Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LAYLATUL QADR ADALAH TELEPORTASI RUHANI

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur KItasama Stiftung

Malam seribu bulan (laylatul Qadr), sebuah waktu yang semalam saja sama dengan beribadah seribu bulan. Sekali beribadah maka ‘kualitas’-nya sama dengan beribadah seribu bulan. Sungguh waktu yang tidak masuk akal jika dipikir secara rasional.

Bagaimana bisa semalam itu sama dengan seribu bulan? Jangan-jangan bukan malamnya yang seiribu bulan, tapi pahalanya sama dengan beribadah seribu bulan? Lalu, jika sudah mendapatkan pahala ibadah selama seribu bulan, mau apa? Apakah sudah pasti bahwa dengan memperoleh laylatul Qadr sudah bisa dipastikan mendapatkan surga kelak di akhirat?

 

Malam yang ditunggu-Tunggu

Pada tiap bulan ramadlan, semua muslim (yang taat dan rajin beribadah saja) yang berharap bisa memperoleh malam-malam ini? Karena jelas, bahwa malam itu merupakan malam yang paling indah dan paling ditunggu-tunggu kehadirannya. Semua umat muslim percaya bahwa pada malam inilah malam di mana semua karunia Allah telah terbuka dan semua nikmat telah diberikan.

Tapi kapan malam ini bisa ditemukan?

Beberapa ulama salaf, khususnya Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i telah memberikan kode-kode khusus terkait dengan kehadiran malam seribu bulan ini. Diantaranya (1) kondisi langit yang sangat tenang, (2) cuaca yang sangat damai (tidak panas dan tidak pula dingin), (3) suara hewan melata tidak terdengar sedikit pun, dan (4) terletak di akhir bulan Ramadlan pada tanggal-tanggal yang ganjil; 21, 23, 25, 27, dan 29. Yang terakhir inilah yang sering kali dijadikan patokan oleh masyarakat awam untuk memaksimalkan ibadah pada malam harinya sehingga pada malam-malam tanggal tersebut hampir sebagian besar muslim yang taat pasti akan berlomba-lomba meluangkan waktunya untuk tahajud, mengamalkan bacaan tertentu, membaca al-Qur’an hingga beberaja juz, dan juga membaca ijazah-ijazah tertentu.

Praktis keberadaan malam yang misteri ini selalu ditunggu-tunggu dan semua muslim berharap bisa memperolehnya. Tapi bagaimana sejatinya malam yang penuh rahasia ini, dimana dan kapan waktu ini bisa diperoleh dan dijumpai?

 

Ruang Waktu pada Dimensi yang Berbeda

laylatul Qadr sejatinya adalah julukan yang telah diinformasikan Allah kepada Rasulullah tentang kemulian dan ketinggi derajad pada suatu waktu yang berbeda dengan waktu-waktu kehidupan manusia pada umumnya. Waktu itu adalah sebuah malam dimana semua malaikat telah hadir, para ahli silsilah kenabian telah hadir, dan ruh suci (kenabian) yang turun langsung dari sisi Allah telah dibuka dan direbahkan seluas-luasnya untuk dinikmati oleh kaum yang beriman kepada Allah. (Ingat; hanya yang beriman saja).

Malam seribu bulan adalah perjalanan ruhani, kondisi suatu ruhani yang secara rutin menyebut nama Tuhan lalu berbuah pada pertemuan dengan Tuhan dan para orang-orang suci. Ia tidak bisa diciptakan dan tidak pula bisa direkayasa, namun turun secara langsung kepada sosok individu yang telah merindukan Allah dan Allah juga merindukannya untuk “menyapanya”.

Malam itu adalah malam yang jauh dari kehidupan manusia sehari-hari. Semalam dalam kehidupan manusia yang normal namun dialami oleh individu (yang dikehendaki untuk memperoleh) menjadi seribu bulan. Hanya beberapa jam saja dalam kehidupan normal, namun dalam dimensi lain menjadi seribu bulan.

Keberadaan malam seribu bulan ini merupakan dimensi yang berbeda. Ia bukan dimensi manusia yang biasa-biasa saja, yang berjalan normal 24 jam. Namun dimensi itu mengandung beberapa hari bahkan tahun dalam beberapa jam-nya. Sepertinya halnya perbandingan waktunya manusia dan Tuhan. Satu hari disisi manusia sama saja dengan seribu tahun disisi Tuhan. Hal ini pun sama dengan kondisi malam seribu bulan, satu malam di kehidupan manusia adalah seribu bulan dalam dimensi yang berbeda.

Setiap individu yang berada di dalam dimensi malam seribu bulan ini maka dia telah melakukan perjalanan yang cukup jauh ke dalam dimensi yang berbeda dalam kehidupannya. Ia telah melompat dan berada pada suatu ruang waktu yang tidak sama dengan kehidupannya. Itu pun juga dengan disertai para ruh yang suci yang pernah pula mengalami “perjalanan itu”, sehingga perjalanan itu terasa indah, berkah, dan mengalahkan keindahan dunia dan isinya ini.

Tidak heran jika kemudian orang yang pernah memperoleh atau ruhaninya pernah berada di dimensi malam seribu bulan ini mengalami perubahan yang signifikan bahkan memperoleh pengetahuan yang tanpa batas. Hal itu tidak lain karena pengetahuannya yang masuk melalui ruhani telah menyatu (fushion) dengan pemilik pengetahuan abadi dari Allah, yakni Nabi hingga para Wali dan Ulama’ pewaris ruhani para Nabi.

