Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMBONGKAR TABIR KEGELAPAN TAFSIR TEKSTUALIS : Sebuah Tafsir Maudhu’i dengan Pendekatan Sufistik

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

PENGANTAR

Tafsir sebagai salah satu ilmu-ilmu keislaman telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di zaman tabi’it-tabi’in pada abad 3 dan 4 H. Beberapa sarjana muslim muncul sebagai ahli tafsir yang dianggap memiliki pengetahuan luas mengenahi pembacaan terhadap al-Qur’an dan makna yang tersimpan dibalik teks-nya, diantaranya para ahli hukum, ahli bahasa, dan ahli filsafat[1]. Hingga dewasa ini, lahirlah banyak model tafsir yang ditulis oleh para sarjana  muslim/mufassir dengan berbagai karakter pembahasannya dan kecenderungan (naz’ah/ittijah) dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuannya.[2]

Sebagai pembacaan terhadap teks al-Qur’an, tafsir telah muncul dengan segala bentuknya yang dipengaruhi oleh cara berfikir penulisnya melahirkan banyak bentuk kitab tafsir. Misalnya ahli fiqh yang menulis tafsir dengan corak yang berhubungan dengan persoalan fiqh, ahli bahasa yang menulis tafsir dengan menggunakan pemahaman sastranya, ahli filsafat yang menulis tafsir al-Qur’an dengan corak yang mengandung ilmu-ilmu filsafat, dan ada pula ahli sufi yang menulis tafsir yang penjelasannya lahir dari pengamalan dan pandangannya dari ilmu tasawuf. Khusus untuk tafsir yang ditulis oleh ahli sufi telah mendapatkan banyak pertentangan dan perlawanan karena dianggap sebagai penafsiran yang tidak bisa diterima oleh akal secara umum dan masyarakats secara luas.

Memang dalam melakukan pembacaan terhadap pesan al-qur’an dan menuangkannya menjadi ilmu tafsir para sufi berbeda dengan pembacaan yang dilakukan oleh ilmuwan muslim pada umumnya, apalagi para pemikir orientalis. Kebanyakan para mufasir, khususnya ahli fiqih, ahli bahasa, mufasir kontemporer dewasa ini dan para orientalis melakukan penafsiran al-qur’an cenderung melihat al-Qur’an sebagai teks, tulisan, dan al-Kitab. Sehingga yang dibaca, yang digali informasinya, dan yang dibedah maknanya adalah apa yang terlihat pada teks sebagai mana adanya di dalam al-qur’an. Walaupun ada ayat yang musytabihat pun pembacaan para ahli fiqh cenderung tekstualis dan cenderung menampakkan makna yang ada dipermukaan. Tidak salah jika kemudian penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan cara itu terkesan dangkal dan kurang menemukan hakekat makna yang sesungguhnya, dan bahkan dilakukan dekonstruksi terhadap teks itu sendiri. Dan seperti inilah yang disebut dengan tafsir tekstualis, yang penafsirannya berdasarkan pada teks yang ada dan tertulis[3]. Tentu saja para ilmuwan yang melakukan penafsiran demikian disebut dengan sarjana tekstualis.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sarjana tekstualis lainnya, penulisan tafsir yang dilakukan oleh ahli sufi lebih menekankan pembacaan terhadap apa yang ada dibalik makna yang tersimpan didalam teks. Para sufi dalam menafsirkan al-qur’an tidak pernah memandang al-qur’an sebagai teks yang ada sekarang, namun cenderung sebagai wahyu, sebuah firman Allah swt. yang tidak bisa ditulis dan dibaca (bilaa shoutin walaa harfin). Penafsiran yang dilakukan oleh para sufi yang demikian itu bahkan dianggap melenceng dari syari’at islam, tidak umum, dan sulit diterima oleh mayoritas pemahaman masyarakat awam. Alih-alih berusaha menemukan hakekat yang sebenarnya di balik teks al-Qur’an, penafsiran para ahli sufi adalah pemikiran aneh dan bahkan sesat dan tidak memiliki landasan syari’at Islam.

Jelas ada perbedaan yang membentang jauh antara penafsiran yang dilakukan oleh para sarjana tekstualis dengan para ahli sufi. Sarjana tekstualis membaca teks al-Qur’an hanya nampak sebagai makna yang ada dipermukaan, sedangkan ahli sufi membaca teks al-Qur’an sebagai pesan mendalam yang tersimpan dibalik teks-nya. Sehingga seringkali lahir benturan pemahaman antara sarjana tekstualis dengan pemahaman ahli sufi dalam menerjemahkan makna dibalik teks al-Qur’an.

Penafsiran yang dilakukan oleh para sarjana tekstualis yang cenderung membaca al-Qur’an sebagai teks terkesan dangkal, tidak mendalam, dan memberikan pemahaman yang sepele atas hakekat makna agama Islam dan kehidupan umat manusia. Tentu saja sangat berbeda dengan pembacaan yang dilakukan oleh ahli sufi yang lebih memandang al-Qur’an sebagai wahyu. Jika dianalogikan dengan realita yang ada disekitar kita lebih mudah, maka pembacaan para sarjana tekstualis seperti melihat lampu yang menghasilkan sinar terang yang menyinari lingkungan disekitarnya. Sinar lampu itulah yang dilihat oleh para sarjana tekstualis, lalu dilihat, dibaca, ditafsirkan, dan diartikan bahwa lampu pada hakekatnya ada sinar itu. Namun ahli sufi tidak demikian, membaca lampu bukanlah dari sinar yang dihasilkan, tapi dari mana lampu itu menghasilkan sinar, sehingga yang dikaji adalah komponen lampunya, sumber energinya, dan proses perubahan energi listri, energi gerak, dan energi panas menjadi energi cahaya yang menghasilkan sinar terang. Dan tentu saja ini merupakan intepretasi yang sangat berbeda.

Dengan demikian, tafsir sufi berusaha membongkar penafsiran yang dilakukan oleh sarjana tekstualis yang cenderung tidak mendalam dan hanya dipermukaan saja. Tafsir sufi berusaha menjelaskan bahwa pembacaan terhadap makna mendalam al-Qur’an hendaknya dilakukan secara mendalam dan tidak dangkal, dimana hal itu hanya bisa dilakukan dengan mengamalkan apa yang dahulu diamalkan oleh Rasulullah saw., yang mana tradisi itu telah dilanjutkan oleh para ahli sufi, yakni melalui pengamalan dzikrullah secara intensif dan melalui jalur silsilah yang sampai kepada Rasulullah saw.

TAFSIR PERSPEKTIF SUFI

Menurut Manna Khalil al-Qattan tafsir sufi merupakan sebuah tafsir penyelewengan terhadap nash yang dijadikan oleh kaum sufi untuk membenarkan tindakannya dan ajarannya yang tidak sesuai dengan ajaran syari’at. Penyelewengan itu berasal dari perkembangan tasawuf yang tidak lagi sebagai media untuk tazkiyatun nafsi, sikap wara’, taqwa dan kesederhanaan, namun sudah melampaui gagasan-gagasan falsafi yang membuat sebuah penafsiran secara bebas—sesuai dengan pemikirannya sendiri. Sehingga apa yang ditafsirkan oleh para ahli sufi mengenahi teks al-Qur’an sangat berbeda jauh dengan kebanyakan ulama (mayoritas orang), menyimpang dan tidak ada titik temu yang terkadang sulit difahami oleh masyarakat umum. Ia mencontohkan ibnu ‘Arabi, sebagai sufi falsafi yang telah banyak memberikan penafsiran terhadap al-Qur’an dengan perspektif yang jauh berbeda dengan kebanyakan orang (baca: Ulama fiqh).[4]

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Ignaz Goldlizer yang mengatakan bahwa “sejujurnya bukanlah pekerjaan yang mudah bagi para sufi untuk menemukan ide-ide tentang tasawuf yang terdapat dalam al-Qur’an”, dengan kata lain para sufi itu kesulitan untuk menemukan landasan yang kuat di dalam al-Qur’an terkait dengan apa yang dinyakini dan dijalaninya.[5] Ajaran sufi merupakan ajaran yang datang setelah Islam dan mereka menyerap dalam kebudayaan islam bersamaan dengan kebudayaan yang lain. Konon ajaran para sufi berakar dari tradisi intelektual majusi (Magi-zoroaster) yang oleh Abed al-Jabiri disebut dengan irfani.[6] Ignaz pun mengatakan bahwa tradisi sufi (tasawuf) memang benar-benar bukanlah konsep (ide) yang bersifat qur’an.

Menurut hemat penulis pendapat yang demikian itu sah-sah saja, karena mereka bukanlah ahli sufi yang bisa memahami hakekat apa yang ada dibalik penampakan, termasuk penampakan dibalik  teks/nash al-qur’an.

Penafsiran al-Qur’an yang dilakukan oleh para ahli sufi pada dasarnya merupakan penafsiran yang sesungguhnya terhadap al-qur’an. Mengapa demikian? Karena pemahaman para ahli sufi mengenahi teks al-qur’an didapatkan melalui sebuah proses dzikrullah secara intensif. Dzikri itu merupakan dzikir yang sama yang dilakukan oleh Rasulullah saw. yang diturunkan oleh Allah swt, melalui perantara malaikat jibril. Dan setelah peninggalan beliau sistem dzikrullah tersebut diwariskan kepada para sahabat yang berhak untuk menjadi pewarisnya. Untuk seterusnya sistem dzikrullah itu diwariskan dari generasi ke generasi hingga perkembangan ahli sufi saat ini.

