Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LIMA FILSUF YANG PEMIKIRANNYA MENGUBAH EROPA DARI ZAMAN KEGELAPAN (GEREJA)

oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Peneliti Sejarah Eropa-Arab, alumnus Pascasarjana UINSA Surabaya

Dengan adanya berbagai peristiwa sebelumnya dalam tulisan penulis yang lain, praktis mempermudah bangsa Eropa untuk melakukan pembaharuan dan mengobarkan renaisans. Peristiwa-peristiwa tersebut mempermudah para intelektual, negarawan, dan filsuf untuk mengemukakan gagasan yang bisa memberikan solusi bagi persoalan Eropa, terutama dalam upaya menghasilkan sebuah filsafat yang bisa menjadi landasan baru masyarakat Eropa. Maka berkobarlah Renaisans, yang akan memutus tali kegelapan di abad pertengahan.

Diawal kemunculannya Renaisans yang berkembang di Italia, lalu menyebar ke beberapa negara Eropa Barat lainnya. Namun bukan di Italia filsafat Renaisans itu sumbur berkembang, yang akan mendorong  kemajuan Eropa di abad 17 M. menuju zaman modern. Justru para pemikir yang kelak melahirkan gagasan-gagasan filsafat Eropa Modern brasal dari Jerman, Perancis-Belanda dan Inggris.

Disini penulis akan membatasi beberapa pemikir yang dianggap penting oleh filsafat Barat sebagai peletak dasar peradaban Modern yang kelak dibangun Eropa. Setidaknya ada enam tokoh, Rene Descartes (Inggris), Blaise Pascal (Perancis), Baruch Spinoza (Belanda), G.W. Leibniz (Jerman), dan John Locke (Inggris). Secara intelektual, diantaranya saling memberikan dukungan dan memberikan pertentangan, sehingga pengembangan filsafat terkesan dinamis disatu sisi, namun kacau disisi lain.

  1. Rene Descartes (1596-1650)

Rene Descartes dianggap sebagai peletak dasar filsafat modern Eropa, ia orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi baru. Ia juga tetap mempertahankan bagian dalam skolatisme, namun berusaha merancang sebuah bangunan filsafat yang lengkap de novo.[1]

Descartes dilahirkan di La Haye, wilayah Tourine, Perancis, pada 31 Maret 1596.[2] Ayahnya adalah ketua parlemen Inggris dan memiliki tanah yang sangat luas. Tentu saja ia mendapatkan warisan yang banyak sekali setelah ayahnya wafat, dan menjual tanah tersebut, lalu menginvestasikannya dengan pendapatan tujuh ribu franc per tahun. Dari tahun 1604-1612 Ia belajar di Universitas Jesuit di La Fleche, Anjou yang didirikan oleh Henry IV, yang tampaknya telah memberikan dasar-dasar matematika modern jauh lebih baik dari pada di universitas lain saat itu. Disanalah Descartes untuk pertama kalinya mendapatkan kegembiraan luar biasa ketika membaca Galelio dan terpesona oleh skeptisisme Montaigne, walaupun dengan berjalannya waktu mendapatkan kenyakinan bahwa hal ini bukanlah pesan yang tepat untuk dunia yang terkoyak oleh perang dogmatisme di Eropa yang nampak tidak mampu untuk menyatukan orang yang sedang pecah.[3]

