Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Karakteristik “Islam Nusantara”

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama Stiftung

 

Wacana Islam Nusantara terbangun bukan hanya sebagai konsep tong kosong nyaring bunyinya. Namun semua sudah terekronstruksi jika kita mampu pelan-pelan memahami tanpa mengedepankan sensitifme yang mengidentifikasi dengan narasi yang menjastifikasi buruk.

Islam Nusantara menjadi gerakan faktual (sosial-politik) yang strategis. Bentuk ikhtyar atas problem mengenai hal-hal yang menjadi isu Internasional atas realitas sosial-politik umat Islam di dunia. Beberapa contoh negara-negara Arab (Yaman, Irak, Iran, Syiria dan Libanon), kawasan Afrika Utara (Mesir, Aljazair, Libya, Sudan), Asia Selatan (Afganistan, Pakistan) dll. Yang terjebak berbagai konflik politik, perang dan saling menghujat, menjatuhkan hingga menjadi bencana moral dan material. Di media sosial sudah di suguhi beberapa kabar-kabar tentang kematian, kemiskian, kelaparan. Negara porak poranda gedung hancur, pemukiman, tempat peribadatan hancur yang semua itu adalah akibat konflik-konflik yang di rencanakan oleh sekelompok organisasi yang ingin membangun ideologi yang mereka yakini benar menurut mereka namun bertentangan dengan konstitusional yang telah disepakati oleh pemerintah.

Islam Nusantara mempunyai pola dan karater keislaman yang berbeda dengan corak keislaman Timur Tengah dan kawasan yang lain. Bukan berarti lebih baik dari keislaman Timur Tengah yang notabene sebagai tempat asal itu berkembang. Namun bentuk upaya domain kawasan dari segi keislaman. Bukan bentuk pembandingan antara keislaman Timur Tengah dengan keislaman khas nusantara.

Dulu Gus Dur yang menantang para ilmuwan Islam untuk membuat Hipotea bahwa ada enam studi kawasan Islam : kawasan Timur Tengah, Afrika, daratan India, Asia Tengah termasuk Rusia, Nusantara dan Eropa yang menurut Gus Dur masing-masing memiliki karakteristik yang menonjol. Dalam artian satu dengan yang lain memiliki ciri kekhas-an masing-masing sehingga saling terlihat perbedaan antara kawasan satu dengan lainnya.

Karakteristik Islam Nusantara ada enam yang menonjol yaitu:

Pertama, hasil produk dakwah dari para tokoh-tokoh yang di sebut walisongo. proses dakwahnya mengunakan budaya sebagai kendaraan sehingga penyiaran agama Islam tidak mendapatkan pertentangan di kalangan masyarakat pribumi di kawasan Nusantara. Proses pengislaman yang secara damai itu menarik simpati masyarakat bahwa agama Islam adalah agama rahmatan lial-‘alamin . seperti apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga yaitu “kenek iwak e ora buthe’ banyune” yang artinya dapat ikannya tapi tidak keruh airnya. Menandankan proses pengislaman yang benar-benar damai dan tidak memperkeruh kondisi yang ada pada saat itu. Disini para walisongo menempatkan cara penyampaian agama yang begitu halus dan santun berpegang teguh pada firman AllahTa’ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An Nahl : 125).

Kedua, berwatak moderat. Di sini jelas terlihat perbedaan dengan cara pola berpikir Islam Nusantara dengan Islam Timur Tengah. Sikap yang mengedepankan berdiri di tengah-tengah namun memiliki pendirian dan prinsip yang kuat. Di contohkan dalam beberapa hal cara implementasi atas problematika yang terjadi di masyarakat.

Ketiga, pemilihan mazhab yang menjadi panutan sangat selektif teliti bukan asal pilih. Mereka yang menjadi panutan benar-benar memiliki kapabilitas intelektual, intregeritas sehingga buah pemikirannya (Ijtihad) merupakan hasil yang kompleks dan didapat dengan hati yang jernih. Di kalangan masyarakat Islam Nusantara Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah memiliki rujukan setiap bidang keilmuan. Contoh Bidang fiqih mengikuti salah satu 4 mazhab fiqih yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Dan Imam Hambali. Namun di Nusantara lebih condong mengunakan mazhab Imam Syafi’i yang dirasa cocok dengan kondisi yang ada di Nusantara.

Keempat, rasa toleransi (tepo sliro) yang tinggi atas  keberagaman yang terjadi di Nusantara yang penduduknya multi etnis, multi budaya, suku, agama, budaya, dan ras. Karena Islam datang untuk merangkul tanpa memukul, Islam memahamkan bukan memaksakan.

Kelima, inklusif atau sifat keterbukaan dengan segala yang dirasa baik dan memberi kemaslahatan serta Inovatif membangun demi kemaslahatan.

Keenam, penyampaian isi Islam rahmatan lial-‘alamin yang dapat di implementasikan dalam kehidupan. Sinkretisme kebudayaan dengan ajaran Islam yang cepat berbaur dalam kehidupan masyarakat sehingga mensed (pola pikir) masyarakat Nusantara tidaklah rasis, radikalis, dan extrem.