Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KETUPAT NISFU SYA’BAN, PERADABAN ISLAM DAN JALAN MENUJU KESUCIAN IBADAH

oleh : IMAM ARETATOLLAH

Ketupat merupakan khasah kebudayaan Nusantara yang di buat oleh para sesepuh. Kebiasaan ini di buat bukan tanpa makna dan tujuan, tetapi penuh sarat akan perjalanan hidup manusia sebagai hamba dan sebagai makhluk sosial.

Dalam setahun Orang Indonesia khususnya Jawa biasa membuat ketupat dua kali. Pertama kupatan yang di adakan pada pertengahan bulan sya’ban dan tujuh hari pada bulan Syawal atau sering di sebut riyoyo kupat.

Pada kedua bulan tersebut orang-orang biasa membuat ketupat untuk di keluarkan di langgar atau masjid setempat, setelah itu ketupat di ‘bancak’ dan di makan bersama sama.

Di samping ada nilai sedekah, didalamnya  juga terdapat nilai kebersamaan antar sesama, dimana antara yang miskin dan kaya kumpul menjadi satu, makan bersama, bergurau dan tidak ada sekat perbedaan. Inilah kearifan lokal yang harus selalu di lestarikan oleh bangsa ini.

Bahan membuat ketupat adalah janur kuning yang di bentuk persegi empat, setelah itu ketupat di isi beras lalu di godok dalam panci yang di taruh di atas api. Dari proses inilah ketupat akan siap saji dan siap di hidangkan menjadi makanan yang mengenyangkan.

Pertanyaannya kenapa harus ketupat ? Kenapa harus ribet menyulam janur berbentuk persegi empat? Kenapa tidak lontong saja yang cara buatnya lebih mudah? Kenapa juga harus pertengahan bulan sya’ban dan tujuh hari di bulan Syawal? Ada-ada aja budaya seperti ini.

Sudah menjadi keniscayaan kalau bulan puasa adalah bulan suci, bulan penuh berkah, penuh ampunan dan bulan penuh keutamaan. Di bulan ini para setan di belenggu dan pintu surga di buka bagi hamba yang mau menjalankan ibadah dengan ikhlas. Di bulan inilah seluruh Rahmad Tuhan di tumpahkan di dunia sehingga hanya Dia saja yang tahu berapa besar pahala yang di anugerahkan pada setiap insan.

Maka untuk menghadapi bulan yang suci sekiranya manusia harus mempersiapkan dirinya, dhohir dan batinnya penuh dengan kesucian pula. Seperti halnya janur ‘sejatine nur’, manusia harus memasukkan cahaya ke-Tuhan-an dalam qolbunya sehingga ruhanianya memancarkan cahaya kehidupan,  cahaya kekuningan bak sinar mentari di pagi hari.

Di bulan Ramadhan manusia juga harus mampu mengendalikan empat elemen dan empat nafsu dalam dirinya yaitu nafsu Mutmainnah (kebaikan), ammarah (pemarah), sufiah (gumedeh) dan nafsu lawwamah (rakus). Ke-empat nafsu dalam diri manusia ini haruslah selalu berpegangan dengan Nur dari persegi yang ada pada sisi ketupat.

Sedangkan beras adalah sumber kehidupan manusia. Disinilah beras harus di masukkan ke dalam ruang kosong ketupat, di masukkan lagi dalam panci besar dan di taruh di atas perapian setelah itu baru ketupat dapat di hidangkan dan bisa mengenyangkan.

Begitu pun kita, untuk memasukkan Nur ke dalam diri maka kita harus masuk ke dalam ruang hampa yang di liputi oleh cahaya, berdiam diri beberapa massa untuk menghambah, sedang nafsu kita sandarkan pada sisiNya, dengan cara seperti inilah kita akan menjadi insan Kamil, insan yang selalu berada dalam bimbinganNya.

Di sinilah pelajaran para leluhur kita mengenai ketupat. Bukan hanya sekedar sedekah dan kumpul dengan sesama tapi lebih dari itu, kupatan adalah  mempersiapkan diri kita menyambut ridho Tuhan.

Semoga nisfu sya’ban ini menjadi persiapan menuju jalan RidhoNya…

Selasa 7 April 2020 / 14 sya’ban di rumah Ngaglig