Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MASYARAKAT BERESIKO; WARISAN REVOLUSI INDUSTRI BARAT

oleh: Rif’an Maulana

 

Sejak munculnya pencerahan eropa (Reinasance) pada abad ke 15 M. sampai 18 M. masyarakat Barat begitu menuhankan akal budi atau filsafat rasional. Mereka sangat yakin bahwa Rasionalisme inilah akan bisa memecahkan problematika manusia yang ada di seluruh dunia ini, sekompleks apapun problematika itu.

Dampak dari pencerahan eropa ini masih terasa hingga saat ini, yang menjadi pijakan membangun gerbang awal intelektualisme bangsa Barat yang dikenal sebagai era modern.

Pada konteks pemikiran tersebut masyarakat Barat yakin bahwa seluruh problem manusia akan bisa dipecahkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasarkan pada akal sehat. Dan pada gilirannya gerakan pecerahan ini akan melahirkan revolusi industry.

Dalam perkembangannya industry konsep dan gerakan industri telah berkembang dari istuilah industry 0.1 dengan ditemukanya mesin uap, industri 0.2 dengan ditemukannya listrik dan alas transportasi, industri 3.0 dengan ditemukannya komputer dan industri 4.0 dengan ditemukannya internet dan digitalisasi.

Dari pecerahan eropa ini bergantinya pola pikir umat manusia yang awalnya dari berbasis pada Tuhan (Teosentris) yang menjadi tolak ukur dari segala sesuatu yang ada didunia berganti ke manusia yang menjadi tolak ukur dalam segala sesuatu (Antroposentris).

Pemikiran ini muncul karena sebelum pencerahan Eropa (reinasance) tidak lepas dari sejarah masa kelam Eropa yang menilai oknum gereja selalu sewenang-wenang dan otoriter untuk menindas rakyat karena mempunyai legetimasi atas nama Tuhan.

Gerakan pencerahan Eropa berdampak pada seluruh aspek dan konteks kehidupan, baik pada konteks sosial, ekonomi, budaya, filsafat hingga teologi. Misalnya salah satunya dari aspek filsafat muncul dua aliran besar baru yakni Rasionalisme dan Empirisme, aliran filsafat rasionalisme mendefinisikan bahwa pengetahuan bersifat aposteriori atau bersifat melampaui pengalaman sedangkan filsafat empirisme mendefinisikan bahwa pengetahuan bersifat posteriori atau harus didahului pengalaman.

kehidupan modern pada awalnya yang digadang – gadang akan menyelesaikan beragam persoalan hidup umat manusia. Namun nyatanya, modernitas justru membawah beragam persoalan baru bagi umat manusia.

Ulrich Beck, mengatakan bahwah kehidupan modern justru menciptakan apa yang di sebut dengan “risk society” atau masyarakat beresiko yang artinya segala aktivitas kita, baik produksi maupun konsumsi menyimpan resiko, karena kultur modern melahirkan kultur instan.

Misalnya saja air kemasan yang mengandung micro plastic sebagai mana yang baru-baru baru ini ditemukan. Pada intinya segala sesuatu itu beresiko, kita keluar rumah kita terpapar dengan asap kendaraan tentunya beresiko juga bagi kesehatan, kita menggunakan hp, laptop ada radiasi yang disitu juga sangat beresiko.