Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMBONGKAR SOSOK “MANTAN”

oleh : Imam Sarozi

 

Mantan merupakan sebutan “bekas” orang kita taruh cinta di hatinya.  Sepesies manusia yang bisa berisi harapan, janji manis, dan kenangan. Kalau di kategorikan golongan kasta. Mantan termasuk kasta paling hina. Karena hanya berkontribusi luka dengan senyuman penuh dusta. Oupsss.

Bukan bermaksud justis, namun boleh kita jujur jika satu dari sepuluh kenangan yang pernah kita alami dalam dunia percintaan adalah berkat bantuan mantan.

Berbicara mantan tidak akan pernah habis untuk kita renungi seberapa bodoh kita terjerat dalam bujuk rayu dan ilusi. Dia yang datang dengan sosok sempurna, bak dewa bersayap, lalu memeluk kita dalam rengkuhan indah taman cinta. Setelah itu mencabik-cabik hati dengan sayatan luka-luka tanpa perasaan iba. Dan saat itulah kita berharap gerimis datang dan kita berlarian di tengah derasnya. Agar tak ada air mata yang nampak oleh orang-orang di sekitar kita.

Mantan merupakan fenemena dalam percintaan. Entah itu yang baik atau buruk. Tapi karena kehadirannya adalah pelajaran yang mampu membuat kita sadar bagaimana cinta harus dijalankan. Secara lahir dan batin cinta akan menuju jalannya dengan landasan ketuhanan dalam hatinya.

Mantan dan segalanya proses yang pernah terjadi dalam menemukan tambatan hati itu adalah rangkain perjalanan dalam menemukan titik di mana hati akan berlabuh dalam sandaran.

Edmund Husserl dalam teori filsafat fenomenologi memberikan gambaran jika fenomena itu akan mendiskripsikan kenyataan apa adanya. Yang artinya mantan tetaplah orang yang pernah kita cintai, kita harapkan kabarnya, perjuangkan kebahagiaannya, dan ingin bersama selamanya.

Dalam ungkapannya (Edmund Husserl):  “Zurck zu den sachen selbt” (kembalilah pada realitas itu sendiri). Dalam mencari yang essensial bermula dari membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka. Hikmah dalam berjejaring “Mantan” membuat kita sadar jika fenomena dalam percintaan tidak boleh ada prasangka. Biarlah berjalan semestinya. Ketika cinta itu benar-benar tulus akan nampak ketulusannya. Dan jika itu dusta akan terlihat dusta itu. Walaupun tanpa prasangka kita.

Seorang psikolog bernama Abraham maslow. Yang menemukan teori populer bernama Hirarki Maslow. Berasal dari latar belakang kehidupan percintaan keluarga yang kurang bahagia. Di sebabkan cinta yang tumbuh tanpa landasan ikatan yang dua raga dan dua hati. Sehingga memunculkan kondisi di mana hati selalu mengugat cinta dan memilih jalan keterasingan dengan buku dan membaca.

Dalam biografinya, Maslow menulis:

What I had reacted to was not only her physical appearance, but also her values and world view, her stinginess, her total selfishness, her lack of love for anyone else in the world – even her own husband and children – her narcissism, her Negro prejudice, her exploitation of everyone, her assumption that anyone was wrong who disagreed with her, her lack of friends, her sloppiness and dirtiness…

Hal itu terjadi karena cinta yang tumbuh dalam keluarga hanya berbalut ikatan formalitas pernikahan bukan cinta yang berlandaskan ketuhanan.

Pada akhirnya karena alasan itulah Maslow menemukan berbagai teori psikologi yang bisa kita baca sampai hari ini. Dalam makalahnya, “A Theory of Human Motivation”, di Psychological Review pada tahun 1943.  Maslow beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi. Adapun hierarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: Kebutuhan fisiologis atau dasar, Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, Kebutuhan untuk dihargai dan Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Dalam hal ini Kebutuhan fisiologis atau dasar melingkupi kebutuhan materi atau finasial. Jika kebutuhan itu sudah tercukupi barulah muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman hingga kebutuhan untuk aktualisasi diri.

(Islam Menjawab)

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna. Melihat tujuan pernikahan dalam Islam telah dipandang sebagai cara yang halal dan suci untuk menyalurkan nafsu syahwat yang dimiliki pria dan wanita. Sehingga dengan begitu kedua pasangan telah mampu menjaga kehormatan dan kesucian diri serta mampu menjalankan syariat-syariat Islam.

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Meski harta atau materi sebagai kebutuhan pertama tapi itu bukan kebutuhan yang utama dan sempurna. Agamalah menjadi alasan utama dari hadits tersebut. Yang artinya agama menjadi landasan dalam menjalin cinta. Mengikat rasa dengan pernikahan yang menjadikan agama pondasi dalam hati untuk selalu menjadi tuntunannya.

Kecenderungan manusia yang berfikir rasional, sehingga melupakan unsur ketuhanan dan agama dalam memupuk cinta. Kapitalisme sering menjadi alasan kuat bahwa cinta akan bahagia di dukung harta dan kekuasaan yang melimpah.

Bersikap memudah pernikahan sebagai ikatan suci untuk menghindari dosa atau maksiat. Namun pada kenyataannya banyak terjadi perceraian yang menimbulkan konflik berkepanjangan. Hal di sebabkan kurangnya pemahaman makna pernikahan bukan sebagai ikatan raga atau cinta saja. Namun lebih dari itu pernikahan sebagai medan dakwah untuk berpegang teguh kepada ajaran Rosullullah SAW.

Dan Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam juga telah bersabda yang artinya:

Menikahlah dengan perempuan subur dan disenangi. Karena aku ingin (membanggakan) banyaknya umatku (pada Nabi-nabi lain) di hari kiamat.” (Hadits Sahih riwayat Ibnu Hibban, Hakim, Ibnu Majah).