Dengan dzikrullah itulah para sufi mendapatkan pemahaman dan pengetahuan (al-‘Ilm). Mereka bukan pandai karena belajarnya; membaca buku, menganalisis kejadian (empiris) atau berfikir secara logika (rasional), namun dipandaikan oleh proses dzikir-nya, di pandaikan karena intensifnya mendekatkan diri kepada Allah swt. Bahkan saking intensifnya berdzikir terkadang para ahli sufi mengalami ekstasi (sukaro), mengalami penglihatan yang nyata bahwa Allah ada di depannya (murabaqab al-Itlaq), sehingga tidak sadar dengan kondisi di lingkungannya. Jika sudah demikian, biasanya oleh kebanyakan orang awam para ahli sufi cenderung dianggap gila dan melenceng dari syari’at Islam. Padahal apa yang dialami oleh para ahli sufi yang demikian itu bukan karena kesengajaannya, namun karena kondisinya yang terkondisi untuk melakukan itu akibat dari kebersamaannya yang terus menerus bersama-Nya.

Demikian juga dalam menafsirkan al-qur’an sebagai teks/nash yang tertulis, para sufi tidak mendapatkan pemahaman dari proses belajar ilmu-ilmu pendukungnya, namun karena kondisinya yang terpandaikan oleh intensif dzikrullah. Pemahaman yang diperoleh dalam menafsirkan al-qur’an merupakan sebuah pemahaman yang datang dari petunjuk-Nya melalui dzikrullah secara terus menerus. Pemikiran mereka bukanlah pemikiran yang dikarang atau dibuat-buat oleh hawa nafsunya, namun dikarenakan “petunjuk” yang diperolehnya dari-Nya. Semakin mereka berdzikir semakin lama, maka semakin banyak pula mereka akan menemukan petunjuk-Nya.

Para ahli sufi tidak pandai, mereka “bodoh” dan bahkan membodohkan diri, merasa lenyap, merasa hilang, merasa tiada, dan merasa tidak pernah ada, karena baginya yang ada hanya Allah swt. Dalam konteks ini para ahli sufi terpandaikan, terbimbing, dan lenyap bersama dzat-Nya dalam intensifitas dzikrinya. Mereka mendapatkan pemahaman mengenahi makna dibalik ayat-ayat al-qur’an melalui proses “terpandaikan” itu, yang datang dari intensifnya berdzikir. Sehingga secara ekstrim bisa dikatakan, bahwa pemahaman para sufi tentang makna dibalik teks al-qur’an adalah sama dengan apa yang didapatkan oleh Rasulullah saw. karena apa yang mereka dzikirkan kondisinya adalah sama dengan apa yang Rasulullah saw. dzikirkan.

Melalui proses “terpandaikan” tersebut para ahli sufi tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenahi teks/nash al-qur’an secara hakiki, namun telah dibukakan tabir kehidupannya sebagai manusia yang hidup di dunia. Dan ilmu yang diperolehnya tentu saja ilmu hakekat sebagai manusia dan sebagai hamba-Nya.

TASAWUF SEBAGAI MADZHAB EPISTIMOLOGI

Ilmuwan Barat, melalui warisan epistimologi intelektual Yunani memandang bahwa sumber pengetahuan berasal dari akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Dari akal mereka mengembangkan filsafat Rasionalisme dan dari empirisme mereka melahirkan filsafat Materialisme, Positivisme, Kritisisme, dan Sensualisme. Dengan modal epistimologi itulah mereka mampu mengembangkan sains dan teknologi. Disatu sisi mereka sukses membangun peradaban manusia dalam segi materi, namun disisi lain mereka gagal menata moralitas dan agama.[7]

Dalam melakukan pembacaan terhadap nash al-Qur’an pun mereka menggunakan pendekatan rasionalisme dan empirisme, akibatnya yang dibaca hanya permukaannya saja dan cenderung dangkal. Cara pembacaan seperti itulah yang mempengaruhi pembacaan para mufasir tekstualis, yakni membaca pesan al-Qur’an secara ilmiah (menurut akal-nya), rasionalis, dan empiris, dimana hal itu justru tidak mampu menembus makna yang sesungguhnya yang paling dalam di dalam kandungan nash al-Qur’an.

Hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh ibnu mas’ud bahwasanya beliau bersabda “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan atas tujuh huruf, setiap ayatnya mengandung makna lahir dan batin, dan dalam setiap hurufnya terdapat batasan dan keluasan …”.[8]

Kemudian dalam kitab al-‘Awarif,  al-Shayhk Shihab al-din al-Surahwardi meriwayatkan hadits dari Hasan, bahwasanya Nabi saw. bersabda “Tidak ada satu ayat Al-Qur’an pun yang diturunkan kecuali di dalamnya terkandung makna lahir dan makna batin, dan dalam setiap hurufnya terdapat batasan dan keluasan”.[9]

Berdasarkan hadits di atas menunjukkan bahwa yang dilakukan pembacaan oleh mufasir tekstualis hanyalah membaca makna-makna al-Qur’an yang lahir, yang nampak oleh indera, yang ilmiah (menurut akal-nya), dan yang bisa diartikan dengan konteks serta fenomena yang terjadi pada setiap zaman (empiris). Namun gagal menembus maksud dibalik makna-makna al-Qur’an yang batin dan menyimpan keluasan maknanya.

Berbeda dengan mufasir tekstualis, para mufasir sufi membaca al-Qur’an dan menafsirkan setiap ayat-ayatnya melalui pendekatan wahyu (dzikrullah; intuitif) yang justru lebih memberikan gambaran yang luas terhadap makna batin dalam al-Qur’an. Melalui proses dzikrullah itu para sufi mengembangkan pemahaman atas hakekat hidup sebagai manusia. Proses mendapatkan pemahaman para ahli sufi terhadap al-qur’an secara khusus dan hakekat hidup sebagai manusia secara umum inilah dalam perkembangannya disebut sebagai ilmu Tasawuf, dalam kajian ilmu-ilmu Islam. Sebagai madzhab epistimologi, ilmu Tasawuf telah menempati posisi yang elit dan tinggi, dimana tidak semua orang mampu mencapainya kecuali melalui proses yang sama, dengan cara yang sama, potensi yang sama, dan silsilah yang sampai kepada Rasulullah saw. dan itu adalah melalui dzikrullah.

Tasawuf sebagai epistimologi telah memberikan pemahaman tentang hakekat “kebenaran” (al-Haq) yang jelas antara pengetahuan (‘ilm) dengan informasi (khabar). Keduanya nampak sama, namun pada hakekatnya adalah berbeda. Jika pengetahuan didapatkan dengan intuitif, berupa wahyu, dan datang dari-Nya, maka informasi didapatkan melalui media indra manusia; melihat, merabah, merasakan dengan lidah, mendengar, dan bahkan berfikir dengan akal-otak.

Dalam epistimologi tasawuf terdapat tiga macam keyakinan (atas pengetahuan), dan inilah yang membedakan antara ahli sufi dengan ahli tekstualis dalam menemukan kebenaran—khususnya dalam menafsirkan teks/nash al-qur’an, yaitu;

Pertama, ‘Ain al-Yaqin, diartikan sebagai keyakinan indra, yaitu sebuah kebenaran yang didapatkan melalui proses fungsionalisasi indra mata, mulut, telingat, dan kulit. Seperti kita yakin akan adanya Allah dengan cara mengetahui segala apa yang diciptakan di bumi dan di langit. Kita bisa melihat semua itu dengan indera mata kita, mendengar dengan telinga kita, dan merasakan dengan tubuh kita. Dan tahapan inilah yang biasanya dilakukan dan diajarkan oleh kaum tekstualis.

Kedua, ‘Ilmu al-Yaqin, diartikan sebagai pengetahuan akan keyakinan, yaitu sebuah media yang biasanya berupa hasil pemikiran, pengamalan, penemuan, dan alat-alat berfikir lainnya yang digunakan untuk meraih pengetahuan. Seperti segala disiplin pengetahuan yang digunakan untuk menemukan apa yang dinyakini dan membuktikan keyakinan tersebut, termasuk keyakinan terhadap adanya Allah yang dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dan meditasi.

Ketiga, Hak al-Yaqin, diartikan sebagai kebenaran atas keyakinan. Yaitu melihat dengan nyata adanya sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran ini diperoleh setelah seorang menjalani atau mengamalkan ‘ilmu Yaqin dan terbukalah tabir yang menutupi hatinya, sehingga mampu melihat secara nyata dan dengan sesungguhnya merasakan adanya kebenaran keyakinan itu.  dan bagi kaum sufi ilmu yaqin adalah ilmu tasawuf, ilmu yang dijalani dengan cara intensif berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah.

Para sufi menjalani ketiga proses epistimologi tersebut, dimana setelah mengetahui kenyakinan itu dengan indera mereka lalu mempelajari ilmu yang bisa membuktikan adanya kebenaran tersebut. Ilmu itulah yang disebut dengan tasawuf atau thariqah. Dengan menjalani dan mengamalkan ilmu itu para ahli sufi bisa mencapai tahapan kebenaran atas keyakinan (pengetahuan tentang Tuhan) dan tahu secara nyata keberadaan Tuhan.

