Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MANUK KEPATEL KETING

oleh: Imam Sarozi

 

Ini cerita Lama, dari anak-anak desa pengembala kambing. Aku salah satu bagian dari pasukan pengembala. Tugasku cukup berat, sebagai staf kepala pemantauan jangkauan zona hijau rumput-rumput liar. Takutnya, nanti zona serangan kambing meluas, sehingga merembet ke wilayah para petani bisa terjadi gencatan senjata di antara kita. Pertumpahan darah memperjuangkan kedaulatan wilayah masing-masing.

Pukul 14.00 WIB.

Waktu matahari beranjak turun dari atas kepala. Semua pasukan berbaris dengan semua kambing yang sudah terikat di bawah kendali masing-masing staf. Berkumpul di markas besar, di belakang sekolahan ada lapangan milik otoritas desa. Di sanalah zona intregritas rumput menjadi milik kambing-kambing milik kita.

Tepat setelah pulang sekolah semua bergegas untuk makan dan ganti baju perang (baju khusus untuk mengembala kambing). Dan tak lupa logistic berupa minuman dan cemilan ringan sudah siap di dalam kantong kresek anti huru-hara.

Semua kami kambing dilepas untuk mencari jalan hidup masing-masing alias makan rumput gratis sepuasnya di sekitar lapangan. 5 komandan berdiskusi di belakang sekolah. membahas ekspansi hari ini agendanya apa, untuk mengisi waktu menunggu kambing kenyang makan dan meminta pulang.

“Bagaimana kalau kita mencari jagung dan dibakar?” Udin membuka pembicaraan mengusulkan rencana eksotisnya. Dengan cengar-cengir seakan-akan semua teman-teman akan sependapat dengannya.

“Jangan, kita mencari ikan saja di kali sebelah tambak. Gak boleh memakai alat harus pakek tangan dan tidak boleh memakai baju hanya celana saja. Bagaimana?” Selak Juri dengan gagasannya yang mulai extrem. Itulah kebiasaannya dengan ide-ide gila tapi tetap asyik.

Luthfi, Madun, dan Aku hanya saling memandang. Tanda kami setuju rencana Juri. Semuanya sudah melepas baju melompat ke dalam kali dekat sawah.  Kami berebut area serangan untuk mencari ikan. Dari ujung selatan sampai utara kami sisir. Dengan segala jurus rahasia.

Hasil tangkapan kami lempar ke atas kali dengan menghitung jumlah masing-masing ikan milik kami sendiri. Karena yang kalah jumlah nanti jelas akan mendapat hukuman jahat kami. Hukuman yang tak kalah kejam disbanding hukuman koruptor di Negara ini.

Kami mencari ikan dengan segala macam jurus yang kami miliki dikeluarkan. Sampai titik darah penghabisan. Kalau Bung Hatta dulu mengatakan: “Jika Indonesia menjadi tanah jajahan lebih baik tenggelam.” Sekan-akan ini perang titik darah penghabisan. Tiba-tiba terdengar teriakan.

Di ujung kali Juri sedang teriak-teriak sambil menangis. Kami berlarian medatanginya.

“Kenapa? Digigit ular?” tanyaku

Manukku dipatel iwak keting,” jawab Juri dengan menahan sakit yang kami sendiri tak bisa membayangkan.

Dengan sigap kami mengangkatnya Juri yang mendapat serangan dari musuh ke atas kali. Untuk di bawa ke Puskesmas mendapatkan penanganan medis.

Ada becak lewat kami berhentikan, kami hadang, lalu kami ajak ke Puskesmas.

Di ruangan Puskesmas dokter cantik mendatangi Juri yang sedang kesakitan menahan sakit di anunya yang kena duri ikan Keting. Alih-alih menahan tangis biar tidak kelihatan cenggeng tapi apalah daya seorang tentara juga manusia. Dia tetap saja menangis sambil menutup wajahnya menandakan kalau dia lagi malu telah gugur sebelum misi tertuntaskan.

“Apanya yang sakit, dek?” Tanya Dokter

“Manukku, Bu”

“Manuknya kenapa?”

“Kenek patel keteng,” jawab singkat Juri

Dokter terkekeh, menahan tawa.

Sambil membuka celana dan memeriksa di area yang terkena serangan. Ibu Dokter menyeletuk, “Wah ini harus di potong manuknya.” mengoda Juri sambil ketawa.

Ibu Dokter mengatakan itu tanda kalau sedang mengoda Juri agar tidak menangis.

Sontak saja semua yang di ruangan tertawa kencang. Kami dan para perawat yang lain tertawa sejadi-jadinya. Bahagia di atas penderitaan teman seperjuangan.

Ojo Bu, nek manukku dipotong, terus aku manukan opo,” jawabnya sambil menangis. Memelas.

Tawa pun semakin riuh, semua terkekeh atas jawaban Juri. Idenya yang ektrem membawa petakan untuk dirinya sendiri.