Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMBANGUN SINERGITAS TPQ-DESA, NAHDLATUL ULAMA DAN PEMDES

Oleh :

Siti Nursaudah

 

Keberadaan TPQ di desa merupakan sebuah keniscayaan yang tidak terelakkan. Ia merupakan lembaga yang sangat representatif untuk mengajarkan islam kepada anak-anak sejak dini. Yang mana dari lembaga kecil itulah Islam yang paling mendasar dan kebudayaan islam pertama kali bisa diperkenalkan kepada generasi-generasi muda.

Memperkenalkan dan mendekatkan anak-anak kepada al-Qur’an sejak dini merupakan sebuah kebutuhan dasar yang pertama bagi umat islam. Karena melalui proses itulah anak-anak bisa mengenali seluruh komponen utama amaliyah, aqidah, syari’ah, hingga tata cara beribadah sesuai ajaran Islam dan termasuk juga interaksi sehari-hari dengan masyarakatnya.

Dengan mendekatkan anak-anak pada TPQ dan membiasakan mereka berada di dalamnya akan membangun mental anak tentang Islam dan menanam benih-benih perjuangan Islam yang akan meneruskan kelak di masa depan. Tidak mengherankan jika TPQ pada kenyataannya (hampir di seluruh wilayah Jawa-Madura—termasuk seluruh kawasan Muslim Nusantara) telah menjadi garda depan di wilayah-wilayah desa untuk menyebarkan dan mengajarkan agama islam yang paling mendasar.

Hal inilah yang menjadikan sebuah desa sangat penting keberadaannya jika di dalamnya telah berdiri sebuah TPQ atau musholla yang mengajarkan mengaji al-Qur’an.

Berkaitan dengan hal itu maka eksistensi TPQ di desa harus dirawat dan diperhatikan oleh setiap kalangan yang berkepentingan atau bertanggungjawab untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dan mempertahankan ajaran-ajaran Islam yang berazaskan pada ajaran ahlussunnah waljama’ah.

Dalam konteks inilah yang paling menentukan adalah Nahdlatul Ulama dan pemerintahan desa yang ada pada keberadaan TPQ tersebut.

Sinergi dalam Koordinasi

TPQ merupakan lembaga yang paling mudah dan cepat berkembang. Ia bisa didirikan oleh seorang santri yang komitmen dalam pengajaran dan pendidikan al-Qur’an. Sepulang dari pondok pesantren atau merasa memiliki pengalaman mengaji yang baik tentu timbul kesadaran untuk menjadi guru ngaji yang berdedikasi pada al-Qur’an, tanpa melihat dari sisi keuntungan finansial atau sisi keuntungan material.

Tidak jarang jika sebuah musholla yang jamaahnya minim sekalipun bisa mendirikan sebuah TPQ yang kadangkala santrinya sangat banyak dan memiliki lembaga hukum yang jelas dengan SK Kemenkumham. Apalagi jika sebuah masjid, maka TPQ yang dikembangkan tentu sebagian besar akan menjadi TPQ yang cukup besar dan memiliki pengajaran al-Qur’an yang cukup canggih.

Peran besar dan posisi penting TPQ inilah yang perlu diperhatikan oleh Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa setempat. Dimana perhatian mereka terhadap keberadaan TPQ tidak bisa hanya sebatas memandang mereka sebagai lembaga kecil, namun harus dilihat sebagai sebuah lembaga yang sangat berperan terhadap Islam dan perkembangannya di masa depan.

Perhatian yang diberikan oleh Nahdlatul Ulama dan pemerintah desa tidak cukup hanya melihat dan menghadiri undangan pada saat akhirsannah atau wisuda al-Qur’an saja, tapi juga memberikan kontribusi yang sangat nyata kepada perkembangannya dan keberlanjutannya, yang bisa ditempuk pada tiga aspek penting, yakni aspek finansial, aspek kompetensi dan aspek material.