Tahun 1612, Descartes pergi ke Paris dan menyendiri di daerah terpencil di Faubourg St. Germain untuk menekuni Geometri. Merasa kurang tenang karena diketahui rekan-rekannya, ia mendaftarkan diri sebagai tentara Belanda (1617). Dan saat meletus Perang Tiga Puluh Tahun[4] ia mendaftarkan diri sebagai tentara Maximilian I, di Bavaria (1619).   Di Bavaria inilah selama musim dingin ia mendapatkan pengalaman yang dituangkan dalam Discours de la Methode, praktis gagasan-gagasan tersebut banyak terbentuk selama dalam masa perang. Selama bergabung dengan pasukan Maurice, Count of Nassau (1567-1625), dan berkeliling Eropa sebagai tuan-prajurit ia banyak bertemu dengan beberapa matematikawan dan filsuf saat itu. Sehingga ia berani mengklaim bahwa pengetahuannya lebih banyak terbentuk di ketentaraan—medan perang—daripada di universitas. Dan selama bergabung dengan tentara Bavaria, ia banyak melakukan refleksi terhadap pemikirannya, mengalami tiga mimpi cemerlang, yang memerintahkan untuk meletakkan dasar-dasar “sains mengagumkan” yang akan mempertemukan semua disiplin—teologi, aritmetika, astronomi, musik, geometri, optik, fisika—di bawah naungan matematika. Descartes juga tertantang oleh Montaigne dan pada gilirannya menemukan pengelaman keraguan sebagai dasar kepastian.[5]

Descartes termasuk tokoh filsafat rasionalisme, karena pandangannya cenderung mengutamakan rasio atau pikiran dari pada wahyu, dan bahkan mengabaikan wahyu itu sendiri. Pandangan Descartes yang terkenal adalah cogito ergo sum, “Aku Berfikir Maka Aku Ada” menjadi pijakan utama filsafat Barat Modern. Pemikiran ini tertuang dalam Discours de la Methode. Dengan pernyataan tersebut Descartes memastikan bahwa keberadaan diri yang berfikir melampaui materi dan imajinasi. “Aku berfikir” mencerminkan sebuah upaya pencarian terhadap apa yang dilihat dan yang diketahui oleh indra, dan bentuk berfikir ini diwujudkan dalam sebuah keraguan, kesangsian, dan ketidakpercayaan atas kebenaran yang dilihatnya itu. Keraguan ini merupakan sebuah kenyataan, hal riil yang ada dan benar adanya, bukan khayalan yang dibuat-buat, sehingga menunjukkan keberadaannya sebagai diri, sebagai “Aku”. Adanya “keraguan” maka adanya “Aku”. Dengan demikian adanya keraguan menjadikan jelas dan pasti, terpilah-pilah, apa yang dijadikan objek amatan oleh indra, sehingga itulah yang benar, sebuah “kebenaran” yang harus diterima kebenarannya.[6]

Ahmad Tafsir memberikan gambaran ringkas mengenahi metode berfikir Descartes yang telah diawali dengan keraguan atas benda yang telihat dilihat, bahkan termasuk dengan “dirinya sendiri”, lalu membangun upaya berfikir dengan keraguan, sehingga mengantarkan pada sebuah keberadaan “Diri”, sebagai berikut:[7]

Benda Indrawi tidak ada
Gerak, Jumlah, Besaran tidak ada
Saya sedang ragu, Saya ada
Saya ragu karena saya berfikir
Jadi, Saya Berfikir saya ada

 

Berangkat dari konsep inilah ada tiga realitas atau substansi yang diterima dan dinyakini oleh Descartes, yaitu (1) realitas Tuhan, (2) realitas Pikiran dan (3) realitas Materi. Realitas Tuhan adalah realitas nyata yang benar adanya, yang melahirkan adanya dua realitas selanjutnya. Realitas pikiran adalah sebuah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Sedangkan realitas materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi. Manusia memiliki realitas pikiran dan Materi, sedangkan hewan hanya realitas materi.[8]

Dalam karyanya, Anaximenes Dizcourse on Methode, yang lebih rinci menjelaskan mengenahi upaya pencarian kebenaran dengan cara “meragukan” atau penggunaan metode rasionalis yang benar, setidaknya ada empat poin yang perlu diperhatikan:

Pertama, tidak menerima sesuatu pun sebagai kebenaran, kecuali jika hal itu benar-benar nyata dan sungguh-sungguh dilihat benar adanya, dan tentunya tegas. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi keraguan yang mampu meruntuhkan kebenaran tersebut.

Kedua, memecahkan setiap kesulitan atau masalah satu atau sebanyak mungkin bagian, sehingga tidak memberikan peluang bagi keraguan untuk muncul dan meruntuhkannya.

