MEMBANGUN MANUSIA PANCASILA; Bagaimana Membangun Identitas Diri Menjadi Warga Negara Indonesia yang Baik? (Part 1)

Membangun negara harus dimulai dari pondasi masyarakat yang kokoh. Masyarakat yang kokoh dibentuk dari potongan-potongan kerja keras para sarjana dan tentara yang menjaga keamanan para sarjana agar bisa merasa aman untuk terus mengembangkan pengetahuan dan melakukan riset dalam banyak ilmu di alam semesta.

kitasama.or.id – Tantangan terbesar dewasa ini bagi bangsa Indonesia di era disrupsi tehnologi digitalisasi adalah tergerusnya budaya asli bangsa Indonesia yang sudah lama tertanam dalam tradisi dan pembiasaan. Budaya yang saling menghormati dan saling menghargai antar sesama, menjalin hubungan intensif dengan Tuhan melalui tradisi agama, dan dirusak oleh masifnya penggunaan media virtual yang merupakan lanjutan dari budaya ‘ngobrol’, ‘gedhabrus’. ‘omong kosong’ dan ‘nerocos’.

Budaya ‘ngobrol’, ‘gedhabrus’. ‘omong kosong’ dan ‘nerocos’ merupakan budaya rendah yang mengesampingkan akal sehat dan nurani. Tema pembicaraan cenderung membicarakan ‘kejelekan’ orang lain (tahasus) dan segala hal yang tidak memberikan sumbangsih bagi pembangunan negara dan kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Budaya ini merupakan budaya ‘kebodohan’ yang sudah lama diterapkan oleh orang-orang yang mengesampingkan cara berfikir ilmiah, bernalar kritis, dan berfikir sehat, yang dikedepankan hanya hawa nafsu dan keinginan sesaat yang merusak dan tidak menyehatkan.

Bacaan Lainnya

Budaya-budaya ‘jahiliyah’ ini tumbuh subur di warung kopi, di depan televisi, dan di tempat-tempat nongkrong yang berfungsi untuk killtime (membunuh waktu) dan membuang waktu luang—yang sebetulnya masih bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa memberikan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat. Dan tragisnya, seiring dengan perkembangan zaman dan ditemukannya kemajuan-kemajuan tehnologi yang lebih canggih—internet, budaya kebodohan itu semakin tumbuh subur dan mengalami peningkatan signifikan dalam pergaulan yang semakin kabur dan tidak nampak, dunia internet.

Internet, disatu sisi bisa menjadi penunjang kehidupan dan peradaban yang sangat penting bagi manusia, ia merupakan sebuah keniscayaan tehnologi yang sudah menjadi bagian utama bagi penggerak segara bidang kehidupan di abad 21 ini. Namun, internet juga bisa berfungsi sebagai destroyer bagi peradaban manusia di masa sekarang, ia menghancurkan nurani, merusak hubungan tatap muka, dan menghancurkan segala hal yang bersifat perikemanusian, juga tradisi tinggi masyarakat.

Pada konteks inilah ideologi Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa Indonesia yang berbhineka dan beragama mulai terusik dan mengalami berbagai kerusakan disegala sisi. Pancasila mulai dipertanyakan dan dibenturkan dengan Islam dan segala ideologi asing yang sedang masuk secara masif. Apalagi dengan kenyataan banyaknya oknum-oknum pemerintah yang terjerat ‘kejahatan kerah putih’ yang melakukan segala tindakan kejahatan (korupsi, pembunuhan, fitnah) atas nama kebaikan, kemaslahatan, dan kerjasama.

Di dunia maya, segala umpatan, kritik yang tajam namun tidak bertanggung jawab, ejekan, dan pengghinaan antar sesama berseliweran tanpa kontrol. Dalam internet, semua hal bisa masuk dan merusak kehidupan masyarakat tanpa sedikitpun menoleh pada sisi kebaikan dan peningkatan pemahaman.

Kelahiran internet dan penggunaannya di tengah masyarakat Indonesia yang merusak ini tidak lain karena rendahnya daya literasi dan penalaran tajam yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini tidak lain merupakan bagian dari ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi kenyataan dan kemajuan tehnologi. Masyarakat mengalami shockculture yang menyebabkan pikirannya terjebak pada ‘hedonisme’ imajinasi dalam internet—pikirannya terbentuk sebagai orang yang suka hiburan, humor, tontonan, dan tumpulnya kecerdasan. Dan akibatnya masyarakat Indonesia lebih mencintai para youtuber, selebgram, dan facebooker—ucapannya dan kegiatan menjadi teladan pijakan berfikir dari pada harus meneladani nilai-nilai Pancasila dan menjadikannya sebagai sumber pengetahuan kebersatuan bangsa Indonesia.

Tokoh-tokoh Indonesia yang dicintai dan digandrungi buka sosok pemikir atau orang yang berilmu, tapi para youtuber, selebgram, dan facebooker yang memiliki banyak pengikuti (subscribe) dan likes diakunnya. Para ulama, negarawan, dan pemikir terlupakan dan kurang diminati oleh generasi muda, karena—menurut Sebagian milenial—kurang menghibur, kurang kekinian dan kurang memiliki ‘ucapan’ yang bisa membangun ‘daya tawa’ atau imajinasi hedonisme yang kuat, sehingga tidak memikat dan kurang memberikan ‘manfaat’ dalam ruang-ruang kosong gadget.

Bagaimana menghadapi semua itu dan apa yang harus dilakukan oleh warga negara Indonesia di tengah-tengah disrupsi tehnologi tersebut? Tentu saja kita harus mengembalikan posisi Pancasila sebagai sumber pemersatu dan ideologi bangsa yang bisa menyatukan berbagai perbedaan dan keanekaragaman.    

Yudi Latif dalam Wawasan Pancasila; Bintang Penuntun Untuk Pembudayaan memberikan arah yang sangat relevan untuk menghadapi kenyataan tersebut. Dimana dia menawarkan istilah  ‘Membudayakan Pancasila’. Membudayakan Pancasila diartikan bahwa sebagai bangsa Indonesia harus memiliki tiga kesaktian (Trisakti) di tiga ranah perubahan sosial: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiga kesaktian ini kemudian dijabarkan secara jelas dalam konteks transformasi kehidupan sehari-hari.

Pos terkait