Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KONFLIK DI KARANGAGUNG, PIHAK TERGUGAT TIDAK LAGI MEMIKIRKAN AKHLAK DAN AKAL SEHAT

Kiai Zainul Munji (kiri) didampingi istrinya saat ditemui Kaji Kasuwan keesokan harinya pasca penyerbuan rumahnya oleh oknum yang diperintah tergugat kasus penyerobotan aset NU

Mohammad Syihabuddin

Senin 14 Desember 2020, malam pukul 20.30 beberapa orang yang mengaku sebagai perwakilan kelompok tertentu menyerbu secara frontal rumah KH. Zainul Munji yang ada di sebelah timur masjid al-Asyhar. Mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang dengan kondisi kemarahan dan pemahaman yang tidak sama. Ada yang tahu tujuannya dan ada yang hanya ikut-ikutan saja.

Tujuan penyerbuan mereka adalah untuk menemui KH. Zainul Munji dan memaksan dengan segala cara agar proses hukum yang akan menjerat para oknum di lembaga-lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama Karangagung dibatalkan. Mereka dipimpin oleh salah seorang nelayan desa Karangagung Barat, Kartaji.

Pada malam itu kondisi rumah Kiai Zainul Munji tenang-tenang saja, beliau baru pulang dari menghadiri acara tahlil di salah satu rumah warga, istrinya juga sudah santai menikmati malamnya dengan menonton televisi, begitu juga dengan seluruh anggota keluarganya sudah banyak yang bersiap-siap untuk istirahat. Namun alangkah kagetnya keluarga yang tenang itu ketika berbondong-bondong, anak-anak muda dan beberapa orang dewasa menyerbu rumahnya tanpa mengucapkan “assalamu’alaikum” terlebih dahulu, mereka tidak mengucapkan “kulo nuwun”, dan malah ada yang berteriak dengan ucapan yang tidak pantas diucapkan oleh manusia yang berakal.

Mereka juga menyumpahi kiai Zainul Munji—yang hari-harinya dihabiskan dengan memimpin tahlil warga yang meninggal dunia di kawasan Barat Karangagung dan memimpin sholat di masjid al-Asyhar—dengan kata-kata yang sangat jorok.

Kondisi penyerbuan

Melihat kedatangan orang yang bergerombol itu, kontan Nyonya Zainul Munji mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya dan mengajaknya berdiskusi. Beberapa perwakilan dari mereka pun masuk ke rumah yang menghadap ke selatan itu sambal menunjukkan wajah yang penuh kemarahan.

Dialog dengan orang-orang itu berjalan secara kasar, para penyerbu mencacimaki istri Kiai Zainul Munji dengan kalimat-kalimat yang tidak pantas. Mereka sudah tidak lagi menggunakan akal sehatnya dan akhlaknya sebagai seorang muslim ketika sedang bertamu. Kedatangan mereka tidak jelas maksudnya dan tidak mempunyai tujuan yang bisa dibicarakan secara normal.

Melihat kondisi yang demikian itu tentu saja bu nyai Zainul Munji menanggapinya dengan kata-kata yang kasar pula, namun dengan Bahasa yang lebih santun dan cenderung memberikan pencerahan. Bu Mut, begitu beliau disapa oleh warga desa Karangagung menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya terjadi diantara para pendiri Yamasyhar dengan para oknum yang “merusak” aset-aset warga Nahdlatul Ulama Karangagung itu.

Bahwasanya, para sesepuh hanya ingin mempersatukan kondisi yayasan yang terbelah karena adanya dua yayasan yang saling “berperang”. Tidak ada maksdu apa-apa dengan apa yang dilakukan oleh Kiai Zainul Munji dan para sesepuh lainnya. Mereka hanya ingin meluruskan dan menjelaskan kondisi yang seharusnya dan sebenarnya di Yamasyhar.

Mendengar penjelasan tersebut, Kartaji dan Zainal, dua orang yang paling keras “menentang” kiai Zainul Munji pun tidak terima, dan mereka tetap memaksa kiai Zainul Munji, agar membatalkan gugatan yang telah dilayangkan kepada empat orang oknum di lembaga pendidikan Yamasyhar, Imam, Muchibbin, Kartono dan Sumardi.