Ketiga,membimbing pikiran secara terarur, dengan memulai sesuatu yang yang sederhana dan mudah diketahui, kemudian diselesaikan sedikit demi sedikit hingga sampai pada persoalan yang paling sulit dan kompleks.

Keempat, dalam proses pencarian dan pemeriksaan hal-hal yang sulit, selamanya harus dibuat pertimbangan-pertimbangan yang matang, menyeluruh dan sempurna, sehingga sampailah pada kenyakinan bahwa tidak ada satu pun yang mengabaikan atau ketinggalan dalam penjajahan sesuatu itu.[9]

Sepanjang hidupnya Desacartes adalah penganut Katolik yang taat, ia menganggap bahwa metodenya merupakan wahyu pemberian Tuhan, dan sebagai tanda syukur ia berjanji akan berziarah ke makam Our Lady of Loreto. Akan tetapi filsafat Descartes jelas tidak religius: Tuhannya, gagasan yang jelas dalam pikirannya, lama-lama akan menjadi berhala dan meditasinya tentang diri yang berfikir tidak menghasilkan kenosis, tetapi kemenangan ego. Tidak ada kekaguman dalam filsafat Descartes: Ia bahkan berkenyakinan bahwa tugas ilmu pengetahuan adalah menghapus ketakjuban. Di masa depan orang melihat awan, mislanya, “Dengan cara tertentu sehingga kita tidak akan punya peluang lagi untuk takjub tentang apa pun yang dapat dilihat dari awan itu, atau apapun yang turun darinya”.[10]

Walaupun mampu membangun landasan filsafat modern dengan kokoh, namun kehidupannya cukup kacau dan sangat memprihantinkan. Descartes tidak pernah menikah, namun mempunyai anak perempuan kandung yang meninggal pada usia pada usia lima tahun. Jelas ini hasil dari perzinaan dengan salah seorang gadis yang tidak pernah dikenal identitasnya. Ia selalu berpakaian rapi, membawa sembilah pedang, bekerja hanya beberapa jam, dan sedikit membaca.[11] Descartes Meninggal di Stockholm, Swedia, pada 11 Februari 1650.[12]

  1. Blaise Pascal (1623-1662)

Pascal adalah seorang matematikawan dan ilmuwan yang penuh semangat religius, kelak menjadi penentang Descartes. Ia merupakan orang yang mampu mengembangkan kekuatan rasionalnya lebih baik dari pada kebanyakan orang. Pada usia 11 tahun, ia telah menguraikan sendiri dua puluh proposisi pertama Euclid. Dan pada usia 16 tahun ia mampu menerbitkan sebuah risalah yang luar biasa tentang geometri; lalu melanjutkannya dengan menciptakan mesin hitung yang diberi nama Pascaline[13], sebuah barometer, dan hidrolik tekanan. Kecerdasannya ini nampaknya diperoleh atau diwarisi dari ayahnya, Etienne, yang merupakan ilmuwan dan pakar matematika. Ketika Blaise berusia 23 tahun, ayahnya terpeleset di atas lapisan es yang mengakibatkan tulang pahanya patah, dan kemudian dirawat oleh sekelompok Jensenist[14]. Selanjutnya, seluruh keluarga Blaise pun bergabung dengan kelompok ini dan menjadi sangat anti Jesuit.

Dengan bergabung bersama kelompok Jensenist, maka praktis pemikiran Blaise mulai dipengaruhi oleh gagasan-gagasan kelompoknya, yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan (sains) adalah produk setan, kegiatan yang penuh dengan dosa, dan sama dengan birahi yang tidak terpuji. Akan tetapi keinginannya untuk pengetahuan lebih besar sehingga mampu menggunakan sains untuk menyikap rahasia kehampaan.

