Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

LANGIT MENDUNG DI ATAS PALANG, PERTANDA KEKALAHAN SAGUL KUNING

Salah satu jalan di kawasan Palang yang mengalami banjir dan pemadaman listrik pada Jumat malam sabtu pon, 27 Nopember 2020

oleh : Mohammad Syihabuddin

Dalam kisah Legenda Tiga Kerajaan dari tanah Tiongkok, di zaman dulu pernah terjadi gejolak politik yang merusak dan menghancurkan peradaban wilayah itu. Para penguasa gagal mensejahterakan penduduk dan kota-kota mengalami kerusakan. Akibatnya, muncullah kelompok sagul kuning yang bercita-cita menghancurkan seluruh kerajaan di Tiongkok.

Gerombolan Sagul kuning, begitu mereka dikenal mempunyai pengikuti sekitar 10.000 pasukan. Setiap anggotanya diwajibkan untuk memakai ikat rambut kepala (sagul) berwarna kuning sebagai pertanda akan kekuatan dan keperkasaan mereka. Sekaligus identitas kelompoknya.

Dalam aksinya, mereka menjarah banyak kota dan membunuh penduduk desa yang tidak mau memberikan hasil panennya. Mereka membangun benteng yang sangat kuat dan kokoh, sehingga pasukan kekaisaran kesulitan untuk menembusnya.

Kekalahan Sagul Kuning

Tapi pada suatu waktu, takdir telah mengakhiri kekuasaan dan keperkasaan gerombolan perampok sagul kuning. Malam itu, tepat di atas bentengnya telah terjadi mendung yang sangat gelap. Hujan turun sangat deras hingga mematikan semua obor yang menjadi penerang bentengnya. Pemimpin tertingginya sakit, padahal dia merupakan calon kaisar Cina jika saja mereka sukses mendongkel kaisar dari kekuasaannya.

Beberapa hari kemudian, semua tentara sagul kuning mengalami banyak kekalahan di semua peperangan. Garnisum-garnisumnya lumpuh dan benteng-benteng kecilnya berhasil direbut oleh pasukan relawan berbendera hijau yang membela kaisar.

Tak lama kemudian benteng utama gerombolan Sagul kuning runtuh dan riwayat mereka pun berakhir secara tragis. Ketiga pemimpinnya, tiga bersaudara yang menjadi pemimpin kelompok itu telah dipenggal kepalanya dan dijadikan hadiah kemenangan untuk kaisar.

Peran Pasukan Hijau

Yang paling berperan dalam mengalahkan pasukan sagul kuning adalah pasukan relawan kekaisaran berbendera hijau yang dipimpin oleh Ryu Bi Gentoku, yang mengikat persaudaraan dengan dua pendekar legendaris dan berperang dengan biaya secara suka rela—tanpa dapat anggaran dari kaisar.

Ketika mereka berhasil mengalahkan para pemberontak sagul kuning, mereka tidak mendapatkan jatah apa-apa, jatah tanah maupun jatah harta—hanya makanan biasa layaknya penduduk biasa. Mereka pun kembali ke desa dan tetap menjalin komunikasi untuk menstabilkan masyarakat di daratan Tiongkok.

Mereka akan muncul kembali ketika negara dalam kondisi kacau balau dan tidak terkendali.

“Pertempuran di Tuban”

Tahun 2020, merupakan ajang politik demokrasi, peperangan yang dijalankan dengan cara santun dan elegan. Melibatkan tiga “kerajaan” atau tiga kekuatan. Pasukan merah, pasukan kuning, dan pasukan hijau.

Pasukan Hijau merupakan pasukan pemerintah (kekaisaran Tuban) yang tetap akan menjaga stabilitas Tuban berada dalam kendalinya.

Pasukan mereh lain lagi, kekuatan alternatif yang ingin mewarnai Tuban sebagai dunia yang lebih baik dan lebih sempurna dalam perspektifnya. Secara ideologis mereka masih satu jalan dengan pasukan hijau.

