Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

“MELEDEK TUHAN”, SEJAK ERA PRA-INDUSTRI HINGGA INDUSTRI 4.0

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Dari Ibnu Abbas berkata: Aku pernah mendengar dari Rasulullah Saw. Bersabda: Siapa yang membuat gambar lukisan, Allah akan menyiksanya hingga dia meniupkan ruh (nyawa) kepada gambarnya itu dan sekali-kali dia tidak akan bisa mendatangkanya selamanya.’”

 

***

Pada abad 21 M. ini banyak orang yang menggambar, memotret, dan melukis bentuk-bentuk manusia yang kenyataanya tidak bisa terhindarkan lagi. Era kamera yang menyatu dengan handphone berupa android telah mempermudah manusia untuk mengabadikan apapun, termasuk mengabadikan moment dan peristiwa yang dianggap merupakan keindahan hidup.

Apalagi jika dihubungkan dengan gambar bergerak yang berupa rekaman film, video, dan sejenisnya akan memperjelas kemudahan mengabadikan moment dan “menggambar” manusia secara utuh.

Apakah hal itu termasuk kegiatan melukis dan menggambar manusia yang diharamkan dan kelak akan disiksa oleh Allah, sebagamana yang dimaksud oleh Rasulullah?

Menurut hemat penulis tentu saja tidak, karena konteksnya berbeda dan kondisi yang melatarbelakanginya tidak sama.

***

Larangan Rasulullah terhadap menggambar manusia atau benda hidup lainnya dan atau melukis manusia secara utuh, yang mana ancamannya adalah dimintai pertanggungjawaban oleh Allah untuk meniupkan ruhnya. Tentu ruh yang diminta oleh Allah itu tidak akan bisa dipenuhi oleh manusia dan manusia yang menggambar akan menghadapi penyiksaan di neraka.

Pada konteks larangan ini bukanlah larangan secara umum yang langsung melarang kegiatan menggambar atau kegiatan melukis. Larangan itu ditunjukkan kepada kaum anti-Tuhan atau kaum atheisme yang menolak keberadaan Allah dan (mereka) merasa bisa melakukan berbagai penciptaan yang telah diciptakan oleh Allah, termasuk menciptakan manusia melalui proses menggambar dan mematung.

Kaum-kaum yang menolak keberadaan Allah sekaligus “otomatis” menolak keberadaan nabi dan rasul sudah ada sejak zaman nabi-nabi pasca Adam hingga Rasulullah. Mereka terus menerus membangun opininya dan mengembangkan ideologi pemikiran anti-Tuhan kepada lapisan masyarakat tertentu yang dihadapinya.

Yang paling penting, bagi kaum atheisme keberadaan Allah itu ditiadakan dari campurtangan kehidupan alam semesta dan proses pembentukan (asal usul) alam semesta. Allah tidak ada keterlibatan apapun dalam pembentukan alam semesta dan bahkan eksistensinya sendiri tidak “ditiadakan” dari kenyataan hidup ini. Bagi mereka keberadaan Tuhan hanya “imajinasi” dan penampakan yang tidak nyata terhadap realitas kehidupan manusia.

Menolak Allah tentu harus diikuti dengan menolak keberadaan Nabi-Rasul, karena dengan menghadirkan (mengakui keberadaan) Nabi-Rasul sebagai “kepanjangan tangan Tuhan” maka secara otomatis akan mengakui adanya Tuhan. Oleh sebab itulah nabi-rasul harus disingkirkan dari kehidupan dan keberadaannya disamakan derajadnya dengan para ilmuwan, filsuf, kaum bijaksana, dan sarjana intelektual. Adanya mukjizat dianggap sebuah peristiwa alam yang alami yang bisa diciptakan layaknya tehnologi (sains).

Langkah-langkah yang mereka tempuh biasanya melakukan hal-hal yang “dianggapnya merupakan bukti ciptaan Allah”, seperti menciptakan alam semesta (menjadi rekayasa alam), menciptakan manusia, dan juga menciptakan makhluk hidup lainnya, bahkan juga menciptakan nyawa.

Di zaman Rasulullah (dan generasi sebelumnya) para kaum filsuf dan saintis (abad jahiliyah) banyak melakukan berbagai kegiatan yang melawan Tuhan untuk membuktikan bahwa dirinya juga “bisa melakukan yang dilakukan oleh Tuhan”. Kegiatan itu adalah menciptakan bentuk manusia, yang diwujudkan dalam kegiatan menggambar, melukis, dan hingga membuat patung.

Langkah-langkah perlawanan kaum atheisme terhadap Tuhan inilah yang diancam oleh Allah melalui sabdanya Rasulullah, yakni mereka akan diminta untuk menghidupkannya. Tugas ini jelas tidak akan bisa dipenuhi oleh manusia atheis, karena ruh itu rahasia Allah..

