Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ISLAM NUSANTARA SEBAGAI IDENTITAS “ISLAM KAFFAH”

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Direktur Kitasama Stiftung

 

Pengantar

Muktamar NU yang ke 33 yang berlangsung pada tanggal 1 sampai 5 Agustus 2015 di Jombang dengan mengusung tema “Islam Nusantara” nampaknya mendapatkan moment yang tepat bagi keberlangsungan Muslim di Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama sendiri dan masyarakat Islam yang masih berpegang teguh pada tradisi lokal. Para pengamat asing memberikan tanggapan yang cukup positif dan antusias dengan tema tersebut. Dr. Chiara Formichi, pakar sejarah Islam dari Universitas Cornell di Ithaca, New York, USA mengatakan “Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Islam Nusantara di Indonesia. Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia.…yang jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam”. Dr. James B Hoesterey, Pakar Islam asal Universitas Emory di Atalanta, Georgio, USA juga mengatakan “Islam Nusantara sebagai gagasan yang layak dicontoh oleh dunia Internasional…..kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bisa menjadi contoh.” (Aula, Agustus 2015).

Akan tetapi, gagasan Islam Nusantara (Isnus) mendapatkan sedikit perlawanan dari beberapa kelompok yang memang dari awal tidak suka dengan gagasan-gagasan Nahdlatul Ulama, terutama HTI melalui tabloid Al-Islam memberikan kencaman yang lumayan keras. Beberapa media cetak dari kelopok yang searah dengan mereka juga memberikan kritik pedas terhadap gagasan Islam Nusantara yang diusung oleh Nahdlatul Ulama. Dan menurut hemat penulis, alih-alih memperdebatkan ide-ide tentang kebenaran Islam, yang jelas semua ormas Islam telah berikhtiar untuk mencari bentuk Islam yang “benar” sesuai dengan ijtihadnya.

Di era sekarang, yang menjadi titik perdebatan adalah mencari Wacana Islam kontemporer, yang bisa dipeluk oleh umat Islam secara global dalam rangkah menghadapai isu-isu globalisasi dan antek-anteknya (kapitalisme, Westernisasi, dll).

Islam di Nusantara

Terlepas dari perdebatan tentang setuju atau tidaknya gagasan Islam Nusantara, yang jelas gagasan itu tidak salah dan sangat benar dalam konteks sejarah Islam yang datang ke Nusantara itu sendiri. Disebut Islam Nusantara karena memiliki corak, ciri khas, dan identitas yang berbeda dengan Islam yang dibentuk oleh masyarakat lainnya selain di Nusantara, misalnya Islam Eropa, Islam Turki, Islam Arab, Islam Afrika, dan lain-lainnya.

Islam Nusantara bukanlah hal baru, atau barang baru tentang Islam yang tercerabut dari akar ajaran Islam (baca: al-Qur’an dan Hadits). Justru Islam Nusantara lahir dan bekembang dari sumber Islam yang sesungguhnya. Ia hadir tidak sebagai barang baru yang sebelumnya tidak ada, akan tetapi tumbuh karena ingin mengembangkan Islam menjadi semakin eksis dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan konteks sejarah yang dilaluinya.

Sebagaimana disebutkan oleh Ricklefs, dan tentunya oleh pakar sejarah lainnya bahwa Islam yang ada di Nusantara (khususnya Indonesia) adalah Islam yang disebarkan oleh para Ulama-Sufi, yang menjalankan tradisi Islam dan ajaran Islam secara total. Merekalah, para sufi yang meneruskan ajaran Nabi (dzikrullah) dari ahlus shuffa hingga para darwis dan para salik (orang yang suluk). Mereka tidak jatuh dalam perebutan kekuasaan dan harta benda saat Islam mencapai puncak peradaban. Mereka juga tidak silau dengan keindahan kota-kota dan segala isinya yang dibangun pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Mereka tetap konsisten hidup dalam kesederhanaan yang pernah diajarkan oleh nabi Muhammad hingga dewasa ini.

Para sufi, sebagai pewaris akhlak dan ilmu para Nabi menyebarkan Islam dengan akhlakul karimah, cara-cara yang santun, dan penampilan yang apa adanya. Mereka mengandalkan dzikir sebagai kunci keberhasilan dalam berdakwa. Karena dibentuk oleh dzikir maka yang muncul dalam perilaku para sufi dalam toleransi, saling menghargai, dan saling tenggang rasa. Hal inilah yang terjadi saat mereka datang ke Nusantara, yakni tetap memelihara tradisi Nusantara yang sudah ada dan memberikan nilai-nilai Islam yang bisa mereka aplikasikan. Dan inilah Islam yang sebenarnya, yang bisa mengadopsi budaya dan tradisi masa lalu yang baik menjadi bagian dari tradisi Islam.