Usia seorang mukmin yang sudah pernah berada di dimensi malam seribu bulan jelas lebih tua dari pada orang pada umumnya. Karena pada ruang yang berbeda itu seorang mukmin sudah mengalami perjalanan waktu yang cukup panjang, sedangkan dikehidupan yang normal dia mengalami kehidupan yang pendek dan biasa saja. Dan kondisinya itu tidak mempengaruhi tubuhnya. Tubuhnya tetap seperti sedia kala, bahkan terkadang terlihat lebih muda, karena ruang-waktu di kehidupan malam seribu bulan jauh lebih ringan dari pada kehidupan yang normal (yang berat, sebab ada stress, pikiran pekerjaan, cinta birahi, nafsu, dan kenikmatan semu serta kemaksiatan).

Seorang yang pernah berada di malam seribu bulan sudah tentu ia telah memperoleh keilmuan abadi Ketuhanan yang masuk dalam ruhaninya, karena jelas tanpa keilmuan yang abadi itu ia tidak akan mampu memasuki dimensi malam seribu bulan. Karena malam seribu bulan itu sendiri merupakan bagian dari ilmu keabadian Tuhan. Dengan kata lain, ruhani seorang mukmin yang pernah berada di dimensi malam seribu bulan sudah menyatu dengan ilmu keabadian Tuhan, artinya Ruhaninya kelak kembali kepada Allah, tidak gentayangan dan tidak pula menjadi genderuwo di pojok-pojok pohon atau rumah kosong.

 

Kondisi Ruhani Pasca-Malam Seribu Bulan

Pasca masuk ke dimensi malam seribu bulan seorang mukmin akan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Secara ekstrim bisa dikatakan ia tidak lagi tertarik pada keindahan dunia, dan kehidupannya hanya diberikan kepada Allah. Karena di dimensi malam seribu bulan Allah sudah membuka seluruh nikmatnya dan seluruh kebesarannya, bahkan surga dan neraka telah ditunjukkan padanya, termasuk kenimatan surga dan segala penghuninya, sehingga saat kembali ke dunia seorang mukmin tidak lagi tertarik dengan keberadaan kegemerlapan dunia. Dunia dipandang menjadi perkara yang menjijikkan.

Orang yang masuk dalam dimensi malam seribu bulan memperoleh tiga perkara yang jelas, (1) jelas cerdasnya, (2) jelas saktinya, dan (3) jelas wawasan masa depannya. Namun mereka sebagaian besar lebih banyak diam dan tidak menunjukkan apa yang dimilikinya, bahkan terkadang memilih kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk dunia. Artinya, Ia tidak menyendiri, tidak menjauhi kehidupan yang dijalaninya (bekerja, berkeluarga atau pengabdian masyarakat), namun lebih pada tidak ikut terlalu dalam terlibat dalam persoalan-persoalan duniawi.

Orang yang pernah masuk di dimensi malam seribu bulan tidak akan pernah lagi memikirkan pahala. Ia tidak lagi memikirkan surga-neraka. Baginya, masuk surga dan neraka adalah sama. Yang terpenting adalah ridlo-Nya Allah. Ibadahnya tidak lagi demi bidadari di surga atau api panas di neraka, karena sejatinya kenikmatan semua itu tidak ada artinya bagi dirinya. Yang sangat berarti bagi orang-orang yang pernah masuk ke dalam dimensi ini adalah cinta pada Allah, hanya kepada Allah. Karena pada hakekatnya, baginya hanya Allah-lah segalanya di dunia ini.

Masuk pada dimensi malam seribu bulan adalah sebuah kondisi. Sebuah kondisi atau keadaan ruhani yang menyatu bersama ruhani-ruhani suci. Sebuah ruang yang hanya Allah jualah yang mampu menghendakinya. Ia merupakan sebuah (kondisi) ajakan Allah terhadap hambanya yang telah menjalankan metodenya untuk sampai kepada Allah itu sendiri. Tanpa metode dari Allah tidak ada seorang manusia (bahkan jin-pun) yang bisa mememasuki dimensi malam seribu bulan itu.

Sehingga sangat ironi jika ada pendapat bahwa malam seribu bulan adalah terletak pada waktu-waktu ganjil di akhir bulan Ramadlan, lalu memaksimalkan malam-malam itu untuk beribadah dan sebagainya. Berharap bisa memperoleh malam seribu bulan dan berharap dapat pahala yang besar. Padahal, jika tidak menggunakan metode yang tepat (dari Allah) tentu tidak akan pernah bisa diizinkan oleh Allah untuk masuk pada dimensi malam seribu bulan itu. Karena malam seribu bulan adalah dimensi-nya Tuhan dan manusia yang dizinkannya sajalah yang bisa memasukinya.

Lalu…..

Terkait pendapat Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i menurut hemat penulis itu merupakan ajakan atau nasehat dari beliau kepada umat Islam untuk memaksimalkan ibadah diakhir-akhir bulan Romadlan saja. tidak memastikan adanya malam seribu bulan pada waktu itu. Dan ini merupakan kebiasaan yang lumarah dalam ajaran sunni untuk memberikan nasehat yang baik, dan sah-sah saja. tidak ada yang salah.

Akan tetapi untuk masuk ke dalam malam seribu bulan tanpa disertai dengan metode langsung dari Allah merupakan pekerjaan yang mustahil. Karena menuju ke dimensi malam seribu bulan merupakan sebuah perjalanan teleportasi, perjalanan antar ruang dan waktu yang berbeda dan menembus dimensi yang berbeda pula.

   Walalhu’alam bisshowaf.