Berkat sahabat ayahnya-seorang insinyur militer—yang melakukan percobaan di depan keluarganya, Blaise tertarik untuk mengembangkan percobaan tersebut secara mandiri. Yakni percobaan yang pernah dilakukan oleh Torricelli. Dalam percobaan tersebut Blaise mendapatkan sebuah kesimpulan dan akhirnya pada 1647 diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul New Experiments Concerning the Vacuum. Dalam tulisannya ini Blaise mengemukakan teori baru saat itu; teori Probabilitas, Nol, dan ketakterhinggaan, dan pada akhirnya ia menemukan Tuhan. Disinilah Blaise membicarakan filsafat, antara ketaatan kepada Tuhan atau Atheis. Dari Nol dan ketakterhinggaan, Blaise menemukan bahwa Tuhan telah ada, karena yang takterhingga hanyalah selain yang terhingga. Sedangkan alam dan isinya, yang dijadikan tuhan “jelas dan tegas” adalah hal yang terhingga, mampu dihitung dan dicari titik ujungnya. Namun Tuhan tidak, ia takterhingga dan tidak mempunyai batas-batas yang membuat Dirinya bisa dihitung.[15]

Dari sini nampak bahwa ia kembali ingin ke gagasan lama bahwa Tuhan tersembunyi di alam dan bahwa tidak ada gunanya untuk mencoba menemukannya. Dalam kenyataannya alam semesta mekanis itu tidak bertuhan, menakutkan, dan hampa dari makna:

Ketika saya melihat keadaan manusia yan buta dan malang, ketika saya menelisik seluruh alam semesta dalam kebekuannya dan manusia dibiarkan sendiri tanpa cahaya, seakan-akan tenggelam di sudut ini tanpa mengetahui siapa yang menempatkannya di sana, apa yang harus dia lakukan, apa yang akan terjadi padanya ketika dia mati, tidak mampu mengetahui apa-apa, saya merasakan kengerian, seperti seorang yang diangkut dalam keadaan tidur ke sebuah pulau terpencil mengerikan, terbangun dalam keadaan bingung tanpa ada cara untuk melarikan diri. Lalu saya heran betapa keadaan yang begitu malang tidak mendorong orang untuk berputus asa.[16]

Disini Pascal berusaha memberikan penjelasan yang jauh berbeda dengan pemikiran Descartes. Kepastian tidak datang dari kontempelasi rasional tentang ide-ide yang “jelas” dan “berbeda”, sebagaimana gagasan Descartes, tetapi dari “hati”, inti batin manusia. Menurutnya; kepastian, sukacita yang tulus, kedamaian, itu semua datangnya dari Tuhan-nya Ibrahim, Ishak, dan Ya’kub. Bukan Tuhanpara filsuf dan cendekiawan. Kecerdasan rasio, kekuatan pikiran, dan kedasyatan nalar berfikir, walaupun mampu menciptakan berbagai gagasan yang seolah cemerlang, tetap tidak akan mampu menghasilkan kenyakinan agama; “hati” hati mempunyai nalar sendiri untuk iman.

Lebih tegas, Pascal mengatakan bahwa Kekristenan akan membuat sebuah kesalahan serius. Para teolog sangat ingin merangkul etos modern dan membuat ajaran (agama) mereka sesuai dengan ide-ide yang “jelas dan tegas”—menjadi kegemaran pada masa renaisans—tetapi seberapa jauh sains baru ini harus berbenturan dengan agama? Tuhan yang hanya “penulis kebenaran matematis dan urutan-urutan  unsur” tidak bisa membawakan cahaya bagi kegelapan dan kepedihan eksistensi manusia. jelas, hal itu hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam jurang atheisme.[17]

Tentang kehampaan alam pikiran manusia yang kosong, Pascal menulis dalam sebuah puisinya, sebagaimana dikutip oleh Charles Seife dalam Biografi Angka Nol:

Siapakah Sebenarnya Manusia?

Kekosongan berhubungan dengan ketakterhinggaan,

Segala sesuatu berhubungan dengan ketiadaan,

Titik tengah antara ketiadaan dan segalanya.