Sedangkan pasukan kuning merupakan “musuh utama” bagi penguasa kekaisaran Tuban saat ini. Mereka adalah penguasa lama yang ingin merebut kembali kekuasaannya sepuluh tahun lalu. Dengan segala cara, pasukan kuning sudah siap mengdongkel tahta kekuasaan orang-orang hijau dan menyingkirkannya sebagai pencundang yang ditertawakan.

Bisakah pasukan kuning mengalahkan pasukan hijau yang mendukung penguasa “kekaisaran Tuban” saat ini?   

“Benteng Pasukan Kuning”

Untuk mengalahkan pasukan hijau penguasa dan memenangkan Pilkada Tuban Desember 2020 ini, pasukan Lindra-Riyadi sudah membentuk basis kemenangannya, yakni wilayah distrik Palang dan Semanding.

Kedua kecamatan ini merupakan basis lama pasukan kuning dan menjadi strategi kemenangannya di daerah yang banyak penduduk. Dengan menang di dua distrik ini maka kemungkinan besar menang dalam ajang peperangan politik Pilkada 2020 sangat berpeluang besar.

Dengan kata lain, benteng pasukan Lindra-Riyadi untuk memenangkan Pilkada berada di kawasan Palang dan Semanding. Di kedua daerah inilah pasukan kuning menyiapkan strategi habis-habisan untuk bisa menang dan merebut kursi kekuasaan di bumi wali.

Mendung di Palang. Apa?

Jumat malam sabtu pon, 27 Nopember 2020 terjadi hujan yang sangat lebat di bumi wali. Beberapa daerah langganan banjir tergenang air. Hujan dimulai sore hari dan berakhir pada malam setelah isya’.

Uniknya, pemadaman listrik terjadi di distrik Palang, dimulai dari Gesikharjo hingga Ketambul dan menyebar ke seluruh kawasan lembah gunung Leran. Malam itu, kawasan Palang benar-benar gelap dan mati aktivitas penduduknya.

Basis kekuatan Lindra-Riyadi, benteng utama mereka mengalami mendung yang sangat gelap disertai dengan pemadaman listrik yang sangat lama. Kondisi tersebut mengakibatkan daerah pesisir Tuban itu lumpuh dan tidak normal menjalankan kegiatan malamnya.

Warung-warung buka, namun tidak memiliki pembeli. Toko-toko pada tutup. Masjid sepi, musholla menjadi sunyi, dan jalan-jalan tidak ditemui gerombolan anak-anak santri yang mengaji—sebagaimana biasanya.      

Tanda kekalahan Pasukan Kuning?

Mendung di langit Palang dan kegelapan yang menyertainya, di jumat malam sabtu pon, akankah menjadi kekalahan pasukan kuning yang dipimpin oleh pasangan Lindra-Riyadi? Sebagaimana mendung di benteng pasukan gerombolan sagul kuning dulu di Tiongkok sebelum dihancurkan oleh tentara hijau kaisar?

Akahkah, pasukan hijau yang dipimpin Ana-Anwar mengalahkan mereka dan mengebiri pasukan kuning untuk gagal berkuasa di tanah bumi wali?

Sesuai dengan perhitungan putaran matahari-bulan atas alam semesta, mendung dan pemadaman listrik pada jumat malam sabtu pon itu merupakan bencana bagi kekuatan politik yang ada di kawasan itu. Kegelapan malam itu di Palang—padahal sinar bulan mulai nampak terang—akan menjadi tanda bagi kekalahan pasukan kuning.

Bulan tertutup mendung, hujan mengguyur kota, banjir melanda desa-desa dan listrik mati memadamkan rumah, akan menunjukkan (menjadi tanda) sebuah pesan yang sangat nyata bahwa kekuatan pasukan politik yang berperang di Pilkada Tuban 2020 akan mengalami kekalahan. Ana-Anwar sebagai pasukan hijau Ryu Bi Genteko akan mengalahkan dan mengakhiri kekuatan gerombolan sagul kuning di benteng Palang yang dipimpin oleh Lindra-Riyadi.