Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

JALAN MENCARI ILMU, JALAN MENUJU SURGA, BAGAIMANA?

Oleh : Ustadz Abu Afnay al-Falanjistani

Dari Imam Bukhari, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: Barang siapa menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu maka dengan itu Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

***

Pada suatu waktu saya diskusi dengan seorang teman senior yang sesama aktivis dan kini menjadi bagian dari rekan saya yang cukup akrab. Kami menjalani hidup dan aktivitas layaknya saudara yang terikat oleh ideologi dan gerakan. Kami berdua berdiskusi membicarakan sebuah ilmu.

Berawal dari sebuah diskusi yang berlarut-larut, akhirnya kami mencapai pada sebuah pertanyaan, “apa itu ilmu dan apa yang anda maksud dengan pengertian ilmu?”.

Dia menjawab dengan tegas, “Ilmu itu luas dan keberadaannya mencakup seluruh kemampuan, yakni segala hal yang memampukan seseorang untuk bisa melakukan sesuatu. Misalnya, seorang ibu yang bisa memasak maka itulah ilmu memasak, seorang teknisi listrik yang bisa membuat penerangan di seluruh kota maka itulah ilmu listrik, dan seorang guru yang bisa mengajar maka itulah ilmu yang bisa mencerdaskan anak.”

Saya lalu bertanya, “Lalu apakah seorang yang bisa komputer dan ahli dalam melakukan penyadapan, memblokiran bank, mengurasan rekening melalui aplikasi, dan seluruh tehnik dalam pengoperasian alat-alat modern, apakah semua itu disebut dengan ilmu?”.

Dia pun menjawabnya, sambil berfikir agak panjang, “Tentunya iya dong, itu juga ilmu!”.

“Bagaimana dengan seorang pencuri yang punya keahlian dalam mencuri dan tidak bisa diketahui oleh orang lain, atau bisa lepas dari kejaran polisi, atau anak-anak remaja yang mencuri melalui kemampuannya dalam mengoperasikan komputer dan mencuri lewat internet? Apakah semua itu juga ilmu?” tanya saya.

Dia terdiam sambil merenung.

“Dan jika semua itu ilmu, apakah bisa mengantarkan pemiliknya menuju surga jika di ahri akhir kelak, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Rasulullah?”.

Dan teman senior saya itu mulai bingung dan pikirannya kacau tidak bisa menjawabnya. Terjadi benturan pemikiran dengan realita yang dipahaminya.

***

Ilmu yang dimaksud oleh Rasulullah bukanlah sebuah kemampuan seseorang. Seorang yang ahli hukum, ahli pencaksilat, ahli perang, ahli kedoteran, ahli fisika, ahli kimia, ahli botani, ahli antropologi atau ahli kemampuan apapun bukanlah seorang yang memiliki “ilmu” yang dimaksud oleh Rasulullah.

Ilmu yang dimaksud oleh Rasulullah adalah ilmu yang telah diperoleh oleh Rasulullah sendiri tatkalah beliau berkhalwat di gua Hira’ yang mengubah dirinya menjadi Muhammad Rasulullah, bukan lagi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib. Ilmu itu merupakan ilmu warisan yang pernah diterima oleh nabi-nabi sebelum Rasulullah dahulu.

Ilmu itu adalah ilmu yang telah diserahkan kepada nabi Adam a.s. oleh Allah yang kemudian membuat iri iblis dan kawan-kawannya. Mengapa bukan iblis, selaku makhluk senior yang diciptakan oleh Allah, malah manusia yang baru lahir dan baru diciptakan beberapa tahun saja. Dari nabi Adam inilah kemudian diwariskan kepada nabi-nabi setelahnya hingga ahli waris setelahnya Rasulullah, yakni para ulama’ pilihan.

Ilmu ini merupakan ilmu keabadian yang bisa menjadikan manusia abadi kelak pasca kehidupan dhahir ini dicabut, atau kematian menjemput manusia. Yakni abadi dalam penyatuan dirinya dengan dzat yang Maha Abadi, yaitu Allah itu sendiri. Artinya, dengan ilmu inilah ruh manusia dan segala makhluknya Allah bisa kembali kepada Allah, di dalam surga, bukan di dalam neraka.

Ilmu inilah yang telah diajarkan oleh para nabi kepada umatnya, mengikuti para nabi berarti dengan cara memperoleh ilmu yang telah dimiliki oleh para nabi ini. Tanpa ilmu ini tentu saja mustahil dikatakan sebagai “umat yang beriman”, karena tanpa ilmu itu maka manusia tidak mampu merasakan iman dan sekaligus menjadi seorang yang “beriman”. Hanya dengan memperoleh ilmu inilah manusia baru bisa dikatakan “beriman”.