  1. Baruch Spinoza (1632-1677)

Spinoza dikenal sebagai sosok filsof besar yang paling dihargai dan dihormati. Secara intelektual, beberapa filsof lain mengunggulinya, tetapi secara etis, dialah yang paling tinggi, sehingga selama hidupnya dan satu abad setelah kematiannya ia dianggap sebagai orang yang paling jijik dengan kejahatan. Dia dilahirkan sebagai seorang Yahudi, tetapi orang Yahudi justru mengucilkannya, orang kristen juga membencinya; kendati filsafatnya didominasi dengan ide tentang Tuhan, kaum Ortodoks menganggapnya atheis. Kehidupannya sangat sederhana, keluarganya datang ke Belanda dari Spanyol, atau Portugal, untuk menghindari inkuisisi. Dari sini Spinoza berbeda dengan Descartes yang terdidik melalui medan perang, karena sebagai pelarian ia cederung banyak belajar di pendidikan komunitas Yahudi, Ia dididik di sekolah Yahudi di Amsterdam. Cerita hidupnya tidak banyak diketahui, dan hidup dijalani secara diam-diam. Kurang peduli dengan persoalan uang, sehingga keinginannya sedikit dan sederhana, namun memiliki kejeniusan yang cukup dakui oleh kawan-kawannya. Pada 27 Juli 1656, Spinoza dikucilkan oleh para rabi Yahudi karena gagasannya dianggap sesat “Tuhan hanyalah totalitas dari alam itu sendiri”. Di Belanda filsafatnya mendapatkan penghargaan, kendati namanya sempat rusak secara politik karena berpihak pada De Witts menentang dewan Orange. Spinoza meninggal pada usia 43 tahun karena serangan paru-paru.[18]

Filsafat Spinoza tertuang dalam beberapa karyanya, diantaranya Tractatus Theologico-Politicus, Tractatus Politicus, Short Treatise on God dan Ethics (yang diterbitkan setelah kematiannya). Secara intelektual Spinoza memiliki hubungan yang erat dengan Descartes, ia mewarisi fisika materialistik dan deterministik darinya, dan menggunakan semuanya itu untuk mencari ruang menghargai Tuhan dan hidup yang diabdikan kepadanya. Upaya ini terlihat sangat mulia dan membangkitkan kekaguman pada kalangan yang tidak menganggapnya berhasil sekalipun.

Dalam Tractatus Politicus Spinoza banyak bicara mengenahi filsafat politik. Ia memandang bahwa dalam keadaan alami (state of nature) tidak ada benar atau salah, karena kesalahan itu berupa pelanggaran hukum. Misalnya, seorang raja tidak bisa berbuat salah dan Gereja harus tunduk kepada negara. Oleh karena itu pemberontakan adalah sebuah kesalahan, kendati pada pemerintahan yang buruk, karena hal itu merupakan pertentangan terhadap raja/pemerintah. Baginya, demokrasi bukalah bentuk pemerintahan yang “paling alami”. Namun warga negara tidak boleh mengorbankan seluruh haknya demi sang raja. Secara khusus, Spinoza memandang bahwa kebebasan berpendapat merupakan sesuatu yang penting, dan jika ada persoalan agama dan negara harus diputuskan oleh negara, bukan gereja.[19]

Dalam Ethics, Spinoza berbicara mengenahi tiga masalah yang berbeda, yakni metafisika, spikologi hasrat, dan kehendak. Dalam metafisika Spinoza mengembangkan visi ateistik yang sekaligus lebih radikal, tetapi juga lebih religius daripada Descartes[20]. Ia mengatakan bahwa hanya ada satu dzat, “Tuhan atau alam”; sesuatu yang terbatas tidak ada yang hidup mandiri.[21] Dalam hal ini lahirlah sebuah gagasan mengenahi pemikiran dan pengembangan. Baginya, pemikiran dan pengembangan adalah sifat-sifat Tuhan. Tuhan juga memiliki sifat-sifat lainnya yang tak terbatas jumlahnya, karena Dia tidak terbatas dalam setiap aspek-Nya; tetapi sifat-sifat lain tersebut tidak kita ketahui. Jiwa individu dan potongan-potongan materi yang terpisah, merupakan kata sifat; semua itu bukan benda, tetapi sekedar aspek-aspek dari Yang Maha Suci. Tidak ada keabadian pribadi seperti yang dipercaya orang-orang kristen, tetapi keabadian impersonal yang diperoleh dengan menjadi semakin dan semakin menyatu dengan Tuhan. Sesuatu yang terbatas didefiniskan oleh batas-batasnya, baik fisik maupun logis, yakni apa yang bukan sesuatu: “semua determinasi adalah negasi.” Hanya ada Tuhan Esa yang seluruhnya positif, dan Dia pasti tidak terbatas secara absolut.

