Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LOGIKA BER-“TUHAN” TAK SEMUDAH DIBAYANGKAN DAN MEMBAYANGKAN-NYA

oleh: Imam sarozi

 

“Demi setelah mencari diri di dalam diri, di dalam menghadapi kesukaran tetapi indah, di dalam menghadapi kesulitan tetapi hendak mencari juga, timbul pulalah bermacam-macam soal lain. Dan soal yang paling penting, dan ibunya segala soal itu ialah soal tenntang yang ada”. Prof. Dr. Hamka dalam pendahuluan buku tasawuf perkembangan dan pemurniannya yang pertama terbit pada 1952.

Jalan menuju Tuhan amatlah sukar dalam penalaran jika hanya di maknai secara harfiah sebagai tuntunan beribadah. Yang terkonteks dengan penalaran tekstualitas keagaman hanya berdasarkan rasionalitas, logika dan sebagainya. Tanpa bimbingan yang tersifati Dzat itu sendiri maka akan sulit menemukan kebenarana Tuhan itu sendiri. Dan cara bertuhan seperti hanya berandai, beranggan, dan memberhalakan pikiran (mewujudkan Tuhan dengan lafadz Allah) saja akan terjerumus dalam pembatasan-pembatasan Tuhan itu sendiri.

Hamka membagi manusia menjadi 2 kelompok para pencari Tuhan. Kelompok pertama dengan jalan pikiran. Mengandalkan penalaran, logika, dan sebagainya dengan menafsirkan teks-teks keagamaan yang ada. Kelompok kedua dengan jalan berolah rasa atau dzawq. Kelompok kedua cenderung menggunakan sisi kesungguhan hati dan tak mengenal lelah dalam perenungan rasa. Kelompok pertama memiliki hasil kebenarannya dengan sudut pandang rasio yang seringkala terpatahkan dengan hal yang tak bisa di nalar. Salah satu contoh kesukaran yang mereka temui ketika mensifati Tuhan mereka menampik sifat yang tak bisa di visualisasikan terhadap realitas yang ada. Sedangkan kelompok kedua terhenti ketika mereka hanya menikmati perenungan itu seakan-akan sudah sampai kepada tahap bersama Tuhan. Namun belum sampai dalam kebenaran Tuhan itu sendiri.

“Aku adalah sebagaimana perasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Sesungguhnya perasangka baik akan kembali padanya, dan perasangkaan buruk pun kembali padanya pula” (Hadis Qudsi).

Dalam konteks ini tidak bisa logika serta merta berperan aktif dalam berprasangka dengan Tuhan. Jika dalam kondisi penuh kebahagiaan akan menuai perangka baik, namun jika dalam kondisi kehidupan yang buruk ia kan berprasangka buruk. Dalam berprasangka kepada Tuhan unsur jasad menjadi media sedangkan jalannya adalah unsur ruhaniyyah yang lebih murni.

“Fahuwal wujudu kulluhu, wafaqduhu ma huwa”

“Maka dialah wujud seutuh-Nya, dan kehilangan wujud adalah sesuatu yang menjadi milik-Nya” (Ibnu Arabi, futuhat al-makiyyah VII)

Tuhan adalah sebagaimana wujud-Nya, tak bisa dan tak mampu termisalkan dengan hal apa pun.  Kesucian yang tak mampu terhitungakan dengan logika, keagungan yang tak mampu di indahkan dengan indra.