Meminjam pengertian William C. Chittick adanya epistimologi tasawuf ini telah membedakan antara pengetahuan/keyakinan menjadi dua, pengetahuan Intelektual dan pengetahuan nukilan. Pengetahuan intelektual diperoleh melalui jalan tahqiq, yaitu mengetahui dengan menverifikasi dan merealisasikan kebenaran, dan realitas sesungguhnya dalam diri sendiri. Sedangkan pengetahuan nukilan diperoleh melalui taqlid, yakni pengetahuan yang didasarkan pada kata-kata “otoritas” atau “pakar” yang terbangun dari tradisi oral maupun verbal.[10] Termasuk dalam pengetahuan nukilan adalah apa yang telah kita pelajari dari buku, teks, dan kata-kata yang disusun oleh para penulis dan tokoh. Sehingga kita tidak pernah merasakan secara langsung apa yang kita baca dari tulisan itu, hanya sebatas “menurut ini dan menurut itu”, sehingga lebih cocok disebut dengan khabar atau informasi.

Dalam menggali pengetahuan intelektual tidak bisa didapatkan hanya sekedar membaca sebuah teks atau kata-kata, tapi harus langsung merasakannya, melihatnya dan tahu bagaimana pengetahuan intelektual itu yang sebenarnya (Hak al-Yaqin). Cara itu hanya bisa dilakukan dengan dua cara, berfilsafat dan bertawajuh. Jika berfilsafat cenderung menggunakan kekuatan diri sendiri, menggunakan kekuatan otaknya sendiri yang alih-alih “menuhankan” kemampuannya, maka bertawajuh dilakukan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, menjolok karunianya dan melenyapkan diri bersama hakekat Allah—ke-adaan dirinya adalah ke-Adaan Allah.

Cara bertawajuh inilah cara para ahli sufi dalam menggapai pengetahuan intelektual yang dalam sejarah umat manusia telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Para ahli sufi tinggal melanjutkan dan meneruskan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, sebagaimana Rasulullah meneruskan apa yang pernah diajarkan oleh para nabi-nabi terdahulu.

TAFSIR TEMATIK SUFISTIK

Dibawah ini penulis paparkan beberapa tema pokok dalam tafsir yang sering dikembangkan oleh para musafir dengan pendekatan sufistik. Beberapa tema berikut ini menjadi sebuah wacana yang dominan dalam kajian Islam dan pembacaan terhadap teks suci al-Qur’an, antara lain:

  1. Perintah Membaca “Asma Allah” dan Dzikr

Adalah ayat al-Qur’an pertama kali turun, yakni surat al-‘alaq yang memberikan petunjuk bahwa pengetahuan intelektual telah diperoleh melalui tawajuh dan mendekatkan diri kepada Allah, dimana ketika pertama kali Rasulullah saw. bertemu dengan jibril as. adalah diminta untuk menyebut Asma’ Allah di dalam qalbunya, bukan melalui mulutnya atau kata-kata.

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[11]

Perintah “Bacalah” disini adalah perintah untuk menyebut “Allah, Allah, Allah …” di dalam qalbunya Muhammad, bukan dari bibirnya. Kalau perintah itu diucapkan secara lisan tentu saja Muhammad dengan mudah bisa melakukannya. Akan tetapi mengucapkan asma Allah melalui qalbu inilah yang membuat Muhammad harus berjuang sampai tiga kali hingga berkeringat dan didegap oleh Jibril untuk bisa melakukannya. Perjuangan Muhammad untuk menjadi Rasulullah yang akan menerima langsung perintah menyebarkan syari’at Islam harus mendapatkan ruhullah berupa “Nuur Muhammad” di dalam qalbunya. Tanpa Nuur itu Muhammad hanya manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan manusia yang lain.

Setelah “Nuur Muhammad” itu masuk di dalam dada Muhammad maka jadilah Muhammad Rasulullah saw, bukan Muhammad bin Abdullah, dan berhaklah meneruskan estafet kenabian yang pernah didapatkan oleh nabi-nabi yang terdahulu. Jika demikian, maka perintah ayat di atas yang sejatinya al-Qur’an adalah apa yang diucapkan oleh Muhammad dalam dadanya yang langsung dari lauh mahfudz, bukan ayat yang tertulis itu sendiri. Lima ayat yang tertulis itu hanyalah sebuah informasi (habar) yang disampaikan oleh Rasulullah kepada umatnya dan kemudian dicatat dan dihafalkan oleh para sahabat.

Sehingga al-Qur’an adalah apa yang ada di dalam dada di Muhammad, bukan apa yang ditulis dalam bentuk sebuah teks yang hari ini tersebar. Bukankah banyak teks al-Qur’an yang tidak terkodifikasi dan tertulis dalam mushaf ustmani seperti beberapa ayat yang disampaikan oleh beberapa sahabat (panitia penulisan) dikarenakan tidak memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Zaid bin Haritsa. Dan al-Qur’an itulah yang diperintahkan untuk di dzikirkan secara rutin dan berkesinambungan setiap hari, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 41,

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ό #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ   çnqßsÎm7y™ur Zotõ3ç/ ¸x‹Ï¹r&ur ÇÍËÈ

Hai, sekalian orang mukmin! Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan tasbilah memuji Allah pagi-pagi dan petang-petang.[12]

Lalu perintah tersebut dipertegas lagi dalam beberapa ayat-ayat yang lain,

…. ä.øŒ$#ur y7­/§‘ #ZŽÏWŸ2 ôxÎm7y™ur ÄcÓÅ´yèø9$$Î/ ̍»x6ö/M}$#ur ÇÍÊÈ

Dan ingatlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan tasbilah di waktu petang dan pagi.[13]

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.[14]

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ɋÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

Orang-orang mukmin hatinya tentram karena mengingat Allah. Ingat Allah, karena dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.[15]

Orang yang tidak mendapatkan Nurr Muhammad di dalam dadanya serta tidak bisa mengingat Allah akan mendapatkan kesulitan dalam hidup. Karena petunjuk hidup itu sejatinya adalah al-Qur’an yang ada di dalam dada setiap muslim yang senantiasa “disebut” setiap hari dalam berdzikir. Jika di dunia ia akan menemukan kegersangan hidup dan pendangkalan makna agama (Islam), maka di akherat akan kebingungan dan menjadi buta (hatinya) karena tidak pernah mendapatkan Nuur Muhammad. Dan Nurr Muhammad itulah yang harus didzikirkan dan merupakan al-Qur’an yang Kalamullah.

ô`tBur uÚtôãr& `t㠓̍ò2ό ¨bÎ*sù ¼ã&s! Zpt±ŠÏètB %Z3Y|Ê ¼çnãà±øtwUur uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4‘yJôãr& ÇÊËÍÈ

Barang siapa yang tidak mau mengingat Allah dia akan mendapatkan kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta.[16]

þ’ÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur ’Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepada-Mu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.[17]

Dengan Nuur Muhammad itulah Allah merasa dekat dengan hambanya dan telah mendahului apapun yang telah dikerjakan oleh hambanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Begitu juga sang hamba, ia akan merasakan keadaan Allah yang sesungguhnya dan tahu bahwa Allah telah hadir dalam dirinya dan nyata ada di depannya. Sehingga apapun yang dipikirkan oleh hamba adalah Allah baginya. Dan terkadang dalam menyebut dirinya adalah Allah itu sendiri, karena ia tahu bahwa Allah ada dalam dirinya dan telah menyatu bersama ruh-nya. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadits qudsi. Allah ta’ala telah bersabda: “Aku menurut keyakinan hamba-Ku dan Aku bersama dia apabila ia mengingat Aku; kalau ia mengingat Aku secara tersembunyi (dalam hatinya saja) Aku ingat pula ia cara itu, kalau ia mengingat Aku dihadapan umum maka Aku ingat pula ia dihadapan umum lebih baik dari itu, kalau ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal Aku dekatkan diri-Ku kepadanya sehasta, kalau ia mendekatkan diri sehasta Aku dekatkan Aku kepadanya sedepa, kalau ia datang kepada-Ku berjalan kaki Aku akan datang kepadanya berlari”.[18]

Allah pun mempermudah Agama dan menunjukkan inti menjadi Muslim jika setiap muslim telah mendapatkan Nuur Muhammad di dadanya. Sebagaimana sebuah hadits dari Abdillah bin Bisir, ia berkata “Bahwasanya seorang Badui bertanya kepada Rasulullah saw.: Bahwasanya syari’at Islam sudah banyak saya terima, maka terangkanlah kepada saya sesuatu yang mudah saya kerjakan. Nabi menjawab: Hendaklah lidahmu selalu basah dengan dzkir Allah”.[19]

Hilangnya Nuur Muhammad, yang senantiasa didzikirkan oleh setiap muslim adalah awal datangnya hari kiamat dan berakhirnya kehidupan dunia. Selama Nuur Muhammad itu masih ada dan senantiasa bersemanyam di dalam dada setiap muslim maka kiamat tidak akan pernah datang. Bukankah disebutkan bahwa kelak kiamat akan datang jika tidak ada lagi al-Qur’an di dunia ini, yang berarti hilangnya al-Qur’an di dalam dada setiap muslim, yakni Nuur Muhammad itu.

Nabi Muhammad saw. bersabda: “Tiada akan datang kiamat kecuali kalau tidak ada lagi yang membaca Allah, Allah”.[20]

“Membaca Allah, Allah” disini bukan membaca kalimat Allah secara tekstual atau secara lisan—dimana setiap orang bisa melakukannya, bahkan orang non-muslim. Akan tetapi dzikrullah yang secara otomatis tersistem dan bersambung hingga ke Rasulullah yang berupa Nuur Muhammad atau al-Qur’an di lauh-madfudz itu, yang ada di dalam dadanya. Jika Nuur Muhammad itu hilang dalam dada setiap muslim maka kiamat akan segera datang, karena yang membuat abadi dunia ini adalah Nuur Muhammad, bukan dunia dan segala isinya. Nuur Muhammad itu kekal sebagaimana kekalnya Allah. Ia merupakan manifestasi dari Allah yang diturunkan ke dunia untuk menuntun umat manusia agar bisa kekal kembali di akherat bersama Allah. Sehingga orang yang tidak pernah mendapatkan Nuur Muhammad di dunia maka ia akan lenyap pula di akherat dan tidak bisa kembali kekal bersama Allah di akherat.