Menurutnya, segala sesuatu diatur oleh sebuah ketentuan logis yang absolut. Tidak ada semacam kehendak bebas di wilayah mental atau peluang di dunia fisik. Segala yang terjadi adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang ghaib, dan logikannya, suatu peristiwa tidak mungkin menjadi peristiwa lain. Gagasan ini menimbukan pertanyaan tentang dosa. Bagi Spinoza, kalau segala sesuatu yang menentukan Tuhan dan karena itu jelas baik, ada persoalan yang bernada mengjengkelkan: Apakah bisa dikatakan baik jika Nero membunuh ibunya? Apakah baik jika Adam memakan buah Khuldi? Jawabannya, menurut Spinoza bahwa apa yang bernilai positif dalam peristiwa-peristiwa tersebut adalah baik, dan hanya yang bernilai negatiflah yang buruk; tetapi negasi hanya ada dari sudut pandang makhluk. Bagi Tuhan, satu-satunya yang sepenuhnya nyata, tidak ada negasi, maka kejahatan yang bagi kita tampak sebagai dosa tidak ada jika dilihat sebagai bagian dari keseluruhan. Nero yang membunuh ibunya pun tidak dosa, karena hal itu bisa jadi merupakan cara terbaik yang harus dilakukan oleh Nero daripada tidak membunuhnya.[22]

Spinoza juga bicara tentang Emosi yang pada gilirannya akan menegaskan gagasannya yang atheistik. Teorinya tentang emosi dijelaskan setelah memaparkan metafisika. Baginya, pikiran manusia cukup bisa mengetahui esensi Tuhan yang abadi dan Tak Terbatas. Sehingga dengan pikirannya manusia bebas untuk melakukan apapun yang itu merupakan sebuah kesenangan, keinginan, cinta, dan atau hasrat. Karena dengan menggunakan pikiran manusia sudah seolah mengerjakan apa yang Tuhan kerjakan. Disinilah manusia mempunyai wewenang untuk menggunakan pikirannya. Namun penggunaan pikiran yang sebebas-bebasbnya ini tetap harus dibatasi oleh pembatas itu sendiri, yakni sebagai manusia yang tidak mampu menjangkau keberadaan Tuhan yang Tak terbatas. Sedangkan manusia adalah makhluk terbatas; oleh adanya kematian, ketakutan, rasa sakit, kebencian, dan khayalan yang tidak nyata. Atas kekuatan pikiran ini, Spinoza menjelaskan bahwa Kebaikan tertinggi pikiran adalah pengetahuan tentang Tuhan, dan kebenaran tertinggi bagi pikiran adalah mengetahui Tuhan. Cinta pada Tuhan pasti menempati posisi tertinggi dalam pikiran. Cinta intelektual pikiran kepada Tuhan adalah bagian dari cinta tak terbatas yang dengannya Tuhan mencintai diri-Nya.[23]