Tentu saja permintaan tersebut tidak bisa dipenuhi oleh Kiai Zainul Munji, karena urusan yang terjadi di Karangagung ini sudah melalui proses hukum secara sah. Dan hukum tetap harus berjalan sebagaimana seharusnya—sebuah hukum dijalankan di republik ini. Kartaji dan Zainal marah-marah dan mengajak berdebat secara keras dan tidak menggunakan kalimat-kalimat yang santun.

Pada saat itulah datang Syamsul, seorang jama’ah masjid al-Asyhar yang melihat kasus di Karangagung secara jernih. Dia langsung membubarkan para gerombolan yang terprovokasi itu, dan bahkan menantang satu diantara mereka untuk berkelahi secara fisik jika saja ada yang menyakiti kiai Zainul Munji.

Beberapa saat kemudian gerombolan itu pun pergi dan meninggalkan rumah kiai yang sudah sepuh itu sambal menunjukkan wajah yang tidak puas.

Dibalik Penyerbuan itu

Yang menarik dari penyerbuan oleh oknum yang tidak jelas di rumah kiai Zainul Munji ini ada beberapa hal, diantaranya : (1) dilakukan secara bergerombol dan tidak santun, (2) dilakukan dengan kondisi emosional dan temperamental, (3) mendapatkan perintah dari seseorang, (4) dilakukan oleh orang yang mengklaim santri-muslim, dan (5) mengucapkan kata-kata yang kasar.

Jika mereka, para penyerbu ini adalah orang yang baik-baik, atau santri-muslim yang pernah “mengaji” tentu saja mereka akan mendatangi rumah “seorang kiai” dengan cara yang santun dan komunikasi yang baik-baik. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, tentu saja ini bukan lagi mengedepankan akhlak dan akal sehat dalam berkomunikasi menyelesaikan masalah. Mereka justru menunjukkan sikapnya kepada masyarakat sebagai orang yang kurang berpendidikan dan tidak mempunyai akhlak.

Selain itu, mereka yang berkata-kata dengan kasar dan memberanikan diri untuk menyerbu rumah seorang kiai yang dihormati dan disegani di desa Karangagung justru menunjukkan bahwa mereka telah mendapatkan informasi yang salah tentang kondisi “konflik di aset NU Karangagung” yang sebenarnya dan mendapatkan dukungan dari seseorang yang juga merupakan “musuh” dari para pendiri Yamasyhar.

Dan benar adanya, ternyata mereka telah mendapatkan beberapa provokasi dari pihak tergugat dan para oknum guru yang terlibat penyerobotan aset. Provokasi tersebut diantaranya adalah jika para sesepuh yang menang dan Yayasan “penyerobot-palsu” dibekukan maka yang terjadi adalah (1) ada pemecatan guru secara besar-besaran dan pembersihan secara totalitas, (2) gedung madrasah seluruhnya akan dirobohkan, dan (3) beberapa guru akan dipenjarakan.

Ketiga hal inilah yang menjadikan Kartaji dan Zainal berserta para gerombolannya memberanikan diri untuk menyerbu rumah seorang kiai yang menjadi penggugat atas para penggugat. Kartaji marah-marah dan memimpin kelompoknya untuk menekan secara mental dan pikiran Kiai Zainul Munji agar segera membatalkan gugatannya.

Menempis Fitnah

Tentu saja provokasi tersebut hanya sebuah fitnah yang disebarkan oleh para tergugat, yang sudah tidak lagi menggunakan akal sehat, metode musyawarah baik-baik, dan komunikasi yang santun dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menghadang dirinya. Bahkan menurut beberapa informan di jama’ah masjid al-Asyhar pihak tergugat (sudah berani) menggunakan segala cara untuk melawan para kiai sepuh agar kedudukannya untuk “menguasai” aset-aset tetap bisa dipertahankan—sebagai sarana mencari penghidupan.  

Pada saat menemui para penyerbunya, kiai Zainul Munji pun menjelaskan bahwa semua itu tidak benar, yang diinginkan oleh para pendiri dan sesepuh hanyalah “kembalinya lembaga pendidikan al-Asyhar menjadi satu dengan masjid al-Asyhar, sehingga tidak ada lagi perpecahan di Yamasyhar.” Beliau menempis fitnah tersebut dan mengajak berdiskusi secara baik-baik di pengadilan.

