April 16, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LEGENDA GAPURO DESA PLIWETAN, PENYELAMAT PARA GERILYAWAN REPUBLIK

gapuro desa Pliwetan yang menghubungkan ke dusun Randugeneng. Tempat inilah yang dulunya menjadi penghalang bagi militer Belanda untuk mengejar para Gerilyawan Republik di Palang

oleh : Mohammad Syihabuddin

Di zaman revolusi kemerdekaan kawasan Palang merupakan salah satu target operasi pasukan Belanda dalam agresi militer II nya di Indonesia. Pasukan Belanda, dengan jip, truck, dan tank memburu para gerilyawan republik dari desa-desa di kecamatan pesisir Tuban ini.

“Mereka membakar rumah-rumah di desa Karangagung, Palang, Gesikharjo, hingga Leran dan Cendoro. Mereka memburu para pemuda-pemuda yang tentunya terlibat dalam pertempuran gerilya.” Kata haji Idris, saksi agresi militer II Belanda di desanya, Karangagung.

Ketika pasukan Belanda memasuki desa, para penduduk langsung membunyikan kentongan, sebagai bentuk peringatan bagi penduduk yang lain untuk berlari dan bersembunyi.

Jalan-jalan di lubangi oleh penduduk sebagai bentuk rintangan atau pertahanan desa. Jalan Tuban-Paciran merupakan jalur utama pasukan Belanda berburu gerilyawan dan menjadikan beberapa desa menjadi posnya. Tapi para pemuda melubangi jalan-jalan itu, walaupun itu tidak berguna untuk menahan tank.

Kebrutalan Pasukan Belanda

Sebagai salah pemenang dalam ajang teater eropa di Perang Dunia II Belanda merasa malu jika kalah dengan kaum gerilyawan republik. Dengan berbagai cara mereka menghancurkan gerakan pasukan rakyat Indonesia, termasuk dengan cara-cara brutal.

Pasukan Belanda membakar rumah-rumah, memperkosa para wanita dan memasuki musholla serta masjid. Mengkasari para kiai dan tokoh agama, serta merusak fasilitas umum.

Haji Idris menceritakan, bahwa dia dengan mata kepala sendiri menyaksikan kebrutalan tentara Belanda. Rumah-rumah di desanya (Karangagung) banyak yang terbakar saat pasukan Belanda masuk dan berburu gerilyawan. “Waktu itu saya masih berusia enam tahun, dan saya tahu kekejaman tentara Belanda terhadap para penduduk desa. Mereka menendang para perempuan yang tidak menunjukkan persembunyian para gerilyawan.”

Tidak hanya di Karangagung, di desa-desa yang lain juga sama, kebrutalan pasukan Belanda menjadi saksi nyata kekejaman perang dan penindasan militer Belanda di awal revolusi.

Jalan Pelarian Gerilyawan

 Ketika kentongan berbunyi, para gerilyawan—yang didominasi oleh para santri, pemuda dan pria dewasa dari seluruh penjuru Palang segera berlari menuju ke (desa) Pliwetan dan (dusun) Randugeneng. Di kedua tempat itulah para gerilyawan bersembunyi, membentuk pos militer, mengatur strategi perang, dan mengatur serangan-pertahanan.

“Hanya di kedua desa inilah tentara patroli Belanda kesulitan untuk menyerangnya. Mereka seolah dihadang oleh kekuatan ghoib sehingga tidak ada daya untuk menyerang kedua desa itu.” Kata haji Idris yang lahir pada tahun 1939.

Biasanya para gerilyawan akan berlari dari tambak-tambak dan sawah—yang menjadi cirikhas alam di Palang—lalu berjalan ke timur menuju ke Randugeneng, bahkan hingga ke Ketambul.

Misteri Gapuro Pliwetan

 Menurut Haji Idris, dan juga beberapa penduduk yang sudah sepuh di Palang, jalan menuju desa Pliwetan-Randugeneng yang kini ditandai dengan sebuah gapuro desa menjadi penghalang bagi militer Belanda untuk memasukinya. “Setiap ingin memasuki gerbang itu, tentara Belanda terhalang dan akhirnya kembali ke Tuban atau ke Brondong.” Katanya,

Konon desa Pliwetan-Randugeneng dilindungi oleh pemiliknya, atau dayang desa itu, yaitu mbok yai. Sosok mbok yai merupakan ibu bagi seluruh warga Pliwetan-Randugeneng. Keberadaannya dimuliakan dan pernah diramaikan pada acara-acara sedekah bumi.

Sosok mbok yai menjadi legenda yang melekat pada pikiran orang Pliwetan-Randugeneng. Keberadaannya sangat “nyata” dan menjadi semangat bagi eksistensi masyarakat di desa tersebut.

Mbok yai inilah yang “melindungi” Pliwetan-Randugeneng dari serangan dan penglihatan tentara Belanda, sehingga kesulitan mengejar para gerilyawan palang.

Gapuro Pliwetan Kini

Kini, jalan yang “sulit dilalui dan mustahil dilewati” oleh tentara Belanda pada Agresi Militer II itu telah dibangun sebuah gapuro yang menjadi penanda adanya desa Pliwetan. Lurus ke timur masuk ke gapuro itu akan sampai ke dusun “cuwilan” Randugeneng yang secara administratif ikut desa Cepokorejo—walaupun secara geografis masuk kawasan Pliwetan.

Adapun sosok mbok yai sampai saat ini masih menjadi sosok misterius bagi kalangan muda, namun tetap menjadi “dewa” bagi kalangan tua. Para penduduk desa yang sepuh masih menyakini bahwa mbok yai tetap akan melindungi penduduk Pliwetan-Randugeneng dari segala bencana—apapun bentuknya. Benarkah demikian, kita lihat saja perjalanannya nanti, hanya Allah jualah yang menghendaki semua itu.