Juli 24, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

JALUR SOLUSI PERDAMAIAN BAGI PERKEMBANGAN ORIENTALISME DAN GLOBALISASI

Waktu Fajar menjadi mementum paling tepat untuk memulai sebuah gerakan pemikiran

Mohammad Syihabuddin

Bryan S. Turner memberikan empat jalur untuk mendamaikan orientalisme yang cenderung “menghakimi” dan “menghabisi” posisi masyarakat Timur-Islam sebagai basis kajian dan objek penelitian.

Posisi masyarakat Timur-Islam oleh para orientalis diletakkan pada posisi yang sangat marginal, primitif, orisinal, eksotis, dan tidak memiliki sejarah masa lalu yang bisa membentuk peradaban modern, sehingga layak untuk dieksploitasi dan diserap secara totalitas seluruh kebudayaannya sebagai kebudayaan yang “terbelakang”.

 Kondisi ini tentunya sangat tidak memungkinkan untuk mewujudkan kajian keilmuan yang objektif yang bisa membangun masyarakat modern dan menciptakan perdamaian dunia. Cara pandang para orientalis harus diubah dan posisi kajian sosiologi dan antropologi, sebagai alat yang digunakan untuk membaca “manusia” harus dikembalikan posisinya sebagai keilmuan yang lebih objektif.

Meninggalkan yang Usang

Saran yang diajukan oleh Bryan S. Turner adalah Pertama, meninggalkan seluruh pandangan usang tentang “Islam-Islam” sebagai suatu esensi universal guna memungkinkan kita untuk mempelajari “Islam” sesuai dengan segala kompleksitasnya dan perbedaannya.

Islam tidak hanya satu wajah, Arab, Persia atau Turki saja. Tapi juga ada Islam di Cina, Islam di India, dan juga Islam di Indonesia. Islam merupakan bentuk identitas masyarakat global yang bisa diterima oleh semua masyarakat di seluruh dunia, baik di Eropa dan Amerika sendiri ataupun di Afrika, Jepang, Cina dan beberapa kawasan yang jauh dari sumbernya Islam, Arab.

“Islam-Islam” ini tidak lain merupakan bentuk kompleksitas dan perbedaan yang lahir dari responnya terhadap kebudayaan dan tradisi masyarakat yang sudah lama mengakar sebelumnya, sehingga melahirkan identitas baru yang sekaligus bisa menjadi keanekaragaman global yang menawarkan multikulturalisme.

Islam sebagai Interpenetrasi

Kedua, kita perlu melihat Islam-Islam ini dalam sebuah konteks interpenetrasi global dengan sistem dunia. Islam bukanlah Timur saja dan Kristen adalah Barat saja. Ada Islam di Barat dan ada juga Kristen di Timur.

Islam merupakan bentuk penetrasi global yang menembus batas-batas wilayah geografis dan etnis, ia bisa diterima di semua kalangan dan di semua lapisan masyarakat. Adanya keanekaragama masyarakat global tidak lain merupakan perbedaan yang bisa diserap dan masuk menjadi bagian dari Islam.

Posisi Islam dan Sosiologi

Ketiga, sosiologi sendiri harus melepaskan cara pandang nasionalisitik dan parokialnya terhadap negara-bangsa tertentu dari perspektif lamanya yang berpusat pada masyarakat.

Sosiologi harus diposisikan sebagai keilmuan yang lebih universal dan bukan hanya “milik” orang Barat saja. Sosiologi merupakan ilmu yang bisa menjangkau ke seluruh masyarakat global yang multi-etnis dan bisa digunakan oleh bangsa manapun untuk mengkaji bangsa lainnya, dalam upaya untuk saling mengenal dan memahami satu perbedaan dengan perbedaan lainnya.

Sosiologi tidak boleh memiliki standart (teori) yang hanya diciptakan oleh para sarjana Barat saja, tapi juga harus mengadopsi beberapa pemikiran dari para sarjana Timur. Ada banyak hal yang mestinya bisa disumbangkan oleh para sarjana Timur untuk memperkaya teori-teori sosiologi yang terus berkembang dan terus mengalami kemajuan seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan masyarakat itu sendiri.

Posisi Islam dan Antropologi

Keempat, cara pandang antropologis sebaiknya juga diarahkan kepada keberlainan kebudayaan Barat guna mencabut posisi istimewa yang dimiliki kebudayaan-kebudayaan Barat yang dominan.

Lahirnya globalisasi dan kemajuan tehnologi transportasi-komunikasi, internet cs. sudah membuktikan bahwa dunia tidak lagi terbendung oleh batas-batas wilayah. Barat bukanlah sebuah pusat peradaban atau teladan peradaban dunia, ia hanya salah satu bagian dari belahan dunia lainnya yang lebih beragama dan lebih kompleks.

Barat, bukanlah satu-satunya kebudayaan yang paling maju dan ideal untuk membangun masyarakat. Barat, bukanlah teladan satu-satunya yang bisa diterapkan di wilayah lainnya (Timur) agar mencapai kemajuan dan peradaban yang tinggi sebagaimana diterapkan oleh orang Eropa dan Amerika.

Adanya banyak kemungkinan bagi masyarakat dunia untuk memposisikan dirinya sebagai “pusat” peradabannya masing-masing dan menjadikan perbedaannya dengan masyarakat lainnya sebagai kekayaan untuk menyatu dan membangun masyarakat global yang egaliter.

Banyak hal dari Barat yang sebetulnya gagal diterapkan di Timur, seperti model demokrasi ala Amerika yang tidak bisa diterapkan di wilayah-wilayah Arab, Turki, dan bahkan Indonesia. Ada khazanah-khazanah tertentu di Timur yang tidak mesti harus “mengekor” ke Barat, karena bisa jadi Barat juga harus belajar banyak tentang “moralitas” dari Timur.   

Penutup

Pemikiran Bryan S. Turner inilah yang sudah seharusnya menjadi pijakan untuk mendamaikan antara perspektif yang dibentuk oleh orientalis terhadap Timur-Islam dengan Timur-Islam sendiri yang memaksakan diri untuk menciptakan Oksidentalis yang sama jahatnya.

Orientalisme tidak mesti harus dihadapkan pada oksidentalisme, tapi harus mengubah cara penerapan keilmuan para orientalis seobjektif mungkin dan tidak mengandung bias etnis atau bias pemikiran agar tidak memposisikan masyarakat Timur jauh lebih tertinggal dari pada masyarakat Barat.

Di era globalisasi-internet dewasa ini nampaknya perbedaan dan keanekaragaman merupakan keniscayaan dan sebuah khazanah yang mewarnai globalisasi itu sendiri. Perbedaan tidak semestinya dipandang sebagai “Kita” dan “Mereka”, tapi lebih pada “Kami” yang tidak sama dan bisa saling memberikan sumbangan bagi perkembangan peradaban dunia.