Muslim yang mendapatkan Nuur Muhammad—yang mendapatkan al-Qur’an yang qadim di dalam dadanya akan merasa tenang, hatinya merasa tentram dan merasakan kehadiran Allah di setiap kehidupannya. Merekalah yang akan kembali bersama Allah dan berada di surga dengan damai, sebagaimana difirmankan,

$pkçJ­ƒr’¯»tƒ ߧøÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ   ûÓÉëÅ_ö‘$# 4’n<Î) Å7În/u‘ ZpuŠÅÊ#u‘ Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ   ’Í?ä{÷Š$$sù ’Îû “ω»t6Ïã ÇËÒÈ   ’Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ

Hai nafsu (jiwa-jiwa) yang tenang (suci), kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dengan (hati) ridha dan diridhoi (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan Masuklah ke dalam surga-Ku.[21]

  1. Nuur Muhammad ; Nuurin ala Nuur (cahaya di atas cahaya)

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an surat An-Nuur:

* ª!$# â‘qçR ÅVºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ã@sWtB ¾Ín͑qçR ;o4qs3ô±ÏJx. $pkŽÏù îy$t6óÁÏB ( ßy$t6óÁÏJø9$# ’Îû >py_%y`㗠( èpy_%y`–“9$# $pk¨Xr(x. Ò=x.öqx. A“Íh‘ߊ ߉s%qム`ÏB ;otyfx© 7pŸ2t»t6•B 7ptRqçG÷ƒy— žw 7p§‹Ï%÷ŽŸ° Ÿwur 7p¨ŠÎ/óxî ߊ%s3tƒ $pkçJ÷ƒy— âäûÓÅÓムöqs9ur óOs9 çmó¡|¡ôJs? ֑$tR 4 î‘qœR 4’n?tã 9‘qçR 3 “ωöku‰ ª!$# ¾Ín͑qãZÏ9 `tB âä!$t±o„ 4 ÛUΎôØo„ur ª!$# Ÿ@»sWøBF{$# Ĩ$¨Y=Ï9 3 ª!$#ur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇÌÎÈ   ’Îû BNqã‹ç/ tbόr& ª!$# br& yìsùöè? tŸ2õ‹ãƒur $pkŽÏù ¼çmßJó™$# ßxÎm7|¡ç„ ¼çms9 $pkŽÏù Íir߉äóø9$$Î/ ÉA$|¹Fy$#ur ÇÌÏÈ   ×A%y`͑ žw öNÍkŽÎgù=è? ×ot»pgÏB Ÿwur ììø‹t/ `tã ̍ø.ό «!$# ÏQ$s%Î)ur Ío4qn=¢Á9$# Ïä!$tGƒÎ)ur Ío4qx.¨“9$#   tbqèù$sƒs† $YBöqtƒ Ü=¯=s)tGs? ÏmŠÏù ÛUqè=à)ø9$# ㍻|Áö/F{$#ur ÇÌÐÈ   ãNåku‰Ì“ôfu‹Ï9 ª!$# z`|¡ômr& $tB (#qè=ÏHxå Nèdy‰ƒÌ“tƒur `ÏiB ¾Ï&Î#ôÒsù 3 ª!$#ur ä-ã—ötƒ `tB âä!$t±o„ ΎötóÎ/ 5>$|¡Ïm ÇÌÑÈ   tûïÏ%©!$#ur (#ÿrãxÿŸ2 öNßgè=»uHùår& ¥>#uŽy£x. 7pyè‹É)Î/ çmç7|¡øts† ãb$t«ôJ©à9$# ¹ä!$tB #Ó¨Lym #sŒÎ) ¼çnuä!$y_ óOs9 çnô‰Ågs† $\«ø‹x© y‰y`urur ©!$# ¼çny‰ZÏã çm9©ùuqsù ¼çmt/$|¡Ïm 3 ª!$#ur ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÌÒÈ   ÷rr& ;M»yJè=Ýàx. ’Îû 9øtr2 %cÓÅd֗9 çm9t±øótƒ ÓlöqtB `ÏiB ¾ÏmÏ%öqsù ÓlöqtB `ÏiB ¾ÏmÏ%öqsù Ò>$ptxž 4 7M»yJè=àß $pkÝÕ÷èt/ s-öqsù CÙ÷èt/ !#sŒÎ) ylt÷zr& ¼çny‰tƒ óOs9 ô‰s3tƒ $yg1ttƒ 3 `tBur óO©9 È@yèøgs† ª!$# ¼çms9 #Y‘qçR $yJsù ¼çms9 `ÏB A‘qœR ÇÍÉÈ   óOs9r& ts? ¨br& ©!$# ßxÎm7|¡ç„ ¼çms9 `tB ’Îû ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur çŽö©Ü9$#ur ;M»¤ÿ¯»|¹ ( @@ä. ô‰s% zNÎ=tæ ¼çms?Ÿx|¹ ¼çmys‹Î6ó¡n@ur 3 ª!$#ur 7LìÎ=tæ $yJÎ/ šcqè=yèøÿtƒ ÇÍÊÈ   ¬!ur à7ù=ãB ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur ( ’n<Î)ur «!$# 玍ÅÁyJø9$# ÇÍËÈ

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita yang besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Pelita itu dalam rumah (masjid) yang telah diizinkan Allah menghormatinya dan menyebut nama-Nya dalam rumah (masjid: rumah Allah) itu, serta tasbih di dalamnya pagi dan petang.

(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

Beberapa orang laki-laki yang tidak lalai karena perniagaan dan tidak pula karena berjual beli dari mengingat Allah dan mendirikan sembayang serta memberikan zakat; mereka takut akan hari yang bergoncang segala hati dan pemandangan di waktu itu.

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yag datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungannya.

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk). [22]

Cahaya Allah (Nuurin alaa Nuur) adalah agama Islam itu sendiri yang telah menancap di dada setiap muslim, yang lidahnya telah basah dengan banyak menyebut asma-Nya, yang berdzikir siang malam untuk mengingatnya, dan senantiasa menyatu bersama-Nya dalam dirinya. Dan orang yang telah mendapatkan cahaya itu akan merasa tentram, hatinya senantiasa condong kepada Allah, dan membawa kepada alam ketuhanan. Karena pada hakekatnya cahaya itu adalah Allah itu sendiri.

Cahaya itulah yang pertama kali diciptakan oleh Allah dari unsurnya sebelum diciptakannya bumi, langit dan seluruh jagat raya. Setelah Cahaya terbentuk maka Allah menciptakan semua dunia dan isinya, akherat dan isinya, serta makhluk-makhluknya yang lain. Semua ciptaannya itu diciptakan dari Cahaya itu yang mengembang dan melahirkan banyak ciptaan lainnya. Cahaya itulah yang kekal selamanya, bersama kekalan Allah itu sendiri. Sehingga segala macam ciptaan Allah yang fana dan tidak kekal, bisa mencapai derajad kekal jika Cahaya itu masih bersemayam di dadanya atau masih tesirat sedikit Cahaya yang telah melahirkan dirinya. Dada setiap muslim, yang ada Cahaya itu (Nuurin alaa Nuur) kelak akan bisa kekal kembali ke akherat dan menyatu bersama Allah. Mereka bisa melihat hakekat keberadaan Allah dan merasakan nikmat yang besar atas disikapkannya tabir antara dirinya dengan Tuhannya. Bahkan seluruh alam ciptaan-Nya, mulai gunung, laut, pepohonan, dan segala penampakan alam telah berdzikir kepada Allah dengan caranya untuk bisa mencapai kekekalan bersama dzat-Nya.

Kemudian Cahaya itu diberikan kepada para Nabi dan Rasulnya untuk dijadikan sebagai petunjuk kepada umat manusia kejalan-Nya, yang akhirnya disebut dengan Nuur Muhammad. Sejak nabi Adam as. hingga Rasulullah saw dan para ulama yang telah menjadi “al-‘Ulama warasah al-‘ambiya’” yakni para ulama yang menjadi pewaris Cahaya para nabi yang telah menancap di dadanya atau qalbunya. Cahaya itulah yang bersifat abstrak bagi orang yang hatinya mati, namun tetap nyata bagi umat islam yang telah mendapatkan cahaya itu.

Potensi Cahaya yang telah diterima oleh Nabi Adam dan nabi-nabi yang lain adalah sama dengan apa yang telah diperoleh oleh nabi Muhammad saw. Potensi cahaya itulah yang kemudian menjadi bukti kenabiannya berupa sebuah mukjizat. Sehingga pada dasarnya mukjizat semua Nabi dari zaman ke zaman adalah sama, akan tetapi dikarenakan situasi dan kondisi kebutuhan ruang dan waktu yang berbeda maka mukjizat itu menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Nabi Musa as. bisa menghidupkan orang mati, misalnya, para nabi yang lain juga bisa, akan tetapi jarang atau tidak ada yang melakukannya karena memang dakwah di zamannya tidak membutuhkan itu. dan seterusnya.

