Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

AVENGER INFINITY WAR-ENDGAME (2): KETIDAKBERDAYAAN DEWA DIHADAPAN BENCANA ALAM SEMESTA

oleh : Moh. Syihabuddin

Avenger infinity war dan end game sebagai film puncak pengabdian kepada satanis memberikan gambaran yang jelas tentang ketidakberdayaan sosok dewa perkasa dihadapan alam semesta. Dewa, yang dianggap representasi dari perwakilan “agama” telah gagal memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Hal itulah yang ingin ditampilkan marvel kepada publik tentang “matinya tuhan” sebagaimana yang telah disabdakan oleh Frederick Nietszche.

Adalah Thor dan adiknya, Loki serta seluruh panglima Asgard yang merupakan representasi dari dewa-dewa perkasa di jagat marvel. Dalam tradisi dan kebudayaan bangsa Nordic mereka adalah dewa-dewa yang disembah oleh kaum pagan di negara-negara kawasan semenajung Skandinavia dan juga bangsa Jermanik yang mendiami seluruh daratan Jerman Utara. Terutama Thor, dia adalah wujud dari pada keperkasaan, teladan bagi para ksatria di medan perang, pelindung bagi para ksatria di garis depan, dan pelindung bagi jalan menuju valhala (surga).

Pada zaman kekuasaan Jerman-Nazi di eropa deretan dewa-dewa Nordic mulai dari Thor, Loki, Hela dan juga ayahnya, Odin pernah menjadi bentuk kiblat penyembahan dan ritual mereka untuk menjadi bangsa yang terpilih, ras unggul Arya utara yang masih tersisa. Walhasil, Thor dihidupkan dalam kisah marvel menjadi perwakilan dari sosok jawara yang memiliki kekuatan dewa, dan merupakan dewa itu sendiri. Sekaligus menghidupkan kembali perwujudan dari dewa-dewa tersebut.

Namun dewa, yang dianggap sebagai kekuatan dan pelindung para pemeluk agama atau kepercayaan ber-tuhan diawal cerita infinity war sudah babak belur. Seolah kekuatan dewa tidak berarti apa-apa jika dihadapkan pada kekuatan natural alam, atau makhluk lain yang setara diseantero galaksi alam semesta. Loki dibunuh dengan sadis, Thor disiksa dan dianiaya hingga tidak berdaya. Harga dirinya sebagai dewa keberanian yang mempunyai kekuatan petir tidak berarti apa-apa untuk melindungi bangsanya sendiri, bangsa Asgard. Seluruh Asgardian musnah dan terbunuh tanpa tersisa di tangan Thanos.

Pun demikian diakhir cerita infinity war, Thor yang sudah kembali dengan kekuatan yang penuh, senjata baru kapak petir dan energi baru yang diperoleh dari alam semesta tetap menjadikan sosok Thor tidak menjadi pemecah masalah dalam menghadapi bencana alam semesta yang dikobarkan oleh Thanos.

Dengan kekuatan yang dimilikinya Thor dengan beringas dan ganas memporakporandakan seluruh pasukan Thanos dan menghancurkan armadanya tanpa tersisa. Thor pun berhasil menusuk Thanos dengan kapaknya dan seolah berhasil melukai dan membunuh Thanos.

Alih-alih terbunuh Thanos mengucapkan kata terakhir yang menunjukkan kegagalan Thor dalam menghalangi misinya untuk memusnahkan separoh penduduk galaksi alam semesta. “Seharusnya kamu memenggal kepalaku” kata Thanos. Dan Thanos menjentikkan jarinya, habislah separoh penduduk alam semesta dan kelihatan bingung dan kelihatan pula kebodohannya dalam menyelesaikan masalah dunia.

Jelas, bahwa sebagai jawara terkuat dengan kekuatan dewa-pun Thor tidak bisa mencegah petaka dan bencana alam semesta yang menunjukkan pula ketidakmampuan sosok dewa dalam menghadapi takdir alam semesta.

Dalam infinity war, diawal pembukaan dan diakhir penutupan film sosok dewa petir Thor terlihat tidak berdaya dan secara ideologis dilucuti keperkasaannya oleh marvel yang mengabdi kepada satanis.