Tapi Tuhan disini, yang dimaksud oleh Spinoza bukanlah Tuhan Yahudi-Kristen yang dipersonalisasikan. Spinoza, sebagaimana para Marrano adalah sosok yang membenci agama wahyu, kendati dia setuju dengan Descartes mengenahi “Tuhan” itu sendiri berisi validasi tentang eksistensi Tuhan. Tuhan Spinoza adalah penggabungan dan prinsip hukum alam, identik dan setara dengan tatanan yang mengatur alam semesta. Disini Tuhan bukanlah Pencipta dan Penyebab Pertama, melainkan tidak bisa dipisahkan dengan dunia materi, sebuah ketentuan imanen yang memadukan segala sesuatu ke dalam kesatuan dan keselarasan. Sehingga dengan demikian ketika manusia merenungkan kerja pikiran mereka, sama halnya membuka diri pada realitas abadi dan tak terbatas dari Allah yang aktif dalam diri mereka. Spinoza mengatakan bahwa ketuhanan bukanlah sebuah objek untuk diketahui, melainkan prinsip pikiran kita sehingga sukacita yang dialami ketika kita mencapai pengetahuan adalah cinta intelektual kepada Tuhan, atau “Kebahagiaan Tertinggi” yang dikembangkan dari pemikiran intuitif dalam diri kita.[24]

Dari sinilah Spinoza berpandangan bahwa untuk mengetahui Tuhan, orang harus mengetahui hubungannya dengan manusia dan dengan seluruh alam, dan bagaimana semua bagian itu berdiri dalam hubungan kausal antara yang satu dengan yang lain. Oleh karenanya, untuk memahami manusia orang perlu naik ke intelek Tuhan yang tidak terbatas, dan sangat mungkin jika manusia mau menggunakannya. Manusia tidak harus terlalu jauh dalam rangka melakukan hal ini, karena tidak aa jurang yang memisahkan antara dia dengan Tuhan. Sehingga kerja intelek manusia adalah untuk “menjadi Tuhan”.[25]

  1. John Locke (1632-1704)

John Locke merupakan tokoh pembawa gerbong aliran empirisme dalam filsafat, Ia lahir di Inggris pada 29 Agustus 1632,[26] dan disebut-sebut sebagai “nabi” Revolusi 1688, yang paling moderat dan berhasil dari revolusi yang pernah ada. Tujuan-tujuan dari pada revolusi tersebut sangat sederhana, tapi benar-benar tercapai dan setelahnya tidak ada lagi revolusi yang terjadi di Inggris. Ayanya seorang penganut aliran puritanisme yang berpihak pada Parlemen semasa Cromwell. Semasa belajar di Oxford University Locke sangat tidak menyukai skolatisme, walaupun almamaternya masih menganut filsafat Skolastik, ia cenderung terpengaruh oleh Descartes. Locke dilindungi oleh Lord Shafterbury, “Achitophel”-nya Dryden saat menjadi seorang fisikawan. Saat Shafterbury jatuh ada 1683, ia menyertai sang Lord pergi ke Belanda, dan tetap tinggal disana sampai revolusi meletus. Setelah revolusi ia bekerja di Board of Trade dan mencurahkan waktunya untuk menulis, yang menghasilkan banyak kontroversi di kemudian hari.[27] Locke dipadang sebagai tokoh yang memberikan titik terang pada filsafat empirisme Barat.

Sebagi seorang filsuf John Locke banyak menulis karya yang menjadi inspirasi bagi gerakan empirisme dan revolusi dan seluruh koloni Inggris Raya, diantaranya Karyanya tentang filsafat teoritis, Essay Concerning Human Understanding[28], First Letter on Toleration (1689), Toleration (1690 dan 1692), Treatises on Government (1689), Education (1693).

  1. Gottfried Wilhem Leibniz (1646-1716)

Leibniz dikenal sebagai seorang diplomat yang tanpa lelah memperjuangkan perdamaian di Eropa dan berusaha menyatukan negara-negara bangsa baru Eropa bersama-sama. Salah satu gagasan utamanya adalah pembangunan sebuah bahasa universal berdasarkan prinsip-prinsip matematika yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan jelas dan tegas.[29]

Nama lengkapnya Gottfried Wilhem Leibniz, lahir pada tahun 1646 di Leibzig, Jerman. Ia belajar di Nicolai di Leipzig. Pada usia 15 tahun ia sudah menjadi mahasiswa di Universitas Leipzig. Pada tahun 1666, saat ia belum berusia 21, ia menerima ijazah doktor dari universitas Altdorf, dekat Nuremberg, dengan disertasi berjudul De casibus perplexis. Karena usianya terlalu muda universitasnya pun menolak mengakui doktornya.