Selain menghasilkan mukjizat sebagai kekuatan dasyat para nabi potensi Cahaya itu juga menghasilkan sebuah “berkas-berkas” cahaya yang berupa kitab suci. Kitab suci para nabi adalah pancaran dari mukjizat dan dasyatnya potensi cahaya itu. Ia lahir dari sebuah pergulatan dan intensifitas berdzikir atas petunjuk Cahaya itu. Para nabi tidak pernah menulis apa-apa yang hari ini telah menjadi sebuah kitab suci, tapi penulisan itu dilakukan oleh generasi setelahnya yang mengharapkan tatanan masyarakat sesuai dengan anjuran para Nabi, sehingga dibuatlah sebuah pengkodifikasian firman serta pembakuan kitab yang layak dipelajari secara tesktual. Dalam melakukan dakwah para nabi tidak pernah mengajarkan Agama dengan menulis atau pesan teks-teks lainnya, namun melalui upaya untuk menancapkan kalimat “Laa Illaha Illa Allah” merasuk didalam dada setiap orang yang beriman dan menggantikan segala bentuk sirik dan paganisme. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah saw. bersabda “Dzikir yang paling baik ialah kalimat Laa ilaaha illa Allah.

Para nabi menjadi perantara bagi manusia untuk bisa sampai kepada Allah, mengajak sabar dalam merawat kalimat tauhid itu agar secara gradual bisa mendidik dan membimbingnya, sehingga sampailah ia kepada keharibaan Allah dan bertaqarub disisinya. Sebagaimana difirmankan,

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#rçŽÉ9ô¹$# (#rãÎ/$|¹ur (#qäÜÎ/#u‘ur (#qà)¨?$#ur ©!$# öNä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇËÉÉÈ

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, jadilah orang yang sabar,  berrabithlah (bersandar kepada pemimpin dzikir) dan bertaqwalah mudah-mudahan kalian menjadi orang yang beruntung.[23]

Di zaman para nabi setiap orang yang beriman akan ber-rabith kepada para nabi yang telah mendapatkan amanah Cahaya petunjuk dari Allah (Nuurun alaa Nuur). Dalam setiap aktivitas ibadah maupun kegiatan sehari-hari orang beriman akan dibimbing oleh para nabi. Para nabi mengetahui gerak gerik ruhani setiap umatnya dan tahu apa yang harus diajarkan kepada mereka. Melalui bimbingan dan pendidikan dari para nabi inilah ibadah orang beriman bisa sampai kepada Allah dan mampu menyatukan dirinya bersama dzatnya Allah.

Di zaman sekarang, orang beriman tidak lagi berrabith kepada para nabi karena transmisi kenabian sudah berakhir. Akan tetapi pewaris rabith tersebut tetap dilanjutkan oleh para ulama sebagai pewaris para nabi, yakni ulama yang waliyan mursyidan, yang memimpin umat beriman dalam bertawajuh di hadapan Allah secara lahir dan batin. Sebagaimana diinformasikan,

* “ts?ur }§ôJ¤±9$# #sŒÎ) Myèn=sÛ â‘urºt“¨? `tã óOÎgÏÿôgx. šV#sŒ ÈûüÏJu‹ø9$# #sŒÎ)ur Mt/{xî öNåkÝÎ̍ø)¨? |N#sŒ ÉA$yJÏe±9$# öNèdur ’Îû ;ouqôfsù çm÷ZÏiB 4 y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÏM»tƒ#uä «!$# 3 `tB ωöku‰ ª!$# uqßgsù ωtGôgßJø9$# ( ÆtBur ö@Î=ôÒム`n=sù y‰ÅgrB ¼çms9 $|‹Ï9ur #Y‰Ï©ó‘D ÇÊÐÈ

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang Luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin-pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.[24]

Orang yang menemukan waliyan mursyidan inilah yang bisa menikmati nikmatnya iman, mereka akan mencintai Gurunya itu melebihin cinta kepada dirinya dan keluarganya, dikarenakan yang telah memberikan petunjuk hingga sampai kepada Allah. Orang yang demikian inilah yang akan menyerahkan segala urusan keluarganya kepada Allah, dan Allah-lah yang akan mengatur urusan dunianya. Sebagaimana diinformasikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Demi Allah yang menguasai diriku! seseorang di antara kalian tidak dianggap beriman kecuali jika aku lebih dicintai olehnya daripada orang tua dan anaknya sendiri.”[25]

Diriwayatkan dari Anas ra., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda: “Ada tiga hal yang barangsiapa mencapainya, maka dia akan merasakan nikmatnya iman: 1. Allah dan Rasul-Nya dicintai olehnya melebihi segala-galanya. 2. Mencintai orang lain hanya karena Allah. 3. Membenci kekafiran sebagaimana kebenciannya dimasukan api neraka.”[26]

 

  1. Hakekat Agama, al-Qur’an, dan Ilmu Pengetahuan

Keberadaan manusia dimuka bumi ini tidak lain hanyalah bertujuan untuk beribadah kepada Allah. Setiap gerak langkahnya, setiap aktivitasnya, dan setiap apa yang menjadi tujuannya hidupnya merupakan upaya untuk menjadi hamba Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sebagaimana yang difirmankan, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”.

Menyembah Allah inilah yang menjadi tujuan dari pada diturunkannya agama, yakni memberikan petunjuk kepada manusia dan jin agar mampu menemukan jalan untuk menyembah Allah dan tidak menyembah selainnya. Sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw. agama itu tetap sama, diturunkan dengan kualitas yang sama, dan disampaikan dengan cara yang sama, yakni oleh malaikat Jibril as. kepada para rasul dan nabi-nabi Allah. Para Rasul inilah yang bertugas untuk menyampaikan pesan Tuhan (yang bersifat Trasenden) kepada manusia (menjadi bersifat imanen), dari bahasa Tuhan yang asbtrak menjadi bahasa manusia kongkret, dari keberadaan Tuhan yang Irrasional menjadi keberadaan manusia rasional, dan dari keberadaan Tuhan yang Maha Tinggi menjadi posisi manusia yang mudah difahami oleh kesempitan akalnya. Para Nabi inilah yang menunjukkan pemahaman tentang Tuhan melalui wahyu kepada manusia agar bisa menemukan hakekatnya sebagai manusia itu sendiri.

Jika agama itu merupakan petunjukkan bagi manusia untuk menemukan Tuhan dan memiliki kualitas yang sama sejak zaman Nabi Adam as. hingga sekarang, maka agama itu adalah satu, dibawah oleh Jibril as. dan diwahyukan kepada para Rasul. Pada setiap generasi Allah senantiasa mengutus para Rasul untuk menyampaikan Agama itu secara utuh, lengkap, dan benar, tidak sepotong-potong, hingga pada generasi ini keberadaan para Rasul itu ditutup dengan diutusnya Muhammad saw.

Kesatuan Beragama

Kesatuan dan keutuhan agama diwujudkan oleh tiga hal yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Sebagaimana yang diinformasikan dalam sebuah hadits, Dari Umar bin Khattahab ra. “Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah saw., tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih da rambutnya sangat hitam. Tidak kelihatan tanda-tanda kalau dia melakukan perjalanan jauh, dan tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Laki-laki itu kemudian duduk dihadapan Nabi saw. sambil menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi saw. laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Muhammad beritahukan aku tentang Islam?’. Rasulullah menjawab, ‘Islam adalah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, mengerjakan sholat, membayar zakat, puasa dalam bulan Ramadlan dan kamu haji Baitullah jika kamu telah mampu melaksanakannya’. Laki-laki itu menjawab, ‘Kamu benar’. Umar berkata ‘Kami heran dengan laki-laki itu, ia bertanya tapi ia sendiri yang membenarkannya.’ Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Beritahukan aku tentang Iman?’ Rasulullah menjawab, ‘ Iman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitan-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan qadlo dan qodar Allah yang baik dan yang buruk.’ Laki-laki itu menjawab, ‘Kamu benar’. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, ‘Beritahukan aku tentang Ihsan?’. Rasulullah menjawab, ‘Ihsan adalah kamu menyembah Allah seolah-seolah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihatmu …. Kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku diam beberapa saat. Kemudian Rasulullah bertanya kepadaku, ‘Wahai Umar, siapakah orang yang datang tadi?’ aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah saw. lalu bersabda ‘Sesungguhnya laki-laki itu adalah malaikat Jibril as. Ia datang kepadamu untuk untuk mengajarkan agama’.” (Shahih Muslim, 9).

Dari hadits tersebut menjadi jelas bahwa beragama adalah terdiri atas tiga komponen; Islam, Iman dan Ihsan. Ketiganya merupakan satu kesatuan dan keutuhan yang saling melengkapi dan saling mendukung eksistensinya. Secara substansif keberadaan agama telah didukung oleh tiga hal itu, sehingga tanpa adanya tiga hal tersebut maka agama itu hilang esensinya dan tentunya akan kehilangan makna asli dari pada keberadaan agama itu sendiri. Artinya bahwa tanpa Iman, hanya Islam dan Ihsan agama itu tidak utuh; tanpa Islam, hanya Iman dan Ihsan saja agama itu juga pincang; begitu juga jika tanpa Ihsan, agama juga tidak bisa berdiri hanya dengan Islam dan Iman.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah swt. sendiri dalam qur’an surat al-Baqoroh ayat 208,

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# ’Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø‹¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Ar߉tã ×ûüÎ7•B ÇËÉÑÈ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.[27]

Adanya kalimat “Kaffah” yang bermakna sempurna, secara keseluruhan, tidak sepotong-potong mempertegas bahwa tanpa Iman esensi Islam dan Ihsan menjadi kosong, tanpa Islam esensi Iman dan Ihsan juga lenyap, dan tanpa Ihsan esensi Islam dan Iman juga nonsens, dangkal dan menjadi remeh temeh. Ketidaksempurnaan beragama secara Kaffah jelas menjerumuskan pada lubang kesesatan yang telah dibimbing oleh setan, dan dinyatakan dalam al-Qur’an kalimat Innahu lakum ‘aduwun mubiin (musuh yang nyata bagimu).

