Mempersiapkan Diri Memiliki Segalanya Sekaligus Tidak Memiliki Apa-Apa, Siap Kaya dan Miskin

Kekayaan dan kemiskinan secara hakiki merupakan kondisi hati dan pikiran yang menjadikan seseorang kuat sekaligus lemah. Kuat untuk tetap menjadi orang yang siap menghadapi segala kondisi yang kelak akan dihadapinya, atau gagal untuk menjadi orang yang bisa beruba. Sejatinya, kekayaan adalah sebuah ketenangan dan hidup yang bahagia, yang bisa dinikmati tanpa ada bahaya.

kitasama.or.id – Sebagai manusia, kita harus siap dalam “menerima apa saja” baik yang sudah telah kita jalani, maupun yang kelak nanti akan kita jalani. Lebih jelasnya kita harus siap untuk menghadapi beragam kemungkinan di masa kini dan masa depan, dengan mental yang siap dan wawasan yang mumpuni untuk menjawab perubahan.

Dalam kehidupan yang kita jalani di dunia ini pasti akan menghadapi krisis, kematian, bencana alam, bencana psikologis, bencana kesalahan dan beragam bencana lainnya, termasuk “perubahan” yang gagal direspon dan disikapi dengan bijaksana.

Bacaan Lainnya

Dalam menjalankan kewirausahaan dan bekerja keras setiap orang harus menyiapkan dua hal sekaligus, yakni siap untuk memiliki segala hal bagi dirinya sekaligus siap untuk tidak memiliki apa-apa.

Siap kaya, siap miskin pula

Jika kita siap untuk menjadi orang kaya, maka kita juga harus siap pula menjadi orang miskin. Jika kita sudah siap untuk menjadi orang yang berhasil, maka kita harus siap pula menjadi yang gagal. Artinya, dalam segala situasi dan kondisi seorang muslim harus siap menghadapinya dan harus bisa mengesampingkan sifat-sifat putus asa dengan nikmat Allah.

Saat miskin dan tidak mempunyai banyak uang kita rajin beribadah, rajin datang ke musholla, rajin menjalankan sholat lima waktu, dan rajin pula berdzikir, maka pada saat kita berubah menjadi kaya dan sibuk menjalankan bisnis yang mempunyai keuntungan besar harus tetap istiqomah dan konsisten dalam menjalankan ibadah, sholat berjamaah dan berdzikir.

Kekayaan kita tidak akan ada gunanya apa-apa jika kita tidak menyertainya dengan rajin ibadah dan rajin menjalankan pengabdian kepada Allah. Karena pada dasarnya seluruh apa yang telah kita terima dan segala harta yang ada di tangan kita adalah pemberian Allah yang dititipkan untuk digunakan agar memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Bukan malah merugikan dan merusak hubungan antar manusia.

Kita kaya dan kita miskin adalah sama saja, hanya yang membedakannya adalah perilaku kita terhadap diri kita dan kualitas pengabdian dzikir kita kepada Allah. jika kita miskin, tapi rajin berdzikir dan mengerjakan kewajiban beribadah maka itulah kaya yang sesungguhnya. Namun jika kita memmpunyai banyak harta dan uang yang melimpah, tapi kita malah meninggalkan kewajiban kita beribadah serta melupakan amalan dzikir maka itulah kondisi miskin yang sesungguhnya telah menjangkiti kita.

Orang yang baik-keren-bersahaja, tentunya orang yang saat miskin atau saat kaya tetap saja rajin menjalankan kewajiban beribadah dan berdzikir secara rutin tiap malam-paginya.

Puncak kekayaan Diri

Puncak dari kekayaan dan kondisi kaya adalah jika kita sudah mempunyai segala peluang untuk mempermudah jalan kita mendekatkan diri kepada Allah, entah itu kita sedang memegang banyak uang atau tidak memegang sama sekali.

Kaya-miskin adalah kondisi, yang akan membentuk perilaku kita sehari-hari. Semakin kita sibuk mengurusi duniawi, pekerjaan yang menumpuk, dan pada gilirannya meninggalkan banyak kewajiban ibadah maka saat itulah kondisi kita sedang miskin. Dan sebaliknya, semakin kita menyibukkan diri beribadah kepada Allah, menjalankan aktivitas berdzikir secara rutin, disertai dengan tetap menjalankan aktivitas pekerjaan secara normal, maka saat itulah kita berada dalam kondisi kaya.

Kaya-miskin adalah pikiran, semua itu tergantung pada pikiran kita untuk menyikapinya. Banyak orang yang gelimpangan uang dan harta yang melimpah, tapi pikirannya miskin dan sangat berkekurangan, hatinya gersang, pikirannya kacau (suka marah-marah), sombong, dengki, diliputi ketakutan dengan banyak penyakit. Tapi memang jarang sekali, orang tidak memiliki apa-apa, tapi dia sangat bangga dengan kehidupannya, sangat nyaman dengan sehariannya, dan siap menghadapi kematian kapan saja, itulah orang yang berpikiran kaya.

Segalanya bisa berakhir dan hancur, kita hidup di dunia ini akan bergantian dengan generasi selanjutnya untuk meneruskan apa yang kita perjuangkan. Oleh karena itulah, kita harus menyiapkan segala perjuangan jangka panjang kita, menyiapkan sistem bisnis kita agar kelak bisa diteruskan oleh generasi selanjutnya untuk kepentingan orang banyak dan pengabdian yang intensif pada agama Islam.

Kita kaya dan kita miskin, keduanya harus kita siapkan untuk menempel pada diri kita dan bisa menjadi bagian yang biasa pada diri kita. saat jatuh, kita harus bangkit dengan gagah. Saat sakit, kita harus ingat Allah dan senantiasa berdoa dengan sabar dan penuh serah diri.

Bagi yang sepakat dengan gagasan ini, silahkan diskusi dikolom komentar ya.

Pos terkait