Tiga Aspek Perhatian

Secara finansial, Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa bisa menyisahkan sedikit anggarannya—yang diperoleh melalui iuran sosial atau anggaran desa—untuk disisihkan bagi bisyarah guru-guru TPQ. Bagi Nahdlatul Ulama langkah yang ditempuh bisa mengkoordinir masyarakat dan anggotanya untuk melakukan donasi atau koin NU-nya guna diberikan kepada setiap Guru TPQ yang dengan suka rela mengajar al-Qur’an. Sedangkan bagi pemerintah desa bisa mengalokasikan anggaran desa-nya (baik DD maupun APBDes, atau juga PAD-nya) untuk mendukung eksistensi guru-guru TPQ itu.

Aspek kompetensi, yang meliputi materi keilmuan guru TPQ dan SDM pengajarannya juga perlu ditingkatkan. Mereka membutuhkan banyak wawasan dan tehnologi pengajaran dalam hal metode dan cara berfikir untuk mengembangkan TPQ juga harus menjadi perhatian yang serius oleh Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa. Mungkin Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa bisa mengadakan semacam training peningkatan kompetensi pengajaran bagi ustadz-ustadzah, atau juga pelatihan sebagai kader-kader penggerak Islam, dan mungkin juga gerakan literasi melalui TPQ.

Pada aspek material Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa bisa memperhatikan kondisi bangunan TPQ (memaksimalkan yang sudah ada di musholla, rumah-rumah ustadzah-nya atau di masjid), melengkapi kebutuhan pengajaran di TPQ (semisal papan tulis, bangku pengajaran, atau alat-alat pengeras pengajaran) dan juga melengkapi pernik-pernik pengajaran yang mendukung anak mencintai Islam dan al-Qur’an.

Jika ketiga aspek ini bisa diperjuangkan dan diperhatikan secara serius oleh Nahdlatul Ulama dan pemerintah Desa tidak menutup kemungkinan perkembangan dan pertumbuhan Islam ahlussunnah waljamaah bisa

Langkah ini, yang penulis gagas bukan berarti meminta atau lebih pada “mengemis”, tapi lebih pada prihatin terhadap pihak-pihak yang memiliki tanggungjawab besar di tingkat desa untuk memperhatikan peran TPQ dan agar peduli terhadap perkembangan dan pertumbuhan Islam Nusantara.

Karena melalui TPQ inilah Islam Nusantara bisa dipertahankan untuk langkah awalnya pada generasi muda yang sangat rawan pengaruh buruk dari media-media internet dan elektronik yang tidak berpihak sama sekali dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Dengan menanamkan nilai-nilai Islam Nusantara ahlussunnah waljamaah melalui lembaga TPQ tentu akan mencegah anak-anak untuk mengalihkan bakatnya pada kenakalan dan kebiasaan yang tidak produktif, untuk mengaji dan memiliki pemahaman tentang al-Qur’an.

Penutup

Tantangan TPQ di masa kini cukup berat dengan kehadiran istilah industri 4.0, yang mana seluruh kegiatan anak-anak setiap harinya sudah tersedot diranah permainan gawai dan sibuk dengan game online atau youtube. Maka sudah menjadi hal yang wajib jika perhatian Nahdlatul Ulama dan Pemerintah Desa harus lebih besar pada eksistensi TPQ.

Selain itu, tantangan penyebaran islam yang “tidak jelas” melalui youtube—lebih banyak dilakukan oleh kaum wahabi, jilbaber, dan islam radikalisme—juga memerlukan penangkalan yang efektif dari TPQ. Dari sebuah pengajaran dan pembiasaan di TPQ inilah maka pengaruh di youtube terkait disinformasi tentang islam bisa ditangkal dan ditunjukkan titik kesalahan dan kesesatannya.

Setro-Ketambul, 16 februari 2020

Wallahu’alam bisshowaf