Parsialisasi Agama

Dalam perkembangan selanjutnya, ketiga komponen tersebut telah dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim menjadi bagian-bagian dsiplin ilmu yang berdiri sendiri. Islam menghasilkan disiplin ilmu fiqih, Iman menghasilkan disiplin ilmu Ushuluddin (akidah), dan Ihsan menghasilkan disiplin ilmu akhlak (tasawuf). Adanya pemisahan-pemisahan tersebut meNuurut Abdusshomad yang mengutip Ahmad Shiddiq dikarenakan tiga hal. Pertama, karena kecenderungan manusia yang selalu memperhatikan yang juz’iyah (sebagian-bagian/parsial) setelah melihat yang kulliyah (keseluruhan/global), atau kecenderungan manusia yang ingin merinci sesuatu yang global dan pada gilirannya mengutuhkan kembali sesuatu yang terperinci tersebut. Kedua, pengaruh perkembangan dan metodologi ilmu pengetahuan, dimana pengetahuan terhadap satu bagian ilmu sering dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang terpisah dari yang lainnya. Ketiga, karena pengaruh perkembangan zaman. Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan zaman yang mengharuskan adanya pengkhususan (spesifikasi) terhadap beberapa disiplin keilmuan, sehingga dapat mempermudah untuk dipelajari. Dan inilah yang kemudian disebut dengan parsialisasi agama.

Dalam terminologi Nahdlatul Ulama, pembagian-pembagian tersebut telah didefiniskan dalam pengertian ahlussunnah waljama’ah secara mudah dan bisa dipelajari oleh masyarakat umum. Ahlussunnah waljama’ah meNuurut versi Nahdlatul Ulama adalah dalam bidang aqidah mengikuti pendapat imam abu Hasan al-Asy’ari dan imam abu Mansur al-Maturidzi, dalam bidang fiqih mengikuti pendapat imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, dan dalam bidang tasawuf mengikuti imam Abu Hamid al-Ghazali dan Imam Junaidi al-Baghdadi. Pada perkembangan selanjutnya agama telah dikembangkan melalui ketiga bidang tersebut.

Sehingga dalam konteks ini agama telah dikembangkan menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang bisa diteliti dan dikembangkan meNuurut zamannya. Dan ini merupakan terobosan terbaik ilmuwan Islam dalam mengembangkan agama menjadi agama yang mudah difahami dan bisa dipelajari oleh pengikutnya secara berkelanjutan. Melalui karya tulis para ilmuwan Islam para generasi sekarang dan yang akan datang bisa menikmati kajian dan penelitian yang telah ditulis oleh para ilmuwan itu, melalui kitab-kitab dan catatan-catatannya.

Tanpa usaha para fuqoha, tentu umat Islam saat ini tidak akan bisa menemukan berbagai persoalan agama yang telah berkembang di masyakarat dari setiap generasi ke generasi selanjutnya, pasca wafatnya Rasulullah. Para fuqoha  inilah yang cukup berjasa membakukan sebuah teks menjadi bahan yang terus menerus bisa dipelajari dan diajarkan, sehingga secara informatif agama tetap terpelihara. Hal yang sama juga dilakukan oleh para mutakalim, yang karena usahanya teks-teks tentang ketuhanan bisa dibakuna secara terperinci dan jelas.

Akan tetapi hal ini memunculkan pemahaman yang salah dalam praktiknya dan dalam konteks yang terus menerus dipelihara. Agama yang “Kaffah”—yang mengharuskan keutuhan ketiga komponen agama; Islam, Iman dan Ihsan, —akibat adanya parsialisasi tersebut (upaya pemisahan dan pengembangan agama menjadi bidang-bidang tertentu) dijalankan secara terpisah dan terpotong-pontong. Mislanya fenomena para fuqoha bersikukuh mempertahankan pendapat bahwa ilmu fiqih merupakan ilmu yang pertama harus dipelajari oleh umat Islam menjadi umat Islam lupa bahwa mereka harus pula mempelajari ilmu tasawuf untuk menemukan ihsan. Begitu juga sebaliknya, umat islam yang terfokus mempelajari ilmu ushuluddin telah melupakan kewajiban untuk mempelajari ilmu tasawuf untuk menemukan Ihsan dan belajar fiqh untuk mempelajari hukum Islam.

Lebih parahnya lagi, fiqih dipahami sebagai syari’ah yang otoritasnya setara dengan al-Qur’an dan hadits. Padahal fiqih adalah hasil pemikiran manusia (ilmuwan Islam) untuk mengembangkan syari’at, yang antara satu pemikiran (madzhab) ilmuwan dengan pemikiran (madzhab) ilmuwan yang lain bisa berbeda—dengan standart  tertentu (sebagai mujtahid), sehingga bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan sesuai dengan ruang dan waktu. Sedangkan syari’at merupakan hal yang absolut, berupa firman Allah dan sunnah Rasulullah yang keberadaannya sudah pasti dan tidak bisa berubah-ubah. Keberadaan syari’at tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Di kapan pun dan dimana pun Agama tetap memerintahkan menyembah Allah dengan cara sholat lima waktu, puasa di bulan ramadlan, dan membayar zakat setiap satu tahun sekali.

Akhirnya, mempelajari agama adalah mempelajari teks, dan bukan bagaimana agama itu telah diajarkan oleh Rasulullah. Agama dipelajari melalui catatan-catatan para ilmuwan dan beberapa pengembangan yang telah dilakukan melalui berbagai karya yang telah ditulisnya. Dari teks-teks itulah kemudian agama difahami sebagai hal yang tekstual, yang tertulis dan yang bisa dibaca. Padahal, sebagaimana yang telah disebutkan bahwa al-Qur’an yang merupakan sumber lahirnya agama bukan merupakan teks yang memiliki huruf dan suara, “bilaa shoutin wa laa harfin.”

Rasulullah adalah ummi, tidak bisa membaca dan menulis, tapi beliau menerima wahyu dan agama secara utuh. Apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam segala tindak tanduk sehari-hari merupakan al-Qur’an itu sendiri, sehingga dikatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Ini mempertegas bahwa agama bukanlah apa yang tertulis di dalam teks itu. Teks hanya (ibarat) sinar yang dihasilkan oleh agama (sebagai sumber cahaya), yang difahami dan ditulis dengan bahasa manusia (huruf dan suara).

Karena adanya kesalahpahaman itulah kemudian banyak bermunculan anggapan—yang kemudian seolah-olah menjadi semacam “sabda”—dari kalangan sebagian ilmuwan fuqoha bahwa agama itu diawali dengan mempelajari syari’at (dalam arti fiqh), baru kemudian naik ketahapan tarekat, baru hakekat, dan terakhir ma’rifat. Mempelajari fiqh identik dengan mempelajari teks yang terkodifikasi (terbukukan), dan ini merupakan tahapan awal yang harus dilalui oleh seorang muslim. Dengan kata lain, seorang untuk menjadi muslim harus belajar fiqh, teks terlebih dahulu sebelum belajar ketahapan yang lain. Akibatnya, munculnya “sabda” yang lain lagi “jangan belajar tarekat dulu, sebelum matang mempelajari syari’at (dalam arti ilmu fiqh)”.

Padahal sebagaimana yang jama’ diketahui, Rasulullah dan para nabi sebelumnya belajar agama tidak pernah mengawalinya dari teks. Apalagi jika dihubungkan dengan hadits riwayat Umar ra.diatas, akan sangat tidak singkron dan simetris dengan pernyataan “sabda” tersebut. Agama adalah satu kesatuan Imam, Islam dan Ihsan yang saling melengkapi. Akan tetapi, dengan munculnya tahapan agama yang dimulai dari syari’at, tarekat, hakekat dan ma’rifat, agama menjadi sepotong-potong. Muncullah ulama fuqoha, ulama kalam, ulama sufi yang satu sama lain terkadang mengalami ketidaksatuan visi agama dengan ulama yang lain.

Ironisnya, anjuran untuk belajar fiqih terlebih dahulu terkadang “menjerumuskan” manusia dalam lubang mempelajari fiqh seumur hidupnya, tanpa pernah mengenali Tuhannya dan hakekat beragama. Mereka terjebak pada teks-teks hasil nukilan dan tidak pernah menemukan bagaimana agama itu pernah diturunkan kepada Rasulullah saw.

Pada umumnya pemahaman “agama” seringkali diartikan sebagai “kepercayaan” atau keyakinan. Dengan kata lain agama adalah apa yang telah dinyakini oleh setiap manusia. Sehingga pada gilirannya muncullah pengertian agama dibagi menjadi dua, agama Samawi dan agama Ardi. Agama Samawi diartikan sebagai agama yang datang dari langit atau bersumber dari Tuhan yang maha  Esa, diantaranya Yahudi, Nasrani dan Islam. sedangkan agama Ardi adalah agama yang dibuat atau didirikan oleh manusia, misalnya Hindu, Budha, Konghochu, dan keyakinan-keyakinan yang lain.

Parahnya lagi, ketika agama diartikan sebagai “kepercayaan” seperti apa yang saat ini difahami, manusia dengan bebas “membuat” agama-agama sesuai dengan akalnya. Manusia dengan segala bentuk pemikirannya membuat keyakinan, membangun dogma dan menciptakan seperangkat institusi kepercayaan yang memberikan jalan “keselamatan”, dan itu dibuat berdasarkan pengalamannya pribadi. Dan di era sekarang, agama-agama baru itu bermunculan dengan berbagai variannya untuk melawan keberadaan agama Langit yang dianggap kurang relevan dengan kondisi masyarakat sekarang. Para nabinya adalah pemikir-pemikir kontemporer yang berhasil mencentuskan berbagai karya dan tulisan. Muncullah tokoh-tokoh semacam Einstein, Kalr Mark, Ghulam Ahmad, Musthofa Kemal Pasha, Foulcault dan lain sebagainya, yang dijadikan nabi oleh manusia-manusia kontemporer.

