Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KEBERADAAN SATELIT DAN KESEMERAWUTANNYA JIKA BUMI BEROTASI

oleh: Moh. Syihabuddin

Sebuah kesemerawutan akan terjadi jika bumi ini berbentuk bola dan melakukan sebuah kegiatan rotasi, karena beberapa orang tertentu telah mengklaim adanya ratusan satelit di luar angkasa.

Bumi yang berputar-putar tentu akan menimbulkan banyak pertanyaan terkait dengan keberadaan satelit-satelit tersebut, apakah satelit-satelit itu ikut berputar dengan putaran rotasi bumi, ataukah diam saja di luar angkasa, karena menempati ruang hampa udara?

Jika (dikatakan) bahwa satelit tersebut berputar mengikuti rotasi bumi, lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah ada sebuah ‘tali’ atau ‘energi’ (atau apalah, yang lainnya) yang mengikat satelit-satelit tersebut sehingga bisa bergerak terus menerus mengikuti kecepatan gerakan rotasi bumi—yang 1.000 km perjam? Apakah memang satelit-satelit tersebut berada dalam jangkauan yang sama selamanya bersamaan dengan bumi yang sedang berotasi?

Tentu pertanyaan-pertanyaan ini sampai hari ini masih belum memiliki jawaban yang menyakinkan dan masih menimbulkan banyak persoalan dalam akal sehat manusia.

Dan jika (dikatakan) bahwa satelit tersebut diam di tempatnya atau menempati sebuah tempat yang hampa udara, sehingga kondisinya tetap—tidak terpengaruh dengan rotasi bumi.

Lalu bagaimana pengaruhnya satelit-satelit tersebut bagi (katanya) televisi, ponsel, mesin ATM atau kebutuhan lainnya, karena satelit-satelit tersebut diam di tempatnya saja, sedangkan bumi terus berputar-putar melakukan rotasi?

Yang terjadi kemudian, tentu saja “gelombang” pemancar yang dihasilkan oleh satelit akan tidak berpengaruh sama sekali dengan kepentingannya “negara” yang menerbangkannya. Apalagi jika didukung dengan kecepatan putaran rotasi bumi, yang 1.000 km perjam, tentu akan merusak gelombang yang dihasilkan oleh satelit tersebut untuk dikirim ke pemancar negara yang membutuhkannya.

Sebagai negara yang mengirim satelit, tentu saja akan merugi dan tidak ada artinya memiliki satelit dan menerbangkannya dengan anggaran milyaran dolar. (sepertinya, lebih baik anggaran tersebut digunakan untuk mengurangi angka kemiskinan dan membiayai pembangunan infrastruktur negara yang belum beres).

Anehnya lagi, satelit-satelit ini diterbangkan dengan roket dan berada di sebuah lokasi luar angkasa yang sangat jauh hingga tidak bisa dilihat dengan teropong. Bahkan (konon) beradaannya berada di lebih jauh dari pada bulan yang terlihat di bumi.

Kita tidak pernah menemukan seorang peneliti—atau kita sendiri jika mempunyai sebuah teropong yang digunakan untuk mengamati bintang-bintang di angkasa—melihat keberadaan satelit-satelit yang diterbangkan dari bumi.

Cobalah mengambil (menggunakan) teropong yang sering digunakan oleh para peneliti bintang-bintang di langit. Dengan teropong itu, gunakan untuk memeriksa langit yang konon sudah banyak satelit yang bertebaran di atasnya.

Setelah itu perhatikan, apakah anda akan melihat satelit-satelit tersebut bertebaran di angkasa? Saya yakin, tentu anda tidak akan menemukannya, karena satelit-satelit tersebut memang tidak pernah ada dan tidak pernah mencapai ke luar angkasa, atau batas kubah langit yang melingkupi bumi.

Keberadaan satelit-satelit ini sesungguhnya meragukan dan sangat membodohkan manusia yang tidak mengerti apa-apa tentang “satelit” ini. kaberandaannya yang di luar angkasa menimbulkan banyak permasalahan.

Adanya satelit dengan bumi yang sedang berotasi, lalu ditambah dengan keberadaan satelit yang berada di angkasa yang hampa udara, sangat mustahil terjadi dan sangat tidak bisa diterima dengan akan sehat.

Satelit dan rotasi bumi tentunya sebuah kebohongan.