Tentu saja dengan mendapatkan ilmu ini memungkinkan manusia bisa menuju surga, yakni menyatu kembali bersama Allah sebagaimana dulunya dia diciptakan dan dilahirkan. Dengan catatan, ilmu ini terus terpelihara dan menjadikan manusia senantiasa menyatu dan berkekalan ruhaninya dengan Allah dalam setiap ruang dan setiap waktu aktivitasnya.

Karena kehebatan ilmu inilah kemudian banyak orang yang mencarinya dan memburunya. Perburuan ini terus dilakukan oleh para santri yang sedang galau untuk menemukan jalan kembali kepada Allah dan mengikuti jejak-jejaknya para wali-nya Allah.

Tapi sayang sekali, ilmu ini tidak nampak dan tidak ditampakkan oleh Allah (pemiliknya) pada masyarakat umum—karena tidak bersuara dan berhuruf (laa harfun wa laa shoutun), sehingga jarang sekali orang yang akan mendapatkannya sekalipun mereka adalah orang-orang yang ahli hukum islam (fiqih), ahli membaca—hafidz hafidzah al-Qur’an, seorang kiai di tengah-tengah masyarakat, mampu membaca teks kitab salaf berbahasa arab tanpa harakat—beserta arti jawa-indonesianya, dan atau ahli dalam kajian agama-agama dunia. Hanya yang dikehendaki oleh Allah sajalah yang akan mendapatkan ilmu ini dan bisa menjadi hamba yang berilmu dan berpeluang untuk masuk ke sisi Allah di surga.

***

Ilmu inilah yang bisa menyingkap rahasia alam semesta, bisa memampukan seorang yang membawa-memilikinya mengetahui rahasia-rahasia yang belum terungkap, baik di masa lalu maupun di masa depan. Tidak heran jika kemudian Rasulullah bisa mengetahui sejarah-sejarah bangsa Yahudi yang dipalsukan melalui injil dan taurat, lalu beliau menceritakan kejadian yang sebenarnya (diceritakan secara jelas di dalam al-Qur’an yang versinya jauh berbeda dnegan injil dan taurat). Tidak heran pula Rasulullah juga bisa meramal masa depan atas kejadian-kejadian yang akan terjadi kelak diakhir peradaban umat manusia. Karena beliau telah menyatu dalam dirinya sebuah ilmu keabadian yang telah diberikan oleh Allah.

Tidak mengherankan pula bila para wali terdahulu (dengan karomahnya) juga bisa menempuh perjalanan antar waktu dan antar dimensi, masuk ke dunia jin yang berlapis dan kemudian kembali ke dimensi manusia dengan membawa beragam informasi rahasia. Tidak mengherankan pula Sunan Giri bisa berjalan menuju ke Gresik dari Blambangan hanya ditempuh beberapa menit (dimana seharusnya ditempuh satu minggu) yang membuat kebingungan seorang pendeta Bhairawatantra.

Itu semua karena beliau-beliau telah memegang ilmu warisan para nabi terdahulu yang telah diberikan oleh Allah. Dalam bahasa orang jawa, merekalah yang mendapatkan ilmu tuwo, yakni ilmu yang usianya sama tuanya dengan penciptaan dan kelahiran alam semesta yang ditempat manusia ini.

***

Bagaimana mendapatkan ilmu ini dan dimana bisa menemukannya? Tentu saja pertanyaan ini adalah persoalan lain dari diskusi yang penulis sampaikan ini.

Mencari ilmu yang paling tua yang merupakan harta karun terindah dan hal paling inti (paling asasi) yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia tentunya bukan persoalan mudah dan gampang. Dibutuhkan sebuah perjuangan dan tantangan yang tidak mudah diperolehnya, kecuali hanya mereka yang mendapatkan petunjuk.

Dengan kata lain, mencari ilmu (warisan para nabi) itu sendiri menjadi pekerjaan para pembaca untuk mencarinya hingga ke seluruh ujung dunia dan hingga usia ini tidak lagi menyertai tubuh yang fana’ ini. Anda bisa mencarinya dengan membuka-buka informasi yang ditulis oleh para sarjana muslim terdahulu, yang ditulis dalam kitab-kitab kajian tasawuf  atau berdiskusi dengan para peneliti kajian Islam yang sudah banyak melakukan penelitian terhadap teks-teks islam klasik.

Anda bebas melangkah dan silahkan mencarinya, karena jika seumur hidup anda gagal untuk mendapatkan ilmu tersebut jangan harapkan jika ajal menjemput ruhani anda bisa menyatu bersama ruhani Rasulullah dan kembali kepada Allah.

Karena sudah jelas, mana mungkin anda bisa bertemu Rasulullah kalau ilmu yang menjadikan kekekalan Rasulullah sendiri anda tidak memperolehnya?.

Wallahu’lam bisshowaf