Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KELAHIRAN JANISSARI, PASUKAN ELIT KESULTANAN UTSMANI

LIma Janisari Jerman Jawara Kitasama, Karya Kawakib Murdiono

Oleh : 

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama Stiftung

 

Diawal kesultanan Usmani mulai berkembang dan masuk ke jantung wilayah Byzantium, sultan mulai menetapkan sebuah kota taklukan sebagai ibukota, terpililah Edirne (Andrianapolis) sebagai ibu kota pertama yang telah direbut oleh sultan Murad I (1362-1389).

Kondisi itu menyebabkan Ustmani tidak lagi memimpin di atas punggung kuda layaknya para nomaden, tapi mulai menata kehidupan urban dan metropolis. Peperangan yang melibatkan musuh-musuh dari Turki Karaman, kelompok Syi’ah Safawiyah, kekaisaran Byzantium, dan kerajaan Hungaria terus berjalan. Dan persiapan untuk melakukan pertahanan dan penyerangan pun terus dilakukan.[1]

Ustmani Membutuhkan Pasukan Elit

Menyadari atas kemajuan yang telah dicapai, kesultanan Ustmani segera memikirkan cara yang paling efektif untuk menguatkan kekuasaannya diberbagai sektor pemerintahannya, khususnya pada bidang militer. Seperti halnya yang dilakukan penguasa Umayah dan Abbasiyah terdahulu, yang mengadopsi gaya rekrutmen tentara ala Sasania Persia, kesultanan Ustmani juga mengembangkan bentuk rekrutmen yang dimodernkan dan diperbarui dengan tradisi yang lebih beradab.

Sebagaimana mamluk, para tentara Ustmani sebagian besar merupakan budak tawanan perang yang kalah, dan mendapatkan pelayanan untuk memberikan layanan terhadap sultan. Jika pada awal pembentukan kerajaan ini masih mengandalkan sumberdaya Turki, maka dimasa-masa selanjutnya sultan mulai menengok legiun asing yang terampil dan masih muda.[2]

Untuk memenuhi kebutuhan itu, para pemegang timar harus menyiapkan pasukan kavaleri Sipahi dengan jumlah yang besar. Cara ini sungguh efektif, karena disamping memberikan keleluasaan para bawahannya di tiap sanjaksanjak, kebutuhan sultan akan tentara terus terjamin. Dan tiap ekspedisi pertempuran selalu hadir dengan motivasi pembagian tanah garapan baru.

Akan tetapi cara ini cenderung membuat sultan kesulitan untuk mengendalikan secara penuh. Karena para pemegang timar lambat laun kurang banyak menyediakan pasukan dengan skala besar. Padahal kebutuhan akan budak di negeri Ustmani semakin lama semakin meningkat.

Selain untuk memenuhi kebutuhan penanganan administrasi pemerintahan, kebutuhan tentara menjadi hal yang paling urgen untuk menguatkan posisi kekaisaran. Para budak ini banyak dipekerjakan disektor-sektor sipil dan juga sektor militer.

Dan dalam perjalanannya yang lebih stabil, sebagian besar telah menduduki posisi penting dan terhormat dikalangan kerajaan. Diantara mereka telah menjadi Aga, penasehat sultan, dan bahkan wazir.

Janissari Menggantikan Tentara Feodal Yang Enggan Berperang

Melihat banyaknya para anak-anak korban perang dan budak-budak yang berdatangan dari wilayah taklukan, sultan berfikir untuk mengumpulkan mereka dan membentuk pasukan elit khusus pengawal sultan. Mereka berbeda dengan tentara semi feodal (Sipahi, Akinji dan Yayas) yang menerima bayaran dari hasil pembagian tanah garapan, karena gaji mereka langsung datang dari sultan yang mengumpulkan pajak dari seluruh provinsi.

Jika para tentara semi feodal akan pulang kampung pasca pertempuran, atau enggan bergabung dengan sultan dalam suatu agenda perang karena alasan panen, maka pasukan baru ini tetap bersama sultan dan akan menemani sultan kemana pun dan kapan pun. pasukan baru ini terkenal dengan sebutan Pasukan-pasukan baru, atau Janissari.

Nama Janissari merupakan anjuran dari seorang ulama yang sangat berpengaruh waktu itu di zaman Orchan berkuasa, Haji Baktasy.

“Lahirnya” Bendera Merah Bulan Sabit

Setelah diminta doa oleh sultan Orchan untuk memberikan berkah atas tentara baru itu, ia menganjurkan agar tentara tersebut diberi nama Yani Tasyri (dipelesetkan oleh logat Inggris menjadi Janissary, atau Yeni Ceri; Turki dan al-Inkisyari; Arab) yang berarti tentara baru (ash-Shalabi, 2011:51).[3]

Saudara sultan Orchan, Alauddin mengusulkan panji-panji bagi pasukan baru itu, bendera warna merah dengan gambar bulan sabit warna putih di tengah-tengahnya.

Dibawah bulan sabit terdapat sebuah pedang—dzul fikr. Dan hingga kini bendera itu telah menjadi bendera Republik Turki Modern.[4]

[1] Tamim Anshari. Dari Puncak Baghdad. (Jakarta: Serambi. 2010) 286.

[2] Collin Imber. Kerajaan Ottoman: Struktur Kekuasaan sebuah Kerajaan Islam terkuat dalam sejarah (Jakarta: Elex Media Komputindo. 2012) 183.

[3] Ali Muhammad Ash-Shalabi. Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah. (Jakarta: Pustaka Kautsar. 2011) 51.

[4] Ibid, 52.