Kehilangan kader-kader Potensial; Ancaman Serius bagi Warga Nahdliyin

Generasi muda nahdliyin yang duduk di madrasah tingkat ibtidaiyah memerlukan perlakuan khusus yang diperkenalkan pada keilmuan saintis dan keislaman nahdliyin.

Orang-orang NU sudah tidak memiliki lagi identitas khusus, beberapa kader-kader mudanya, anak-anak muda yang lahir dan tumbuh dikalangan keluarga nahdliyin, dan para pelajar berprestasi yang sekolah di lembaga-lembaga berkualitas mulai “kehilangan” tradisi dan keilmuan yang dijaga dan dipelihara oleh warga nahdliyin. Mereka tidak lagi mengamalkan dan melaksanakan amalia-amalia yang diajarkan oleh para kiai pesantren.

Dunia benar-benar telah berubah, perkembangan tehnologi digital merusak dan membenamkan peran-peran sentral yang dimiliki oleh warga nahdliyin untuk membina generasi muda muslim di perdesaan. Dunia Pendidikan mulai terjepit dengan pengarusutamaan materi-materi non-keislaman, yang semakin mendorong hilangnya peran-peran materi amalia-amalia keislaman ala nahdliyin.  

Bacaan Lainnya

Sudah menjadi pemandangan umum (baik di desa maupun di perkotaan) jika generasi muda “yang lahir dari lingkungan nahdliyin” tidak lagi memperhatikan—apalagi hafal dan mengamalkan—doa qunut, tahlilan, manaqiban, yasinan, dziba’an, dan sejenisnya sebagai amalianya. Padahal tradisi-tradisi keislaman tersebut merupakan kunci bagi terbentuknya karakter-karakter pembangunan mental bagi generasi muda.

Seolah “tidak penting” dan “tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman” tradisi dan amalia nahdliyin tidak perlu lagi di amalkan oleh generasi muda milenial, Gen-Z dan Gen A+. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di warung kopi bermain game online dibandingkan memakmurkan masjid dengan dzibaan dan bacaan manaqib.

Ketika menghadiri acara-acara yang melibatkan tradisi amalia nahdliyin pun generasi muda sekarang hanya “ikut saja” dan tidak tahu apa yang seharusnya dan bagaimana semuanya itu diamalkan dengan baik. “asalkan terlihat” itu sudah baik, karena tradisi amalia nahdliyin tidak bisa menghasilkan kemakmuran dan kekayaan yang cepat bagi generasi muda.

Memulai Segalanya Lagi dari Madrasah

Jalan pendidikan merupakan jalan yang paling ideal untuk membentuk karakter generasi muda. Melalui suatu institusi Pendidikan anak-anak muda bisa mendapatkan pengalaman untuk menyerap wawasan dan menerima pengetahuan, serta mendapatkan lingkungan yang lebih positif dibandingkan diluar pendidikan.

Pada konteks itulah, pada zaman yang tidak muda lagi ini tentu menjadi tantangan yang berat bagi warga nahdliyin—kalangan santri di dalam mengelolah Lembaga satuan Pendidikan NU—yang dikelolahnya, yang mendapatkan tuntutan untuk melakukan sebuah keharusan “mampu melahirkan generasi-generasi yang mampu mengikuti perubahan zaman” sekaligus memegang teguh tradisi dan amaliyah-amaliyah warga nahdliyin.

Tantangan digitalisasi tehnologi memberikan pisau bermata dua yang bisa merusak model Pendidikan ala nahdliyin atau sebaliknya menjadi penunjang model Pendidikan yang diterapkannya itu. Karena perubahan tiap zaman adalah sebuah keniscayaan dan menjadi modal untuk mengikuti zaman atau kehancuran peradaban.

Mengelolah madrasah setingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah tidaklah cukup harus menekankan kewajiban “mengikuti negara” dengan menerapkan materi-materi ala kurikulum kementrian agama saja, namun harus disertai oleh “masih melekatnya” materi-materi keislaman ala nahdliyin dan ke-aswaja-an yang memang menjadi karakter utama bagi pembentukan generasi muda nahdliyin.

Focus dengan target negara—dengan mengajarkan materi sesuai dengan kurikulum Pendidikan nasional—adalah sebuah kewajaran, akan tetapi menyertakan materi-materi keislaman ala nahdliyin dan ke-aswaja-an adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap madrasah nahdliyin di semua daerah Indonesia.

Sudah menjadi fakta dan kenyataan yang meluas bahwa sebuah institusi pendidikan adalah kawah candradimuka sebuah peradaban yang menjadi tempat istimewa untuk melahirkan generasi-generasi yang mampu menjadi pemimpin, solusi dan motor penggerak di masyarakat. Institusi Pendidikan ibarat sebuah mesin pabrik, yang bisa menghasilkan manusia-manusia berkualitas yang dilapisi dengan pengetahuan, dihiasi dengan akhlak dan diperkuat dengan etika dan kecerdasan-kekritisan dalam berfikir.

Harapannya, lulus dari lembaga pendidikan nahdliyin dan kembali kepada masyarakat (nahdliyin) anak-anak bisa memberikan kontribusi yang positif dan membangun masyarakat dalam segala bidang, mulai dari bidang pelestarian budaya islam, penerapan tehnologi tepat guna, penyerapan informasi yang positif, penataan kekarut-marutan “lembaga kemasyarakatan desa”, membangun kerukunan masyarakat, serta turut serta menciptakan pertumbuhan perekonomian di desanya.

Hal itu tentunya membutuhkan komitmen yang besar terhadap penerapan pembelajaran dua dimensi, yakni dimensi keilmuan saintis-humaniora dan dimensi keilmuan keislaman-nahdliyin. Artinya, selama belajar di institusi pendidikan anak-anak mendapatkan secara langsung praktik-praktik keilmuan santis, sambil tetap bisa menerima ajaran-ajaran keislaman ala nahdliyin.

Komitmen Bersama Nahdliyin di Desa

Berangkat dari hal itulah maka sudah selayaknya semua pengelolah institusi pendidikan nahdliyin bersinergi satu sama lain, jangan mengedepankan kebesaran egoisme nama masing-masing—untuk menyatukan visi bersama dalam membina anak-anak nahdliyin untuk tetap menjadi warga nahdliyin yang berkontribusi penting bagi Indonesia.

Khusus di perdesaan, yang merupakan “benteng” dan pusat lahirnya anak-anak generasi muda nahdliyin perlu lebih meningkatkan kualitas pendidikan lembaganya masing-masing dengan peningkatan kompetensi gurunya, konsistensi kinerja gurunya, kenyamanan suasana belajar di madrasah, dan kepercayaan masyarakat yang semakin kokoh pada lembaga tersebut.

Salah satu pekerjaan rumah terberat bagi warga nahdliyin adalah persatuan visi dan penyatuan langkah strategis di antara tokoh-tokoh nahdliyin untuk membentuk institus kelembagaan yang kuat dan kompak—satu sama lainnya, guna mengajarkan materi saintis yang ditekankan negara sekaligus materi keislaman nahdliyin yang menjadi benteng ideologis masyarakatnya—komunitasnya.

Jika di masa depan Nahdlatul Ulama tidak ingin kehilangan banyak generasi mudanya maka saran penyatuan visi dan misi ini perlu menjadi ketegasan tindakan bersama sehingga bisa digerakkan bersama dangan aneka respon kreatif pada setiap tantangannya.  

Pos terkait