Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KEWIRAUSAHAAN SOSIAL; ALTERNATIF MEMBANGUN MASA DEPAN PEMUDA INDONESIA

 Oleh

Siti Fatkhiyatul Jannah

Alumnus Pascasarjana UI, Pegiat Muslimat Millennial

 

Dalam sejarah peradaban bangsa, pemuda merupakan aset bangsa yang sangat mahal dan tak ternilai harganya. Kemajuan atau kehancuran bangsa dan Negara banyak tergantung pada kaum mudanya sebagai agent of change (agen perubahan). Pada setiap perkembangan dan pergantian peradaban selalu ada darah muda yang memeloporinya.

Namun, pemuda Indonesia dewasa ini telah banyak kehilangan jati dirinya, terutama dalam hal wawasan kebangsaan dan patriotisme (cinta tanah air) Indonesia. Oleh karenanya dibutuhkan adanya re-thinking (pemikiran kembali) dan re-inventing (penemuan kembali) dalam nation character building (pembangunan karakter bangsa) bagi pemuda yang berwawasan kebangsaan dan patriotisme untuk menemukan kembali jati diri bangsa.

Pemuda; Subyek Pembangunan

Subyek yang menjadi sasaran pembangunan kepemudaan di Indonesia meliputi:

Pertama, Individu, yaitu generasi muda yang berusia 18-35 tahun yang belum berada dalam wadah kegiatan kelompok kepemudaan dan organisasi kepemudaan.

Kedua, Kelompok yaitu setiap pemuda yang berada dalam kelompok bakat, minat dan kepentingan lainnya.

Ketiga, Lembaga, yaitu setiap pemuda yang berada dalam organisasi pemuda yang bersifat struktural dan memiliki kepengurusan berjenjang dengan regulasi yang tertib dan teratur.

Untuk dapat mengembalikan tergerusnya jati diri pemuda Indonesia menjadi warga negara seutuhnya yang memiliki wawasan kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia, strategi pencapaian yang harsu dilakukan adalah:

Pertama, Menata kelembagaan pemberdayaan dan perlindungan pemuda yang didukung sumber daya manusia professional dan berintegritas tinggi.

Kedua, Menata sumber daya pemuda yang efektif dan efisien.

Ketiga, Mengembangkan kultur organisasi kepemudaan yang sehat dan demokratis.

Keempat, Membangkitkan partisipasi masyarakat dalam membangun pemuda secara merata di seluruh Indonesia.

Kelima, Menguatkan koordinasi organisasi kepemudaan dan sinergi sumber daya terkait.

Keenam, Menyediakan infrastruktur pemberdayaan pemuda yang memadai.

Ketujuh, Menciptakan sistem penghargaan bagi pemuda yang berprestasi.

Kedelapan, Meluncurkan program yang dapat melindungi pemuda Indonesia dari pengaruh destruktif seperti narkoba, anarkisme, pergaulan bebas dan sebagainya.

Problematika Sosial

Masalah sosial utama yang terjadi di Indonesia antara lain: pengangguran, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut tentunya akan mengganggu pembangunan dan stabilitas nasional. Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah suatu solusi nyata yang dapat membantu mengatasi permasalahan di atas. Salah satu solusi tersebut adalah dengan meningkatkan semangat kewirausahaan pada setiap individu yang ada di masyarakat, terutama pemuda sebagai tulang punggung bangsa, diantaranya adalah melalui pengembangan kewirausahaan sosial.

Perhatian kewirausahaan sosial secara global mendapatkan momentumnya ketika Muhammad Yunus mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian 2006 karena memelopori pengembangan kredit mikro dan bisnis sosial (Grameen Bank). Gairah kewirausahaan sosial di Indonesia mulai tumbuh, hal ini ditandai dengan maraknya seminar/lokakarya/tentang kewirausahaan sosial, berdirinya pusat studi kewirausahaan sosial di beberapa kampus, dan terbentuknya Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) pada tanggal 16 November 2009.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa banyak pihak yang meyakini bahwa kewirausahaan sosial merupakan salah satu solusi yang sangat diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah sosial di Indonesia.

Kewirausahaan Sosial; Jalan Membangun Masa Depan

Bill Drayton (pendiri Ashoka Foundation) selaku penggagas kewirausahaan sosial menegaskan bahwa ada dua hal kunci dalam kewirausahaan sosial.

Pertama, adanya inovasi sosial yang mampu mengubah sistem yang ada di masyarakat.

Kedua, hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa wirausaha (entrepreneurial), dan beretika di belakang gagasan inovatif tersebut. Hulgard (2010) merangkum definisi kewirausahaan sosial dengan lebih komprehensif: “Social entrepreneurship can be defined as “the creation of a social value that is produced in collaboration with people and organization from the civil society who are engaged in social innovations that usually imply an economic activity” Definisi komprehensif di atas memberikan pemahaman bahwa kewirausahaan sosial terdiri dari empat elemen utama yakni social value, civil society, innovation, and economic activity.

  1. Social Value. Ini merupakan elemen paling khas dari kewirausahaan sosial yakni menciptakan manfaat sosial yang nyata bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
  2. Civil Society. Kewirausahaan sosial pada umumnya berasal dari inisiatif dan partisipasi masyarakat sipil dengan mengoptimalkan modal sosial yang ada di masyarakat.
  3. Kewirausahaan sosial memecahkan masalah sosial dengan cara-cara inovatif antara lain dengan memadukan kearifan lokal dan inovasi sosial.
  4. Economic Activity. Kewirausahaan sosial yang berhasil pada umumnya dengan menyeimbangkan antara antara aktivitas sosial dan aktivitas bisnis. Aktivitas bisnis/ekonomi dikembangkan untuk menjamin kemandirian dan keberlanjutan misi sosial organisasi.

Penutup

Dengan demikian mengfungsikan kewirausahaan sosial merupakan jalan alternatif yang cocok untuk membangun masa depan pemuda Indonesia guna menghadapi tantangan masa depan bangsa yang tidak menentu.  Dengan menerapkan sekaligus mengfungsikan elemen kewirausahaan itu maka kemungkinan besar peluang pemuda Indonesia untuk bersaing dengan generasi bangsa lain bisa disejajarkan.