Lima Modal Sosial TPQ-MQ Dziya’ul Ulum yang Berharga dan Menjadi Aset Masa Depan Desa (Part 1)

Para santri TPQ Dziya'ul Ulum yang sangat antusias dan semangat mengaji merupakan salah satu modal sosial yang dimiliki oleh institusi pendidikan keislaman agar bisa dikelolah dengan baik dan dimanfaatkan dengan pemikiran yang bijaksana. Para santri merupakan aset desa yang sangat berharga dan mendukung pembangunan SDM Indonesia yang berakhlak

TUBAN. KITASAMA.OR.ID – Modal sosial merupakan modal yang lebih utama dan lebih penting dibandingkan modal fisik. Modal sosial merupakan komponen utama yang harus dibangun sebelum membangun modal fisik.

Suatu desa, atau institusi keagamaan seperti masjid, pesantren atau sejenisnya, tidak ada artinya jika mengedepankan modal fisik (bangunan) dan mengabaikan modal sosial yang seharusnya dibangun dan dipelihara sepanjang masa.

Bacaan Lainnya

Sebuah bangunan fisik “bisa rusak” kapan saja dan tidak mampu memberikan arti apa-apa terhadap keberlangsungan sebuah komunitas masyarakat. Bangunan fisik tentunya sangat tidak berguna jika tidak disertai dengan bangunan sosial yang akan memanfaatkannya.

Dua sifat yang melekat dalam modal sosial adalah (1) tidak akan habis karena digunakan, sebaliknya akan habis jika tidak digunakan (2) tidak mudah diamati dan diukur, dan (3) sulit dengan bangun dengan campurtangan lain—unsur luar komunitas.

TPQ-MQ Dziya’ul Ulum, Sebagai bagian dari (1) institusi yang mendorong pembangunan sumberdaya manusia Indonesia di desa, (2) sebuah lembaga Pendidikan yang berperan untuk menjadi bagian penting dari pembangunan peradaban bangsa dan sekaligus (3) institusi keagamaan yang berjuang untuk melestarikan kebudayaan dan sejarah Islam Nusantara, sudah selayaknya mempunyai modal sosial yang kuat dan berharga untuk terus dijaga.

Modal sosial yang dimiliki oleh TPQ-MQ Dziya’ul Ulum (Setro-Ketambul-Palang-Tuban) adalah Semangat belajar santri, hubungan harmonis tetangga TPQ, wali santri yang antusias, guru yang bergairah dan jaringan relawan-dermawan TKI di Malaysia.

Pertama, Semangat belajar santri. Keceriaan para santri yang semangat belajar al-Qur’an, lalu mengikuti sorogan kitab-kitab kajian keislaman, dilanjutkan dengan pembiasaan bacaan harian serta doa-doa penunjang hidupnya, merupakan aset yang sangat berharga bagi sebuah desa—juga bagi bangsa Indonesia.

Sangat beruntung bagi sebuah desa yang penduduknya tetap menjaga anak-anaknya mengaji al-Qur’an, setiap hari datang ke TPQ-MQ untuk membangun pengetahuan agamanya, bisa memberikan manfaat yang besar bagi pembangunan desanya.

Desa yang mempunyai anak-anak yang rajin mengaji, berakhlak mulia—santun bicara santun perilakunya, memenuhi TPQ-MQ setiap harinya, dan juga memenuhi aktivitas di masjidnya tentunya jauh lebih menyenangkan dipandang dibandingkan deangan desa yang anak-anaknya suka berkelahi, bermain game online, cangkruk di pasar-pasar dan keluyuran tanpa ada bimbingan—orang tua dan pengunjung juga akan resah melihatnya.

Dengan memiliki para santri yang semangat mengaji di TPQ-MQ maka keberuntungan bagi sebuah desa sekaligus asset besar bagi pembangunan Indonesia di masa depan untuk menjadi bangsa yang kuat dan percaya diri memberikan kontribusi yang berguna bagi banyak orang.

Modal sosial “semangat santri” memang tidak berwujud dan tidak terlihat, seperti halnya terlihatnya bangunan gapura desa atau bangunan masjid. Tapi “semangat santri mengaji” akan menjadi modal penting dan berharga yang bisa membuat semua “bangunan fisik” di desa, artinya semua bangunan bisa terisi oleh anak-anak muda yang baik dan punyai ilmu berguna manfaat bagi banyak orang di sekitarnya.   

Kedua, hubungan harmonis tetangga TPQ memberikan pengaruh yang sangat baik bagi TPQ-MQ Dziya’ul Ulum. Mereka adalah orang-orang pertama yang akan memberikan pertolongan dan perlindungan jika TPQ-MQ Dziya’ul Ulum membutuhkan pertolongan, membutuhkan bantuan, menghadapi bahaya dan membutuhkan perlindungan.

Pelayanan mereka yang “gratis” dan bersifat “suka rela” perlu dijaga dan tentunya akan memberikan dampak yang baik bagi anak-anak tetangga tersebut. Pertolongan para tetangga tersebut terhadap TPQ akan berdampak baik bagi masa depan anak-anaknya, kelancaran rizkinya dan kemudahan dalam menghadapi urusannya.

Allah akan memberikan pertolongan kepada para tetangga TPQ itu, karena mereka memberikan pertolongannya kepada TPQ tanpa mengharapkan imbalan apa-apa kecuali rasa bangga dan cinta—karena menjadi tetangga sebuah TPQ yang bisa mendidik anak-anak desa menjadi berguna.

Tetangga TPQ-MQ Dziya’ul Ulum yang baik-baik inilah yang mendorong para pengelolah Yayasan untuk terus berinovasi mengembangakan institusi keagamaan ini agar menjadi semakin bermanfaat dan bisa menghasilkan inovasi-inovasi yang berguna bagi banyak orang.

Tentunya modal sosial yang berwujud “kebaikan tetangga” ini juga tidak terlihat layaknya terlihatnya bangunan gapuro atau kemegahan bangunan lainnya—yang ada di desa, seperti halnya rumah dan masjid. Tapi “kebaikan tetangga” ini merupakan modal yang sangat berharga untuk menjadikan TPQ-MQ Dziya’ul Ulum terus berinovasi dalam mendidik anak-anak dan merawat mereka untuk menjadi warga negara yang berguna. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait