Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KEBANGKITAN BANGSA EROPA

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Alumnus Filsafat Agama UINSA Surabaya

Bagaimanakah Eropa mulai bangkit?

Kemajuan Eropa di bidang tehnologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini tidak bisa lepas dari peranannya yang pernah dialami pada abad-abad sebelumnya. Hal itu tidak lain karena filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai tonggak awal yang tertanam kuat dalam tradisi pemikiran Eropa sudah diawali pada abad ke empatbelas masehi, saat zaman pertengahan mulai surut dan hampir tenggelam. Adalah zaman yang memisahkan antara abad pertengahan, sebagai “zaman kegelapan” Eropa dengan abad modern yang sangat berperan atas perubahan Eropa sebagai negeri impian atau lebih dikenal dengan zaman Renaisans atau abad pencerahan.

Pada zaman Renaisans inilah Eropa mulai melakukan evaluasi atas kebobrokan institusinya, sadar akan kemunduran peradabannya, mengupayakan terhapusnya kebodohannya, dan berusaha menciptakan kemajuan yang pernah dicapai oleh peradaban Barat di masa lalu: Yunani-Romawi. Zaman renaisans inilah yang kemudian dipuja, diteladani, dan dikultuskan dalam bentuknya yang sekuler sebagai jalan pencerahan yang mengantarkan Eropa yang beradab dewasa ini.

Kendati demikian, kerja keras bangsa Eropa mencapai Renaisans dan zaman pencerahan bukanlah tercipta dari ruang kosong yang lahir dari keberadaannya sendiri, akan tetapi dipengaruhi banyak faktor yang terlibat di dalamnya. Faktor-faktor inilah yang membedakan kondisi bangsa Eropa dengan bangsa Arab (Baca: Islam) ketika sama-sama pernah mencapai puncak peradaban. Faktor internal, dimana bangsa Eropa mengalami berbagai ketertindasan intelektual dan sangat karut marut, kondisi politik yang tidak stabil, dan warisan tradisi barbar yang terus dipelihara, serta lumpuhnya institusi masa lalu (Gereja). Disisi lain, pengaruh-pengaruh luar telah mendorong Eropa untuk bangkit dan menciptakan kondisi lingkungannya yang lebih stabil dengan cara belajar dari peradaban yang sudah ada.

Untuk mengetahui jalan Eropa mencapai kondisi saat ini, kemajuan secara politik dan peningkatan ilmu pengetahuan tehnologi, penting sekali memahami filsafat yang menjadi landasan berfikirnya, lalu kronologis yang mengantarkan para filsof itu membangun pengetahuannya dan berusaha menciptakan kondisi Eropa yang lebih baik. Terutama dengan peradaban Islam, apakah Renaisans Eropa memiliki keterkaitan dengannya? Lalu bagaimana para filsof di zaman renaisans membangun gagasannya? Dan bagaimana kondisi lingkungan yang mendukung, atau lebih jelasnya, memaksa Eropa untuk melakukan renaisans? Yang lebih penting lagi, masihkah relevan dan pantaskan filsafat renaisans Eropa diterapkan dalam konteks dewasa ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita diskusikan sehingga beberapa hikmah bisa dijadikan sebagai umpan balik untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Apa itu RENAISANS?

Menurut bahasa kata “Renaisans” mempunyai arti “kelahiran kembali”. Secara istilah Renaisans diartikan sebagai usaha para seniman dan pemikir untuk memulihkan dan menerapkan pengetahuan kuno dan standart-standart Yunani-Romawi. Dalam arti bahwa bangsa Eropa ingin mengulang kemajuan peradaban yang pernah dibangun oleh tradisi Yunani-Romawi dimana telah dianggap pernah mencapai puncaknya. Pada masa inilah para individu menunjukkan minat yang bertambah terhadap kegiatan berfikir, kajian pengetahuan, dan kehidupan duniawi serta cita-cita yang sadar diri untuk menentukan nasib mereka sendiri, sebagai landasan untuk menciptakan kunci peradaban modern.[1]

Renaisans merupakan zaman peralihan bangsa Eropa dari zaman pertengahan, yang dianggap sebagai zaman kegelapan, menuju zaman pencerahan yang pada gilirannya gerakannya menjadi reformasi terhadapa doktrin-doktrin yang dibangun oleh intitusi Gereja dan Kepausan. Para pemikir, seniman, dan pelukis melakukan kajian-kajian terhadap karya-karya kuno Yunani-Romawi dengan penekanan pada kebebasan berfikir dan sekuler. Dalam hal ini tidak serta merta memutus tali transmisi pemikiran abad pertengahan, namun lebih pada melakukan koreksi dan berfikir kembali tentang pusat pemikiran, dari yang bersumber pada wahyu kristus menuju pada manusia yang berfikir.[2]

