Kajian Pertama Kitab Zadul Khuthoba’ Dimulai, Merespon Positif Keresahan Muslim yang Menggerus Peradaban Islam

Mengadakan kajian, mengaji, untuk intropeksi dan merenung, menggali pengetahuan dan wawasan yang lebih pasti—bukan hoax, serta membentuk keilmuan yang lebih berkualitas—dibandingkan dengan melihat youtube atau tiktok ceramah sosok-sosok tertentu—adalah sebuah solusi yang pasti yang paling riil dilakukan untuk membangun pengetahuan yang benar—dibandingkan statement para oknum tertentu yang mengistimewakan satu keturunan tertentu.

TUBAN. KITASAMA.OR.ID – Upaya untuk membuka pengetahuan yang mencerahkan kepada masyarakat sudah menjadi tugas seorang pemikir, sarjana dan tentunya ulama serta kiai. Para pengelolah pengetahuan yang didasarkan pada renungan mendalam, kajian yang terfokus dan penelitian yang terkonsentrasi sudah selayaknya meluruskan pemahaman yang salah yang tersebar di kalangan masyarakat awam.

Nahdliyin adalah masyarakat yang paling rentan, gampang terjebak dalam ueforia sesaat dan mudah digemparkan dengan isu-isu aktual. Yang terkini, isu khabaib, membangga-banggakan “keturunan” dan nasab sudah menjadi bagian yang melekat.

Bacaan Lainnya

Disatu sisi hal itu merupakan sebuah kenyataan yang harus dihadapi, tapi disisi lain menjadi sedikit goresan peradaban islam yang tidak boleh dibiarkan tanpa ada saringan dan penjelasan dari ulama yang “lebih kompeten” untuk memberikan pencerahan.   

Kiai Wafa menegaskan keresehan hal itu dengan tegas, bahwa “Setelah sekian lama umat Islam, hususnya kaum Nahdliyyin yg sudah terjebak dengan membanggakan nasab, membanggakan kelompok, suku, ras dan budaya bahkan membanggakan gengsinya masing-masing.”

Keresahan ini bukan tanpa alasan, tapi berdasarkan fakta sejarah dan juga fakta ilmiah yang menggiring masyarakat semakin buta dengan istilah “nasab”, “keturunan” dan sejenisnya yang semakin mendekati era Jerman di zaman Adolf Hitler yang membangga-banggakan ras unggul Jermanik atau bangsa Arya—menyudutkan bangsa lainnya yang hidup di eropa.

Hal ini akan sangat berbahaya bagi keberlangsung peradaban Islam, bisa-bisa berujung pada penggiringan opini tentang kemuliaan satu kelompok muslim dibandingkan kelompok muslim yang lain. Ujung-ujungnya adalah sebuah perpecahan dan kehidupan yang resah dan tidak nyaman.

Karena itulah, respon positif konstruktif perlu dilakukan untuk menjawab tantangana tersebut, harus ada upaya keras untuk membangun intelektualisme berbasis keislaman yang meluruskan hakekat nasab dan pribadi seorang ulama pewaris para nabi.

Kiai Wafa melanjutkan penegasannya, “Maka kali ini Anda semua yang masuk …. ini di ajak bersama-sama ngaji manaqibnya para sahabat nabi Muhammad Saw, kelompok orang-orang pertama yang Allah Subhanahuwata’ala pilih menerima dakwah Islam langsung dari Rasulullah.”

Mengadakan kajian, mengaji, untuk intropeksi dan merenung, menggali pengetahuan dan wawasan yang lebih pasti—bukan hoax, serta membentuk keilmuan yang lebih berkualitas—dibandingkan dengan melihat youtube atau tiktok ceramah sosok-sosok tertentu—adalah sebuah solusi yang pasti yang paling riil dilakukan untuk membangun pengetahuan yang benar—dibandingkan statement para oknum tertentu yang mengistimewakan satu keturunan tertentu.

“Untuk itu dipilihlah kitab Zadul Khuthoba’ yang ditulis oleh ulama kenamaan syeh Abu nu’aim Ahmad, yang kondang keilmuan di zamannya, yang selama empat belas tahun tanpa ada tandingannya—untuk dikaji bersama dan digali pemikirannya secara berjamaah.” Lanjut kiai Wafa, yang disampaikan pada sela-sela kajian pertemuan pertama di Pondok Pesantren Darul Anwar Beji Jenu Tuban.

Bukan sembarangan kitab, Zadul Khuthoba’ merupakan kitab yang berisi beraneka ragam identitas para pemikir muslim, para sarjana, para penggali pengetahuan dan para sahabat Rasulullah yang mempunyai peran penting di dalam penyebaran islam ke seluruh pelosok dunia.

Sehingga mengkajinya secara berjamaah dalam sebuah ikatan komunitas keilmuan adalah sebuah keniscayaan dan sangat relevan dengan tantangan zaman dimana “berseliwerannya para penceramah atas nama keturunan tertentu” sudah menjadi penyakit peradaban di kalangan masyarakat awam.

Dengan mengetahui biografi para pemikir (ulama, sahabat, tabi’in, dan seterusnya) terdahulu kita berharap ada perihal penting yang perlu kita bangun bersama dan kita ikuti jejaknya bersama-sama, sehingga kita sebagai muslim di era industry 4.0 tidak gampang teralihkan pada isu “keutamaan keturunan sang…tertentu”. (Moh. Syihabuddin)

Pos terkait