Kaderisasi Sunyi Santri Madrasah Diniyah Dziya’ul Ulum; Pelan-Pelan, Menularkan dan Bergiliran

Menyusun masa depan yang lebih beruntung dengan masa kini yang penuh semangat, bergairah, tekun, kerja keras dan sabar dalam belajar adalah kegiatan produktif-progresif-imajinatif Santri Madrasah Diniyah al-Qur'an Dziya'ul Ulum. Mereka menjalani mengaji sorogan atas keilmuan pesantren setiap sore hari di kawasan dusun Setro-Waru di komplek TPQ Dziya'ul Ulum. Kaderisasi Sunyi sudah dimulai dari santri-santri ini.

kitasama.or.id – Rabo, 15 Mei 2024 saya mulai menerapkan metode baru pembelajaran di Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum—sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh guru saya di pondok pesantren. Memberikan kesempatan berfikir, berproses dan berbagi dari santri yang lebih senior kepada santri yang lebih junior.

Setelah menghadap kepada saya membaca kitab Hadits dan teks al-Qur’an—metode sorogan—Titin dan Husna, saya minta untuk menyimak dua teman (putri)-nya yang memerlukan pendampingan dan pembiasaan untuk lebih menguasai materi yang dibacanya. Cara itu berjalan dengan baik dan sekilas saya lihat memberikan dampak yang positif bagi kemampuan dan keahlian mereka berdua membaca kitab—bahasa Arab dengan makna jawa. Titin menyimak bacaan Zahrah dan Husna menyimak bacaannya Nova.

Bacaan Lainnya

Kaderisasi Sunyi

Pelan-pelan saya mengajarkan anak-anak santri cara untuk menguasai kemampuan membaca teks Arab dengan makna jawa, membangun imajinasinya dengan ragam renungan dan kandungan arti yang ada di dalam teks pelajarannya, dan memberikan keberanian serta kesabaran untuk tekun mengajarkan metode-metode konstruktif yang bisa mengasah kemampuan mereka.

Metode sorogan, para santri satu persatu (kadang dua dan tiga) menghadap ke saya, membacakan kitabnya dan bagian teks bacaannya. Saya menyimak mereka dan membenarkan bacaannya yang salah (bacanya), lalu memberikan kebenaran yang perlu dilakukannya. Cara ini lama, namun sangat efektif untuk menciptakan keberanian santri dan memupuk kemampuan bacaan santri.

Lalu saya meminta diantara para santri yang saya anggap lebih “bisa” untuk menyimak dan mengajari bacaan yang “belum lancar 100%”, agar santri yang “bisa” bisa menularkan kemampuannya kepada santri yang “kurang bisa”.

Dan terakhir, secara bergiliran mereka akan saling menyimak satu sama lain, memberikan kesempatan kepada mereka untuk tumbuh bersama dan saling berinteraksi untuk bertukar wawasan-kemampuan-keahlian yang dimilikinya.

Itulah proses yang “pelan-pelan” saya dijalani, untuk “menularkan” pengetahuan dan wawasan keilmuan secara merata dan terstruktur kepada para santri, hingga “bergiliran” setiap santri akan mendapatkan prosi yang sama dan kesempatan yang tidak beda.

Titin dan Husna; sebuah awalan

Pada sore itu, saya melihat Titin dan Husna sudah bisa menyimak dan memberikan “petunjuk benar” kepada temannya, dan ini merupakan kemajuan yang perlu dipelihara dan dijaga, agar kelak perkembangan mereka bisa terus terasah dan bisa menjadi generasi yang siap menghadapi zamannya.

Titin dan Husna adalah sebuah awal dari bentuk “kaderisasi sunyi” yang saya terapkan di Madrasah Diniyah Dziya’ul Ulum, untuk membekali mereka (1) mental berani melihat “yang benar dan yang salah”, (2) kemampuan mengembangkan imajinasi berfikirnya, (3) menyerap makna dalam teks kitab yang sudah diterjemahkannya, dan pastinya (4) mendorong kekuatan dalam dirinya untuk mampu membaca masa depan serta memprediksinya.

