MEMBANGUN MANUSIA PANCASILA Bagaimana Membangun Identitas Diri Menjadi Warga Negara Indonesia yang Baik? (Part 3-Akhir)

Kegiatan penelitian ilmiah menjadi pondasi keberlangsungan masyarakat Indonesia yang kuat dan mandiri. sudah menjadi keharusan bagi warga Indonesia untuk meninggalkan hal-hal mistis dan ghaib, itu bisa menjerumuskan pada keterbelakangan

kitasama.or.id – Orang Indonesia harus berkepribadian dalam kebudayaan artinya bahwa kehidupan bernegara (dalam naungan NKRI) harus di-transformasi politik-an yang diarahakan agar bangsa Indonesia bisa berdaulat dalam politik, dengan mewujudkan agen perubahan politik dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang berorientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan); dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial. Pijakan dasarnya terutama prinsip-prinsip yang terkandung pada sila keempat.

Pribadi berkebudayaan Indonesia merupakan individu yang dibentuk oleh nilai-nilai agama dan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Orang Islam harus berkepribadian sebagaimana ajaran akhlak dalam al-Qur’an, Hadits dan Ijma’; Orang Kristen harus berkepribadian sesuai dengan Injil dan perilaku para Santo; Orang Budha harus berkepribadian sesuai dengan ajaran Weda dan nilai-nilai dalam kitab Baghavadgita dan seterusnya.

Bacaan Lainnya

Pun demikian, Orang Jawa, harus mengedepankan nilai-nilai yang lebih ‘jawani’ dalam kehidupan sehari-hari, seperti ngalah, nriman ing pandum, dan remen marang peparing. Dan seterusnya, termasuk orang Batak, Betawi, Madura, Papua, Bugis, dan semuanya yang berada di negeri ini harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral suku-bangsanya untuk memberikan sumbangsih bagi pembangunan bangsa.

Sejarah walisongo, sejarah perjuangan para pendiri bangsa harus menjadi spirit yang bisa mendorong semangat bangsa Indonesia dalam membangun bangsa ini. Sebagai sosok yang ‘berkepribadian berkebudayaan’ kita yang muslim harus belajar dari perjuangan walisongo, sedangkan yang non-muslim bisa belajar dari para tokoh lainnya sesuai dengan semangat dan tradisi agamanya.    

Berkerpibadian dalam kebudayaan tidak lain merupakan wujud nyata menjadi bangsa Indonesia yang didasari dengan semangat menjalankan agamanya secara maksimal dan sekaligus menghargai serta menghormati semua pemeluk agama lainnya yang hidup bersama-sama di negara kita ini.

Dengan kata lain, ‘berkebudayaan’ adalah memiliki sikap toleransi yang tinggi, saling menghormati yang besar, dan wawasan kebudayaan yang luas terhadap beragam pengetahuan serta kekayaan khazanah intelektual yang sudah berkembang—sehingga bisa responsive terhadap perkembangan zaman dan tidak jatuh dalam disrupsi tehnologi atau mungkin shock culture. (siti fatkhiyatul jannah)  

Pos terkait