Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMILIH JODOH IDEAL, BELAJAR DARI EMPAT MODEL MASYARAKAT

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Seorang budak ahli hikmah berkulit hitam asal Hindia (Nusantara, pen), Mubarok berkata pada tuannya, “wahai tuanku, orang-orang di masa jahiliyah menyukai seseorang karena nenek moyangnya, nasab, agama dan hisab. Sementara, orang yahudi dan nasrani menyukai seseorang karena ketampanan dan kecantikannya. Pada zaman Rasulullah, mereka menyukai seseorang karena agama dan takwa. Dan, pada zaman sekarang (hingga saat ini, pen), mereka menyukai seseorang karena harta dan pangkat. Maka, pilihlah di antara itu semua, tuan”. (an-Nawadhir)

***

Memilih pasangan hidup (oleh sebagian orang) dianggap sebagai jalan puncak untuk menempuh “masa depan yang labih baik”. Salah dalam memilih pasangan akan menjadi petaka bagi masa depannya dan tidak akan menuai keberhasilan dengan capaian yang diinginkan.

Atas dasar inilah beberapa orang selalu menciptakan semacam “kategori” untuk memilih pasangan dan dijadikan sebagai istri atau suami. Berharap dengan menciptkan “kategori” itu mereka akan memperoleh pasangan yang ideal untuk diajak bersama-sama membangun rumah tangga.

Sejak dulu hingga kini memilih pasangan merupakan langkah strategis untuk membangun keluarga, mengamankan posisi politik, dan juga mengamankan masa depan yang diimpikan. Banyak alasan yang selalu diajukan untuk memilih pasangan agar bisa memperoleh jodoh yang diinginkan. Sehingga tidak salah jika kemudian memilih pasangan merupakan “kunci” bagi mereka yang menyakini bahwa menikah adalah puncak capaian tertinggi dalam hidup.

Berdasarkan ibrah (pelajaran) dari kisah Mubarok diatas ada beberapa tipe alasan orang yang memilih pasangan untuk dijadikan istrinya atau suaminya, dan pada konteks tersebut yang dicari adalah sosok suami atau seorang yang mencari sosok menantu laki-laki.

Dari gagasan beliau inilah kita bisa memetakan beberapa alasan yang selalu dipakai oleh orang (wanita) untuk mencari suami dan seorang (kaya raya) yang mencari menantu. Dan apa yang disampaikan oleh Mubarok ini merupakan realita yang tak terelakkan terjadi pada masyarakat dewasa ini.

  1. Masyarakat Jahiliyah: memilih jodoh atas dasar nenek moyang, nasab keturunan, agama dan hisabnya.

Pada zaman jahiliyah, yakni zaman ketika dunia (tidak hanya di jazirah Arab, tapi juga meliputi Romawi, Eropa, Hindustan, Cina, Inca, Afrika, Mesir, dan Persia, kecuali Hindia kepulauan—Indonesia) belum kedatangan Rasulullah. Pada masa ini merupakan masa-masa kegelapan abad kehidupan manusia yang tidak memiliki seorang pembimbing hidupnya dan akhirnya terbelenggu pada hedonisme dan pemujaan terhadap tehnologi dan sains.

Masyarakat kehilangan sosok panutan, kehilangan sosok guru yang bisa membimbing kegelapan jalan hidupnya dan kesulitan menghadapi berbagai kerusakan masyarakat yang sudah merajalela.

Secara badani mereka adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan memiliki pengetahuan keilmuan alam yang sangat canggih, mulai dari sastra, tehnologi, pengobatan, militer, arsitektur rekayasa alam dan juga pertanian. Namun secara ruhani mereka adalah masyarakat yang rusak dan tenggelam dalam kebejatan. Moralitas runtuh dan seluruh sendi-sendi kehidupan “porak-poranda” menjadi tumpukan sampah akhlak yang sudah tidak lagi bisa ditoleri.

Pada masa ini pernikah merupakan hitungan untuk rugi, seperti perdagangan dan bisnis properti. Pasangan dipilih atas dasar keturunan, kaya-miskin, kaum ksatria-kaum sudra, rakyat biasa-rakyat kaya dan nenek moyangnya. Unsur keturunan menjadi pertimbangan utama dalam memilih jodoh. Sehingga yang selalu mendapatkan jodoh terbaik adalah mereka yang lahir dari keturunan yang baik-baik dan memilih derajad tinggi.

  1. Masyarakat Yudaisme (Yahudi dan Nasrani): memilih jodoh atas dasar kecantikan dan ketampanan.

Berbeda dengan masyarakat yudaisme yang menganut Yahudi dan Nasrani, mereka sejak dulu hingga kini merupakan pemuja penampakan kecantikan dan ketampanan. Keindahan tubuh dan kemelokan bodi menjadi prioritas. Mereka senantiasa memuja-mejua orang yang dikaruniai kecantikan dan kemelokan.

Tidak salah jika mereka memilih jodoh dengan memperhitungkan tingkat kecantikan dan kemelokan tubuhnya si calon yang akan dipilih. Hal ini pun didukung dengan tradisi yang mereka bangun sampai dewasa ini, yakni kontes ratu kecantikan, miss universe, dan konteks lainnya yang sejenis yang mengharuskan adanya unsur hedonisme dan seksi yang ditampilkan sebagai bahan utama untuk berkarya.