Rasulullah sendiri yang telah mengajarkan cara dakwah seperti itu, dan kemudian dilakukan oleh para sahabat. Misalnya, thawaf merupakan tradisi Arab jahiliyah, tapi kemudian diterima oleh Islam menjadi tradisi yang menyempurnakan salah satu keimanan seorang Muslim (Rukun Islam). Lalu bentuk masjid gaya arsitektur Byzantium di asia kecil atau kuil-kuil Majusi di Persia yang sudah jama’ menjadi bentuk ideal masjid di Nusantara. Dan dalam konteks Nusantara ada tahlilan, manaqiban, dziba’an, kenduren, mitoni, nyatusi, dan lain-lain adalah hasil karya dakwah para sufi yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Dengan demikian hal ini menegaskan bahwa Agama Rasulullah yang sesungguhnya adalah Islam yang bisa berdamai dengan tradisi dan budaya dimana Agama itu tumbuh dan berkembang.

Identitas Islam Kaffah

Islam yang langsung dari Rasulullah itulah Islam yang kaffah, Islam yang dibangun dengan dzikir dan menyatukan diri dengan dzat-Nya (Allah). Dzikir yang diamalkan oleh para ulama sufi, yang menyebarkan Islam di Nusantara itu tidak lain adalah warisan langsung dari Rasulullah. Sebagaimana sering disebutkan bahwa para Ulama pewaris para nabi (pewaris ilmu rohani), yakni yang mewarisi keilmuan secara rohani berupa dzikir. Karena dzikir inilah mereka senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah melalui dzikirnya pula, sehingga ketika berdakwah akan senantiasa mendapatkan petunjuk dari-Nya dan bukan karena hawa nafsunya. Termasuk berdamai dengan tradisi yang sudah ada.

Sebagaimana disebutkan oleh tim JNM bahwa jangkar Islam Nusantara ada lima, yaitu masjid, pesantren, makam, tarekat dan tradisi. Kelima unsur inilah yang menjadikan Islam terus berkembang di Nusantara hingga sekarang. Selain sebagai jangkar yang menguatkan Islam, kelima hal tersebut juga menjaga Islam tetap murni dan membentuk manusia menjadi Islam yang Kaffah.

  1. Dzikir warisan Rasulullah tetap diajarkan dan terjaga di Pesantren,
  2. Di amalkan dan dijaga di Masjid,
  3. Di perjuangkan dan disebarkan di jam’iyah tarekat,
  4. Di lestarikan dan dikutakan melalui ziarah ke makam para ahli dzikir,
  5. Dan tentunya dikembangkan dengan tradisi masyarakat yang baik untuk Agama.

Penyerapan tradisi dan budaya lokal menjadi tradisi Islam, dan pada gilirannya membentuk identitas Islam Nusantara inilah yang kemudian membentuk Islam menjadi Islam yang damai, rahmatal lil’alamin. Islam tidak datang dengan wajah militer, pedang, atau kekerasan yang melibatkan pembunuhan dan peperangan. Sampai saat ini, Islam Nusantara adalah Islam yang tidak dibentuk oleh kekerasan dan tidak dipaksakan menjadi milik siapapun. Tapi ia diterima karena kelenturan dan penyerapannya terhadap lokalitas tradisi.

Islam Nusantara dan tantangannya

Tantangan yang dihadapai oleh Islam Nusantara pun menjadi jelas, yakni “Islam” yang sudah tidak lagi menampakkan wajah Islam yang sesungguhnya. Diantaranya adalah Islam Transnasional (HTI, MTA, PKS), sekte salafi-wahabi dari tanah kerajaan Arab-Saudi, dan Islam Palsu yang mengatasnamakan “kembali ke al-Qur’an dan Hadits”. Mereka semua anti Islam yang dikembangkan dengan tradisi dan dzikir sufi. Menurut mereka Islam Kaffah adalah Islam politik yang memperjuangkan Negara Islam, padahal sejatinya adalah merebut kekuasaan dan mengeruk harta benda (sumberdaya alam).

Islam Nusantara tidak hanya menjaga Islam tetap bisa diterima oleh tradisi dimana Islam itu bisa berkembang, tapi juga menjaga NKRI ini tetap utuh dan tidak terpecah-pecah sebagaimana Negara lainnya seperti USSR (Uni Soviet), kesultanan Ustmani, Jerman-Prussia, dan lain-lain. Adanya Islam Nusantara turut andil dalam menjaga keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia dan menjaga Islam tetap bisa menjadi mayoritas di tanah Nusantara ini.

Penutup  

Oleh karena itulah upaya untuk tetap “menjadikan” dan sekaligus menjaga ajarannya (ahlussunnah waljama’ah) Islam Nusantara tetap lestari dan berada di dalam negara kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Islam Nusantara harus menjadi sebuah pegangan hidup bagi umat Islam Indonesia agar tidak mengalami pengalaman perpecahan seperti yang pernah dialami oleh beberapa negara lainnya.

Menjadi Islam Nusantara secara otomatis berkontribusi pada terciptanya perdamaian dunia, melahirkan penghormatan akan perbedaan dan penerimaan akan adanya keragaman. Karena pada ajaran Islam Nusantara inilah semua nilai-nilai tersebut termanifesta secara riil dalam ajaran-ajarannya. Memang secara ideologis ajaran dan nilai-nilai Islam Nusantara bukan sepenuhnya bisa dikatakan paling benar, namun hal itu sudah merupakan sebuah ikhtiar yang maksimal dan ijtihad yang paling dipercaya untuk menjadi Muslim yang Kaffah.