaman serta perbedaan yang dimiliki sekaligus perbedaan yang masuk.

Karena itulah kebudayaan India atau Cina yang masuk ke Indonesia “tidak terlalu India” juga “tidak terlalu Cina”. Selalu ada warna-warna Indonesia yang membedakannya dan menjadikannya lebih kaya akan makna yang tersirat. Hal inilah yang memungkinkan perbedaan antara Cina dan India bisa dipersatukan dalam bingkai hubungan persahabatan dengan Indonesia, sehingga memungkinkan untuk menahan terjadinya perseteruan diantara keduanya.

Dan ketiga, sejarah hubungan dan perjalanan masa lalu. Sejarah bangsa Indonesia telah menoreh banyak kisah perjalanan orang-orang Indonesia ke India dan Cina, atau sebaliknya Cina-India masuk ke Indonesia. Keterbukaan dan persahabatan yang sudah terjalin erat sejak lama ini merupakan kekayaan bangsa yang berharga yang bisa menjalin hubungan Indonesia dengan Cina-India.

Sejak zaman pra-Islam hingga masuknya agama Islam ke Indonesia persahabatan masyarakat Indonesia dengan Cina-India sudah terjalin erat dan sangat mengikat. Orang Indonesia menikah dengan orang India, atau orang Indonesia menikah dengan orang Cina, lalu membentuk keluarga, berpindah agama dan mengubah namanya “yang lebih Indonesia”.

Dengan ketiga modal yang dimiliki oleh Indonesia inilah pemerintah bisa memposisikan dirinya sebagai “kenetralan aktif” dan “oportunisme yang diperhitungkan” dalam menjalankan politik hubungan internasionalnya terhadap India dan Cina.

Indonesia bisa menjalin persabatan dengan India melalui cara; melakukan pertukaran pelajar, pengajaran toleransi beragama, pendirian pusat perdamaian, atau penelusuran sejarah masa lalu bersama-sama (antar peneliti). Dengan Cina, Indonesia juga bisa mendekat dengan cara menerima produk-produk Cina yang murah, mengirim bahan baku Indonesia yang melimpah, serta kerjasama dibidang deradikalisasi serta penanganan muslim Uighur. Dengan kata lain Indonesia bisa menawarkan apa yang tidak dimiliki oleh Cina dan India, ketika mereka sibuk berperang.

Praktis, ketika kedua negara saling berperang dan menjalin aliansi militer, Indonesia tetap netral sekaligus menjaga jarak untuk tidak mengirimkan tentaranya atau menjadikan wilayahnya sebagai pangkalan militer. Dengan demikian, jika salah satunya ada yang kalah, Indonesia tetap bisa bersahabat dengan yang menang dan membangun kembali yang kalah.