Para penggambar manusia dan melukis pemandangan alam adalah kaum atheisme yang menolak Tuhan. Mereka menggambar dan melukis dalam rangkah melampaui kemampuan Tuhan, yakni kekuasaan Allah yang maha tinggi, menciptakan manusia—dimana hal itu juga bisa mereka lakukan. Terbukti dengan adanya gambar.

Pada era sekarang, langkah melawan dan meledek Tuhan ini semakin diwujudkan dengan kehadiran wujud “menggambar” baru yang lebih hebat dari pada ciptaan Allah. Yaitu robot yang tercipta dari besi. (robot) Besi—yang buatan kaum athesime lebih kuat, lebih perkasa, lebih tahan dengan ancaman alam—dari pada daging (manusia) yang merupakan ciptaan Tuhan. Daging manusia mudah rusak dan mudah mengalami kedaluarsa, semakin lama semakin tua, sedangkan besi robot akan tetap tahan lama dan tidak mudah rusak. Daging terbentuk benda keras akan mengalami kerusakan dan luka, sedangkan besi robot akan tahan lama dan bahkan bisa merusakkan benda yang membenturnya.

Pada tahap inilah perilaku kaum atheisme untuk meledek eksistensi Tuhan sudah mencapai pada tahap yang “maksimal”, dan tinggal menciptakan nyawanya saja untuk bisa “super-maksimal”. Jika sementara waktu (era industri 3.0) besi hanya digerakkan dengan cara manusla lewat komputer, maka kehadiran era selanjutnya akan lebih mempertegas ledakan mereka terhadap Tuhan.

***

Ketika menghadapi “ancaman neraka dan siksaan” Allah karena gagal menghadirkan nyawa pada gambarnya, kini di era industri 4.0 telah mereka wujudkan dan sudah mereka capai, yakni menghadirkan kehadiran tehnologi terbaru berupa “nyawa” yang dikenal dengan sebutan Artificial Intelgence atau kecerdasan buatan.

Melalui kecerdasan buatan inilah manusia atheisme yang menolak Tuhan bisa mengklaim menciptakan “apa yang diminta oleh Allah”. Nyawa. Iya, betul nyawa inilah yang dalam ancaman Rasulullah dianggap tidak bisa dipenuhi kini kehadiran kecerdasan buatan bisa dipenuhi. Ternyata kaum saintis dengan tehnologi rekayasa alamnya bisa menciptakan nyawa. Begitulah yang sering kali mereka gembar-gemborkan.

Mereka pun semakin gencar untuk “meledek eksistensi Tuhan” yang Maha Pencipta dengan cara semakin memaksimalkan hasil karyanya berupa ciptaan juga—yang lebih keren dan lebih hebat, tidak kalah dengan ciptaan Tuhan. Mereka awalnya membuat robot sederhana dengan listrik, lalu menciptakan manusia bionik, dan kini manusia bionik sudah mulai dibentuk lebih “sempurna mendekati manusia” dengan kehadiran file-file database, meta data, dan big data yang sudah bisa memiliki perasaan dan siap melayani kebutuhan manusia itu sendiri.

Upaya-upaya kaum atheisme dewasa ini di era industri 4.0 semakin menunjukkan evolusi sains yang masif dari proses lama “menggambar-melukis” manusia untuk melampaui kemampuan Tuhan (menciptakan manusia). Dengan melakukan berbagai penciptaan dan pemujaan terhadap kemampuan sains mereka terus melakukan cara-cara menolak keberadaan Tuhan dan nabi—yang diutusnya, sehingga yang muncul kemudian adalah proses alami, natural, yang mana manusia dan alam semesta ini terbentuk secara sendirinya tanpa ada campur tangan “kekuatan lain” yang disebut Tuhan, Dewa, atau Sang Hyang.

***

Dengan demikian, ancaman Allah melalui Rasulullah terhadap orang yang menggambar bukanlah secara umum melakukan kegiatan menggambar, melukis, memotret, menvideo, mematung atau syuting film (semuanya adalah hal yang sama hakekatnya), namun lebih pada “upaya-upaya kaum saintis” yang tidak mengakui keberadaan Tuhan dan berupaya untuk melampaui Tuhan dengan melakukan “ciptaan tandingan”.

Dewasa ini banyak orang yang menggambar, menfoto, memotret—yang dengan mudah dan bahkan sudah sering dilakukan melalui smartphone, melukis pemandangan, dan juga membuat lukisan foto. Semuanya itu hakekatnya sama dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah. Namun karena upaya-upaya tersebut bukan merupakan kegiatan “melawan dan meledek Tuhan” maka tidak termasuk dari ancaman Rasulullah.

Namun kegiatan kaum saintis yang ingin menyerupai Tuhan melalui berbagai kegiatan menggambar, membuat robot, dan membuat film tentang alam semesta inilah yang kelak akan diancam untuk memberikan ruh. Dan tentu mereka tidak akan bisa menciptakan ruh, karena rahasia ruh itu langsung ada pada Tuhan.