MEMBANGUN MANUSIA PANCASILA Bagaimana Membangun Identitas Diri Menjadi Warga Negara Indonesia yang Baik? (Part 2)

Kekayaan alam Indonesia memang harus dikelolah oleh masyarakat Indonesia dan juga oleh negara yang dibentuknya, dan kemanfaatannya harus dikembalikan pula kepada masyarakat yang ada di dalam negara. Peran pengelolaan ini membutuhkan militer untuk menjaga keamanan dan para sarjana yang giat melakukan penelitian ilmu pengetahuan

kitasama.or.id – Berdaulat dalam politik diartikan sebagai upaya transformasi mental-kultural yang diarahkan agar bangsa Indonesia bisa berkepribadian dalam kebudayaan, dengan mewujudkan masyarakat religious yang berperikemanusiaan, egaliter, mandiri, amanah, dan terbebas dari berhala materialisme-hedonisme; serta sanggup menjalin persatuan (gotong royong) dengan semangat pelayanan (pengorbanan). Pijakan dasarnya terutama prinsip-prinsip yang terkandung pada sila kesatu, dua dan tiga.

Upaya transformasif ini menuntun masyarakat Indonesia, secara umum dan secara khusus muslim Indonesia untuk bisa memiliki karakater-karakter yang bisa menumbuhkan tradisi dan perilaku mulia bangsa Indonesia.

Bacaan Lainnya

Satu diantaranya, orang Indonesia harus kembali menumbuhkan sikap gotong royong dan mengabaikan sikap individualistic yang dibentuk oleh internet. Kebiasaan berbicara dihadapan orang sambil menjawab watshapp atau nonton youtube harus ditinggalkan dan mulai dihilangkan secara bertahap. Lawan bicara harus dimuliakan dan dihormati dengan cara menatap secara serius dan cenderung memberikan pendengaran yang terfokus.

Orang Indonesia juga harus mandiri dan amanah. Segala hal yang mengarah pada penipuan dan penghasutan atau bahkan ‘pencurian’ pemikiran harus disingkirkan dan ditinggalkan. Lahirnya internet mempermudah setiap orang untuk melakukan plagiasi—pencurian karya tulis ilmiah, copy-paste, dan mengutip tanpa menyertakan penulisnya yang justru menyuburkan budaya ‘pembohong’, sikap pencuri, licik, sombong dan mengabaikan jerih payah perjuangan orang lain. Sikap seperti ini sudah banyak tumbuh dan berkembang disekitar masyarakat kita, dan harus ditinggalkan, sebelum merusak sisi mulia keilmuan itu sendiri.

Diantaranya lagi, orang Indonesia harus semangat pelayanan (pengorbanan) dalam menjalankan pekerjaan, aktivitas masyarakat dan kehidupan berkeluarga. Artinya kita tidak bisa berfikir tentang upah dan berorientasi hasil jika melakukan segala hal untuk bangsa Indonesia dan agama kita. Semangat pengorbanan dan memberi harus digalakkan dalam perilaku sehari-hari, sehingga orang lain merasa membutuhkan kita dan keberadaan kita dianggap penting.

Tarnsformasi politik diarahkan agar bangsa Indonesia bisa berdaulat dalam politik, dengan mewujudkan agen perubahan politik dalam bentuk integrasi kekuatan nasional melalui demokrasi permusyawaratan yang bererientasi persatuan (negara kekeluargaan) dan keadilan (negara kesejahteraan); dengan pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumbah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian, dan keadilan. Pijakan dasarnya terutama prinsip-prinsip yang terkandung pada sila keempat.

Sikap-sikap tersebut harus dicerminkan dalam perilaku hidup bernegara, baik ketika menjabat sebagai pejabat public atau menjadi warga negara yang membayar pajak dan masyarakat yang menikmati fasilitas negara.

Berdikari dalam ekonomi

Menjadi orang Indonesia yang berdikari dalam ekonomi harus diwujudkan dengan upaya transformasi material (ekonomi) yang diarahkan agar bangsa Indonesia bisa berdikari (mandiri) dalam ekonomi, dengan mewujudkan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran; berlandaskan usaha tolong-menolong (gotong royong) dan penguasaan negara atas cabang-cabang produksi yang penting—yang menguasai hajat hidup orang banyak, serta atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya; seraya memberi peluang bagi hak milik pribadi dengan fungsi sosial. Pijakan dasarnya terutama prinsip-prinsip yang terkandung pada sila kelima.

Menjadi orang Indonesia yang kaya tidak boleh semena-mena dengan harta yang dimilikinya, karena harta yang diperolehnya itu tidak lain merupakan harta yang ditunjang oleh system pemerintahan dan wadah negara yang dipijak kakinya, sehingga yang dilakukan haruslah membantu warga negara yang lain yang ekonominya masih terpuruk dan belum terangkat.

Orang kaya harus menginvestasikan uangnya untuk memberikan pekerjaan dan membuka kesempatan berkreasi bagi warga miskin dan berkpenghasilan rendah, melalui pendirian pabrik, koperasi simpan pinjam tanpa anggunan, dan segala jenis kegiatan yang bisa menompang hajat hidup sehari-hari.

Para tuan tanah, pemilik pabrik dan pemilik aset-aset produktif lainnya harus memberikan pengorbanannya terhadap masyarakat dalam bentuk sikap welas asih dan gerakan sosial nyata yang membantu makan sehari-hari dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga yang masih terpuruk dalam kemiskinan.

Pada konteks ini, Gerakan Zakat mungkin sangat relevan untuk diterapkan dan menjadi upaya nyata memberikan bantuan produktif bagi masyarakat miskin Indonesia.

Para orang kaya Indonesia, mereka juga harus mempertimbangkan dampak kerusakan lingkungan dan hal-hal yang membuat beban negara semakin berat, jika mereka sedang mengelolah pabrik dan membangun sebuah pusat pengelolaan sumber daya alam.

Dengan kata lain, mereka harus memperhatikan limbah pabrik agar tidak mencemari tanah, air dan udara, sekaligus membangun pusat pengelolaan sampah dan limbah domestik—sehingga bisa mencegah adanya masyarakat yang berpenyakit dan menyebarnya berbagai bentuk virus.

Kekayaan alam Indonesia memang harus dikelolah oleh masyarakat Indonesia dan juga oleh negara yang dibentuknya, dan kemanfaatannya harus dikembalikan pula kepada masyarakat yang ada di dalam negara, tanpa harus mengorbankan mereka menjadi warga yang teralienasi secara ekonomi dan tertinggal secara kemakmuran.

Hal ini tentu membuat adanya kemiskinan di masyarakat Indonesia menjadi tanggungjawab orang kaya yang memiliki banyak aset dan negara yang mengelolah pajak serta hutang negara. (Siti Fatkhiyatul Jannah)

Pos terkait