Titin dan Husna bisa menjadi “proyek awal” untuk melanjutkan gagasan “Pesantren Desa” yang memberikan bekal pembangunan mental kepada para santri untuk berani, mau, ikhlas, tekun, fokus, komitmen, cerdas, dan reflektif terhadap kebutuhan masa kini dan masa depannya.

Setidaknya, jika di masa depan mereka menjadi orang dewasa, sudah siap untuk menjadi pendidik yang baik atau seorang profesional yang dibekali dengan keilmuan pesantren—pendidikan karakter sepanjang hayat.  

***

Masa lalu adalah pijakan untuk menciptakan masa kini, masa kini adalah rangkaian tindakan yang membentuk masa depan, dan masa depan adalah rangkaian target-target yang diwujudkan pada masa kini dan dihiasi oleh kenangan-kenangan masa lalu.

Segala hal yang dilakukan di masa kini adalah gambaran sekilas “yang akan terjadi” di masa depan. jika hari ini kita makan, maka bisa diprediksi bahwa dalam waktu delapan jam ke depan kita pasti kenyang, kuat, bertenaga, dan bisa berkerja.

Tidak ada masa depan “beruntung” yang dibentuk oleh bermalas-malasan di masa kini, karena bermalas-malasan hanya akan menghasilkan ketertinggalan dan ketiadaan capaian apa-apa, kecuali kekosongan dan kebodohan. Tidak ada masa depan baik yang dibentuk dengan “berleha-leha”, karena semuanya membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan imajinasi yang tanpa batas.

Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum adalah sebuah tindakan masa kini yang dilakukan untuk merangkai masa depan yang lebih bahagia, lebih beruntung, lebih berkah dan lebih memberikan kontribusi terbaik pada desa (secara umum Indonesia). Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum menyiapkan masa depan dengan beragam tindakan masa kini yang lebih produktif, lebih imajinatif dan tentunya lebih progresif.

Membangun ketiga bentuk masa depan tersebut tidak serta merta dengan santai, bermalas-malasan, se-enaknya sendiri dan “asal jalan saja”, tapi membutuhkan ketekunan, keseriusan, kesabaran, dan tekad kuat untuk memupuk hal-hal yang positif terwujud secara berlahan-lahan.

Dalam konteks inilah ketekunan, kesabaran dan kebahagian santri yang belajar di Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum mutlak dibutuhkan untuk menjaga asa dan semangat melestarikan keilmuan pesantren.

Para santri harus sabar, jangan selalu tergesa-gesa dan ingin cepat “pulang” saat mengaji. Para santri jangan malas membaca, saat menunggu gilirannya maju ke gurunya—alih-alih mereka ngobrol dengan guraun yang tidak berguna, dan para santri tentunya harus tekun dengan apa yang sedang dipelajarinya.

Guru ngaji yang bersemangat mengajar, mendidik, dan mengarahkan para santri hendaknya diiringi dengan semangat dan gairah santri yang ikut belajar, sehingga apa yang diajarkan oleh guru ngajinya benar-benar melekat dan bisa diserap dengan penuh oleh para santrinya.

Jika hal tersebut berjalan baik, gurunya tetap semangat yang diikuti oleh gairah belajarnya santri maka tidak menutup kemungkinan masa depan yang lebih “beruntung”, lebih berkah, lebih bermakna dan lebih bermanfaat akan terwujud di Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum.

Adagium jawa mengatakan “wong pinter kalah karo wong bejo”, orang pandai (cerdas) akan dikalahkan oleh orang yang beruntung (berkah) tidak serta merta terbentuk begitu saja, dengan santai dan bermalas-malasan, tapi justru sebaliknya keberuntungan dan keberkahan tersebut dibentuk dengan ketekunan, kerja keras, sabar dan tetap bergairah menjalani pembelajarannya.

Semua para santri yang belajar di Madrasah Diniyah al-Qur’an Dziya’ul Ulum bisa menjadi anak-anak yang bahagoa, cerdas dan sekaligus beruntung—barokah hidupnya.

Pos terkait