Dengan kata lain, ketika agama diartikan sebagai kepercayaan manusia bebas untuk bermain dan membuat agamanya sendiri sesuai dengan keyakinannya. Sehingga tidak salah jika kemudian dikatakan bahwa setelah Muhammad tetap masih ada “Nabi-Nabi” lagi yang akan mengisi kekosongan zaman “pencerahan” bagi setiap generasi. Tidak salah jika ada syahadat, atau semacam adagium lelucon kuno yang sering diucapkan oleh para pemikir bebas, “Tiada Tuhan di dunia ini, dan Karl Mark adalah Nabinya”.

 

 

 

Agama adalah Nuur (Petunjuk)

Lalu apa jika agama tidak diartikan sebagai kepercayaan? Adakah pengertian lain yang sesuai dan paling relevan. Untuk memahami hal ini perlu kiranya ditelusuri asal usul keberadaan pengertian dari agama itu.

Diantara pengertian agama itu diartikan dari berbagai sudut pandang bahasa. Orang Inggris misalnya menyebut agama sebagai religion, lalu orang India menyebut agama sebagai a-Gama. Kalau menurut pengertian demikian memang benar jika agama diartikan sebagai kepercayaan. Sedangkan dalam Islam agama disebut dengan al-Din. Al-Din ini tidak berarti kepercayaan, tapi Nuur atau cahaya. Sebagaimana yang diucapkan oleh para ahli Hikmah, awwalu al-Dinnu ma’rifatullah (awal beragama adalah mengenal Allah). Dan ucapan ini pun sejalan dengan sabda Nabi saw., al-Ilmu Nuurrun (Ilmu adalah Cahaya).

Maksud dari ucapan Nabi saw. tersebut tidak bisa diartikan secara dangkal dan banal bahwa semua ilmu adalah cahaya yang bisa menerangi hati dan pikirannya manusia, dalam arti pengetahuan. Ilmu adalah pencerah yang membuka kesadaran bagi manusia tentang pengetahuan. Ujung-ujungnya kemudian adalah ilmu tersebut berupa nukilan dari berbagai karya dan tulisan. Dalam terminologi sufi pengertian demikian baru sebatas ‘ain al-Yaqin (keyakinan yang didasarkan pada penglihatan secara nyata dan kongkret—oleh indera).

Jelas, bahwa yang dimaksud dengan al-‘Ilmu Nuurrun adalah ilmu dalam arti agama yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Rasul untuk disampaikan kepada umat manusia. Ilmu adalah pembawa sinar terang bagi hati, yang secara otomatis bisa mengarahkan hati manusia untuk bertemu dengan Tuhan-nya. Ilmu adalah apa yang ada di dalam hati manusia yang bukan didapatkan dari hasil membaca teks (majalah, buku, manuskrip, kitab) atau berdiskusi dengan ilmuwan, namun berupa cahaya dalam hati yang bisa mengarahkan kepada manusia akan hakekat kebenaran, petunjuk yang sesuai ajaran Tuhan, dan memberikan kesadaran asasi bagi manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.

Jika demikian maka agama bukanlah kepercayaan, ia adalah Nuur (cahaya), ilmu itu sendiri yang ada di dada (qalbu) para Rasul lalu diajarkan kepada umat manusia. Tanpa menjadi Rasul, mustahil manusia menerima agama dan mendapatkan wahyu, karena agama itu dari Tuhan dan melalui perantara malaikat Jibril as. (sang pembawa wahyu) disampaikanlah kepada para Nabi dan Rasul.

Dengan agama (cahaya) itulah para Nabi terbimbing, terpandaikan, dan terarahkan untuk membedakan mana yang Hak dan mana yang Bathil. Membedakan mana yang dari Tuhan dan mana yang Thoghut (berhala). Dengan cahaya itulah para nabi memberikan pengertian dan membimbing umat manusia untuk menyembah Tuhannya, bukan selain-Nya.

Kalau berupa Nuur, maka Agama bukanlah apa yang tertulis dan tertekstualkan. Yang tertulis dan tertekstual itu hanya sinar dari cahaya itu, yang kemudian ditulis dan dikodifikasikan berupa kitab suci oleh para generasi setelahnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kitab suci para Nabi bukanlah sebuah buku yang tertulis, tapi berupa wahyu yang billa shoutin walla Harfin. Ia berupa Nuur yang terus didzikir-kan oleh para pemiliknya (penganutnya) dan terus dipelihara illa Yaumul Qiyamah.

Nuur (agama) inilah yang pertama kali hadir dijagat ini sebelum dunia dan isinya diciptakan. Lalu kepada para Nabi, Nuur (agama) tersebut diturunkan oleh Jibril as. hingga Muhammad saw. yang terakhir. Dari sejak dahulu kala hingga saat ini Nuur tersebut tetap sama dan tetap abadi hingga bumi ini hancur kelak. Nuur (agama) itulah yang ada di dada setiap umat beriman dan kaum Muslimin. Jika orang yang dengan lantang mengatakan beragama namun di dadanya tidak ada Nuur (agama) itu maka hal itu adalah nonsens atau omong kosong, alias tanpa agama di dadanya walaupun beragama di KTP-nya dan pengakuan bibirnya. Dan Nuur inilah yang dengan tegas dikatakan oleh para ahli hikmah sebagai ahlussunnah waljama’ah, yakni Nuur (agama) yang diwariskan oleh Rasulullah saw. kepada para Sahabat-sahabatnya dan para Ulama. Sehingga sebutan untuk al-‘Ulama warasah al-‘ambiya’ (Ulama adalah pewaris para Nabi) adalah para ulama yang mewarisi amalan dan agama (Nuur) yang ada di dada Rasulullah saw. Tanpa mendapatkan atau menemukan Nuur (agama) itu maka seorang yang pandai pengetahuan tentang Agama (kepercayaan) pun tidaklah patut disebut sebagai “Ulama pewaris para Nabi”, walau dia pandai menghafal al-qur’an, hadits, fatwa-fatwa atau pemikiran-pemikiran yang lain.

Agama dan potensi Al-Qur’an

Terkait dengan keberadaan agama sebagai Nuur, mungkin dengan mudah bisa difahami dengan syair tanpo wathon-nya KH. Abdurrahman Wahid yang terkenal, Al-Qur’an Qadim Wahyu Minulyo, Tanpo Tinulis Iso Diwoco. Artinya bahwa yang dimaksud dengan al-Qur’an disini yang merupakan kitab suci umat Islam, ia firman Allah yang abadi yang tidak lekang oleh tempat dan waktu adalah agama itu sendiri yang berupa Nuur yang tidak bisa ditulis, namun ia bisa dibaca dan dirasakan oleh orang yang beriman. Sehingga al-Qur’an yang Qadim bukanlah apa yang dihafalkan secara tekstual oleh para khuffadz, tapi Nuur yang ada di dada setiap umat Islam yang akan abadi hingga hari qiyamat. Al-Qur’an itu sebuah potensi yang dasyat, potensi yang kekuatan luar biasa dan tidak bisa dijangkau oleh kelemahan akal manusia (kecuali yang mendapatkan petunjuk). Dan pernyataan syair tersebutlah yang memperjelas bahwa al-Qur’an adalah billa shoutin walla harfin. Sebagaimana yang dipertegas dalam firmannya,

öqs9 $uZø9t“Rr& #x‹»yd tb#uäöà)ø9$# 4’n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd‰|ÁtF•B ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!$# 4 šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ΎôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ

Kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.[28]

Nuur (agama) itulah yang sejatinya merupakan agama yang diamalkan oleh para ahli sufi dan penganut Tarekat. Mereka berdzikir, menyebut asma Allah dengan hatinya, mengucapkan al-Qur’an yang tidak tertulis namun bisa dibaca, dan membuka hijab antara kondisinya sebagai manusia dengan Tuhan sang Khalik. Dan para Guru tarekat-lah yang disebut sebagai “Ulama Pewaris para Nabi” yang mewarisi Nuur (agama) yang ada didada Rasul, lalu kemudian diajarkan kepada para muridnya, dan akan diwariskan kepada generasi ulama selanjutnya yang berhak untuk meneruskan keberadaan Nuur tersebut dimuka bumi ini. Dan inilah sejatinya yang disebut dengan istilah ahlussunnah waljama’ah oleh para ulama salaf.

Dengan demikian, agama yang terdiri atas Iman, Islam, dan Ihsan tidak bisa difahami secara parsial dan dilakukan dengan satu sudut pandang saja—pada umumnya adalah menggunakan sudut pandang fiqih. Akan tetapi harus difahami secara universal (keseluruhan), saling berkaitan dan melengkapi, yakni sebagai Nuur yang ada di dada (qalbu) setiap Muslim dan Beriman, yang dengan Nuur tersebut seorang Muslim terbimbing dalam beribadah (syari’ah-fiqih) dan terbimbing dalam berakhlakkul karimah di tengah-tengah masyarakat.

Jika hal itu bisa dilakukan, maka kampaye Nahdlatul Ulama sebagai Islam rahmatal lil’alamin baru akan terwujud dan bisa direalisasikan untuk membangun peradaban manusia.