Bahkan dulu di Romawi sudah ada kontes yang lebih jorok, dan mungkin saat ini juga sudah dilakukan oleh para ahli warisnya di Amerika dan Uni Eropa, yakni konteks penis terbaik, kontes vagina terbaik, dan juga kontes bokong semok terbaik. Semua itu dilakukan tidak lain merupakan bagian dari rasa kesenangannya terhadap kenikmatan-kenikmatan seksual yang dihasilkan oleh kemelokan tubuhnya.

Hingga kini mereka pun menampilkannya dalam iklan, film, panggung hiburan, dan legalitas rumah bordil (pelacuran). Dimana-mana masyarakat yang dibentuk oleh mereka merupakan masyarakat yang mengedepankan keindahan tubuh dan kecantikan wajah.

Demikian pula dalam hal memilih pasangan, mereka juga menjadikan kecantikan dan ketampanan menjadi alasan utama untuk menikah. Terlepas dari kerusakan perilaku dan kebobrokan amalnya, asalkan tampan atau cantik itulah yang menjadi alasan dan sandaran melanjutkan kehidupan.

  1. Masyarakat Nabawiyah: memilih jodoh atas dasar agama dan ketaqwaan.

Namun di zaman Rasulullah, atau yang dikenal dengan masa Nabawiyah semua kehidupan ditata hingga ke akar-akarnya, terutama akhlak dan ruhaninya. Sebagaimana tugasnya beliau, menyempurnakan akhlak mulia, dan juga menyembah (beribadah) kepada Allah.

Kedatangan Rasulullah merupakan pencerahan bagi peradaban manusia di seluruh dunia yang sudah rusak dan porak-poranda. Kehadirannya memberikan sinar bagi kehidupan manusia yang gelap akibat nafsu dan angkara murka. Sehingga beliau ketika mendapatkan wahyu pertama kali yang harus diperbaiki adalah sesembahan yang salah dan perilaku bejat masyarakat di dunia.

Tidak mengherankan jika dalam pernikahan tata cara dan pilihannya pun mulai ditata dan diperbaiki. Kualitas keimanan ber-Agamanya dan tingkat ketakwaannya kepada Allah-lah yang menjadi tolok ukur untuk memilih pasangan. Menikah bukan didasarkan atas kekayaan, kecantikan, dan juga nasab nenek moyangnya, tapi lebih pada kualitas ruhani dan kualitas ketakwaannya dalam beribadah.

Oleh sebab itu, di zaman ini praktik menikah dan poligami berjalan masif dan terstruktur dengan baik, karena para wanita menikah dan dinikahi berdasarkan tingkat ketakwaan suami yang akan menikahinya. Wanita di zaman ini merupakan wanita-wanita yang baik-baik dan para suaminya merupakan lelaki yang hanya fokus pada kecintaan kepada Rasulullah dan beribadah kepada Allah.

Alasan menikah di zaman ini selalu didasarkan pada kemampuan beragamanya dan tingkat ketakwaan yang ada dalam diri calon suaminya.

  1. Masyarakat kontemporer: kepemilikan harta dan pangkat (jabatan pekerjaan dan gaji yang diterimanya)

Adapun masyarakat pasca-Rasulullah dan jauh setelah khulafaur Rasyidin kebanyakan memandang dan memilih pasangan dengan melihat pangkat dan harta yang dimilikinya. Harta dan pangkat menjadi tolok ukur untuk “keberanian” menikah dan memilih pasangan yang diidam-idamkannya.

Nampaknya hal inilah yang terjadi sekarang, yakni masyarakat akhir zaman menjelang kehancuran alam semesta yang kurang beberapa abad lagi, dimana harta dan pangkat menjadi alasan utama untuk melakukan pernikahan dan melangsungan kehidupan.

Seorang gadis dewasa ini mau menikah dengan seorang lelaki hanya jika berpangkat (memiliki jabatan di pemerintahan, memiliki jabatan di perusahaan, dan memiliki jabatan di sebuah instansi tertentu) dan berharta (mempunyai banyak properti dan rekening tabungan yang dikurs-kan dollar. Tidak punya harta dan tidak punya pangkat, jangan harap dewasa ini bisa menikah dan mendapatkan wanita yang berstatus baik, karena semua wanita dewasa ini selalu menikah atas dasar “lelaki berpangkat dan berharta”.

***

Seorang gadis cantik, putri seorang tokoh di desanya di balik gunung Merbabu, yang kuliah di universitas di Semarang dengan jalur beasiswa Bidikmisi telah ditawari dengan beragam lelaki yang tertarik padanya. Dari semua profesi dia pernah ditawari untuk memilihnya.

Ketika santri yang ditawarkan, alumnus pesantren, mempunyai aklahk dan keilmuan agama yang baik, tanpa berfikir panjang dia menolaknya. “Tidak”.

Lalu seorang wirausaha muda, baik, dan baru ingin merintis usahanya, mempunyai perangai yang baik, dia juga menjawab “tidak”.

Baru kemudian, PNS, sudah menjadi pegawai dilingkungan kementrian (tertentu), tanpa berfikir panjang dia menjawab “Mau”. Dan gadis itu pun langsung melangsungkan pernikahan tanpa berfikir panjang.

Mengapa gadis itu memilih PNS, karena lelaki yang meminangnya sudah memiliki pemasukan yang jelas, uang yang jelas untuk makan tiap hari, dan tidak kuatir kekurangan uang. Dengan jabatan yang dimiliki akan memberikan 100% rasa aman dalam menjalani kehidupan. Karena rekeningnuya pasti setiap hari akan muncul nominal ketika bulan awal telah dimulai.

Melihat pertimbangan pilihan gadis ini tentunya kita bisa membaca bahwa gadis ini merupakan wanita yang termasuk golongan masyarakat kontemporer yang gandrung terhadap pangkat, jabatan dan harta yang aman.

***

Menikah adalah jalan awal yang ditempuh untuk menentukan kehidupan pasca-kehidupan, yakni setelah kematian telah menjemput nyawa dan tidak lagi menyatu dengan tubuh. Pernikahan merupakan sebuah beban “yang berat”, karena si suami merupakan orang yang harus menanggung seluruh “biaya akhirat” istri dan anak-anaknya.

Jika suaminya baik dalam beragama dan baik dalam bertakwa maka jalan menuju kematian ke akhirat akan mampu menanggung istri-istrinya dan juga putranya, pertanggungjawaban terhadap Tuhan akan dihadapi dengan amal baik suaminya. Dan jika sebaliknya, maka akan menjadi petaka bagi seluruh keluarga, termasuk istrinya.

Menikah adalah salah satu jalan untuk digunakan menembus dua kehidupan yang dimensinya bertolak belakang, yakni kehidupan saat ini di dunia dan kehidupan nanti di akhirat. Pada suami, seluruh tanggungjawab kehidupan itu akan ditanggungnya dan akan menjadi bebannya untuk bisa menyelamatkannya.

Suami adalah pusat pusaran energi yang bisa memberikan keluarga yang dibangunnya untuk bisa menghadirkan “kenyamanan” di dunia dan juga sekaligus di akhirat. Seluruh tanggungjawab dunia dan akhirat menjadi beban bagi seorang lelaki yang siap menjadi suami. Kesiapan tersebut ada pada kekuatan beragamanya dan kualitas bertakwanya kepada Tuhannya. Semakin baik ketakwaannya kepada Tuhan maka semakin baik pula peluang kesejahteraan keluarga yang akan dibangunnya. Sebaliknya, jika agamanya rendah dan ketakwaannya kosong maka jelas hal itu akan menjadi petaka bagi si wanita dan juga anak-anak yang akan dilahirkannya.

Artinya, salah dalam memilih lelaki maka salah pula jalan yang ditempuh oleh wanita selama menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya.

***

Dewasa ini, jodoh yang milih siapa? Lelaki memilih wanita atau sebaliknya? Yang banyak adalah wanita memilih lelaki. Lelaki yang punya jabatan, berpangkat, ber-uang dan berharta menjadi tolok ukur untuk menentukan pilihan. Sudah banyak yang kita ketahui bahwa kebanyakan wanita menerima lelaki karena dia sudah “punya jabatan”, “sudah bekerja”, “sudah mempunyai gaji” dan “sudah punya rumah”.

Jangan bermimpi seorang lelaki yang baik agamanya, bertakwa, rajin ibadah dan memiliki wawasan keislaman yang baik akan memperoleh jodoh yang cantik, wanita berkelas atau gadis pilihan. Karena agama dan ketakwaan bukanlah tolok ukur bagi para wanita atau gadis saat ini. Tidak ada gadis di era sekarang yang tertarik pada lelaki atas dasar ketakwaan atau agamanya. Semuanya pasti melihat ketampanan, harta kepemikan, pangkat-jabatan dan tentunya koleksi properti.

Jika demikian yang terjadi maka kerusakan masyarakat adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan hal itu. Kerusakan terhadap masa depan yang pasti akan terbentuk dan juga kerusakan terhadap keturunan yang akan dilahirkan.

Memang, selalu keburukan itu pasti dilahirkan dari pemikiran wanita dan langkah salah perhitungan secara matang dalam perspektif agama.

Jika saja para wanita itu “mau” menikah dan “dipilih” oleh lelaki yang baik secara keagamaan (ke-islaman-nya) dan tingkat ketakwaannya maka tentunya akan melahirkan banyak generasi yang baik-baik dan anak-anak yang kelak bertakwa kepada Allah. Karena kualitas anak lebih dominan ditentukan oleh benih yang ditaman oleh lelaki ke dalam rahim wanita.

Solusi terbaik bagi wanita dewasa ini adalah menjadi wanita yang “memilih atau dilipilih” untuk menikah dengan lelaki yang baik agamanya dan tingkat ketakwaannya baik. Entah itu menjadi wanita pertama, kedua, ketiga atau keempat bukanlah masalah untuk melanjutkan pernikahan.