Filsafat Leibniz berbicara tentang substansi yang disebut dengan monad. Setiap monad berbeda satu sama lainnya, dan Tuhan adalah Pencipta monad-monad itu.

[1] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) halaman 732.

[2] Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012) Halaman 126.

[3] Ibid, 733. Selengkapnya lihat Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halamana 326, yang memaparkan dengan jelas tentang terbentuknya gagasan-gagasan Rene Descartes.

[4] Perang Tiga Puluh Tahun adalah perang yang mencabik-cabik dan memporak-porandakan Eropa Tengah antara 1618 hingga 1637. Berawal dari ambisi Kaisar Ferdinand II (1619-1637) dari wangsa Austia-Hungaria, yang ditunjuk oleh kaisar sebelumnya untuk mengubah keseluruhan yang dikuasai menjadi negara teratur yang mengikuti tersentralisasi, serta mengutamakan bangsa Jerman dan agama Katolik. Wilayah ini tidak hanya wilayah kekaisaran Autria-Hungaria, tapi juga seluruh kekaisaran Germania. Akhirnya, seluruh kerajaan di daratan Eropa pun terlibat, Perancis, Spanyol, Swedia, dan negara kerajaan kecil lainnya. Perang ini berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian Wesfalen yang memaksa kaisar Ferdinand II untuk menyatakan damai. Selengkapnya lihat Jean Carpentier dan Francois Lebrun dalam Sejarah Perancis: Dari zaman Prasejarah Hingga Akhir Abad ke-20. (Jakarta: KPG. 2011) halaman 221.

[5] Lihat Karen Armstrong dalam Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halamana 327.

[6] Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012) halaman 127.

[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. (Bandung: Rosda. 2003) halaman 132.

[8] Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012) Halaman 127.

[9] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika. (Bandung: Kencana. 2014) halaman 96.

[10] Sebagaimana dikutip oleh Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halamana 331.

[11] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) halaman 735.

[12] Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012) Halaman 126.

[13] Mirip dengan kalkulator-kalkulator mekanik yang digunakan oleh para insinyur sebelum kalkulator elektronik ditemukan. Lihat Charles Seife dalam Biografi Angka Nol. (Jogjakarta: e-Nusantara. 2008) halaman 136.

[14] Nama Sebuah gerakan penting dalam reformasi religius Perancis abad XVII dan XVIII, sekte Katolik yang tidak begitu suka dengan aturan-aturan Jesuit. Sekte ini didirikan oleh Cornelis Jansen yan gagasannya dirangkum dalam risalah Augustinus (1640). Ibid, 135.

[15] Untuk membuktikan hal ini Blaise Pascal melakukan percobaan peluang, atau teori probabilitas, antara memeluk Agama atau tidak sama sekali. Sederhanya begini, seandainya saja peluangnya 50%-50%, maka akan mendapatkan 50% masuk neraka dan 50% bertemu Tuhan, sehingga lebih baik mempercayai adanya Tuhan. Selengkapnya lihat Charles Seife dalam Biografi Angka Nol. (Jogjakarta: e-Nusantara. 2008) halaman 144.

[16] Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halaman 333.

[17] Ibid, 334.

[18] Ibid, 747.

[19] Ibid, 748.

[20] Lihat Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halamana 335.

[21] Termasuk jenis yang dirintis oleh Parmenides.

[22] Ibid, 749.

[23] Ibid, 756.

[24] Lihat Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halaman 337.

[25] Frederick Sontag, Pengantar Metafisika. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.155.

[26] Maksum, Ali. Pengantar Filsafat: Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2012) halaman 132.

[27] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) halaman 792.

[28] Selesai ditulis pada 1687 dan diterbitkan pada 1690.

[29] Lihat Karen Armstrong dalam  Masa Depan Tuhan (Bandung: Mizan. 2011) halaman 332.