Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LIMA HAL YANG DIGEMARI ORANG YANG MERUSAK MASA DEPANNYA

oleh : Mohammad Syihabuddin

Ada lima hal yang digemari oleh banyak orang, akan tetapi menimbulkan kerusakan bagi kehidupannya di masa depannya.

Lima hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan kebiasaan yang melekat pada keseharian orang hingga tidak kelihatan jika dibaliknya telah mengandung dampak yang sangat merusak bagi hari tuanya.

  1. Menikah hanya untuk nafsu

Banyak orang yang mengatakan, atau berpendapat jika menikah itu sangat penting, bahkan menjadi puncak dari capaian hidup dan ujung dari perjalanan hidupnya. Jika sudah menikah, maka sebutan “sudah sukses” selalu disematkannya, seolah dengan menikah itu semua urusan hidupnya sudah “sempurna”.

Pendapat demikian itu salah dan sangat tidak tepat.

Banyak menikah yang dipengaruhi oleh hawa nafsu, yakni keinginan menggebu-gebu atau hati yang meluap-luap yang dipengaruhi oleh kecantikan-ketampanan wajah, melimpahnya harta benda, keinginan untuk merasakan nikmatnya hubungan intim dan kemulian keturunannya (pasangan).

Pernikahan yang didasarkan pada hal-hal tersebut tidak akan bertahan lama, hanya akan menghasilkan rasa bosan, jenuh, ketidakharmonisan, dan yang paling berbahaya bisa menimbulkan perselingkuhan.  

Yang paling sering dijumpai (terutama generasi muda-miskin agama), tujuan menikah hanya karena kebutuhan untuk segera berhubungan intim, dan tujuan inilah yang dibimbing oleh nafsu.

  • Bekerja hanya untuk uang

Bekerja mencari uang itu penting, namun jika tujuannya hanya untuk mencari uang maka pekerjaan itu menjadi sangat tidak penting.

Selain uang, ada sisi lain yang lebih penting untuk dicari dalam bekerja. Diantaranya mencari ilmu, menjalin pertemanan, mengikat persaudaraan baru, dan juga menambah ikatan tali kekerabatan.

Uang itu penting untuk kehidupan kita, membahagiakan orang-orang yang kita cintai, dan menyisihkannya untuk kegiatan sosial-keagamaan. Namun di dalam uang juga ada fitnah, bahaya, ancaman, dan tantangan yang sangat berat yang bisa menjerumuskan manusia kapan saja dalam kerusakan hubungan antar manusia dan kehilangan takdir masa depan.

Uang akan menipu manusia dengan cara yang sangat halus. Tidak bisa diketahui hanya dengan pengamatan mata. Hatilah yang paling berperan dalam mengontrol uang.  

  • Menyukai anak yatim demi kekayaannya

Banyak orang kaya yang mendirikan sebuah yayasan panti asuhan anak yatim atau membentuk lembaga pengasuhan anak yatim hanya karena “ingin usahanya lancar” dan “rizkinya terus mengalir”.

Tujuan itu tidak salah, ada benarnya. Paling tidak, sisi baiknya anak-anak yatim sudah ada yang memberikan santunan dan ada yang menampungnya.

Akan tetapi tujuan yang demikian ini hanya akan menghasilkan niat yang tidak ikhlas dalam bersedekah. Bersedekah hanya karena ingin usahanya berkembang dan semakin banyak menghasilkan uang justru akan menyebabkan hartanya melimpah namun kurang berkah.

Bisa-bisa kekayaan itu diperbanyak hanya karena untuk menggoda hatinya saja dan menjerumuskan pemiliknya semakin jauh dari Tuhannya.

  • Bekerja hingga melupakan pendidikan anak dan hubungan kerabat

Bekerja mencari uang atau menanam tabungan memang penting, tapi yang paling penting adalah mendidik anak dan menjaga hubungan kekerabatan.

Orang yang bekerja hanya untuk uang hingga putra-putrinya kehilangan kesempatan untuk belajar agama, belajar akhlak mulia, dan belajar pengendalian diri serta kebutuhan sehar-harinya akan menyebabkan lupa diri dan sombong.

Seolah-olah dunia ini hanya bisa diselesaikan dengan uang, hingga anak-anaknya terlantar dan hubungan kekerabatan terputus.

Jika ada orang yang bekerja hingga melupakan anak-anaknya atau memutus tali persaudaraannya maka di masa depan dia akan menghadapi masalah serius, yakni dijauhi oleh anak-anaknya dan kehilangan sanak saudara.

  • Beribadah dengan harapan cepat Kaya

Membaca surat al-waqi’ah agar rizki lancar, minta doa ke kiai agar bisa cepat kaya, rajin sholat dluha dan sholat tahajud agar usahanya dilancarkan. Semua itu sudah menjadi hal yang lumrah dan masih menjadi “kunci sukses pengusaha muslim” untuk kaya.

Memanfaatkan ibadah untuk kekayaan, sudah menjadi kebiasaan orang sejak dulu hingga dewasa ini, sejak zaman fir’aun hingga zaman IMF dan World Bank.

Kegiatan-kegiatan itu baik dan sangat baik, karena merupakan bagian dari ibadah untuk mendekatkan diri dan ingat kepada Allah. Namun jika tujuan utamanya memang untuk “cepat kaya” maka hal itu bisa-bisa menipu dan menjerumuskan pelakunya pada kebanggan diri dan rasa sombong. Waspadalah dengan beribadah yang demikian itu, kelak justru akan menyebabkan banyak kerusakan pada masa depan yang kelak dijalaninya.