Kepemilikan Motor Meningkat, Mematikan Angkutan Umum Perkotaan dan Perdesaan

Kendaraan jenis colt di jalur Tuban-Paciran semakin hari semakin berkurang dan tidak diminati oleh masyarakat, karena masyarakat semakin dimanjakan dengan "pinjaman lunak" untuk memiliki sepeda motor yang lebih murah dibandingkan terus menerus naik angkutan umum. Walaupun dianggap sebagai biang kemacetan, kepemilikan motor di desa belum sepenuhnya membuat jalanan macet total.

kitasama.or.id – Perkembangan media transportasi dan komunikasi dewasa ini telah melampaui zamannya, mengubah landscap perkotaan dan perdesaan, mengacak-acak perilaku sosial masyarakat, dan tergerusnya tradisi lama berubah menjadi tradisi baru. Terutama perkembangan transportasi, yang disertai dengan kemudahan “jalur pinjaman lunak” mendorong terciptanya penggunaan ragam kendaraan bermotor yang massif di tengah masyarakat.

Fakta inilah yang menunjang dunia otomotif mampu berkembang sangat pesat di banyak negara—termasuk Indonesia karena efek dari pasar global. Akibatnya pun beragam, mulai lahir aneka ragam kendaraan bermotor yang menghasilkan banyak inovasi pembaharuan, adaptasi kebutuhan masyarakat yang semakin intensif dan juga aneka jenis nama dan peningkatan kualitas yang terus ditingkatkan.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini tidak hanya terjadi di perkotaan saja, tapi sudah memasuki seluruh wilayah desa-perkotaan dan desa-pedalaman. Di Tuban, hampir dipastikan setiap rumah tangga mempunyai satu sepeda motor yang diparkit dirumahnya, yang dimiliki sebagai alat transportasi yang mudah dan gampang untuk digunakan.

Sepeda motor menjadi pilihan yang tepat untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk  menjalankan aktivitasnya sehari-haris sekaligus menunjang kegiatan ekonominya.

Pertumbuhan kepemilikan sepeda motor semakin hari semakin meningkat, berbagai model terbaru telah dikeluarkan oleh pihak dealer dan showroom, memberikan pelayanan mudah untuk membelinya dengan system cicilan, serta menunjang setiap orang untuk bisa mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan mobilitasnya.

Keberadaan sepeda motor di kabupaten Tuban—bahkan di seluruh Jawa Timur semakin meningkat dengan semakin sepinya menunpang yang menaiki angkutan umum perdesaan atau perkotaan. Banyak angkutan umum yang sudah dipensiunkan, mulai rusak karena jarang terpakai dan sudah kehilangan pelanggan yang beralih pada kredit murah-mudah-ringan motor beragam merek.

Angkutan Tuban-Paciran yang melayani jalur Tuban bagian Timur-Utara, jalur yang paling ramai dan ekonominya paling tumbuh, mulai satu persatu kehilangan pelanggan. Tidak ada lagi para penumpang yang menunggu di jalan, duduk santai di halte-halte “dadakan” di setiap kampung ramai, dan mulai sepinya penunmpang di perapatan atau pertigaan yang “legendaris”.

Selain karena peralihan para pedagang pada mode transportasi bajaj roda tiga—untuk mengangkut dagangannya, orang-orang kampung sekitar jalur Tuban-Paciran juga sudah mempunyai motor sendiri yang diperolehnya dari metode pembelian cicilan dengan kerjasama lembaga keuangan yang tersedia. Praktis orang-orang malas untuk naik colt angkutan umum dan lebih cenderung mengisi bensin di motornya.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa jumlah pemiliki kendaraan bermotor semakin meningkat drastis, dari hari perharinya setiap orang melakukan pembelian satu sepeda motor di dealer atau showroom sehingga memungkinkan mereka untuk “meninggalkan angkutan umum” yang sudah “layak” untuk ditinggalkan—karena kualitas kendaraannya yang sudah menurun dan faslitasnya tidak lagi menunjang kenyamanan penumpang, seperti ketiadaan AC, tempat duduk yang tidak nyaman dan system pembayaran yang masih kuno (cash atau kontan).

Meningkatnya jumlah motor tentunya akan menghasilkan jumlah kebutuhan perbaikan motor yang semakin banyak. Para pemilik motor pasti menginginkan adanya usaha yang “membantu memperbaiki” motor yang kebetulan rusak atau memerlukan peningkatan pemakaian. Artinya, orang dengan keahlian service sepeda motor semakin dibutuhkan dan jumlahnya juga “diharapkan” terus memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pos terkait