***

Pada end game kembali Thor terlihat bodoh dan kurang dalam perhitungan untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur terjadi. Dengan sangat ceroboh dan sangat gegabah Thor langsung memenggal kepala Thanos, sebagaimana yang diucapkan dipertempuran di kerajaan wakanda, di infinity war. Dan apa yang dilakukan oleh Thor itu tidak menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur terjadi itu. Separoh dunia di seluruh galaksi tetap hilang dan tidak mengembalikan keadaan.

Dalam perjalanannya pasca bencana dan pembunuhannya terhadap Thanos, Thor menjadi dewa yang traumatik dan hidup dengan para dewa-dewa lainnya yang ditemuinya di film Thor; Ragnarok. Thor sedih, penampilannya tidak terurus, hidupnya kacau, berteman dengan minuman keras, dan tidak lagi menampilan pangeran Asgard yang perkasa.

Dua kali Thor telah membunuh Thanos dengan tangannya, menusuk dadanya sekaligus juga memenggal kepalanya, dan itu bukan merupakan solusi untuk mencegah bencana alam semesta. Thor sebagai dewa gagal dalam memberikan solusi bagi datangnya bencana yang ditimbulkan oleh makhluk lain.

Di akhir cerita juga sama, bersama Ironman dan Captain America, Thor bertarung mati-matian mengeroyok Thanos yang datang dari masa lampau dengan kekuatan yang penuh. Thanos ini lebih kuat dan lebih perkasa, kekuatan alaminya sendiri merupakan wujud dari dewa kejahatan alam semesta di seluruh galaksi. Thor yang sudah gendut, berjanggut dan rambut tak terawat mulai terlihat lemah dan tidak lagi perkasa seperti di zaman mudanya.

Dalam pengeroyokan tersebut Thor tidak mampu mengalahkan Thanos, dia terlihat lemah dan tidak berdaya menghadapi pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Thanos. Bahkan diapun berdarah dan terluka sehingga semakin menampilkan sosok dewa yang lemah.

Bahkan dalam menjentikkan jari sambil menggunakan tangan batu infinity saja Thor tidak bisa dan tidak mampu, padahal itulah solusi yang bisa mengalahkan Thanos dan menghancurkan seluruh pasukannya. Alih-alih seorang dewa yang terkuat dan perkasa sekelas Thor, Ironman adalah solusi dan yang bisa mengalahkan Thanos dengan pengorbanannya, dimana Ironman bukanlah seorang dewa, tapi manusia biasa yang mempunyai penguasaan terhadap sains dan tehnologi (buatan manusia).

***

Penggambaran terhadap kelemahan dewa-dewa yang merupakan kepercayaan kuno bagi seluruh umat beragama, atau manusia yang bertuhan merupakan puncak dari pada penampilan marvel untuk menunjukkan kepada publik bahwa dewa atau tuhan itu tidak ada. Mereka, para dewa-dewa yang dulu dianggap sebagai pelindung manusia beragama adalah makhluk luar angkasa biasa layaknya manusia di bumi seperti kita. Sehingga bentuk penyembahan terhadap mereka dianggap salah dan tidak solutif.

Pemikiran ini sejalan dengan para peneliti dibidang kajian agama-agama (di Barat) yang melihat tradisi-tradisi masyarakat kuno, mulai dari totem, piramida, spink, kuil-kuil dan api-api suci tidak lain merupakan wujud ketakutan manusia yang melihat penampakan kekuatan dasyat dari planet lain, yakni para alien yang dulu pernah datang ke bumi dan oleh makhluk bumi dipertuhankan. Para alien yang dipertuhankan oleh masyarakat beragama inilah yang dianggap dewa-dewa yang bisa menjadi pelipur lara bagi manusia dalam menjalani hidup.

Sehingga tidak salah jika kemudian, marvel yang merupakan bagian dari misi penghilangan agama di kehidupan masyarakat modern melalui film akan terus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kenyakinan beragama (termasuk Islam, Kristen, Hindu, dan lain-lain) dan menggantikannya dengan kenyakinan saintis atau aliran naturalis yang atheistik (tidak ber-Tuhan).