Pada awal abad keempat belas masehi Renaisans pertama kali berkobar di Italia[3]. Selain menumbuhkan gagasan-gagasan baru mengenahi ilmu pengetahuan yang berbeda dengan doktrin Gereja, Renaisans juga melahirkan berbagai ilmuwan dan pemikir yang kaya akan penemuan. Hal ini tidak serta merta tumbuh dan berkembang begitu saja, dalam arti hanya peran semangat ilmuwan dan geliat para pemikir yang mengkaji khazanah kuno dan terjemahan filsafat Arab, namun karena dukungan para penguasa negara-negara kota di Italia yang mulai kaya akibat perdagangan. Renaisans awal tumbuh di kota-kota maju di Italia utara, dimana para penduduknya memiliki kelimpahan kekayaan, kebebasan berfikir, dan semangat untuk menciptakan seni dan arsitektur, dan tentunya terlepas dari ikatan gereja yang semakin melemah di Roma. Venesia, Milan, Florensia, dan Pisa adalah kota-kota yang sukses mengembangkan perbankan, mengelolah finansial yang melimpah, sehingga memudahkan untuk menumbuhkan warisan klasik dan gerakan dari Renaisans itu sendiri.[4]

Pada abad kelima belas dan keenam belas masehi Renaisans dengan cepat menyebar sebagian besar masyarakat terpelajar Italia. Dan tak lama itu ke utara menembus Jerman, Perancis, Spanyol, dan Inggris. Hal ini tidak lain karena didukung oleh penemuan mesin cetak oleh Gutemburg yang memudahkan penulisan dan penyalinan naskah. Penyebaran ini menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah, sehingga di setiap negara gerakan renaisans memiliki coraknya sendiri dengan berlandaskan pada keshalehan. Di Italia Renaisans cenderung menghargai karya-karya klasik dan romantisme kuno Yunani-Romawi, sedangkan di luar Italia lebih sekuler dan cenderung menggali pemikiran yang jauh dari doktrin katolik, berusaha menciptakan gagasan kristiani yang lebih murni dan langsung bersumber dari Alkitab.[5]

Gerakan Renaisans bukanlah sebuah periode prestasi besar dalam filsafat, akan tetapi berhasil menjadi pijakan awal untuk memulai kebesaran pada abad ke 17 M. Pertama-tama, renaisans di Italia mampu meruntuhkan sistem skolastik yang rijid sebagai besi yang membelenggu intelektual. Renaisans telah membangkitkan kembali pemikiran Plato, dengan cara demikian setidaknya mendorong pemikiran yang sangat independen sebagaimana yang dipersyaratkan untuk memilih antara Plato dan  Aristoteles. Sehubungan dengan hal ini renaisans mampu mengembangkan ilmu pengetahuan asli dari tangan pertamanya dan terbebas dari penafsiran yang dilakukan oleh intitusi gereja abad pertengahan serta pengaruh penafsiran tradisi Arab-Islam saat itu. Dan lebih penting lagi renaisans mampu mendorong semangat belajar sebagai kerja sosial, tantangan yang penuh gairah, bukan sebuah meditasi yang bertujuan memelihara ortodoksi predeterministik. Renaisans bukan pula sebuah gerakan populer; Renaisans adalah gerakan sekelompok sarjana kecil dan seniman yang didukung oleh pelindung-pelindung liberalnya, tentunya juga dengan paus-paus yang humanis.[6]

Ciri utama filsafat renaisans adalah humanisme dan liberalisme. Humanisme-Liberalis merupakan gerakan pendidikan yang menghargai karya-karya masa lampau, Yunani dan Romawi, dengan cara murni memahaminya tanpa harus menyertakan dogmatisme keagamaan. Karya-karya kuno dipelajari secara asli, diekspresikan dengan akal budi yang sepenuhnya sekuler, walau tidak semuanya anti-Kristen, demi karya itu sendiri. Disinilah peranan akal manusia, ide dan berfikir mulai diaktualisasikan dan diciptakan sebagai gerakan semangat menuju pencerahan. Semangat kreatifitas didorong penuh, kesempatan berfikir dibuka lebar dan difasilitasi, menjadi doktrin yang paling berpengaruh pada zaman renaisans. Jelasnya, transformasi ide kristen mengenahi manusia. hal ini berbeda dengan gagasan filsafat skolastik abad pertengahan yang menggunakan pemikiran rasional dan sains sebagai pembenaran atas dogma-dogma kristiani.[7]

[1] Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan. Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2012. Halaman 296.

[2] Ibid, 297.

[3] Resminya Renasians pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1350 M. dengan gagasan yang masih sangat sederhana. Pengaruhnya hanya terjadi di kota-kota Italia Utara yang relatif lebih mendukung dalam finansial untuk mengembangkan penemuan dan kajian khazanah klasik. Mula-mula hanya segelintir orang, diantaranya yang terkenal adalah Petrarch, yang menganut pandangan modern. Selengkapnya baca Betrand Russell dalam Sejarah Filsafat BaratI (Jogjakarta: Pusataka Pelajar. 2007) halaman 651.

[4] Ibid, 298.

[5] Ibid, 311.

[6] Betrand Russel, Sejarah Filsafat Barat: kaitannya dengan kondisi sosio-politik zaman kuno hingga sekarang. (Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2007) halaman 658.

[7] Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari Zaman Kuno Sampai Zaman Pencerahan. (Jogjakarta: Kreasi Wacana. 2012) halaman 304.