Kiai Zainul Munji menjelaskan, bahwa para guru tentu saja tidak mungkin dipecat semua atau dibersihkan dengan dikeluarkan secara tidak terhormat. Mereka akan tetap mengajar sebagaimana semestinya dan anak-anak NU di Karangagung Barat masih bisa belajar dengan nyaman dan baik-baik saja. Hanya empat sampai enam orang saja yang jelas-jelas “harus keluar dari Yamasyhar” karena terlibat langsung adanya perpecahan dan pembentukan yayasan baru. Mereka adalah ibarat duri dalam daging dan akan menjadi “penyakit” di masa depan jika tidak keluar dari Yamasyhar. Adapun bagi guru yang lainnya tetap akan beraktivitas sebagaimana adanya dan akan baik-baik saja.

Demikian pula dengan bangunan madrasah, tidak akan pernah dan upaya perobohan atau penghancuran secara total oleh para sesepuh. Bangunan akan tetap dibiarkan sebagaimana adanya, karena yang membangun dengan jerih payah tenaga-pikiran-uang adalah para sesepuh sendiri. Sehingga mustahil bangunan itu akan dihancurkan.

Adapun terkait masalah lainnya, terutama penyelesaian masalah terhadap empat orang yang menimbulkan konflik yang sudah berjalan dua tahun ini semuanya harus diselesaikan dengan baik-baik sesuai dengan hukum yang berlaku. Hukum yang ada harus menjadi mediator yang efektif untuk membangun relasi kesepakatan diantara dua pihak yang berkonflik sehingga masalah bisa diselesaikan secara legal-formal dengan mengedepankan aturan yang berlaku di negara ini. Dengan kata lain, hasil dari persidangan di Pengadilan Negeri yang dimulai satu minggu lalu harus tetap dijalankan.

Akhirnya …

Mendengar penjelasan kiai Zainul Munji, para penyerbu yang dipimpin oleh Kartaji langsung undur diri dengan muka penuh kekecewaan. Mereka berteriak untuk mendatangi persidangan kedua, atau lebih tepatnya “panggilan kepada pihak tergugat” yang kedua (karena pada panggilan pertama pihak tergugat tidak datang) besok pada hari selasa, 15 Desember di PN Tuban.

Dan menurut rencananya, malam itu mereka akan menyerang ke rumah Kaji Kasuwan di Karangagung tengah dan rumah Pak Sidik yang ada di Karangagung timur. Bagi Kartaji dan teman-temannya yang sudah terprovokasi dengan fitnah yang tidak benar beranggapan bahwa kedua orang itu, selain kiai Zainul Munji adalah orang yang paling berpengaruh dan menentukan untuk “dilumpuhkan”, baik secara mental maupun secara fisik dan pikiran.

Keesokan harinya, salah satu dari gerombolan penyerbu itu ditanya oleh salah satu jama’ah masjid al-Asyhar—yang setia dengan para sesepuh Yamasyhar, apa alasan yang menyebabkan mereka ikut menyerbu rumah kiai Zainal Munji. Dan seorang penyerbu itu menjawab, “Saya tidak tahu apa-apa, hanya sekedar ikut-ikutan saja karena diajak oleh teman saya.”

Hal inilah yang semakin mempertegas bahwa pihak tergugat sudah tidak lagi menggunakan akal sehatnya dan akhlaknya sebagai santri-muslim, tapi justru nafsunya yang dikedepankan dengan menyebarkan kabar yang tidak benar.

Lebih tragisnya lagi, penyerangan dan penyerbuan di rumah kiai Zainul Munji itu justru semakin menguatkan dugaan para jama’ah masjid al-Asyhar bahwa para oknum guru telah memberikan dukungan dan support kepada mereka agar memberanikan diri untuk menyerbu rumah kiai. Karena tidak ada orang yang berani masuk rumah kiai tanpa “kulo nuwun” jika tidak mendapatkan dukungan secara moral dari sosok guru di madrasah “yang telah direbutnya itu”. Ini menjadi kontradiksi dan bencana akhlak bagi warga NU di Karangagung.  Semoga Allah mengampuni mereka—para penyerbu dengan ampunan yang sebaik-baiknya.