Untuk bisa menjalankan hal itu maka seorang yang beragama harus diperkenalkan dahulu kepada Tuhannya, sebagai yang tadi diatas disebutkan awwalu dinnu ma’rifatullah (awal beragama adalah mengenal Allah). Mengenal Allah tidak cukup hanya dengan memahami seluruh ciptaannya di bumi ini, atau mendapatkan informasi melalui kitab dan tulisan, yang mana hal itu baru sebatas pengetahuan kasat mata (‘ain al-Yaqin). Akan tetapi harus melalui mengalaman langsung yang bersifat intuitif, yang dengan sadar tahu bahwa Tuhan telah melihat dirinya atau dirinya yang telah melihat Tuhan ada dimana-mana (Hak al-Yaqin). Dengan kata lain, aqidah kaum Muslimin harus benar-benar menacap dan benar-benar tahu bahwa Tuhan itu memang maha pengasih lagi maha penyayang.

Maka menjadi jelas tidak seratus persen benar (mutlak kebenarannya) bahwa beragama (Islam) yang paling awal adalah belajar fiqih terlebih dahulu, atau lebih masyhurnya dikronologikan dengan Syari’ah, Thariqoh, Hakekat, Ma’rifat, yang berarti bahwa belajar beragama dimulai dari syari’at (fiqih) baru kemudian belajar Thoriqoh, lalu Hakekat dan baru kemudian Ma’rifat. Ini harus diluruskan dan dibalik secara fundamental bahwa belajar agama harus diawali dengan Ma’rifat terlebih dahulu. Yakni mengenal Tuhannya, baru kemudian belajar syari’at untuk menyempurnakan cara menyembah dan berbakti kepadanya, serta menempuh jalan yang benar meNuurut-Nya (thoriqoh) hingga mencapai hakekat keberadaan-Nya (Hakekat). Karena mustahil seorang yang beragama (beriman), yang belum mengenal Tuhan-nya, lalu beribadah atas nama Tuhan yang tidak dikenal tersebut bisa sampai kepada tujuan yang lurus beragama (shirothol mustaqim). Jika itu terjadi, tentu yang disembah pun selain Tuhan, alias berhala (Thoghut). Dan tentu saja berhala bukanlah patung sebagaimana pada zaman Jahiliyah, tapi apapun yang selain Allah.

Sehingga tujuan penciptaan manusia dan jin untuk senantiasa beribadah kepada Allah hanya bisa diwujudkan jika mereka bisa mengenal Allah, tahu dan melihat Allah, atau tahu diri kalau dirinya dilihat oleh Allah. Dan jalan ini hanya dilakukan para penganut Tarekat yang mengenal ahlussunnah waljama’ah secara amali, hakiki, dan maknawi. Jalan inilah yang disebut dengan ‘ilmu Yaqin. Ilmu yang digunakan untuk meraih karunia bertuhan dan mengetahui hakekat Tuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an terjemah. Jakarta: Departemen Agama. 1990.

Abbas, Siradjuddin. 40 Masalah Agama. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. 2000.

Attaillah (Syech), Ahmad bin Muhammad. Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam. Surabaya: Mutiara Ilmu. 1995.

Abed al-Jabiri, Muhammad. Post-Tradisionalisme Islam. Jogjakarta: Lkis. 2000.

Bahri, Media Zainul. Satu Tuhan Banyak Agama; Pandangan Sufistik Ibn ‘Arabi, Rumi dan al-Jili. Bandung: Mizan. 2011.

Fathurrahman, Oman. Ithaf Al-Dhaki; Tafsir Wahdatul Wujud bagi Muslimin Nusantara. Bandung: Mizan. 2012.

Gulen, Muhammad Fethullah. Islam Rahmatal lil’alamin; Menjawab Pertanyaan dan Kebutuhan Manusia. Jakarta: Republika. 2011.

Ghazali (al), Imam. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (terjemah). Jakarta: Pustaka Amani. 1995.

Goldziher, Ignaz. Madzhab Tafsir: Dari Klasik Hingga Modern (terjemahan). Jogjakarta: Elsaq. 2010.

Haitami (al), Ibn Hajar. Allah dan Malaikat pun Bershalawat Kepada Nabi SAW (terjemah). Bandung: Pustaka Hidayah. 2002.

Ilyas. Hamim (ed). Studi Kitab Tafsir. Jogjakarta: Teras. 2004.

Mattson, Ingrid. Ulumul Quran Zaman Kita; Pengantar untuk Memahami Konteks, Kisah, dan Sejarah Al-Qur’an. Jakarta: Zaman. 2013.

Mustofa, Agus. Dzikir Tauhid. Surabaya: Padma. TT.

Qattan (al), Manna Khalil. Studi ilmu-ilmu al-Qur’an (terjemahan). Jakarta: Lentera antarnusa. 2004.

Sukardi (ed). Kuliah-Kuliah Tasawuf. Semarang: Pustaka Hidayah. 2000.

Suyuti (al), Jalaluddin. Lubab al-Nuqul fii sabab al-Nuzul. Surabaya: Mutiara Ilmu. 1986.

Tim Sembilan. Tafsir Maudhu’i Al-Muntaha. Jogjakarta: Lkis. 2004.

Yahya, Kadirun. Mutiara Qur’an: Tentang Agama Metafisika Ilmu Eksakta. Surabaya: Surau Nurul Amin. 1985.

 

[1] Para mufasir yang muncul di awal perkembangan ilmu tafsir diantaranya adalah Ibnu Jarih at-Thabari (wafat 310 H), Ahmad Ibnu Ibrahim (wafat 327 H), imam al-Husain Ibnu Mas’ud al Baghawi (516 H),

[2] Tafsir-tafsir terbaru yang banyak ditulis oleh para mufassir kontemporer dewasa ini diantaranya tafsir al-Maroghi yang ditulis oleh syech Ahmad Musthofa al-Maroghi, tafsir fi dhilalir qur’an oleh syech Sayyid Quttb, tafsir Al-Azhar yang ditulis oleh Hamka, tafsir oleh Prof. Dr. Quraysi Shihab dan masih banyak lagi. Di antara tulisan mereka sangat dipengaruhi oleh kecenderungan yang melatarbelakangi pengetahuannya.

[3] Dari sinilah tidak salah jika kemudian para orientalis atau ilmuwan muslim yang berguru pada orientalis membaca al-Qur’an sama dengan membaca Injil atau Bibel. Sehingga muncullah tafsir hermeneutika yang lahir dari epistimologi Barat (rasionalisme dan empirisme) dimana kecenderungan pembacaannya adalah memandang teks kitab suci sebagai realita sastra dan fakta sosial. Diantara para sarjana muslim yang menggunakan pembacaan demikian diantaranya adalah Prof. Nasr Hamid Abu Zaid dan Dr. Muhammad Sharur.

[4] Lihat Manna Khalil al-Qattan dalam Ulumul Qur’an, Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an (Jakarta: Litera antarnusa) hal. 494.

[5] Lihat Ignaz Goldziher dalam Madzhab Tafsir: dari Klasik hingga Modern. (Jogjakarta: Elsaq) hal. 217.

[6] Lebih lengkap lihat Mhammad Abed al-Jabiri dala Post tradsionalime Islam yang memuncul epistimologi Islam dalam tiga bentuk, Bayani, Irfani, dan Burhani. (Jogjakarta: Lkis).

[7] Lihat Agus Efendi, Tasawuf sebagai Madzhab epistimologi dalam Kuliah-Kuliah Tasawuf, Semarang: Pustaka Hidayah. 2000.

[8] Lihat Oman Fathurrahman dalam ithaf Al-Dhaki, Tafsir Wahdatul Wujud bagi Muslim Nusantara.  Hal , 69. Bandung: Mizan. 2013.

[9] Ibid, 69.

[10] Lihat William C. Chittick dalam Kosmologi Islam dan Dunia Modern. Bandung: Mizan (2010:29).

[11] SQ. Al-‘Alaq, 1-5. Terjemahan Departemen Agama. 1990.

[12] Q.S, Al-Ahzab, 41-42. Terjemah Departemen Agama. 1990.

[13] Q.S, Ali Imran, 41. Terjemah Departemen Agama. 1990.

[14] Q.S, An-Nisa’, 103. Terjemah Departemen Agama. 1990.

[15] Q.S. Ar-Ra’du, 28. Terjemah Departemen Agama. 1990.

[16] Q.S, Thaha, 124. Terjemah Departemen Agama, 1990.

[17] Q.S. Al-Baqarah, 152. Terjemah Departemen Agama. 1990.

[18] Hadits Shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, lihat Shahih Bukhari Juz 4 hal.196.

[19] Hadits riwayat Ibnu Majah, lihat Shahih Ibnu Majah jilid 2 hal. 418.

[20] Hadits Shahih riwayat Imam Muslim, lihat Shahih Muslim juz I hal. 73.

[21] Q.S. Al-Fajr: 27-30. Al-Qur’an terjemah (Departemen Agama) 1990.

[22] Q.S. An-Nuur: 35-42. Al-Qur’an (terjemah Departemen Agama: 1990) 550.

[23] Q.S. Ali Imran, ayat 200. Departemen Agama RI, hal.

[24] Q.S Al-Kahfi ayat 17, Al-Qur’an terjemah Departemen Agama. 1990.

[25] Hadits Shahih riwayat imam Bukhari, hadits nomor 14. Lihat muhtashor Shahih Bukhari, hal. 14 (Jakarta: Pustaka Amani).

[26] Ibid, hal.14.

[27] Q.S al-Baqarah ayat 208. Departemen Agama RI :1993. Hal.

[28] Q.S. Al-Hasr: 21. Al-Qur’an terjemah (Departemen Agama) 1990.