Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KERUSAKAN NYATA DI DARATAN DAN DI LAUTAN

Ilustrasi ruang waktu yang tak terbatas, dari musium tiga zaman di Bunga-Gresik.

oleh : Mohammad Syihabuddin

(Kakek Guru Kami) Sayyidinah Abu Bakar ash-Shiddiq menjelaskan mengenahi firman Allah “telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan”. daratan adalah lisan (ucapan), sedangkan lautan adalah hati.

Kerusakan di daratan merupakan kerusakan lisan yang diwujudkan dengan kerusakan dalam ucapan, kerusakan dalam berucap atau berkata-kata. Ucapan yang menimbulkan kebencian, kemarahan, penghasutan, permusuhan dan penghinaan merupakan bentuk nyata dari kerusakan di daratan yang ditempat tinggali manusia, yang tidak lain merupakan kerusakan manusia dari sisi dzahir-nya itu sendiri.

Sedangkan kerusakan di lautan merupakan kerusakan hati yang diwujudkan dengan sifat-sifat buruk dalam hati. Misalnya, pamer dalam ibadah (tidak untuk Allah), pendendam, selalu ingin kaya, hatinya terpaut pada kekayaan, hatinya kosong dan jauh dari ingat pada Allah, tidak pernah berdzikir, suka pada kesenangan, dengki, iri hati dan sebagainya, yang semuanya itu tidak lain merupakan kerusakan pada sisi batin-nya manusia itu sendiri.

Sama-sama menimbulkan kerusakan

Lautan lebih luas dari pada daratan, sehingga kerusakan di lautan lebih berbahaya dari pada kerusakan di daratan. Yang artinya, kerusakan hati jauh lebih berbahaya dari pada kerusakan lisan, kendati keduanya sama-sama menimbulkan kerusakan yang parah.

Kerusakan di daratan akan menimbulkan bencana-bencana seperti banjir, gempa bumi, kebakaran, tanah longsor, kecelakaan antar kendaraan dan seterusnya. Kerusakan ini cenderung masih bisa (ada peluang) diperbaiki dengan upaya dan usaha manusia, yakni dengan tehnologi ciptaannya.

Sedangkan kerusakan di lautan akan menimbulkan ombak tsunami, naiknya air laut yang menenggelamkan daratan, matinya ekosistem lautan, dan seterusnya yang jauh lebih mengancam kehidupan manusia dari pada kerusakan di daratan, yang semuanya itu berat dan lebih susah untuk diperbaiki dengan tehnologi manusia.

Tangisan dari Rusaknya Lisan dan Hati

Lisan yang rusak akan menjadikan manusia menangis, dalam arti menyebabkan kebencian antar manusia, saling bermusuhan dan tidak adanya ketentraman dalam hubungan pertemanan, kekeluargaan, di tempat kerja atau dalam perjuangan.

Sedangkan hati yang rusak akan menjadikan malaikat (di langit maupun di bumi) menangis yang menyebabkan malaikat tidak mendoakan manusia untuk kebaikannya dan bahkan memberikan (malah akan) mendoakan keburukan kepada manusia.    

Lisan yang Satu

Para ahli hikmah, dalam kitab nashoihul ‘ibad mengatakan bahwa adanya lisan yang satu dan telingan-mata serta tangan-kaki yang dua menunjukkan bahwa lisan atau bibir harus lebih dijaga dalam melakukan kegiatannya (berkata-kata).

Lisan harus lebih banyak diam, tidak banyak berkata-kata, tidak mengumbar omongan, tidak serampangan dalam berpendapat dan tidak suka mengumbar pembicaraan.

Semua manusianya hendaknya menjaga lisannya agar apa yang keluar darinya hanya (kalimat-kalimat) kebaikan dan sesuatu (nasehat) yang bermanfaat saja.

Mencegah kerusakan lisan

Lisan harus dijaga dari kerusakannya, yakni dengan cara menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata yang tidak berguna.

Lisan baru berkata hanya jika sedang mendiskusikan sesuatu yang penting, bermanfaat dan berguna bagi kehidupa. Seperti mendiskusikan keilmuan, urusan ibadah dan kepentingan umat manusia. Akan tetapi sesuatu yang paling berguna yang harus keluar dari lisan setiap manusia adalah dzikir menyebut nama Allah.

Hati juga harus dijaga dari kerusakan, yakni dengan cara menahan diri dari sifat-sifat yang merusak hati, seperti dendam, iri hati, dengki, benci, dan seterusnya.

Metode yang paling “cangggih” dan paling tua dalam mencegah hati dari kerusakan adalah dzikir siir atau rahasia, yang hanya diucapakan oleh hati dengan metode yang diwariskan oleh Rasulullah. Hanya dengan cara inilah hati baru memungkinkan terjaga dari kerusakannya.

Wujud lain kerusakan lisan dan Hati

Kerusakan hati dan kerusakan lisan dewasa ini (di abad 21 M.) bisa diwujudkan dengan bentuk yang paling ‘abadi’ dan lebih menyakitkan bagi manusia lainnya, yaitu dalam bentuk tulisan.

Perkembangan tehnologi internet yang melahirkan website, facebook, watshapp, Instagram, twitter dan seterusnya membuka ruang-ruang baru bagi keluasan lisan dan hati untuk menyatu (fusion) dalam bentuk tulisan.

Tulisan merupakan cermin nyata dari penyatuan lisan dan hati. Tulisan menjadi bentuk lain dari penyatuan lisan dan hati yang menyatu dalam sebuah huruf-huruf, sehingga orang yang membaca suatu tulisan akan tahu bentuk dan produk dari apa yang ada di dalam hati dan apa yang keluar dari lisan.

Jika ada tulisan-tulisan yang menimbulkan kebencian, kemarahan, dan rasa dendam serta kegaduan di masyarakat maka tulisan itu tidak lain merupakan wujud nyata dari kerusakan di daratan dan kerusakan di lautan. Maka, menulislah sesuatu yang bermanfaat dan berguna saja, agar orang lain bisa memperoleh sesuatu yang penting darinya, terutama pada permasalahan agamanya dan hubungannya dengan Tuhannya.